Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Sementara itu di Mansion utama. Senandung kecil terdengar di sekitar taman. Rachel berjalan-jalan mengitari pekarangan taman. Sesekali menari, menikmati indahnya suasana pagi.


Pelayan dan penjaga cengo melihat nona mudanya menari dan berjalan seperti anak kecil. Namun, tidak ada yang berani berkomentar. Tahu, nyawa yang menjadi taruhan.


Rachel menghentikan langkahnya, lalu menghembuskan napas lelah. Keringat mulai bercucuran keluar. Sepertinya Rachel mulai pusing sekarang. Karena sudah tidak kuat Rachel bergegas masuk kedalam. Terlalu, tergesa-gesa sampai tidak memperhatikan area sekitar.


Bruk! akhirnya Rachel menabrak seseorang. Membuatnya terhuyung ke belakang. Tadinya, Rachel pikir dirinya akan terjatuh. Namun, dugaannya salah.


Sesuatu menahan pinggangnya. Karena penasaran Rachel membuka mata, menoleh ke samping. Tangan kekar seseorang menahan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah sang penyelamat.


"Kenzo!" panggil Rachel lirih. Ekspresi Kenzo pun tidak jauh berbeda. Sama-sama terkejut dan tidak menyangka akan bertemu Rachel disini.


Tadinya, Kenzo datang untuk menemui Peter. Ingin membahas masalah kerja sama mereka yang sempat tertunda.


"Rachel! bagaimana kabar mu?" Rachel membenahi posisinya. Berdiri tegak dan merapikan pakainya yang lecek.


"Aku baik-baik saja, kamu?" balik bertanya. Senang mendapati Kenzo di sini setelah berbulan-bulan lamanya. Anehnya, setelah mendengar pertanyaan Rachel, raut wajah Kenzo berubah suntuk.


"Aku baik-baik saja, Re!" jawabnya dengan suara kecut. Membuang muka, tak berani menatap mata Rachel. Keduanya berteman cukup lama, tentu saja Rachel bisa tahu perasaannya hanya dengan menatap mata.


"Ada apa? kau yakin semuanya baik-baik saja?" menatap Kenzo penuh curiga. Kenzo menghela napas. Namun, tidak berniat menjawab.


"Dimana istri mu?" tanya Rachel. Celingukan. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari istri sahabatnya ini.


Terakhir kali bertemu, Kenzo memberi tahu Rachel jika dia akan segera menikah. Kenzo bahkan mengirim undangan ke rumah. Sayangnya, Rachel tidak bisa datang karena problem izin.


Hening sejenak, Kenzo melamun seolah sedang memikirkan sesuatu. Haruskah Kenzo memberi tahu Rachel masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.


Semenjak bertemu, kehidupan Kenzo tidak baik?baik saja. Berbagai macam masalah datang menghampiri. Beruntungnya Kenzo mampu mengatasi semuanya.


"Aku akan mengatakan semuanya padamu. Tapi, bisakah kita mencari tempat duduk terlebih dahulu?" Kenzo bertanya. Sedikit sungkan karena secara tidak langsung minta di persilahkan masuk kedalam rumah.


"Astaga, aku lupa. Maafkan aku, ayo kita masuk!" Rachel menepuk dahinya pelan. Merutuki kebodohannya.


Rachel dan Kenzo pun masuk kedalam Mansion. Keduanya duduk di ruang tamu. Sebelum memulai pembicaraan, Rachel menyuruh seorang pelayan membuatkan secangkir kopi dan camilan untuk di suguhkan.

__ADS_1


"Ceritakan bagaimana kemeriahan pesta pernikahan mu dengan kekasih mu itu!" pinta Rachel antusias. Bertanya dengan penuh semangat, tidak sabar mendengar ceritanya.


Terkadang Rachel menyesal tidak bisa datang ke acara pernikahan Kenzo. Tapi apalah dayanya, disini yang berkuasa adalah Peter. Rachel tidak bisa menentang keputusan Peter. Apalagi soal perizinan keluar mansion. Rachel bisa berakhir di ranjang jika menentang.


