Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Sesuai permintaan mu nona!


__ADS_3

"Aku akan menggantikan Peter bekerja." kata Rachel. Merekomendasikan diri sendiri.


Seketika semua tatapan tertuju padanya. Semua orang menatap Rachel tidak percaya. Belum sempat Peter membalas, suara Dominic lebih dulu menyahut.


"Tidak, aku menentang keputusan mu. Aku tidak ingin kau kelelahan karena bekerja. Bisa jadi ayah mu datang dan membunuh kami semua nanti." Ujarnya dengan wajah risau. Meyakinkan Rachel untuk tidak pergi bekerja menggantikan putranya.


"Yang di katakan daddy mu benar sayang. Sebaiknya fokus pada kesehatan mu saja. Jangan memikirkan hal lain." tambah Kanaya. Memegang pundak Rachel, menyalurkan kehangatan seorang ibu.


"Maaf Re, kali ini aku tidak bisa menyetujui permintaan mu. Kesehatan mu lebih penting dari apapun, aku tidak ingin kau kelelahan karena bekerja." Peter ikut menyahut kini. Suaranya melemah, tatapannya meneduh. Berharap Rachel mengerti.


β€œTapi kau bisa kehilangan proyek besar Peter." balas Rachel sedih. Tidak ingin Peter membayar penalti karena memutuskan kerja sama sepihak.


"Aku tidak peduli. Lagi pula kita tidak akan jatuh miskin karena kehilangan satu proyek saja!" menyombongkan hartanya.


Ini bukan soal uang, yang Rachel khawatirkan adalah reputasi Peter. Mereka mungkin menganggap Peter rekan kerja sama yang tidak bisa di andalkan dan tidak bertanggung jawab. Main pergi tanpa ada kepastian yang jelas.


"Peter benar sayang, kita tidak akan jatuh miskin karena kehilangan satu tender besar. Jadi jangan khawatirkan apapun dan fokus saja pada kehamilan mu."


Kanaya menambahi. Mengulum senyum tipis dan menggerakkan tangannya ke atas kepala Rachel. Mengusapnya dengan lembut.


"Ini bukan tetang uang mom. Tapi nama baik Peter bisa tercoreng. Setelah ini, mereka tidak akan mau


bekerja sama dengan perusahaan kita lagi. Dan beranggapan Peter tidak serius dalam berbisnis." jelas Rachel panjang lebar.


Mendengar ucapan Rachel, lantas ke-tiga orang itu menghela napas sabar. Sungguh, Rachel persis seperti ayahnya. Sama-sama tidak bisa di tentang dan teguh pada pendirian.


Ketakutan Rachel tidak salah, dunia bisnis memang keras. Tidak ada toleran sedikitpun untuk mereka yang bermain-main.


Tetapi apa Rachel lupa siapa Peter itu. Hei, Peter pemimpin Mafia. Gold lion bukan kelompok kecil yang mudah di hadapi. Mereka tidak berani menyinggung Peter karena masih sayang dengan nyawa.


Mungkin kerja sama mereka sudah berakhir. Tetapi mereka tidak akan berani menjelek-jelekkan Peter di belakang. Bahkan tidak akan mengungkit masalah ini.


"Kalau begitu biarkan Dominic saja yang bekerja." usul Kanaya. Yang bersangkutan langsung menoleh, melemparkan tatapan datar. Seakan tidak senang mendengar Kanaya menumbalkan dirinya.

__ADS_1


Bukan tidak mau mengurus perusahaan utama. Namun, Dominic tidak bisa mengurus bisnis mereka secara bersamaan. Mengingat perusahaan utama pindah ke New York, sedangkan usaha-usaha yang lain masih berada di Las Vegas.


Melihat Peter baik-baik saja, Dominic berniat mengajak Kanaya pulang Sore ini. Masih banyak hal yang harus Dominic urus di Las Vegas sana.


Semua orang sibuk berdebat, tapi tidak dengan Keenan. Keenan tidak mempedulikan perdebatan yang terjadi. Memilih duduk di samping Dominic. Menuang segelas air dan meneguknya hingga tandas tak tersisa.


Setelahnya Keenan menyandarkan kepala. Memejamkan matanya, tidur. Membiarkan keluarga cemara itu mengambil keputusan.


Setelah perdebatan usai dan mereka sudah menetapkan pilihan. Keenan akan pergi dan mempersiapkan hal yang menjadi keputusan mereka.


"Aku rasa dad tidak bisa menangani dua perusahaan di tempat yang berbeda mom. Akan sangat melelahkan jika harus bolak-balik ke sini." berusaha meyakinkan. Sampai tidak sadar sudah mengatai ayah mertuanya tua dan lemah.


Untung saja Dominic menyanyi Rachel, jika tidak Dominic pasti meledakkan kepala Rachel sekarang. Menantu durhaka memang.


