Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Aku tidak sakit


__ADS_3

Flashback on


Malam itu, ditengah larutnya malam terpaan angin menggerakkan gorden kamar sebelum datang dan meraba kulit putih Rachel.


Wanita itu tampak menggeliat, mencari tubuh kekar yang biasa menghantarkan rasa hangat. Namun, kelopak indahnya terbuka kala merasakan ranjang tempat Peter tidur, kosong tak berpenghuni.


β€œPeter?” keheranan karena tidak mendapati suaminya.


Bersamaan dengan rasa sepi itu, tenggorokannya terasa kering. Rachel berdesis, hendak menuangkan air, namun teko persediaan air kosong melompong.


Berberat hari, Rachel beranjak dari tempat tidur dan menuruni tangga menuju dapur. Temaram dan sepi, menggambarkan suasana lantai dasar. Rachel bergegas menyalakan lampu dan mengisi teko air tersebut.


Sembari menunggu, Rachel meraih gelas. Menuangkan air dan menegaknya, tatkala dia tidak bisa menahan dahaganya lagi. "Akh!" jeritan seorang pria terdengar samar. Rachel terlonjak kaget.


Bukannya merasa takut, Rachel malah pergi mencari tahu. Wanita itu meninggalkan tekonya diatas meja dapur. Lalu, pergi mencari sumber suara tadi.


Nihil, tidak ada orang ataupun setan yang Rachel temukan. Namun, perasaan aneh muncul ketika melihat pintu coklat tua yang terbengkalai itu sedikit terbuka.


Penasaran, mengingat Peter selalu melarangnya masuk. Jangankan masuk, membuka kuncinya saja Peter tak memperbolehkan.


Rachel mendorong pelan pintu tersebut, glek! melihat tangga gelap yang menjulang kebawah. Membuatnya menelan ludah, namun rasa penasaran mendorongnya masuk dan mencari tahu.


Sebuah obor kayu, Rachel raih dari samping pintu. Dengan berbekal sebatang obor, wanita itu melangkah masuk. Memberanikan diri mencari rahasia yang terkandung dalam ruangan gelap itu.


Langkah demi langkah Rachel tempuh, hanya sebuah dinding lembab dengan bau amis yang tertangkap Indra penglihatan dan penciumannya.


Namun, mendengar teriakan kembali mengglegar, Rachel kembali melanjutkan langkah menelusuri ruangan itu lebih dalam.


Sel, penjara bawah tanah? sebenarnya siapa Peter dan apa pekerjaan pria itu. Benaknya tak berhenti bertanya-tanya, wanita itu tampak kesulitan menyelundup masuk.


Penjagaan disini begitu ketat, berbanding dari tampilan luarnya. "Bagaimana cara ku masuk kedalam sana?" pungkasnya bingung.


Batu, "aku akan mengalihkan perhatian mereka dengan batu ini." sekuat tenaga Rachel melemparkan batu itu, jauh dari tempatnya berada.


Brak! seketika seluruh penjaga berlarian, pergi mencari sumber suara. Takut penyusup masuk tanpa sepengetahuan mereka.


Rachel bercelingak celingukan memastikan keadaan sekitar aman. Lalu bergegas masuk, melewati banyaknya pintu sel yang terisi dengan manusia bertakdir malang.

__ADS_1


Melihat Peter, Rachel menghentikan langkah dan menyembunyikan diri dari balik dinding. Jleb! refleks Rachel menutup mulut, menahan teriakan kala melihat suaminya membela dada manusia tanpa keraguan.


Keseluruhan, kejadian itu tidak luput dari penglihatannya dari awal hingga akhir. Rachel merasa mual, apalagi setelah Peter mengeluarkan jantung itu dari tempatnya.


Tidak tahan lagi, Rachel memundurkan diri. Hendak melangkah pergi. Namun, cahaya minim itu membuat penglihatannya kurang jelas.


Bisa jadi Rachel tersandung dan menabrak kursi hingga membuat semua pandangan tertuju padanya.


Brak! seketika Rachel melemas. Tubuhnya terduduk merasakan dinginnya lantai. Dia ketahuan. " Kau? siapa yang menyuruhmu masuk kesini?" suara berat Peter menyapa dengan melontarkan pertanyaan.


Gelisah, takut, Rachel menggigit dan memejamkan mata. Berusaha merilekskan diri, berbicara dengan seorang psikopat haruslah berhati-hati.


Kabur, mustahil dilakukan sekarang. Seluruh penjaga yang tadinya pergi entah kemana, mendadak berdiri didepan, mengepung dari segala arah.


