Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Saran Rachel


__ADS_3

Di mansion, Rachel nampak berjalan mondar-mandir. Rachel ingin menghubungi Belle. Sayangnya, Rachel tidak sempat meminta nomor teleponnya waktu itu.


"Grace, aku yakin dia mempunyai nomor handphone kak Belle!" dengan senyum merekah, Rachel menekan nomor Grace dan menekan tombol hijau.


Tut..Tut..Tut


Telepon tersambung, "mau apa lagi kau?" bukan Grace yang mengangkat teleponnya, tetapi Damian. Seketika mood Rachel mendadak turun drastis.


"Dimana Grace?" tanya Rachel tenang, masih bisa menahan kekesalan.


"Sedang mandi, berhenti mengganggu waktu kami, sialan!" Rachel merapatkan gigi rapinya.


"Hei ini sudah siang dan kau masih di rumah. Aku pikir kau sudah pergi bekerja. Itu berarti aku tidak mempunyai niat mengganggu waktu kalian, Sialan. Ngegas sekali kau!" sewot Rachel.


"Aku bossnya, siapa kau berani mengatur ku!" Rachel memutar bola matanya malas.


"Sudahlah, aku malas berdebat dengan orang gila seperti mu!"


"Kau!"


"Kirimkan aku nomor handphone kak Belle!" Rachel menyanggah, tak membiarkan Damian menimpalinya.


"Untuk apa?"


"Kau siapa, berani mengurusi urusan ku, dasar pengadu!" Rachel menyerang Damian dengan kata-kata yang sama. Damian diam tak berkutik, setelah itu sambungan telepon terputus dan pria itu mengirimkan pesan singkat.


Aku sudah mengirimnya, jangan menggangu waktu kami lagi. Atau aku akan melenyapkan mu.


NyeNyeNye


Rachel menghapus pesan Damian, padahal Rachel ingin mengobrol sebentar dengan sahabatnya. Tapi sepertinya, pria itu baru saja mengajak sahabatnya berolahraga di pagi buta.


"Aku sudah mendapatkan nomor kak Belle, sekarang aku akan meneleponnya!" handphonenya berdering, tapi masih belum di jawab juga.


"Halo!" Belle menyapa dari seberang sana. Rachel tersenyum, memiliki antusias yang besar.


"Kak, aku Rachel!" jawab Rachel. Belle langsung tertawa, senang mendapat telepon dari sahabat adiknya.

__ADS_1


"Hai, Re! bagaimana kabarmu?" Rachel tersenyum, Belle masih sama. Ramah dan penuh kelembutan. Kelahiran Abigail merubahnya menjadi sosok keibuan.


"Aku baik-baik saja kak, bagaimana dengan kakak sendiri??"


"Yah begitulah, aku yakin kau sudah mendengarnya dari Grace ataupun Damian!" jawab Belle nanar. Di akhiri dengan tawa kecut.


"Kakak benar, aku tahu masalah di antara kakak dan Keenan. Karena itu aku menelepon kakak!" keduanya sama-sama tertawa. Tetapi bukan tawa bahagia melainkan tawa kesedihan.


β€œMenurut mu, apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku dengar dia menolak bertanggung jawab." tanya Belle dengan nada santai.


Jika bersama dengan Peter, mungkin Rachel mudah di bodohi. Ini Belle, wanita yang Rachel kenal selama bertahun-tahun. Mereka cukup dekat setelah kelahiran Abigail. Karena itu Rachel bisa mengerti perasaan Belle sekarang.


Belle pasti mencemaskan masa depan putri satu-satunya itu.


"Kakak tak berniat menemuinya?"


"Mungkin ini terdengar lucu, tapi aku akan bertemu dengannya besok. Aku lupa memberitahu mu, kalau aku ada di New York sekarang!" Rachel membulatkan mata, terkejut dengan pernyataan Belle.


"Sejak kapan?" tanya Rachel. Belle tertawa dan menjawab. "Aku baru sampai, sekarang aku menaiki taxi menuju hotel pusat kota."


"Kembali ke masalah Keenan, sebenarnya aku ingin mendengar penolakan Keenan langsung dari bibirnya. Jika memang dia benar-benar tidak mau bertanggungjawab, tidak masalah. Aku bisa menghidupi putri ku sampai dua puluh tahun kedepan. Aku juga bisa memberinya kasih sayang seorang ayah!"


Memang apa yang Belle harapkan, pada akhirnya Tuhan kembali meruntuhinya dengan ribuan duka dan kepedihan tiada henti.


