
Setelah sampai di sebuah bangunan tua yang cukup luas dan berada di tengah-tengah hutan. Peter mengajak Rachel turun dari mobil.
Tempat ini berada di tengah-tengah hutan labirin. jalan menuju kemari pun sangat rumit dan membingungkan. Tidak ada yang bisa sampai disini dengan mudah. Mungkin kebanyakan dari mereka tersesat di tengah jalan. Rachel bahkan tak mengingat jalan yang mereka lalui tadi.
Begitu turun dari mobil, Rachel mengernyit bingung saat melihat orang-orang berdasi berlalu lalang disini. Seakan-akan tempat ini adalah sebuah perusahaan besar yang terkenal.
Apa benar mereka semua merupakan anggota Mafia. Tapi tampilannya berbeda dengan yang Rachel bayangkan. Meskipun tak berdasi, setidaknya diantara mereka memakai kemeja dan jas hitam.
Peter mengajaknya berjalan kearah pintu masuk. Seketika mereka bergegas membungkuk hormat, tatkala Peter melewati mereka. Dari sini Rachel, menyadari bahwa kekuasaan dan pengaruh Peter sangatlah besar. Peter tampak seperti pemimpin berwibawa.
"Ayo masuk!" Peter merengkuh pinggang ramping Rachel, membawa wanita itu masuk kedalam melewati pintu ganda bewarna coklat tua. Beberapa anggota ataupun penjaga tampak melongo, saat melihat adegan tak terduga itu.
Kebanyakan dari mereka bertanya-tanya, siapa wanita cantik yang di bawa oleh pemimpinnya itu. Kekasih ataukah pelacur yang di sewa. Namun, melihat Peter bersikap manis dan selembut itu, mereka yakin bahwa Rachel merupakan orang spesial bagi pemimpinnya itu.
Banyak anggota Gold Lion yang tidak tahu bahwa pemimpin mereka sudah menikah. Mengingat pesta pernikahan mereka di gelar secara tertutup atas permintaan Rachel sendiri. Karena itu tidak banyak yang tahu mengenai hubungan mereka.
Rachel menggunakan tangan untuk mengipasi wajahnya yang terasa panas. Pengap, gelap, dan berdebu. Semua itu Rachel rasakan saat masuk kedalam bangunan tua ini.
Secercah cahaya tidak bisa masuk kedalam, karena terhalang oleh dinding besar yang berdiri kokoh. Tidak ada fentilasi juga, maka dari itu terasa pengap dan gelap disini.
Bukan berarti gelap gulita, namun temaram cahaya lampu dipadukan dengan rasa sepi seakan menambah kesan horor pada tempat ini.
"Peter, apakah tempat ini markas rahasia mu?" tanya Rachel heran, merasa bangunan ini tidak layak pakai. Terlihat tua, usang, dan berbau tidak sedap.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Jangan tersinggung, tapi tempat ini seperti tidak layak di tempati!" Peter terkekeh, Rachel tidak tahu bagian terdalam dari bangunan ini. Baru juga masuk, tapi Rachel sudah membuat kesimpulan.
"Kita masih dibagian depan bangunan, Re. Lihat saja nanti, aku yakin pendapatmu akan berubah begitu melihat ruang perkumpulan kami!" Rachel tersenyum kecut dan mengangguk sekali. Malu.
" Kau merasa tidak nyaman?"
"Sedikit, aku tidak pernah datang ke tempat segelap dan sepengap ini. Tapi aku harus berusaha menyesuaikan diri, mengingat aku telah memutuskan bergabung bersama mu," jawab Rachel jujur. Sesekali menutup hidungnya karena bau amis yang menyengat.
Mereka berhenti di depan pintu besi, Peter menoleh kearah istrinya, dan berkata. "Kita baru melewati lorong, bersiaplah setelah pintu ini terbuka kau bisa melihat ratusan serangga yang terkapar lemah dengan rasa takut yang tak terhingga!"
__ADS_1
Deg! jantung Rachel berdetak kencang, menerka-nerka maksud Peter barusan. Ucapan Peter bak peringatan yang membuatnya semakin kalut. Rachel menelan ludahnya kasar, lalu mengangguk mengiyakan.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, ketika Peter meletakkan ibu jarinya di alat pendeteksi sidik jari.
Hoek! Rachel mual tatkala aroma amis bercampur busuk menyeruak masuk kedalam Indra penciumannya.
"Kau tidak papa? kalau kau tidak kuat, kita bisa melalui jalan yang lain." tawar Peter, tidak tega sekaligus panik melihat Rachel mual-mual.
"Tidak, lanjutkan saja, aku harus tahu seluk beluk markas ini. Dan segera menyesuaikan diri dengan keadaan tempat ini." ucap Rachel, meraih lengan Peter dan memeluknya erat. Peter menghembuskan nafas panjang, sebelum melanjutkan langkah. Ia membiarkan Rachel memeluk lengannya.
