
Peter dan Rachel kembali ke ruang perkumpulan setelah membersihkan diri. Bukan sekedar mandi biasa. Tapi keduanya melakukan olahraga ranjang selama berjam-jam.
"Dimana Keenan, aku tidak melihatnya?" tanya Rachel bercelingak celingukan mencari wujud manusia bermata dua itu.
"Kenapa kau mencari pria lain sedangkan suami mu ada di sini. Menemani mu!" Peter mencibir, malas membahas asisten kurang ajar itu.
Bukan kali pertama Peter dan Keenan berseteru, tapi setiap hari kedua orang itu berlagak seperti tom and Jerry. Tidak pernah berdamai dan selalu berbeda pendapat.
Baik Peter maupun Keenan tidak pernah menganggap pertengkaran mereka serius. Keduanya sadar, saling membutuhkan satu sama lain dalam hal pekerjaan.
Keenan membutuhkan gaji dan Peter membutuhkan tenaga sekaligus otak genius Keenan. Siapapun akan langsung merekrut Keenan, begitu mendengar Peter memecatnya. Karena dia sangat pandai membaca situasi dan paham masalah politik. Maka dari itu Peter tak pernah sekalipun mempunyai niatan untuk memecat Keenan.
"Aku takut dia di terkam binatang buas di luar sana. Lagu pula di selalu menempel kan padamu, tidak salahkan aku bertanya demikian!" sahut Rachel malas. Kemudian mempercepat langkah kakinya, meninggalkan Peter.
Sampai di depan pintu ruang perkumpulan, Rachel langsung masuk kedalam. Membuat seluruh mata tertuju padanya. Sesaat Rachel terdiam di tempat, mengedarkan pandangan. Mencari Cristian.
Bibirnya terangkat saat melihat Tian tengah bermain dadu bersama teman-temannya, wanita itu berjalan mendekat dan duduk bergabung bersama mereka.
"Nona, anda disini?" Tian kaget melihat Rachel duduk dengan santainya. Tian menyapu pandangannya keseluruh ruangan, mencari seseorang.
Tubuhnya mematung seketika, saat mendapati Peter berdiri dengan tatapan setajam tombak. Siap menguliti siapapun itu yang mengganggu waktunya bersama istrinya.
"Nona, bisakah anda menjauh dari saya?" pinta Tian lirih. Masih dengan bahasa dan sikap yang sopan. Sadar akan marabahaya yang mengancam nyawanya.
"Kau mengusir ku huh?" ketus Rachel garang. Jauh lebih menakutkan dari pada tatapan mata Peter.
βSaya tidak bermaksud begitu, namun sepertinya tuan Peter membutuhkan bantuan anda!" sarkas Tian dengan suara lirih. Melirik Peter selama dua detik lewat ekor mata. Tak berani menatapnya lama.
"Dia tidak membutuhkan aku, asal kau tahu!" sahut Rachel, tangannya bergerak meraih gelas bir yang masih utuh.
"Tidak nona, tuan Peter membutuhkan anda. Lihat tatapan matanya, seakan menyuruh anda segera datang menghampirinya!" masih berusaha membujuk Rachel. Berharap wanita itu pergi dari tempatnya berada.
"Dia tidak membutuhkan bantuan ku, bahkan dia berniat menceraikan aku tadi!" katanya dengan suara sedikit keras. Berharap Peter mendengarnya. Tentu semua ucapan Rachel sampai pada pendengaran Peter.
Seketika bulu kuduk Tian berdiri tanpa izin, merasa hawa di sekitar sini semakin suram. Iseng-iseng Tian menolehkan kepalanya ke belakang. Refleks, ia berteriak kala mendapati Peter berdiri tepat di belakangnya sambil menatapnya dingin. Mengintimidasi.
Peter terlihat lebih menakutkan dari hantu, "apa menyenangkan berbicara dengan istri orang?" tanya Peter diakhiri senyum manis. Namun, terlihat seperti senyum sinis dimata Cristian.
__ADS_1
Suara Peter merendam, rahangnya mengetat. Tonjolan-tonjolan tampak jelas di sekitar tangan dan leher kekarnya. Pendar mata semakin dingin.
"Maaf tuan, saya akan pergi bekerja sekarang!" pamit Tian tatkala melihat tangan besar Peter merogoh saku, hendak mengambil senjata api.
Melihat Tian pergi, beberapa anggota yang duduk di situ ikut beranjak. Tak ingin terkena imbas dari api kecemburuan pemimpinnya.
