Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Keinginan Rachel


__ADS_3

"Tidak usah, aku tidak keberatan dengan keberadaan ruangan itu. Tapi, bisakah kau memenuhi satu permintaan ku?" mohon Rachel dengan tatapan penuh harap. Memperlihatkan wajah memelas.


Firasat buruk Peter rasakan, bisa meraba arah pembicaraan wanita itu. Namun, melihat raut wajah Rachel membuatnya tidak tega. Memutuskan memberi kesempatan dan mendengarkan.


"Apa yang kau inginkan?"tanya Peter dengan suara lirih. Memandangnya datar dengan wajah masam.


Gelisah sampai ke ujung bibir. Rachel terdiam, melepaskan usapan-usapan lembut itu dan menggantungkan tangan.


"Aku ingin kau berusaha menahan diri untuk tidak membunuh orang." Peter bangkit dari tempat nyamannya. Menggenggam tangan,membuat kukunya memutih.


Semburat kemerahan jelas Peter tampakkan. Segera pria itu beranjak dari kamar, meninggalkan Rachel dalam kebisuan yang utuh.


Gagal lagi, terlalu susah membujuk manusia sejenis Peter. Bukan apa-apa, namun niatnya masih tetap sama. Merubah Peter menjadi seorang dengan kepribadian yang lebih baik.


Rachel memang tidak takut, bukan berarti menerima kebiasaan buruk Peter. Sebagus apapun alasannya, tetap saja membunuh merupakan hal keji. Dan pandangan dunia akan tetap sama, menganggap Peter sebagai pembunuh. Meskipun semua itu Peter lakukan untuk melindungi dan menyelamatkan anggota Mafia yang dia pimpin.


"Sabar, keberhasilan sedang menunggu mu Rachel. Percayalah, Peter akan berubah dan patuh dengan semua ucapan mu." menyemangati diri sendiri, menggenggam tangan dan bersorak meneriakkan kata-kata penyemangat.


Setelah itu, Rachel beranjak dari tempat diamnya, berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


lain halnya dengan Peter. Dilantai dasar, keheningan mendominasi kala pria itu turun dengan wajah suram. Para pelayan yang bekerja, bergegas menyembunyikan diri. Tidak ingin terkena imbas.


"Dasha!" panggil Peter membuat sang pelayan terlonjak kaget, dan segera menghampiri.


"Ya tuan, anda membutuhkan sesuatu?" menunduk menatap lantai marmer yang di pijaknya.


"Buatkan aku kopi,"perintahnya sebelum masuk kedalam ruang kerja. Dasha terdiam, menatap tuan mudanya cengo.


Apa-apaan ini, berteriak karena menginginkan secangkir kopi. Mendengar nada kurang mengenakan itu, membuat pelayan muda itu yakin jika tuan mudanya bad mood.


Brak! Peter membanting pintu, seketika pelayan yang bersembunyi dibalik dinding menyembulkan kepala penasaran.


"Dasha kau tidak papa?" tanya seorang pelayan yang seumuran dengannya.


"Kau pikir tuan menggigit ku apa, dia hanya minta segelas kopi." jengah Dasha. Lalu pergi meninggalkan teman-temannya dan pergi ke dapur untuk membuat kopi.


Dalam ruangan, keheningan menyelimuti. Peter duduk bersandar, menatap kosong layar laptop. Entahlah, kenapa dia berada disini.


padahal Peter telah memutuskan beristirahat selama dua hari, tanpa menyentuh barang-barang tersebut. Apalagi masuk kedalam ruang kerjanya.


Drtt..drtt..drtt

__ADS_1


Peter memandang handphonenya terperanjat, tertulis nama Keenan disana. "Katakan!" tahu setiap kali Keenan menelpon, berarti dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting.


"Tuan, pembeli obat terlarang kita ingin mempercepat transaksi." ucap Keenan diseberang sana. "Kapan?"tanya Peter.


"Jika bisa, malam ini, tuan!" Peter terdiam beberapa saat, ini transaksi biasa tidak mungkin melibatkan perkelahian.


"Baiklah, tapi pastikan kau mengamankan tempat. Jangan sampai ada perkelahian," perintahnya.


Keenan mengernyit dalam diamnya, heran mendengar penuturan tuannya. Baru kali ini, dia tidak menginginkan perkelahian. Padahal biasanya, pria itu bersemangat untuk membunuh.


"Baik tuan."menjawab tanpa bertanya kebingungan dan keheranannya. Sambungan telepon terputus, tentunya Peter yang mengakhiri.


Berpikir sejenak membuatnya mengambil keputusan sulit. Peter berusaha memenuhi permintaan Rachel, berharap wanita itu tahu sebesar apa cinta dan usahanya.


"Tuan, bisa saya masuk?" suara Dasha terdengar dari luar ruangan. "Masuklah!"izin Peter, berpura-pura fokus dengan layar laptopnya.