"Biarkan aku pergi bekerja mom, ini tidak lama hanya beberapa minggu saja sampai Peter benar-benar pulih!" lanjutnya lagi.


Keheningan menyelimuti, masing-masing memikirkan perkataan Rachel. Mempertimbangkan. Haruskah mereka memberi izin ataukah tidak.


"Aku bilang tidak ya tidak. Kenapa kau tidak mengerti juga!" sentak Peter. Menatap Rachel dingin, suaranya meninggi menandakan tidak ingin di bantah.


"Lalu aku harus bagaimana dad? Rachel tidak mau mengerti. Sifat keras kepalanya membuat ku kesal!" keluh Peter pada sang ayah.


Rachel sendiri tampak terdiam, sedih karena Peter membentaknya di depan semua orang. "Jangan sedih sayang. Kau sangat ingin pergi bekerja hm?" tanya Kanaya memastikan lalu di susul anggukan oleh Rachel.


"Aku ingin memanfaatkan gelar sarjana ku mom. Aku ingin pergi bekerja seperti teman-teman ku. Meskipun hanya sebentar aku tidak masalah, asal aku mendapatkan pengalaman baru."


Rachel tidak ingin usahanya selama 4 tahun lebih sirna begitu saja. Setidaknya Rachel pernah memanfaatkan kemampuan yang dia punya. Lagi pula Rachel mengambil ilmu bisnis saat kuliah dulu.


"Kau yakin bisa menjaga diri?"


"Mom.. " Peter hendak melayangkan memprotes, namun Kanaya mengangkat tangan, menyuruh Peter diam.


"Ayolah mom, aku baru hamil lima bulan. Aku masih kuat bekerja dan tentunya bisa menjaga diri sendiri." jawab Rachel sumringah. Mulai melihat titik terang keberhasilan.

__ADS_1


"Baiklah mom mengizinkan mu, tetapi keputusan akhir berada di tangan Peter. Jika dia mengizinkan, kau bisa bekerja mulai besok."


Ucapan Kanaya bak petir yang menyambar Rachel di siang bolong. Setinggi apapun tahta Kanaya di keluarga Abbey, tetap saja Rachel harus mendengarkan ucapan yang mulia raja. Bagaimanapun juga Peter adalah suami Rachel. Peter berhak memutuskan mana yang boleh Rachel lakukan dan tidak.


"Sayang, boleh ya. Kali ini saja." menyematkan panggilan sayang. Memohon dengan wajah memelas, berharap Peter kasihan dan memberinya izin.


Peter terdiam, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Enggan memberi izin, pasalnya keadaan Rachel sekarang sangat rentan. Peter tidak ingin mengambil resiko.


"Lalu apa yang aku dapatkan setelah memberi mu izin." sialan, bahkan di saat-saat seperti ini Peter masih menginginkan keuntungan. Ingin rasanya Rachel menampol wajah tampan itu.


"Apa yang kau minta sebagai imbalan?" tanya Rachel ragu. Melihat binar nakal yang terpancar dari mata Peter. Rachel rasa imbalan yang Peter minta tidak jauh dari olahraga ranjang.


"Entahlah, aku masih belum menyetujui." sanggahnya. Lihat, Peter pintar membuat orang kesal. "Lamban sekali kau!" sungut Rachel.


"Apa?" pekik Peter. Menatap Rachel dengan penuh tanda tanya.


"Aku tidak mengatakan apapun!" elak Rachel. Tidak ingin menambah masalah.


"Jadi bagaimana, kau memberi izinkan?" tanya Rachel, mengalihkan pembicaraan. Semua mata tertuju pada Peter kini. Menunggu jawaban Peter. Tetapi tidak dengan Keenan, pria itu sudah tertidur beberapa menit yang lalu.


"Terserah kau saja, lagi pula tidak ada bedanya kan aku melarang ataupun tidak." jengah Peter membuat Rachel mengerucutkan bibir.


"Ck, kenapa kau berkata seolah aku tidak membutuhkan mu. Ayolah, ini hanya untuk beberapa minggu. Setelah itu kau bisa mengurung ku di Mansion, Oke!" mengangkat dua jari, meyakinkan dengan senyum mengembang.


"Anggap saja ini permulaan, dad bilang akan memberikan seluruh hartanya pada ku kan. Jadi anggap saja aku berlatih!" melirik Dominic sekilas. Lalu mengulum senyum.


"Ingat, jika kamu memberinya cucu perempuan." Peter mengingatkan, menyentil dahi Rachel lemah.


"Iya aku akan memberinya cucu perempuan!"


"Tapi bagaimana jika kau melahirkan anak laki-laki nanti?" tanya Peter gemas.


"Ya kita lakukan itu sampai dapat anak perempuan, bagaimana kau setuju kan?" melihat menantu bar-barnya, Dominic dan Kanaya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Sesuai permintaan mu nona!"


TBC


__ADS_2