
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Rachel menyadarkan mereka dari dunianya. Grace menoleh, tersenyum kecut kala mendapati Damian tengah menatap dengan tatapan membunuh.
Tidak papa, sesekali Grace ingin menikmati momen ini. Di mana dia bisa bersosialisasi dengan orang asing tepat di depan mata suaminya.
"Ini masalah kami berdua, sangat rahasia!" menempelkan ibu jari di bibir. Lalu mengedipkan mata, berbicara dengan penuh tanda tanya.
"Jangan memancing kemarahan ku Grace!" Damian memperingatkan. Tidak ingin menyakiti siapapun hanya karena terbakar api kecemburuan.
"Baiklah-baiklah, aku mengalah." Grace menghela napas berat sebelum akhirnya kembali duduk di sebelah Damian.
"Ngomong-ngomong aku rasa kalian seumuran," Rachel masih tidak mengerti situasi. Tetap membicarakan Cristian.
"Benarkah? memangnya berapa umur mu?" lihat dengan mudahnya Grace terpancing. Mengindahkan ucapan Rachel dan bertanya pada Cristian kini.
"25!" seketika Grace berbinar. Mereka sepantaran. Pantas saja obrolan mereka cukup nyambung.
"Wah, kita sepantaran." seru Grace berbinar. Seketika hawa ketegangan menyelimuti ruangan. Semua orang menyadari, tetapi tidak dengan Rachel dan Grace. Keduanya sibuk membincangkan hal-hal kecil.
"Grace!" Damian berteriak kencang. Sudah tidak bisa menahan diri lagi. Grace dan Rachel tersentak kaget. Keduanya langsung merapatkan bibir tidak berani membuka suara.
"Ayo pulang!" ajak Damian, hendak meraih pergelangan tangan Grace. Namun, di hentikan oleh Rachel.
"Tunggu! kalian baru datang. Jadi jangan pulang dulu ya!" mohon Rachel. Tidak ingin berpisah dengan Grace. Padahal baru beberapa menit mereka bersama dan Damian sudah mengajak Grace pulang. Rachel tidak rela.
"Kalau begitu berhentilah mengajak istri ku membicarakan pria lain!" sentak Damian. Menatap Rachel tajam.
"Dasar psikopat gila, begitu saja tidak boleh!" gumam Rachel pelan. Berharap tidak ada yang mendengar.
Cukup jangan picu orang gila itu.
"Ya terserah kau saja!" Rachel menyahut dengan nada mengejek. Entahlah, tapi Grace rasa Rachel tidak suka dengan semua pria. Kecuali Peter-suaminya sendiri.
"Grace bagaimana bisa kau betah dengan psikopat ini?" iseng bertanya. Sengaja mengeraskan suara berharap Damian mendengar dan tersinggung.
__ADS_1
"Re, sudah berapa kali aku memperingatkan. Jangan memusuhi Damian atau membuatnya marah." Peter menyanggah. Mereka juga kelurga, tidak sepantasnya Rachel menghina Damian.
Rachel justru di buat kesal dengan pembelaan Peter. Sebenarnya siapa yang lebih penting antara dirinya dan Damian.
"Kau membela ku?" tersenyum miring. Melirik Rachel dengan tatapan penuh kemenangan. Lihat suami mu membela ku. Begitulah arti tatapan Damian.
Lain halnya dengan Keenan, pria itu tidak mempedulikan prahara rumah tangga para majikan. Memilih memojok bersama Belle, memenuhi setiap menit dengan keromantisan. Dan Membiarkan Cristian merawat Abigail.
"Aku tidak membela siapapun. Jadi bisakah kalian diam, kalau perlu keluarlah dari kamar ku. Aroma makanan membuat ku lapar." keluh Peter
Menaikan pitam suara.
"Ck...ck...ck aku jadi kasihan padamu." menatap Peter malang. Namun, menyunggingkan senyum meremehkan. Itulah Damian, semakin Peter tersiksa semakin hatinya merasa senang pula.
"Mungkin karena kau lemah, karena itu mereka lebih mudah menyerang mu." tambah Damian. Mengejek tepat di depan semua orang.
"Cih, pergi berkaca sana. Bukan hanya aku, kau juga sama sialan. Bahkan kau lebih sering mendapat kiriman pembunuh bayaran." tidak sudi di remehkan.
Mereka berdua sama, Peter lebih hebat dari pada Damian Terbukti Damian sering meminta bantuan Peter untuk menyingkirkan lawan bisnisnya.