"Kau membuat mereka meninggalkan ku sendiri!" ucap Rachel dengan raut wajah sedih. Entah kenapa perangainya gambang berubah-ubah beberapa hari ini. Peter melengos, mengacak rambut Rachel yang sudah berantakan itu.
"Apa kau senang mendapat banyak perhatian dari banyak pria?: Peter menggeram, tak suka Rachel tebar pesona kesana-kemari dan memikat hati anggota-anggota Gold Lion.
Rachel diam, lalu kembali menegak bir itu. Untungnya minuman yang di tegak Rachel tidak beralkohol. "Tidak usah sedih, ikut dengan ku!" menarik Rachel dari tempat duduknya.
"Kau mau mengajak ku kemana?" tanya Rachel jengah, tak berniat ingin melakukan apapun.
"Kau bosan?" Rachel mengangguk cepat dan Peter adalah penyebab dari kebosanannya.
"Kenapa tidak bermain sesuatu dengan ku saja?" Rachel mendongak, menatap Peter dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Bermain? malam-malam begini. Jangan bilang kau mengajakku bermain di atas ranjang!" Rachel berterus terang. Beberapa anggota terlihat menahan tawa.
βKalau kau mau, aku bisa menemanimu sampai pagi!β Peter balik menyerang, membuat Rachel diam tak berkutik. Antara kesal dan malu.
"Katamu kau bisa membidik dengan sempurna bukan?"
"Kau meragukan ku?" oh ayolah Rachel merasa tertantang membuktikannya sekarang.
"Aku tidak pernah meragukan kemampuan mu, Sayang!"
"Lalu?" entahlah, setiap Peter meremehkan dan meragukan kemampuannya Rachel merasa kesal.
"Aku ingin mengasah kemampuan mu itu, dengan bermain tembak menembak. Bagaimana, apa kau tertarik?" Rachel mengangguk cepat dan tersenyum penuh minat.
"Ikuti aku!" Peter berjalan lurus kearah belakang bar mewah itu. Rachel diam dan mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai matanya memancarkan kekaguman, melihat berbagai macam jenis pistol berjajar rapi di atas rak ruangan tersebut.
"Wah, banyak sekali pistolnya. Kau suka mengoleksi benda-benda ini?" tanya Rachel, memilah-milah dan mencoba satu persatu pistol tersebut.
__ADS_1
"Tidak, aku menyediakan semua ini untuk anak buah ku. Mereka sering berlatih di tempat ini!" jawab Peter sambil menyiapkan papan membidik.
"Kau yakin bisa membidik tepat di tengah-tengah?" menunjuk lingkaran yang paling kecil di antara lingkaran lainnya.
Dor! dor! dor! tanpa permisi Rachel menekan pelatuk tiga kali secara beruntun. Peter kaget karena dia belum memberi aba-aba dan Rachel sudah lebih dulu menekan pelatuk.
"Lihatlah ke belakang mu!" Rachel tersenyum bangga. Meniup ujung pistol yang baru saja menembakkan timah panas.
"Ini-" Peter tak bisa berkata-kata, melihat tiga peluru itu mengenai sasaran tanpa meleset sedikitpun. Benar, Rachel tidak bisa di remehkan begitu saja.
"Kau yang membidik?" masih tidak percaya seraya mengorek dinding yang berlubang karena peluru.
"Bukan tapu arwah ku!" gurau Rachel, tersenyum kecut melihat ekspresi Peter.
Tiba-tiba ia merasa kecewa melihat Peter diam tanpa memuji ataupun mengagumi keahliannya.
"Sejak kapan kau bisa menembak?"
"saat aku berusia 10 tahun," jawabnya jujur. Peter menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Sedini itu, tidak mungkin pasti Rachel hanya membual.
Tapi tiga peluru ini membuktikan bahwa ucapan Rachel bukanlah bualan semata. "Bagaimana kita memainkan permainan yang lebih ekstrim!" tawar Peter.
Ia ingin tahu sejauh mana kemampuan Rachel dalam tembak menembak. "Mau bertaruh?"
Peter tersenyum smirk, "kau menantang ku?"
"Aku hanya menginginkan keuntungan!" Peter tersenyum devil, istrinya ini sangat licik rupanya.
"Baiklah, jika kau menang aku akan menyenangkan mu selama satu malam penuh dan jika kau kalah aku akan menghukum mu sampai kau pingsan bagaimana?"
Tunggu, entah kenapa Rachel merasa aneh. Ada yang tidak beres dengan kalimat Peter barusan.
Bodohnya Rachel tak menyadari, menang ataupun kalah dia tetap di rugikan.
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π