
Dentingan sendok dan piring beradu nyaring di ruang makan. Ditambah dengan canda gurau Rachel dan Ara semakin meramaikan tempat sepi itu. Namun, tidak di ujung sana. Tempat dimana Peter berada. Padahal saat melihat Ara datang perasaan senang menghampiri. Tetapi setelah melihat perhatian Rachel teralihkan, membuatnya geram. Cemburu dengan adiknya sendiri.
"Kau suka roti isi?" Ara menggeleng, "aku tidak terlalu suka. Tapi aku akan mencobanya. Ini kau yang memasak kan?" Rachel mengangguk malu.
"Kemarikan!" Ara mengulurkan piring, menunggu Rachel meletakkan sepotong roti isi itu. "Setiap hari kau memasak?" tanya Ara sebelum menyuapkan roti itu kedalam mulutnya.
"Tidak, Peter melarang ku masuk ke dapur. Tetapi khusus hari ini aku memasak karena kau makan bersama kami!" Ara mengangguk-angguk mengerti, senang dengan kepedulian Rachel.
"Ini enak sekali, dari sekian banyaknya roti isi yang pernah ku makan. Milik mu yang terbaik," pujinya. Kembali melahap roti itu sampai habis.
"Benarkah? Aku senang kalau kau menyukainya!" Peter muak mendengar obrolan tidak berfaedah yang berasal dari dua wanita itu.
Prang! Peter sengaja meletakkan gelas kaca itu dengan kasar. Berharap Rachel berbalik dan menyadari akan keberadaannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Rachel polos. Tidak peka. "Tidak papa, hanya sedikit gerah melihat istri ku memperhatikan orang lain dan melupakan suaminya!" cibirnya dengan suara datar.
"Jadi suami ku ini cemburu, hm? ingin di perhatikan!" goda Rachel, sambil beranjak dari tempat duduknya, mendekati Peter.
"Maaf Ara, sekarang aku harus melayani pria ku itu!" Ara tergelak, mengangguk setuju. Tidak percaya pria sekaku Peter bisa bermanja ria pada istrinya.
"Grace, bukankah dia sahabat mu?" seketika Rachel terdiam. Pikirannya kosong, "Re!" panggil Ara, menyadarkan Rachel dari lamunan.
"Ya, dia sahabat ku!" jawab Rachel seadanya. "Jadi kalian sama-sama terjebak dalam penjara cinta kakak-kakak ku?"
"Ya, seperti yang kau lihat!" Rachel mengambilkan Peter makanan, sembari menyimak dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan Ara.
Setelah Ara selesai makan, tenaganya kembali utuh. Semua macam obrolan Ara lontarkan lagi, sangat banyak dan tidak ada henti-hentinya. Untungnya Rachel masih bisa menanggapi meskipun mereka baru mengenal satu sama lain.
"Bukankah tidak terlalu buruk hidup bersama seorang pria posesif yang memperlakukan mu bak ratu kerajaan dengan perhatian maksimal? meskipun ruang dan gerak mu sedikit di batasi." Ara mulai membahas karakter kedua kakaknya.
Rachel terkekeh, Peter memang overprotektif tapi untuk masalah ruang dan gerak, Peter tak pernah membatasi. "Aku tidak tahu rasanya, karena Peter tidak pernah membatasi ruang dan gerak ku. Tidak selalu seperti itu sih, tergantung mood dan situasinya!" jujur Rachel.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya Rachel tahu, Peter selalu menyuruh anak buahnya untuk mengawasi secara diam-diam. Rachel bukannya tidak tahu namun dia pura-pura buta. Hei, insting seorang wanita itu kuat, tidak bisa di remehkan begitu saja.
"Berarti kau cukup beruntung! kau tahu kakak ku-Damian. Sangat overprotektif pada istrinya. Kau tahu saat Grace kabur, dia jadi tidak waras. Begitu bertemu langsung membatasi semua gerak dan ruang istrinya. Memang terlihat lebay, tapi dia tidak ingin kehilangan kakak ipar untuk yang kedua kalinya!" Ara bercerita, sesuai dengan yang dia dengar dari bibir ayahnya.
"Kau pernah bertemu Grace?" tanya Rachel ragu. Tangannya sibuk menyuapi Peter. Pria itu tampak sibuk dengan gadgetnya. Tidak tertarik dengan obrolan wanita-wanita itu.
"Tidak, aku tak sengaja mendengar obrolan Daddy dan mommy ku. Karena penasaran, aku menguping dari balik pintu!" jawab Ara diakhiri dengan tawa renyah.
