
Puas menghabiskan waktu dengan menjelajahi keindahan kota Cappadocia, Peter dan Rachel pulang ke rumah baru mereka. Yaitu di kota New York. Sekian lama menunggu, akhirnya rumah baru mereka sudah selesai di renovasi.
Rachel tampak di buat takjub dengan keindahan desain interior mansion milik Peter. Unik. Warna hitam berpadu dengan emas mendominasi setiap dinding. Terlihat menakutkan namun juga mewah karena terbuat dari emas asli.
Begitu sampai Grace dan Damian langsung datang mencari keberadaan Keenan. Grace menarik Keenan pergi sedangkan Peter, Damian, dan Rachel duduk menunggu di ruang tamu.
Berulang kali helaan napas terdengar risau, Damian ingin menyusul mereka. Tidak rela Grace berlama-lama bersama pria lain.
"Mereka saling mengenal? sebenarnya apa yang terjadi?" Rachel bertanya-tanya pada dua orang pria yang saling duduk berhadapan.
Damian menoleh, suasana semakin buruk setelah melihat wajah Rachel. "Kau bisa langsung bertanya pada sekertaris suami mu!" acuh Damian.
"Ck, judes sekali membuat orang kesal saja!" hina Rachel, muak melihat wajah sok cool Damian. Jelas-jelas Damian tak berbuat apapun, menarik perhatian pun tidak. Lalu kenapa Rachel mengomentari penampilannya.
"Dasar pengganggu!" Damian balik menghina, tak terima di rendahkan oleh mulut pedas Rachel.
"Kenapa lama sekali." Damian berkacak pinggang, tidak sabaran.
Peter menggelengkan kepala, heran dengan kegilaan sepupunya ini. Grace bukannya selingkuh, tetapi Damian merasa cemburu dan siap membakar Keenan dengan api kecemburuannya itu.
"Sabar, Grace tidak akan berpaling, lebay sekali," sindir Rachel. Kembali mencari masalah.
Damian hendak menjawab, namun melihat Grace keluar dengan wajah marah dan mata berkaca-kaca. Damian kembali menutup mulut, memilih fokus pada istri tercintanya.a
"Aku mau pulang!" Grace menarik tangan Damian, membawanya pergi dari sini tanpa berpamitan pada Rachel ataupun Peter.
Tentu membuat Rachel sedikit tersinggung. Namun, tak berniat memarahinya setelah melihat air mata Grace berlinang membasahi kedua pipi chubby nya.
"Ada apa dengannya?" tanya Rachel pada dirinya sendiri. Lalu menyapukan pandangan mencari batang hidung Keenan.
__ADS_1
"Berhenti!" Rachel menghentikan langkah Keenan. Pria itu tampak kosong dengan raut muka sedih bercampur kecewa. Ya, Keenan kecewa pada dirinya sendiri.
"Kee, apa yang terjadi tadi. Kenapa Grace menangis?" bertanya pada Keenan dengan raut muka penasaran.
"Bukan hal penting, nona!" Keenan melanjutkan langkah, melewati Peter dan Rachel tanpa memberi hormat.
"Kee, kau sudah kelewat batas." Peter menegur dengan tatapan dingin menusuk. Keenan menoleh, tidak berniat menyangkal. Entahlah, malam ini rasa lelah benar-benar menguasai dirinya.
"Saya permisi!" membungkuk hormat, sebelum akhirnya pergi tanpa menjawab rasa penasaran Rachel. "Ada apa dengan pria itu, aku penasaran. Apa yang terjadi diantara mereka berdua!"
"Apa kau tahu sesuatu, maksudku masalah Keenan dan Grace." Peter terdiam sebentar, sebenarnya ia tahu kebenaran tersebut.
Ya, mengingat kejadian ini berawal dari penyelidikannya. Damian dan Peter tahu saat mencari bukti untuk menjatuhkan Belle dan mempermalukannya di hadapan keluarga suaminya. Tapi entah kenapa lidahnya terasa keluh, enggan menceritakan segalanya. Takut Rachel marah dan mendiaminya.
"Peter! katakan sesuatu jangan diam saja!" Rachel berteriak, menyadarkan Peter dari lamunannya.
Peter menarik napas, entah dari mana dia harus memulai. Yang jelas Peter akan mengungkapkan inti dari permasalahan tersebut.
"Kau serius?" memastikan dengan mata berkaca-kaca. Perasaan sedih menyelimuti hati. Bukan apa-apa, Rachel akui dia pernah membenci Belle dulu.