Rachel membuka matanya perlahan, kala sedikit merasa lebih tenang. Wanita itu berbalik, saling beradu tatap dengan mata pekat suaminya.


" Kau psikopat gila!" sentak Rachel menghina.


Flashback off


Sedikit merasa takut akan kehilangan Rachel, tapi semua sudah terlanjur terjadi. Peter akan mengendalikan semua itu nanti.


" Sebenarnya siapa kau, dan ruangan apa ini?" bertanya-tanya dengan suara lirih melembut dan tatapan bersahabat.


Deru napas memburu, menandakan Peter sedang menahan diri. Dijatuhkan organ itu kebawah, tanpa perasaan Peter melangkah, menginjak mayat tidak berbentuk itu sebagai pijakan pertama.


Perlahan tapi pasti, Peter melangkah mendekat ke arah Rachel. "kemari," perintahnya. Menggapai lengan Rachel yang menggantung bebas.


Mual melihat darah, Rachel menghempaskan tangan, takut melihat darah segar seorang manusia tak bersalah menempel di lengan mulusnya.


"Tidak bisakah, kau melepaskan sarung tangan itu, dulu?" hardik Rachel memohon secara tidak langsung.


Peter berdecak, lalu membuka pengait sarung tangan itu. Dengan sekali tarik keduanya terlepas. Selesai dengan itu, Peter mencengkam pergelangan tangan Rachel dan menariknya keluar.


Sampai diruang utama, Peter menghempaskan wanita itu ke sofa panjang. Tidak sadar, perbuatannya barusan bisa dikategorikan kekerasan dalam rumah tangga.


"Berapa kali ku bilang, jangan mendekati pintu itu apalagi masuk kedalam," sarkasnya dengan tatapan serius. menyelidik.

__ADS_1


"Dan semua rahasia mu tidak akan pernah ku ketahui?"


"Ayo, aku akan mengantarmu pergi berkonsultasi dengan dokter ataupun psikologis," tambahnya, lalu memegang kedua telapak tangan kekar Peter. Berusaha meyakinkan.


"Aku tidak sakit, Re." pungkas Peter, geram mendengar diagnosis Rachel.


"Peter, dengarkan aku sekali ini saja. Dan terima semua ajakan ku, aku tidak ingin mempunyai suami psikopat. Karena sejatinya psikopat tidak mempunyai hati nurani." masih berusaha membujuk.


Peter tertawa sumbang, mengulurkan tangan untuk mencengkeram pinggiran dagu Rachel. Sakit, namun Rachel menahannya. "Kau tidak ingin memiliki suami seperti ku. Ck ck, tapi sayangnya aku tidak peduli. Yang jelas aku tidak akan pernah melepaskan mu, sampai kapanpun itu."


Rachel menunduk, merutuki kemalangannya dalam hati. Tuhan, kenapa harus sekarang. Saat hatiku berdebar dengan semua perlakuan manisnya. Kala aku ingin membalas perasaannya.


"Dan aku bukan psikopat, aku masih memiliki hati. Buktinya aku jatuh cinta pada mu," alibinya. Menolak mendapat julukan psikopat. Perlahan cengkeraman itu perlahan berubah menjadi usapan-usapan lembut.


"Kau tidak sadar, ini bukan cinta semua perasaan mu palsu. Semua ini hanya obsesi mu, Peter." Rachel menyahut dengan suara tinggi dan tatapan sendu.


" Ini cinta,Re. Dan aku yakin akan hal itu."


" Sepertinya kau kelelahan, pergi! masuk kedalam kamar," perintah Peter. " Tidak, sebelum kau setuju pergi ke dokter bersama ku!" tolak Rachel bersikukuh.


" Sudah berapa kali ku bilang, aku tidak sakit, sialan!" Peter lelah menjelaskan berulang kali, terpaksa dia menarik Rachel dan mendorongnya masuk kedalam kamar.


Ceklek! pintu terkunci, Peter mengurung Rachel dalam kamarnya. Malam ini sebaiknya mereka berpisah kamar, menenangkan hatinya masing-masing.


" Peter, aku mohon dengarkan saran ku itu. Kau mendadak berubah seperti monster, dan aku tidak suka dengan itu." gebrakan pintu terdengar beberapa kali. Namun, Peter tak mengindahkan dan berlalu lalang.


Malam ini, dia akan tidur dikamar bawah. "Kee, pulanglah ke rumah mu sendiri. Besok, pimpin semua rapat. Aku akan cuti selama dua hari." ujar Peter saat melihat Keenan masih duduk, menunggu.


" Baik, tuan!"


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2