Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Ancaman


__ADS_3

Malam itu, Keenan bergegas masuk kedalam mansion sang majikan. Betapa rindunya dia pada putri tercintanya. Memang baru beberapa jam mereka berpisah. Tapi rasa rindunya kian membuncah. Keenan ingin memeluk Abigail sekarang.


"Kau datang, cepat sekali!" ujar Peter kala mendapati Keenan datang dengan napas memburu. Pasti pria itu habis berlari.


"Dimana putri saya, tuan?" tanpa basa-basi Keenan bertanya. Tatapannya mengedar, mencari sosok buah hatinya.


"Serahkan dokumen itu dulu. Baru kau bisa menemui putri mu!" balas Peter.


Keenan menghela napas panjang. Bersabar. Jika saja Peter bukan atasannya mungkin Keenan akan melenyapkannya sekarang.


"Ini tuan!" Keenan menyerahkan dokumen dengan map bewarna biru. "Putri mu tidur bersama istri ku. Aku tidak bisa membiarkan mu masuk dan melihat istri ku juga!"


"Tuan, anda bisa membawanya kesini?" berusaha bersabar. Tidak ingin membuat kekacauan di tempat orang.


"Tidak!" Peter menjawab dengan santainya. "Tapi jangan khawatir, aku akan memberikan sesuatu yang akan menarik minat mu!" seru Peter penuh teka-teki.


Keenan mengernyit, "apa itu?" tanyanya dengan alis berkerut. Penasaran.


"Ikut aku!" Peter berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan menaiki tangga. Menuju ruang kerja.


"Ruang kerja, pekerjaan saya sudah selesai. Mengapa Anda membawa saya kesini?" tanya Keenan. Entahlah, tapi Keenan takut Peter akan memberinya pekerjaan tambahan.


"Aku tahu, aku mengajak mu kesini bukan untuk membahas pekerjaan!"


"Lalu?"


Peter duduk bersandar di kursi kerjanya. Lalu menghadap Keenan dengan wajah datar. "Baca ini!" menyodorkan map coklat ke atas meja.


"Apa ini?" Keenan membolak-balikan map tersebut. Lalu bertanya karena penasaran. "Buka dan baca sendiri!"


Keenan mendelik, sebelum akhirnya membuka map tersebut. Dan betapa terkejutnya dia saat membaca informasi yang tertulis di laporan itu.


"Ini.." Keenan tak bisa berkata-kata. Laporan ini terlalu menarik minatnya. Keenan sedikit heran mengapa bosnya ini tertarik dengan kehidupannya.


"Ya, itu informasi mengenai teman kuliah Belle. Beberapa hari yang lalu aku menyuruh seseorang untuk menyelidikinya!" sahut Peter membalas.


"Aku tahu kau sudah menyuruh seseorang menyelidiki pria itu. Tapi kau belum membacanya bukan. Sekarang baca dan pahami. Tentukan keputusan mu sekarang. Ingat besok kita akan pergi ke Milan!" Peter melanjutkan ucapannya.


"Jika di pikirkan lagi, bukankah Belle tidak akan rugi menikah dengan Michel. Dia berasal dari keluarga tersohor di Italia. Hidup mereka tidak akan kesusahan lagi setelah menjadi bagian dari keluarga itu!"


Kini hati Keenan semakin gusar. Besok mereka akan berangkat ke Milan. Sebentar lagi dia harus berpisah dengan putri kandungnya sendiri. Menyesal, tentu saja. Seandainya waktu itu Keenan memutuskan menerima Belle. Semua ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kau sudah melepaskan mereka dengan lapang dadakan?" Peter sengaja memprovokasi. Berharap Keenan terpengaruh dan takut akan kehilangan keluarga kecilnya itu. Sehingga Keenan mau menikah dengan Belle.


"Tidak tahu, saya masih bingung!" seru Keenan tanpa mengalihkan pandanganya pada lembaran-lembaran tersebut.


"Aku dengar Michel mempersiapkan sebuah lamaran untuk wanita mu itu. Aku jadi tak sabar melihat mu putus asa!" Peter menjahili Keenan. Lihat sekarang, wajah Keenan tampak tertekan.


"Saya tidak akan membiarkan mereka menikah!" putus Keenan membuat Peter jengah.


"Apa hak mu?" tanya Peter membuat Keenan sadar diri akan posisinya.


"Tentu saja saya berhak, saya adalah ayah kandung Abigail!" seru Keenan setelah terdiam beberapa saat.


"Kalau begitu nikahi saja dia. Kau masih mempunyai sedikit waktu. Ini belum terlambat!" Keenan terdiam. Memikirkan Kata-kata Peter.


"Kalau kau masih bersikukuh menolak. Ya sudah, tapi konsekuensinya yang harus kau bayar adalah membiarkan putri kesayangan mu itu melupakan mu dan memanggil orang asing dengan panggilan Ayah!" Keenan tampak terdiam berpikir sejenak.