Saat wanita itu berlaku semena-mena dan suka menginjak harga diri Grace. Namun, setelah melihatnya bertobat dan memperhatikan bagaimana dia menjalani pahitnya kehidupan, hati nuraninya seakan tersayat.
Meskipun tahu kehidupannya hancur berkeping-keping, Belle masih berusaha menatanya kembali. Memperbaiki segalanya demi putrinya tercinta.
Mencari pekerjaan sangatlah sukar, apalagi setelah gosip pernikahannya bersama Alex yang gagal tersebar luas. Ditambah dengan Abigail yang lahir tanpa sosok seorang ayah. Belle terpaksa merintis karir dari bawah. Berharap suatu hari putrinya merasa bangga memiliki ibu sepertinya.
Sama seperti yang lain, Rachel juga menginginkan kebahagiaan untuk Belle. Dimana suatu hari nanti Belle bisa bersatu dengan ayah dari putrinya.
Lain halnya setelah tahu bahwa ayah Abigail adalah Keenan. Perasaan ragu akan pertanggungjawaban Keenan membuat Rachel risau. Antara setuju dan tidak setuju.
__ADS_1
"Sejak kapan kau tahu?" Rachel menatap Peter intens, mencari jawaban lewat tatapan mata itu. Peter terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya duduk di sofa kosong tepatnya di samping Rachel.
"Sejak perusahaan Daniel Elard gulung tikar!"
Selama itu, hebat sekali. Peter telah membohonginya selama bertahun-tahun. Dan parahnya mereka tidak peduli apa dan bagaimana cara Belle menjalani kehidupannya yang rumit.
"Selama itu?" Rachel tak habis pikir, mengapa mereka memberi hukuman sekejam itu pada kakak sahabatnya. Tidak bisakah mereka melihat kesulitan yang di hadapi Belle apalagi setelah melahirkan Abigail. Ataukah mereka pura-pura buta.
"Seandainya kalian melihat bagaimana wajah memelasnya waktu itu. Aku yakin kalian akan merasa bersalah." Rachel tak kuasa menahan tangis, waktu itu ia tak sengaja mendengar hinaan yang kerap kali Belle terima. Semua orang memandang Belle rendah. Seolah mereka ingin mencorengkan noda hitam pada wajahnya.
"Semua orang menyebutnya sampah masyarakat dan menyebut Abigail sebagai anak haram. Belle bungkam, karena dia tidak berdaya. Tidak ada bukti yang bisa membungkam mulut pedas mereka!"
"Kepalanya selalu tertunduk, dia merasa malu dengan semua perbuatannya di masa lalu. tapi, Belle menerima semuanya dengan lapang dada. Menganggap semua nasib buruk yang menimpanya adalah hukuman dari Tuhan!"
"Kau tahu, apa yang lebih miris?" Peter menggeleng, sebenarnya dia tak merasa bersalah karena faktanya Belle pantas mendapatkan semua perlakuan buruk tersebut.
"Dia menjalani hidupnya dengan senyum mengembang di bibirnya. Seolah dunia menyambutnya dengan gembira. Padahal semua ekspetasi berbanding terbalik dengan realita. Tidak ada yang mengharapkan kehadirannya!"
"Kau dan Damian sama saja. Sama-sama tidak memiliki hati nurani." Rachel berdiri dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
"Aku bukannya tidak kasihan, tapi Belle juga harus merasakan yang kakak ipar rasakan di masa lalu. Jika memang sudah waktunya dia bahagia. Aku tidak akan menghalanginya, karena itu bukan urusan ku!" Peter menyusul Rachel masuk kedalam kamar.
Keduanya berbaring diatas ranjang saling memunggungi satu sama lain. Peter tak berniat mengambil inisiatif meminta maaf terlebih dulu. Membiarkan wanita itu menenangkan diri, karena Peter tahu Rachel masih kesal dan marah padanya.
Damian dan Peter memang memberi Belle sedikit pelajaran. Tapi siapa sangka jika Abigail juga terkena imbasnya.
Keenan, aku harus membicarakan masalah ini dengannya. Jangan sampai karena urusan orang lain jarak di antara kami semakin jauh dan Rachel tidak mau memaafkan ku.
Peter memejamkan mata, cukup untuk hari ini. Biarkan dia mengistirahatkan tubuh dan jiwanya. Karena besok masih ada masalah yang datang menghampiri.
__ADS_1
TBC