
Keheningan menyelimuti ruang rapat itu. Semua pandangan tertuju pada satu tempat, yaitu ambang pintu. Dimana Keenan berdiri santai seraya menggendong putri tercintanya.
Semua orang terkecuali Peter, menatap Keenan dengan tatapan bertanya-tanya. Pasalnya asisten Peter yang satu ini enggan bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Dan tidak mudah dekat dengan anak kecil. Lalu tiba-tiba menggendong seorang anak. Bukannya bahagia mereka semua malah takut.
Takut jika Keenan melenyapkan anak tidak berdosa itu. Namun, tidak ada yang berani membuka suara. Bertanya. Mereka memilih diam dengan Kepala tertunduk. Sesekali membolak-balikkan berkas untuk menghilangkan rasa gugup.
"Kau terlambat?" tanya Peter memecahkan keheningan yang terjadi. Keenan mengangguk santai, kemudian melangkahkan kakinya sekali. Melewati pintu.
"Maaf tuan!" tak menyangkal, memilih mengucapkan permintaan maaf karena Keenan tahu bahwa dirinya melakukan kesalahan yang terbilang cukup fatal.
"Bagus! kau berlagak seperti bos sekarang?" desis Peter kesal. Merasa kedudukannya di remehkan. Jika saja Keenan tak menggendong Abigail sekarang, sudah pasti Peter akan menghajarnya saat ini juga.
Tidak ada jawaban, Keenan malah duduk di tepatnya dengan santai. Hal itu membuat emosi Peter semakin memuncak. Namun, dengan sekuat tenaga Peter menahannya.
"Sebagai hukuman pimpin rapat ini." ujar Peter tegas. Keenan masih diam, lebih senang memfokuskan diri pada putri tunggalnya itu.
"Hai sayang! ikut aunty yuk!" seorang staf wanita datang menghampiri. Mencoba mengambil alih gendongan Abigail. Bukan apa-apa, tapi Abigail membuat fokus Keenan teralihkan.
Sayangnya Abigail mengalihkan wajah dan langsung merengek. Kedua tangannya mencengkram baju sang ayah. Takut dengan staf wanita itu.
Bukannya merasa kasihan, pegawai tersebut malah menarik paksa Abigail dari pangkuan sang ayah. Sontak tangis Abigail pecah memenuhi ruang rapat.
Abigail merasa sakit karena staf tersebut menarik tubuhnya secara paksa. "Apa-apaan kau?" tanya Keenan dengan suara dingin. Tidak suka dengan perbuatan staf tersebut yang sok pintar.
"Saya akan membawa anak ini kekantor polisi dan membuat laporan orang hilang, tuan!" jawab staf tersebut. Mengira Keenan menemukan Abigail di jalanan kota.
Astaga, apakah wanita itu buta. Jelas-jelas Keenan dan Abigail memiliki banyak kesamaan. Terutama warna bola mata dan rambut.
"Berikan anak itu padaku!" ucap Keenan memerintah. Rahangnya mengeras, menahan marah. Tangisan Abigail seolah membangkitkan kemarahan Keenan dalam sekejap.
"Anda harus bekerja tuan!"
"Siapa kau berani mengatur ku?" seketika staf tersebut langsung terdiam. Benar, siapa dia berani mengatur Keenan yang merupakan atasannya.
__ADS_1
"Tutup mulut kalian berdua. Siapa yang mengizinkan kalian bertengkar di ruang rapat. Tepat dihadapkan ku huh!" Peter menyahut. Memecahkan dinding suram yang Keenan buat.
Seketika Keenan dan staf tersebut diam di tempat. Pandangan mereka beralih pada Peter kini. Namun, Peter tak memperdulikan tatapan mereka. Perhatiannya tertuju pada Abigail yang masih menangis.
"Berikan anak itu padaku!" menunjuk Abigail lewat isyarat mata. Tanpa babibu staf tersebut langsung meletakkan Abigail ke pangkuan Peter.
"Don't cry princess!" Peter menghapus air mata Abigail dengan ibu jarinya. Anehnya Abigail berhenti menangis dan duduk nyaman di pangkuan atasan ayahnya itu.
Merasa Abigail sudah tenang, lantas Peter menggendong anak itu. "Rapat di batalkan. Kau periksa dokumen pagi tadi dan serahkan padaku malam ini!" titah Peter santai.
"Tuan! saya-" baru dua kalimat Keenan lontarkan, namun terpotong tatkala melihat Peter mengangkat tangan.
"Kau tidak bisa menolak, ini hukuman dari ku untuk mu karena datang terlambat ke rapat ini!" sarkas Peter. Menyanggah.