"Jika saya menikah dengan wanita itu. Apa saya bisa menjauhkan mereka dari musuh-musuh saya?" tanya Keenan dengan suara lirih.


"Tentu saja. Kau bisa melindunginya dari musuh-musuh mu. Karena mereka berada dalam jangkauan mu!" Peter mulai menampakkan wajah senangnya.


"Tapi bagaimana caranya? Mendengar penolakan saya pasti membuat harga diri wanita itu terluka!”


"Mudah saja, tinggal ancam saja dia!"


"Hei kita ini mafia. Dan seorang mafia tidak mengenal apa kata jahat. Asal kau bisa membuat wanita itu terikat dengan mu, kenapa tidak?" ucap Peter sembari menaik turunkan alisnya. Wajahnya terlihat licik sekarang.


Lucunya Keenan mulai terpengaruh dengan ucapan Peter. Sepertinya Keenan mulai memikirkan saran Peter.


"Saya mengerti, kalau begitu saya akan menunggu di ruang tamu!" pamit Keenan dan Peter mengangguk sebagai jawaban.


...🍁🍁🍁🍁...


Keenan duduk di sofa ruang tamu. Merenung. Ya, Keenan memikirkan cara yang akan membuat Belle bertekuk lutut dan mau menikah dengannya.


Mengancam, haruskah Keenan memakai cara yang Peter sarankan. Lalu, siapa yang akan menjadi objek ancamannya. Michel? ya Keenan akan memakai pria itu sebagai umpan nanti.


"Oh ayah mu sudah datang ternyata!" Keenan mendongak. Ia langsung berdiri saat melihat Rachel turun membawa Abigail.


"Kau menunggu putri mu?" bertanya dengan suara lembut dan tatapan bersahabat. Bahkan di akhiri dengan senyuman tipis.


"Ya, seperti yang anda lihat nona!" jawab Keenan datar. Bahkan matanya pun tak menatap Rachel. Melainkan menatap Abigail. Sifatnya begitu dingin sampai membuat Rachel muak.

__ADS_1


"Sebentar lagi kalian akan berpisah. Aku jadi sedih karena tidak bisa melihat Abigail lagi!" seru Rachel. Memperlihatkan wajah sedih bercampur masam.


"Tidak bisakah kau menikah dengan kak Belle saja?" tanya Rachel. Matanya menatap Keenan penuh harap.


"Apa itu penting?" malah bertanya balik.


"Ye si mulut lemes! tentu saja itu sangat penting. Belle kakak sahabat ku itu artinya dia juga kakak ku. Bodoh sekali kau!" bengis Rachel. Begitu dipancing langsung keluar semua Kata-kata pedasnya.


"Akhirnya sifap asli anda keluar juga!" cibir Keenan di akhiri dengan senyuman tipis. Entahlah, tapi Keenan suka melihat nona mudanya bersikap garang. Lagi pula Keenan tidak nyaman dengan sikap lembut dan sok kalem Rachel.


"Hei, tutup mulut mu. Jika tidak aku akan menahan Abigail sampai besok di sini. Bersama ku!" ancam Rachel. Matanya menajam dan raut mukanya berubah garang. Khas emak-emak pada umumnya.


β€œAnda tidak punya hak melarang saya membawa putri saya sendiri!” sarkas Keenan. Membenarkan.


β€œKata siapa aku tidak punya hak?” bertanya dengan ketus.


β€œKata saya!” menjawab dengan ekspresi menantang. Siap melayani perdebatan.


β€œBelle adalah kakak ku, jadi aku berhak membawa keponakan ku!” serunya seraya memeluk erat Abigail dan melangkah mundur beberapa kali. Menjauhi Keenan.


β€œDia darah daging saya nona!” mulai geram. Namun, Keenan berhasil mengatur ekspresi wajahnya.


β€œKau dan Belle belum menikah. Jadi kau bukan Ayah Abigail yang sah!" balas Rachel malas. Tidak mau kalah.


"Peraturan macam apa itu, siapa yang membuat. Biar saya lenyapkan dia!"


"Aku yang membuat. Kenapa? kau ingin melenyapkan aku?" remeh Rachel. Menjadi ratu di hati Peter merupakan keberuntungannya.


Keenan tak bisa menyakitinya karena status itu. "Terserah anda saja, saya mengaku kalah!" Keenan mengangkat kedua tangan. Menatap Rachel seolah berkata apa anda puas.


"Besok kita akan pergi ke Milan. Aku jadi tak sabar melihat mu menangis darah karena kehilangan dua wanita yang paling kau sayangi!"


"Saya tidak akan kehilangan mereka nona!" gumam Keenan. Hampir seperti bisikan.


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Saya bilang, saya akan membawa Abigail pulang!"


"Permisi!" Keenan menggendong Abigail dan membawanya keluar mansion tanpa berpamitan pada istri sang majikan.


"Dasar asisten kurang ajar!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2