Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
perjalanan penuh kesedihan


__ADS_3

Disinilah Peter dan Rachel berada, duduk diam di dalam pesawat pribadi Peter. Rachel terkejut melihat Keenan duduk santai di belakang. Padahal Keenan tidak ikut ke Milan kemarin. Lalu kenapa pria itu ada disini sekarang.


"Peter, sejak kapan Keenan ada disini?" tanya Rachel pada Peter yang menyandarkan kepalanya ke bahu miliknya. "Menurut mu siapa yang menyiapkan pesawat ini, jika bukan dia!"


"Maksudmu sejak tadi pagi?" tanya Rachel memastikan. "Ya!" jawab Peter singkat, padat, dan jelas. Rachel terkekeh konyol.


"Bisa aku bertanya lagi?" kata Rachel lagi. Peter membuka matanya. Kesal.


"Menurut mu dari tadi kau sedang apa? jelas-jelas kau menanyakan banyak hal, lalu kenapa kau berlagak meminta izin segala." Rachel mengerucutkan bibirnya, membuang muka. Tidak suka Peter marah-marah.


Cup! "Jangan marah, aku bercanda tadi!" Peter mencium bibir Rachel singkat.


"Sekarang tanyakan padaku apa yang ingin kau ketahui!" bujuk Peter, kembali menyandarkan kepalanya. Tak peduli dengan wajah kesal Rachel. Wanita memang mudah marah dan tidak mau disalahkan.


"Ara, bukankah dia seumuran dengan ku?" Peter mengangguk, menunggu lanjutan pertanyaan Rachel. "Apa dia sudah menikah?" Rachel tak bermaksud lancang, tapi Ara tampak kesepian dan mencari kesibukan sebagai pengalihan.


"Belum, kenapa kau menanyakan itu?" kini Peter menegakkan badan, mulai serius.


"Aku merasa Ara kesepian!" ungkap Rachel jujur. Dan Peter merasakan hal yang sama.


Tapi apalah dayanya, Peter bukan tuhan yang bisa mengganti takdir manusia. Satu kekurangan kecil, membuat semua kelebihan Ara tertutup rapat.


Memangnya kenapa jika Ara tak bisa mempunyai anak, itu bukanlah kesalahannya melainkan kehendak Tuhan.


"Aku tahu itu!" sahut Peter, memejamkan mata merendam kesedihan. Mengingat kepedihan Ara, selalu membuat hatinya teriris.


"Tapi kenapa, bukankah Ara cantik, berpendidikan, dan berasal dari keluarga ternama. Pasti banyak yang mau dengannya!"


Peter tersenyum kecut, sayang sekali prediksi Rachel kali ini benar-benar salah. "Cantik dan kaya, tak menjamin kehidupan seseorang, Re. Banyak pebisnis muda yang datang melamar, selain kecantikan Ara mereka juga ingin memajukan perusahaan mereka dengan menjadi menantu keluarga Wilson."

__ADS_1


"Lalu, apakah Ara menolak mereka semua. Maaf, tapi apakah Rachel mempunyai ekspetasi khusus mengenai calon suaminya. Semacam tipe!" Peter menggelengkan kepalanya.


"Ara gadis sederhana yang tak mengenal cinta, apalagi tipe. Cinta baginya hal yang mustahil, Ara menutup hatinya sendiri hanya karena satu kekurangannya!" Peter menatap kearah jendela menatap langit-langit malam.


"Kekurangan?" Rachel melipat dahi, tidak mengerti maksud Peter.


"Memang banyak laki-laki yang mengantri menikah dengan putri tunggal Hans Wilson itu, tapi semuanya langsung mundur begitu mengetahui Ara tidak bisa memberikan keturunan!"


Bak disambar petir, Rachel menyandarkan diri pada kepala kursi. Fakta mengejutkan yang menyayat hati, Rachel tidak mengira hal ini terjadi pada adik iparnya. Apa karena itu Ara memutuskan menjaga bangsal anak-anak di rumah sakit.


"Bagaimana bisa?" tanya Rachel lagi.


"Sewaktu masih remaja, Ara sering sakit-sakitan. Terutama di bagian perutnya. Setelah di periksakan, dokter memvonis Ara mengidap tumor. Ada tumor di rahim Ara, dan tumor itu tidak bisa di jinakkan lagi."


"Paman Hans sedih, tidak tega mendengar rintihan kesakitan putrinya. Tetapi, disisi lain dia juga mengkhawatirkan masa depan Ara. Tidak bisa mempunyai anak juga akan mempersulit kehidupannya."


"Kehidupan Ara berada di ujung tanduk. Namun gadis itu terlalu kuat, tidak pernah berniat bunuh diri ataupun menyerah. Sedih itu sudah pasti, tetapi secara perlahan Ara berdamai dengan keadaan dan mulai menerima kekurangannya itu."