"Hari ini aku akan membawa putri mu pulang. Jadi tangani semua urusan kantor hari ini dan datang ke Mansion ku malam nanti!" seru Peter sebelum berlenggang pergi meninggalkan Keenan dan pegawai yang masih duduk memperhatikan.
Brak! Keenan menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya. Kini tatapan tajamnya beralih pada staf wanita yang sok pintar itu.
Plak! tanpa ragu, Keenan menampar staf wanita tersebut. Sangat keras sampai membuat staf wanita itu jatuh tersungkur ke bawah lantai.
"Maaf tuan! saya tidak tahu jika anak itu adalah putri anda!" ucap pegawai tersebut. Membela diri.
"Seandainya dia memang bukan anak ku, kau pasti akan berbuat lebih kan. Dasar wanita jahat! pergi kau, aku memecat mu!" Keenan melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Keenan berdiri tegak dan merapikan jasnya kembali. "Maaf tuan, saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Tolong jangan pecat saya!"
Staf tersebut memohon seraya merangkul kaki kanan Keenan. Namun tanpa perasaan, Keenan menghempaskan wanita itu begitu saja.
"Aku tidak bisa menoleransi kesalahan sekecil apapun itu. Pergi, sebelum aku menyuruh anak buah ku menyeret mu dan membunuh mu di tempat yang sepi!" staf tersebut membulatkan mata.
Mendengar ancaman Keenan lantas ia bergegas pergi dari perusahaan ini. Ayolah, setidaknya nyawanya masih terselamatkan. Harusnya dia tahu jika Keenan tidak suka dengan orang yang suka ikut campur dalam urusan orang lain.
βDan ini sebagai contoh untuk kalian. Jangan berani mencampuri urusan ku. Lain kali bukan hanya pekerjaan, aku akan mengambil jantung kalian juga. Mengerti!"
__ADS_1
"Mengerti tuan!" seluruh staf yang mengikuti rapat tersebut menjawab dengan serempak. "kembali ke ruangan masing-masing!" ucap Keenan sebelum pergi meninggalkan ruang rapat tersebut.
Cukup, Keenan bisa bertindak lebih gila. Jika dia menetap lebih lama di ruangan itu.
...ππππ...
Sampai di mansion, Peter bergegas mencari keberadaan Rachel. Peter yakin wanita itu akan senang melihat putri tunggal Belle dan Keenan ini.
"Aku pulang!" ucap Peter tatkala mendapati sang istri duduk santai di atas sofa ruang tamu seraya membaca majalah bisnis.
"Kau sudah pu-" ucapan Rachel terhenti, saat melihat Peter menggendong Abigail. Dengan cepat Rachel datang menghampiri dan mengambil alih gendongan Abigail.
"Kau membawa keponakan ku huh?" bertanya dengan raut wajah bahagia. Senang karena Peter membawa Abigail pulang ke rumah.
"Hm, aku merebutnya dari Keenan!" seru Peter di iringi gelak tawa kecil. "Apa! Keenan pasti marah!" tebak Rachel. Dan tebakannya itu tepat sasaran.
"Aku sudah mengatasi kemarahannya. Nanti malam dia akan kesini!" Rachel mengangguk-angguk. Mengerti.
"Abi kangen aunty?" tanya Rachel seraya menciumi pipi gembul itu. "Ya, abi kangen!" jawabnya dengan suara khas anak kecil.
"Imut sekali kau nak, ayo kita bermain!" ajak Rachel antusias. Dan Abigail mengangguk seraya tersenyum lebar. Menampakkan gisi susunya yang yang masih belum lengkap.
Peter tampak senang melihat interaksi keduanya. Mungkin Peter mulai menginginkan anak perempuan juga kini. Haruskah dia melakukan hal gila. Sama seperti Damian.
Dengan membuat istrinya hamil terus sampai mendapatkan anak perempuan. Tapi, apakah Rachel mau. Bagaimana jika tidak, haruskah Peter memaksanya.
"Ya, aku harus membuatnya hamil sampai aku mendapat anak perempuan juga. Aku yakin pak tua itu juga mendukung keputusan ku ini!" Peter tersenyum smirk. Tiba-tiba saja nama Dominic terlintas di benaknya.
"Ngomong-ngomong, sudah lama aku tak mengunjungi mereka!" gumam Peter pada dirinya sendiri. "Aku akan mengajak Rachel berkunjung setelah misi ku selesai!" putus Peter pada akhirnya.
TBC
Maaf baru update, handphone author rusak nih. Jadi harus di servis dan sedihnya semua data author ilang. Termasuk file novelnyaπ
__ADS_1
Mau nggak mau author harus bikin lagi. Jadi maaf ya man teman π