Tapi tidak masalah, semua cobaan membuat hatinya setegar karang. Tidak papa, Belle masih bisa mengalah dan menjalaninya tanpa berkeluh kesah.


"Sebenarnya, aku ada ide. Kakak mau mendengarkannya?"


"Ide apa?" tanya Belle penasaran. Hening, Rachel terdiam. Ragu. Namun, tidak sampai lima menit, ia kembali berucap.


"Setelah Keenan mengatakan penolakannya, ajukan satu syarat," ujarnya serius. Sudah lama Rachel memikirkan rencana ini. Namun, Rachel menunggu waktu yang tepat. Dan sekarang adalah waktu yang Rachel maksud.


"Syarat apa?" bukankah saat Belle meminta sesuatu, Keenan akan menyamakannya dengan wanita materialistis. Tetapi, Mari kita dengarkan saran Rachel terlebih dalu, baru kita simpulkan bersama.


"Minta Keenan menemui Abigail sekali saja. Aku yakin hatinya pasti luluh, begitu melihat duplikatnya versi perempuan."


Rachel akui dia tidak pernah suka dengan Keenan, apalagi setelah melihat pembunuhan-pembunuhan yang kerap kali Keenan lakukan. Memang bukan sembarang orang hanya musuh-musuh yang mengganggu kedamaian Peter dan anggota Gold Lion. Tapi tetap saja dia seorang pembunuh.

__ADS_1


Tetapi membayangkan Belle berjuang menghadapi kerasnya kehidupan seorang diri? tentu membuatnya tidak tega. Lebih baik mereka menjalani suka duka itu bersama dan menjadikan Abigail sebagai tujuan utama.


"Itu saran yang bagus dan aku menyukainya. Tapi, apa kau yakin Keenan akan mengubah keputusannya yang sudah final itu?"


Bukan salahnya berpikir negatif, mengingat Keenan berwatak keras dan tegas. Belle tidak bisa berharap pada orang yang mempunyai hati sekeras batu bukan.


"Kak, buang semua pikiran negatif mu itu. Selain doa dan usaha, menurut mu apa kunci keberhasilan?"


"Optimis bukan?" tebak Belle. "Kalau kakak sudah tahu, buang jauh-jauh semua pikiran negatif kakak mulai sekarang!"


"Percayalah di dunia ini tidak ada yang lebih penting bagi seorang ayah selain anak perempuannya. Begitu juga Keenan, aku yakin dia pasti luluh begitu melihat putrinya!" seru Rachel meyakinkan, menghilangkan semua keraguan yang tertanam pada benak Belle.


"Tapi-"


"Percayalah kak, sekeras apapun hati Keenan. Aku yakin dia tidak akan se- tega itu menelantarkan anak semanis Abigail!" memotong ucapan Belle.


Menjadi ibu tunggal seperti ini memanglah sulit. Banyak keraguan dan kekhwatiran khususnya pada putrinya itu. Namun, bukankah lebih baik Belle mencobanya, siapa tahu semua yang Rachel katakan benar adanya.


"Fine, aku akan mencobanya. Tetapi, jika memang Keenan masih bersikukuh menolak bertanggung jawab. Ya sudah, tidak usah di paksa. Bagiku Abigail sudah cukup mewarnai hari-hari ku!"


"Aku tidak mau berharap pada manusia, karena aku tahu berharap selain kepada Tuhan itu lebih mengecewakan dan menyakitkan. Ingat Tuhan tidak mau di duakan. Maka setelah semua urusan ku selesai, aku akan pergi jauh. Menyerah merupakan jalan satu-satunya. Lebih baik aku fokus membesarkan Abigail."


"Agar nanti dia tumbuh menjadi gadis baik hati, tidak seperti ku yang selalu menyakiti saudaranya sendiri!"


Sesulit dan sepahit apapun itu, Belle siap menerima konsekuensinya. Tiga setengah tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan Belle kuat menahan beban tersebut. Bukan masalah, kalau Tuhan menginginkan Belle menahan semua kesedihan dan kesepian itu seumur hidup.


"Aku akan mendukung mu kak, tapi aku akan mohon cobalah melakukan semua saran ku tadi!" pinta Rachel dengan suara dan ketulusan hati.


"Baiklah, aku akan mengajukan syarat pada Keenan nanti!"


"Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya. Jaga dirimu dan Abigail juga. Sampai jumpa!"


"Hmm!" sambungan telepon pun berakhir.


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2