"Tu-tuan bisakah saya keluar?" Cristian bertanya pada Keenan. Pria itu menoleh, tidak menjawab malah melemparkan tatapan datar.
"Boleh." Belle menjawab Kasihan melihat Cristian tertekan dengan perdebatan dan kebersamaan pasangan-pasangan yang menempati kamar. Ya, mungkin hati kecil Cristian sedikit sakit mengingat dirinya satu-satunya orang yang belum menikah.
"Tidak boleh. Tidak ada orang yang menjaga Abigail nanti." seru Keenan. Melihat lingkungan sekitar. Matanya memutar tatkala mendapati tuan mudanya tengah beradu mulut dengan Damian.
Tuan dia bukan putri saya, kenapa saya harus peduli. Ingin rasanya Cristian berteriak dan mengumpati Keenan. Lidahnya keluh, seperti tidak bisa bicara.
βHei biarkan dia pergi. Lagi pula Abigail bukan putrinya. Berhenti bermesraan dan rawat anak mu sendiri." Damian menyahut. melemparkan tatapan mencemooh.
"Anda bukan majikan saya tuan. Anda tidak berhak memerintah." jawab Keenan membalas. Bak tombak tajam yang menembus jantung, Damian tertohok.
"Saya bisa membawa nona Abigail bersama saya tuan. Jadi anda bisa melanjutkan kegiatan anda." Cristian menyanggah. Menghentikan pertikaian yang terjadi.
__ADS_1
"Bawa saja, aku lihat Abigail juga menyukai mu." sahut Belle cepat. Memberi izin pada Cristian untuk membawa Abigail berjalan-jalan.
"Terimakasih nona." tersenyum sumringah. Sebelum akhirnya bergegas meninggalkan kawasan orang-orang aneh. Akhirnya Cristian bebas juga.
"Ngomong-ngomong, kau terlalu banyak membawa makanan Grace. Lihat ini, bahkan makanan kak Belle masih belum habis." Rachel menunjuk piring yang masih penuh.
"Mudah saja, bagikan ke seluruh pegawai rumah sakit. Lagi pula aku juga sudah kenyang, sebelum datang kami sempat makan bersama." ujar Grace memberi saran.
"Ide yang bagus, biar aku dan Keenan yang membagikan. Kalian di sini saja," Keenan mendelik. Apa-apaan. Kenapa Belle menawarkan diri.
"Tidak-tidak, biar aku saja." seru Grace menolak. Tidak ingin merepotkan.
"Kita bagikan bersama saja. Biarkan mereka berbincang-bincang." potong Rachel memberi solusi. Lantas Belle dan Grace serempak mengangguk. Mengambil kantong plastik berisi makanan dan keluar dari kamar hotel Peter.
...ππππ...
Marah setelah di usir dengan paksa. Rain memutuskan meminta bantuan pada musuh terbesar Peter. Jika Rain tidak bisa bersama Peter maka Rachel juga tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan Peter.
Cinta Rain terlalu besar sampai berubah menjadi obsesi. "Kau yakin rencana ini seratus persen berhasil?" tanyanya. Bukan tidak percaya, Rain tidak mau mengambil resiko.
"Percayalah pada ku nona. Aku yakin rencana ini pasti berhasil." Thomas meyakinkan. Tidak tahu rencana apa yang mereka bicarakan tapi di pastikan siasat itu akan menghancurkan rumah tangga Peter dan Rachel.
"Kenapa tidak kau bunuh saja dia malam itu?" Rain tidak papa jika harus kehilangan Peter untuk selama-lamanya. Asal Rachel menderita, jika perlu wanita itu harus menangis darah.
"Alessandro melepaskan mereka. Sialan, seandainya Alessandro melesatkan pelurunya sekali lagi. Mungkin kita akan berpesta sekarang." Thomas kesal pasalnya Alessandro membiarkan mereka hidup.
"Sebenarnya sepenting apa Alessandro untuk mu tuan?" Tanya Rain penasaran.
"Dia pion utama ku. Aku memanfaatkan Alessandro sebagai senjata untuk menyerang mereka. Setelah Peter dan Keenan mati, aku akan menghabisi Alessandro." seru Thomas menjawab.
Sontak Rain mematung di tempat. Takut nasibnya sama dengan nasib Alessandro. Hanya di jadikan pion untuk keuntungan pribadi Thomas.
Aku harus berhati-hati pria ini bisa menusuk ku dari belakang!
__ADS_1
TBC
Belum author revisi πmaaf kalo kurang nyaman bacanya.