"Dia tampak baik-baik saja, namun kami tidak buta ataupun tuli dia sering menangis ketika malam hari. Paman Hans sering memergokinya, tapi sama seperti yang lain, dia tak berdaya. Rasa sakit yang paman Hans rasakan melebihi rasa sakit Ara."


"Dia merasa gagal menjadi seorang ayah karena tidak bisa memberikan kebahagiaan pada putrinya. Di keluarga ayahku ataupun keluarga Paman Hans sangatlah menghargai anak perempuan. Seakan anak perempuan adalah sebuah berlian mahal. "


"Ara merupakan anak kesayangan paman. Karena itu setiap Ara sakit ataupun sedih, paman Hans juga ikut merasakannya bahkan dua kali lipat dari yang Ara rasakan." Peter terus bercerita dengan suara lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, siapapun akan menangis mendengar kehidupan Ara yang dipenuhi oleh duri dan kepahitan saja.


Seakan tuhan tak memberikan hadiah atas buah kesabarannya. Setiap cacian dan hinaan Ara dapatkan tanpa henti. Dia tampak terbiasa, tapi percayalah jauh dari dalam hatinya ia merasa sakit. Namun Ara tak pernah mengutarakan hal itu.


"Parahnya, semua lelaki yang datang melamar bukan hanya menolak. Tapi juga mengejek kekurangan Ara. Entah itu secara langsung ataupun tidak langsung." memang tidak semuanya, tapi kebanyakan dari mereka menghina Ara sebelum pergi.


Rachel menitikkan air mata, tak menduga hidup Ara sesulit ini. "Lalu, apa yang terjadi pada pria-pria itu?"

__ADS_1


"Paman Hans membuat perusahaan mereka gulung tikar. Tidak sampai disitu, aku ataupun Ef sering membunuh mereka secara diam-diam!"


"Kau pasti terkejut bukan. Apalagi gadis itu selalu menampakkan senyuman terbaiknya, seolah kehidupannya berjalan mulus karena terlahir dari keluarga kaya yang terpandang. Tapi percayalah, kehidupan Ara tak semulus itu. Semua itu hanya topeng untuk menutupi kesedihannya semata. Ara gadis yang rapuh."


"Kau pernah memergokinya menangis?" Peter mengangguk.


"Ya, waktu itu aku ada keperluan dengan paman Hans. Dan melewati kamar Ara. Kau tahu apa yang ku lihat dari balik jendela?" Rachel menggeleng, menunggu lanjutan perkataan Peter


"Dia menyumpal mulutnya sendiri dengan kain dan menangis sambil meringkuk di pojok ruangan. Wanita itu menahan isak tangis, tak ingin mengganggu waktu istirahat penghuni rumah."


"Perasaan ku saat itu hancur dan sedih, aku ingin masuk dan memeluknya. Tetapi pintu terkunci. Aku tidak berani mendobrak, karena itu akan memalukan bagi Ara saat aku mengetahui sisi rapuhnya." Air mata Rachel semakin deras, tak kuasa menahan tangis begitu mendengar ucapan Peter.


"Lalu bagaimana dengan Damian?"


"Ef? dia lebih sering memergoki adiknya itu, bahkan hampir setiap hari. Karena sudah tak tahan akhirnya Ef pindah ke new York. Ef bilang, setiap mendengar tangisan Ara, dia seperti di bunuh berulangkali. Merasakan sakit tapi tidak bisa mati."


"Kami berharap seseorang datang dan menghapus kata kepahitan dalam takdirnya. Tapi sampai sekarang masih belum ada pria yang mau menerima Ara dengan semua kekurangannya." Peter menangis.Rachel tak menduga Peter mempunyai sisi selembut ini. Terlepas dari semua kekejaman yang pernah Peter lakukan.


"Lalu bibi Agatha, bagaimana reaksinya saat melihat semua penderitaan Ara dan mendengar isak tangis putrinya?" Rachel tidak bermaksud mengungkit kesedihan Peter. Namun, semua ini perlu Rachel ketahui, karena Rachel telah menjadi bagian dari keluarga mereka sekarang.


"Bibi Agatha sempat depresi berat, sehingga paman Hans menyewa dokter spesialis kejiwaan. Setelah satu tahun bibi Agatha mulai sembuh dan bangkit dari keterpurukan."


"Dia tidak ingin Ara semakin terbebani, karena keadaannya yang drop. Karena itu bibi Agatha tidak pernah menampakkan kesedihan lagi di depan Ara!"


Rachel terisak, tidak kuasa mendengar cerita Peter. Wanita itu memeluk Peter, menenangkan suaminya yang masih berkaca-kaca.


Peter seorang pemimpin mafia, tapi bukan berarti dia tidak boleh menangis. Peter juga manusia biasa yang bisa merasakan sakit. Apalagi jika menyangkut adik kecilnya itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2