Sel, Rachel pernah melihat sel tahanan semacam ini saat memergoki Peter dulu. Namun, di ruangan ini tampak lebih mengerikan dan mencengkam.
Suara teriakan-teriakan mengejutkan Rachel. Ia membulat mata, ketika sadar sel tahanan itu berpenghuni.
Tubuhnya bergetar melihat ratusan manusia dengan anggota tubuh yang tidak lengkap berada di dalam sel itu. Mulai dari mata, tangan, kaki, bahkan yang tidak bisa bergerak sedikitpun ada di dalam sel tahan itu. Mengerikan.
Rachel merasa kasihan, apalagi saat langkah Peter menggema semua orang bergegas menjauh dan menyembunyikan diri di pojok ruangan.
Jika Rachel ada di posisi mereka, lebih baik ia memilih mati. Dari pada harus di siksa secara perlahan. Ruangan ini lebih buruk daripada neraka.
"Tempat ini digunakan untuk menyiksa ataupun menahan musuh kita. Kau harus terbiasa melihat semua ini, apa kau takut sekarang?" tanya Peter remeh, sengaja mempertontonkan ruangan mengerikan ini agar Rachel mundur dari keputusannya.
"Tidak, aku hanya terkejut! bisa kita lanjut ke ruangan selanjutnya?" seru Rachel, memaksakan diri untuk tersenyum walaupun sebenarnya dia ingin berteriak dan memaki kegilaan Peter.
"Ayo!" Peter berjalan satu langkah lebih dulu, meninggalkan Rachel yang masih melirik kesana kemari. Penasaran dengan keadaan orang-orang yang menghuni sel tahanan itu.
"Ini ruangan perkumpulan kami!" Peter memberitahu sebelum mengajak Rachel masuk kedalam. Rachel mengangguk paham.
"Masuklah!" Rachel mengangguk, dan mengekori Peter. Suara riuh terdengar disini, berbeda dari ruangan-ruangan yang lain. Tempat ini sangatlah mewah dan luas. Hampir sebesar Mall.
"Tuan!" sapa seorang pria, membuat pria yang lain menoleh dan langsung membungkukkan badannya hormat. "Ini mewah sekali!" kagum Rachel.
Ruangan ini bukan hanya sekedar ruang pertemuan biasa, ada berbagai fasilitas yang tersedia. Mulai dari bar mewah, meja judi, meja bilyard dan masih banyak lagi. Rachel menganga, tidak percaya dibalik keusangan ada sebuah kemewahan yang tersembunyi.
"Kemarilah, Re!" Peter melambaikan tangan, menyadarkan wanita itu dari kekagumannya. "Perhatian! kita kedatangan Anggota baru disini!"
__ADS_1
semua pandangan langsung menyorot Rachel, "Dia anggota wanita pertama kita, namanya Rachel Adaline Abbey, istriku sekaligus asisten pribadi ku!"
Rachel tersenyum konyol, melambaikan tangan dan menyapa mereka. "Hai, senang bisa bertemu kalian!" semua orang menahan tawa, gemas sekaligus takjub melihat istri bos mereka yang begitu cantik.
Rasa terkejut masih mereka rasakan, tidak menyangka kalau pemimpin mereka sudah menikah. "Jadi, aku harap kalian menghormati istri ku sama seperti kalian menghormati ku!"
"Baik, tuan!" jawab mereka serempak, kembali melemparkan tatapan intens pada nona barunya. Membuat Rachel salah tingkah dan malu.
"Selamat datang, nona!" sambut mereka, kemudian membungkuk memberi hormat. Rachel mengangkat kedua tangan di udara.
"Iya-iya! tidak usah membungkuk, aku bukan pemimpin kalian!" ucap Rachel canggung.
"Anda istri pemimpin kami, sudah sepatutnya kami juga menghormati anda, nona!" ucap seorang pria muda yang tampan dan mempesona. Jika dilihat-lihat, sepertinya tidak ada anggota yang sudah tua disini.
"Hahaha, terserah kalian!" Rachel tertawa rendah, lalu mengarahkan tangannya kebelakang, menggaruk tekuk yang tidak gatal.
Setelah Peter menyuruh mereka kembali melakukan kegiatan masing-masing, Rachel mendekat dan menarik-narik ujung jas Peter. "Ayo pulang, aku malu!" ajaknya lirih. Rachel tak mengira bahwa tidak ada satu wanita pun yang bergabung disini.
"Aku harus pergi bekerja, kau disini saja ya!" sahut Peter. Pria itu menahan tawa melihat ekspresi lucu istrinya. "Tidak-tidak, aku ikut saja dengan mu!"
"Kenapa, bukankah kau ingin bergabung dengan mereka?" Rachel mengangguk. "Ya sudah, bergabung saja. Mereka tidak akan berani menatap ataupun menyakiti mu!"
"Sudah ya, aku pergi!"
"Eh..eh.. tunggu-" brak! pintu tertutup, Peter meninggalkannya sendiri disini.
Kampret, pasti dia ingin membalas dendam karena aku sering menyusahkannya!
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π
__ADS_1