Jelas-jelas benda tersebut tidak menyala, tapi Peter tetap memerankan perannya. "Ini kopi yang anda minta!" meletakkan satu cangkir putih disebelah tangan Peter.


Anggukan singkat Peter lontarkan, bergegas Dasha keluar dari ruangan. Tidak betah dengan hawa suram yang menekan kejiwaannya.


"Anda butuh sesuatu yang lain tuan?"tanya Dasha basa basi. Padahal dalam hati, berharap Peter tidak meminta sesuatu lagi.


"Tidak!"singkat Peter,tanpa melirik ataupun tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi, tuan!" pamit Dasha, berjalan cepat menjauhi tuan mudanya.


Dasha membulatkan mata, mencoba menggerakkan bibir. Belajar tersenyum, sebelum berbalik menghadap yang mulia raja.


"Ya tuan, anda membutuhkan sesuatu lagi?"seramah dan selembut mungkin Dasha bertanya. Tidak ingin menyinggung ataupun membuat masalah untuk dirinya sendiri.


"Rachel, sudah makan?"tanya Peter.


"Belum tuan, nona muda sedang membersihkan diri!" lapor Dasha. Peter memainkan jarinya, mengetuk-ngetuk meja seraya berpikir.


"Siapkan makanannya, dan bawa ke kamar."


"Baik tuan,"jawaban cepat. Langsung keluar, tidak ingin dipanggil dan diperintah lagi.


Masih nyaman dalam duduk diamnya, Peter kembali berpikir. Merencanakan sesuatu yang akan membuat istrinya menerima semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya.


Siapa yang bisa memberi pengertian wanita itu, Kanaya? jangan, yang ada Peter menjadi sasaran empuk kekerasan terhadap anak.


Kanaya mungkin menghajarnya karena telah membuat menantu kesayangannya itu terluka dan merasa sedih. Dominic, apalagi hubungan mereka tidak lebih dari musuh berkedok mertua dan menantu.

__ADS_1


Siapa, Darion? Peter tidak yakin, takut pria tua itu menambah masalah dengan memprovokasi Rachel dan menyuruhnya menggugat cerai.


Lebih baik aku masuk dan menemani Rachel sarapan. Minta maaf, dan berusaha memperbaiki hubungan. Kali ini, aku tidak boleh egois. Rachel tidak mudah diperdayai ataupun di bodohi.


Dengan langkah panjang, Peter keluar dari ruang kerja. Menaiki tangga dan masuk kedalam kamar. Bersamaan dengan itu, Dasha keluar dari kamar setelah meletakan makanan di meja.


Merasa kepergok, lantas Dasha mengentikan langkah. Namun, Peter tidak menegur sapa dan melewati pelayan itu.


"Untung saja, tuan muda tidak marah." tenang Dasha sebelum menapakkan kakinya pergi.


Peter duduk di depan meja, menunggu Rachel selesai membersihkan diri. Sembari menunggu, pria itu memantik rokok dan meresapi setiap asap.


Hingga batang rokok tersebut pendek, Rachel baru keluar dari kamar mandi. Namun, dengan pakaian lengkap. Tinggal mengeringkan rambut saja.


"Lama sekali!" komentar Peter, begitu Rachel menutup pintu kamar mandi.


Rachel terlonjak kaget, berbalik menghadap sumber suara. Sedikit bingung melihat Peter duduk santai dengan tampang tidak bersalah. Seolah tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka.


"Kau disini?" heran Rachel. Padahal baru beberapa menit lalu, Peter marah mendengar permintaannya. Dan itu Rachel ketahui ketika melihat mata kelamnya.


"Menurut mu, aku arwah?" mencoba bergurau, tapi terdengar garing bagi Rachel.


"Hahaha, lucu sekali!" tertawa sumbang dengan wajah datar. "Kemari, aku akan menemanimu sarapan!" semakin heran sekaligus senang.


Rachel langsung mendekat dan duduk dipangkuan Peter. "Kau ingin memanjakan ku?" tanya Rachel berseri.


"Tentu, aku juga berusaha memenuhi permintaan mu." seketika pelukan erat dan kecupan-kecupan basah Rachel hadiahkan. Tidak sadar dengan kebohongan yang Peter sembunyikan.


Rasa senang membuatnya buta, tidak mampu melihat kebohongan di mata Peter. "Kau membuatku senang, sayang. Malam ini biarkan aku menyenangkan mu." kata Rachel berbisik dengan nada sensual.


"Benarkah? aku ingin lihat bagaimana cara mu menyenangkan ku, sayang!" membalas dendam tatapan penuh hasrat, akhirnya setelah berpuasa cukup lama Peter bisa berbuka.


"Tunggu dan lihat saja nanti!"


TBC


Belum author Refisi, maaf kalau tidak nyambung.


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2