Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Berkencan


__ADS_3

Tok! tok! tok! suara sepatu heels terdengar jelas di sekitar trotoar. Seorang wanita tengah berjalan menulusuri trotoar yang tidak ada habisnya itu.


Kakinya terasa pegal dan bibirnya tak berhenti mengumpat, kala mengingat kesialan tengah menimpanya hari ini. Ban mobil yang dia tumpangi kempes di tengah jalan, dan mirisnya wanita itu lupa membawa ponsel.


" Seandainya aku tak bersikeras pergi. Bisa jadi Peter akan marah saat tahu aku keluar tanpa izin," serunya lirih. Ya wanita itu adalah Rachel.


Pagi ini, Rachel hendak mengunjungi salah salah satu Kasino milik Peter. Namun, tanpa sepengetahuan suaminya itu.


Bukan apa-apa, tapi Rachel tidak ingin Peter mengomelinya karena pergi ketempat dimana banyak pria asing berada.


Tin! tin! tin! suara klakson membuat Rachel terkejut dan berdecak kesal. Dengan nafas memburu, wanita itu menoleh hendak memarahi sang pengemudi mobil.


Tapi saat melihat siapa yang keluar dari mobil itu , kekesalannya menghilang berubah menjadi rasa senang yang tiada duanya.


" Kau?"


" Apa kabar, Re?" Rachel tersenyum dan memeluk pria itu singkat. " Aku baik-baik saja Ken, kau apa kabar?"


Yah pria itu adalah Kenzo Michelin, teman Rachel yang ditemuinya saat dia berkunjung ke Las Vegas untuk pertama kali.


" Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!" jawab Kenzo dengan senyum hangatnya.


Rachel bisa melihat perubahan Kenzo dalam dua tahun ini. Rambut yang semula bewarna pirang berubah menjadi hitam pekat.


Tidak hanya itu, namun gaya pakaian Kenzo juga ikut berubah lebih rapi dan formal. Padahal dua tahun lalu, Kenzo lebih suka memakai pakaian casual.


" Kau ingin pergi kemana?" tanya Kenzo, dengan alis berkerut. " Aku ingin pergi ke kasino. Tapi ban mobil ku kempes di tengah jalan." keluh Rachel dengan nada kecutnya.


" Ayo berangkat bersama ku, aku juga ingin kesana. Sekalian kita bernostalgia nanti!" Rachel mengangguk mengiyakan.


Hei, mereka sudah berpisah selama dua tahun. Banyak hal yang ingin Rachel ceritakan pada pria itu." Sebelum itu, bisa hubungi montir untuk memperbaiki mobil ku?"


" Tentu saja, kebetulan aku punya kenalan montir di kota ini. Kita berangkat saja, aku akan menyuruhnya nanti!" kata Kenzo,lalu membukakan pintu untuk Rachel.


" Terimakasih!" bergegas Kenzo mengitari setengah mobil itu dan duduk di samping Rachel.


Dengan kecepatan sedang, mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan kota Las Vegas. Keduanya saling mengobrol dan bercanda ria.


Hingga akhirnya mereka tiba di salah satu Kasino yang biasa mereka kunjungi dulu. Keduanya masuk dan memesan ruang VIP. Dimana banyak tamu terhormat yang datang dan menyewa tempat itu. Beberapa wanita juga datang ke tempat ini,


Memang tak mendominasi ruangan. Tapi setidaknya Rachel tidak sendirian disini.


" Ayo bermain kartu sambil berbincang!" ajak Kenzo, seraya meraih bongkahan kertas yang menumpuk di meja kayu yang mereka tempati.


" Okey," jawabnya setuju.

__ADS_1


" Kau banyak berubah ya Ken," ujarnya memulai pembicaraan. Kenzo nampak tertawa kecil, sebagai tanggapan.


Namun, beberapa saat kemudian pria itu menjawab. "Aku tetap sama, Re! hanya saja pekerjaan menuntut ku berpenampilan rapi."


Rachel mendongak, seraya menautkan sebelah alisnya. " Memangnya, apa pekerjaan mu sekarang?" tanya Rachel.


Pasalnya dua tahun yang lalu, Kenzo tak pernah sekalipun membicarakan perihal pekerjaan.


" Aku mewarisi perusahaan ayahku,"jawabnya dan diakhiri dengan tawa sumbang.


" Wah..kau seorang Presdir huh?" puji Rachel, lalu menyenggol bahu Kenzo berulang kali. Menggoda pria itu dengan senyum konyolnya.


" Cih, apa hebatnya. Itu perusahaan orang tua ku, bukan perusahaan ku, Re," katanya dengan raut wajah kecut.


" Ayolah, itu sudah cukup hebat Ken, mungkin sekarang masih milik orang tuamu. Siapa tahu suatu hari nanti, kau bisa mendirikan perusahaan mu sendiri!" seru Rachel, menyemangati. Ia tidak ingin temannya itu berkecil hati.