Jadi Ara tidak pernah bertemu dengan Grace. Rachel pun mengurungkan niatnya, hendak bertanya perihal keadaan sahabat satu-satunya itu.
Rachel tak yakin hubungan mereka akan baik-baik saja, setelah Grace tahu Rachel menikah dengan sepupu suaminya. Bukan hubungan Peter dan Damian yang menjadi masalah. Namun, Rachel menikah tanpa mengabari ataupun mengundang Grace. Memang di acara pernikahannya Damian datang, tapi tidak dengan Grace. Mungkin wanita itu masih belum mengetahuinya sampai sekarang.
"Aku pernah melihat fotonya, aku rasa Grace masi muda dan cantik. Selera kakak ku benar-benar luar biasa." puji Ara, tidak meninggi- tinggikan. Faktanya kecantikan Grace memang mengagumkan.
Rachel cekikikan, tidak kaget mendengar pujian Ara. Waktu jaman kuliah dulu, Grace termasuk dalam kategori bunga kampus. Dimana ada banyak pria yang berusaha mendekatinya.
Boro-boro pacar, berkencan satu malam sudah sangat mereka syukuri. Sayangnya Grace tidak pernah menanggapi mereka. Wanita itu cuek dan dingin pada semua pria.
"Ya, dia lebih muda dari kita. Usianya masih 25 tahun!" Ara membulatkan mata, jadi Grace termasuk ibu muda.
"Aku tidak tahu, jika kakakku seorang pedofil!" Ara mencibir,menghina Damian yang berada jauh dari Las Vegas.
"Memangnya berapa usia Damian?" tanya Rachel lirih. Tidak ingin Peter tersinggung karena pertanyaan sensitif itu.
"Berhenti penasaran pada pria lain, sayang. Kau tidak ingin melihat kemarahan ku kan!" tegur Peter tampa mengalihkan pandangan. Kedua gadis itu tersentak kaget. Dan mematuhi ucapan Peter.
"Baiklah, kami tidak akan membahas mereka lagi!" putus Rachel, padahal jauh dari lubuk hatinya penasaran dengan usia suami sahabatnya.
"Ngomong, apa kegiatan mu sekarang?" Rachel beralih dengan menanyakan keseharian Ara.
"Tidak terlalu menarik, setiap hari aku pergi bekerja ke rumah sakit!" jawab Ara seraya mengambil air untuk di minum.
__ADS_1
"Kau seorang dokter?" Ara mengangguk-angguk, setelah menegak setengah gelas air. "Wah, di usia semuda ini kau sudah menjadi dokter!" Menatap Ara berbinar. Penuh kekaguman.
"Tidak ada hebat-hebatnya, Re. Karena tempat ku bekerja adalah rumah sakit milik keluarga ku. Dan aku menjaga bangsal anak-anak."
"Kau menyukai anak-anak?"
"Ya, mereka menggemaskan!"
Ara menyahut cepat, namun tak berniat menceritakan alasannya kenapa memilih bekerja di bagian bangsal anak-anak.
"Ini sudah malam, kalian tidak ingin istirahat?" tanya Ara, menatap Peter dan Rachel Secara bergantian.
"Aku akan menemanimu!"
"Tidak perlu, aku hanya ingin membuat secangkir kopi. Baru setelah itu aku pergi beristirahat!"
"Tidak, kau harus menemani suami mu sayang!" Peter menyahut, mencengkal tangan Rachel. Dan menariknya keluar dari ruang makan.
Ara yang melihat itu hanya menggeleng singkat. Merasa iri. Entah kapan dia bisa merasakan perlakuan seperti itu.
Tidak banyak berharap, Ara cukup tahu diri. Kekurangannya begitu fatal sampai tidak ada satupun pria yang melangkah maju dan mengajaknya menikah.
Tidak masalah, Ara baik-baik saja dengan itu. Lagi pula Ara masih nyaman dengan posisinya sekarang. Meskipun tak jarang pertanyaan-pertanyaan itu berdatangan dari segala arah. Mengingat usianya tak bisa di bilang muda. Tapi apalah dayanya, yang bisa Ara lakukan hanya bersabar dan menunggu.
TBC
Maaf gaes kalo nggak nyambung dan banyak typo nya. Setiap hari author usahakan update 3 bab sehari. Pagi siang dan malam. Menyesuaikan waktu longgar othor. Capek si, tapi gimana lagi. othor nggak mau ngecewain kalian. Jadi jika bisa like dan komen ya othor dah bela-belain buat update banyak. terimakasih ππ
Habis Rachel Peter, mau cerita siapa lagi ni?π€
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π