" Mulut mu manis sekali. Sekarang giliran ku yang bertanya padamu!"


" Sejak kapan, kau ada di Las Vegas," tanyanya, sambil mengambil sebotol wine non alkohol. Kenzo tahu, Rachel tidak tahan dengan minuman beralkohol.


" Entahlah, aku lupa. Yang jelas lebih dari dua Minggu!" kata Rachel menimpali.


" Kenapa tidak menghubungi ku, aku bisa menjemput mu di bandara!" seketika tawa Rachel pecah.


" Hei, aku sudah menikah dan tinggal di sini. Suamiku orang sini!" pungkasnya, menahan tawa.


" Hmm!" Rachel mengangguk-angguk, lalu meraih gelas dan menyesap wine nya.


"Kapan? kenapa tidak mengundang ku?" ricuh Kenzo, merasa kesal karena tidak bisa menyaksikan temannya itu mengucap janji suci pernikahan.


"Entahlah, aku tidak tahu pastinya yang jelas hampir satu bulan yang lalu. Dan aku tidak bisa mengundang mu, karena ponselku hilang!"


Atau lebih tepatnya dibuang Peter, batin Rachel bermonolog.


" Alasan, tapi aku ikut senang mendengarnya." sahut Kenzo.


" Lalu, kau tidak berencana menikah?" tanya Rachel, sontak Kenzo mendongak seraya tersenyum simpul.


" Sebenarnya aku punya kabar baik!" kata Kenzo dengan raut muka penuh makna.


" Apa?" Rachel mendekatkan kepalanya,lalu menatap Kenzo penuh ketertarikan.


" Aku akan menikah bulan depan!"


Brak! Rachel menggebrak meja judi, lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat. Dan langsung menunduk kala semua mata menjadikannya sebagai pusat perhatian.

__ADS_1


" His, kau ini. Tidak perlu terkejut begitu!" ketus Kenzo sambil menarik tangan wanita itu agar duduk kembali.


" Maaf-maaf, refleks!" timpal Rachel dengan wajah tanpa dosa ataupun merasa bersalah.


"Kau masih sama ya, tetap ceroboh dan aneh!" keluh Kenzo dan langsung mendapat bogeman dari Rachel, tepat di kepalanya.


" Aduh!" rintih Kenzo seraya mengusap kepalanya.


" Lalu, kau tidak mengundang ku?" tanya Rachel, seolah lupa dengan apa yang diperbuatnya barusan.


" Tentu, aku mengundang mu. Tidak mungkin tidak, setelah aku memberitahukan padamu segalanya!"


" Berikan nomor ponsel mu yang baru!" pinta Kenzo, menyerahkan telepon pintarnya pada Rachel.


" Itu tidak adil, kita bertukar nomor saja." seru Rachel, menyahut benda pipih itu dan menelfon dirinya sendiri agar mendapatkan nomor Kenzo.


Perbincangan keduanya berlanjut hingga tidak sadar bahw matahari telah terbenam dari ufuk barat. " Damn! Ken, apakah mobil ku sudah diperbaiki?" tanya Rachel.


Terlihat sekali jika wanita itu tengah gelisah setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. " Belum, mereka bilang esok baru usai!"


" Kau ingin pulang?" secepat kilat Rachel mengangguk, mengiyakan.


" Ayo, aku akan mengantarmu," katanya seraya mengambil kunci mobil dan berjalan mendahului Rachel. Kenzo tidak ingin mendengar penolakan wanita itu.


Mau tidak mau Rachel pun mengekorinya, mengingat jarak mansion Peter dan Kasino ini cukup jauh.


" Cepatlah, aku sudah terlambat!" risau Rachel, merecoki Kenzo dengan menyuruhnya menambah kecepatan mobil.


Hingga 20 menit kemudian, mobil Kenzo sampai dan berhenti tepat didepan gerbang mansion Peter. " Terimakasih, kau pulang lah!" seru Rachel dengan mata yang sedikit bergetar.


" Baiklah, sampai jumpa. Aku akan mengirimkan undangan, jangan lupa datang ya!" teriak Kenzo, sebelum menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi.


Rachel menghembuskan nafas panjang, lalu masuk kedalam. Aneh, mengapa mansion tampak gelap. Apakah Peter lupa membayar tagihan. Tidak mungkin.


Plak! Rachel menepuk dahinya sendiri, lupa jika Peter masih berada di Valencia. Peter, bilang dia pergi selama tiga hari. Tidak mungkin pria itu tiba lebih awal.


Sontak langkahnya kembali melambat, dengan santai Rachel membuka pintu dan masuk kedalam tanpa merasa ragu.


Klek! tiba-tiba lampu menyala, kala Rachel hendak menaiki tangga.


" Puas berkencan, sayang?"


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2