Permintaan Rachel berhasil membuat Kenzo bungkam seribu bahasa. Entah apa yang Kenzo pikirkan sekarang. Tatapan Kenzo terlihat kosong. Melamun.


“Hei, jawab aku. Kenapa malah diam?” menyenggol pelan bahu Kenzo. Membuat pria itu terperanjat kaget.


Kenzo mengusap wajahnya kasar lalu meminta maaf karena mengabaikan pertanyaan Rachel. Terlalu banyak pikiran sampai membuatnya tidak fokus pada obrolan.


Sungguh, kenzo sangat bingung sekarang. Haruskah dia menceritakan kejadian miris yang baru-baru ini menimpa kehidupannya. Jika harus menceritakan, dari mana Kenzo harus memulai?


“Melamun lagi, ayolah aku menunggu ceritamu Ken!” rengek Rachel manja. Bukan karena ingin menggoda ataupun ingin dipandang imut. Namun Rachel benar-benar berharap pada sahabatnya ini.


“Apa kau marah karena aku tidak datang?” Tanya Rachel murung. Merasa tidak enak mengingat Kenzo mengundangnya secara langsung kala itu.


"Tidak, aku malah senang kau tidak bisa datang!"


Rachel mengerutkan dahi. Tidak mengerti. "Kau tidak ingin aku datang?" kecewa. Rachel kira Kenzo menantikan kehadirannya tapi ternyata tidak.


"Jika kau datang mungkin kau akan melihat betapa malunya aku, Re!" sahut Kenzo cepat, menghempas pergi kesalahpahaman Rachel.


“Aku tidak mengerti maksudmu Ken!” menatap dengan tatapan penuh tanda Tanya. Rachel mulai kesal pasalnya Kenzo bertele-tele dan enggan menceritakan isi kepalanya.


“sebenarnya…” kalimat Kenzo terhenti saat matanya menangkap sosok maid yang datang membawa nampan berisi secangkir kopi dan beberapa macam camilan.


“Silahkan tuan, nona!” Dasha mempersilahkan dengan senyum ramah. Kenzo tersenyum tipis dan mengangguk tiga kali. Sedangkan Rachel mengucapkan terimakasih sebelum menyuruh pelayan itu pergi.


“Lanjutkan!” 


“Sebenarnya..aku..aku..aku””


“Aku apa?” sungut Rachel jengkel. Mulai menaikan nada bicara karena kesal.


"Aku tidak jadi menikah, Re! malam sebelum hari pernikahan, aku tidak sengaja memergoki calon istri ku tidur bersama pria lain!" kata Kenzo menjelaskan.

__ADS_1


Hening, Rachel membulatkan mata. Menatap kenzo iba. Tidak menduga sahabatnya ini akan menjadi korban perselingkuhan.


Ingin rasanya Rachel menemui kekasih Kenzo dan menghajarnya hingga mati. Berani sekali wanita itu menyakiti hati Kenzo.


"Siapa nama kekasih mu, Ken. Aku akan mencarinya dan memberi perhitungan padanya!" bertekad dengan wajah galak. Terlihat sangat menakutkan di mata Kenzo.


"Tidak usah Re, dia berasal dari kalangan selebritas teratas. Aku tidak ingin menghancurkan karirnya," balas Kenzo. Masih berbaik hati dan tidak mau balas dendam.


"Ck, kau terlalu baik Ken, Tidak salah jika wanita itu memanfaatkan kebaikan mu ini!" cibir Rachel kesal. Tidak suka dengan kebaikan hati Kenzo.


"Sekarang giliran ku, ini rumah mu?" bertanya sembari mengedarkan pandangan. Mengamati desain rumah yang terlihat mewah dan berkelas.


Rachel mengulas senyum, mengangguk tiga kali sembari membalas. "Tepatnya rumah suami ku!"


Kenzo menoleh, menatap Rachel dengan tatapan tidak percaya. Ini rumah Mitra bisnisnya, ini berarti Rachel istri dari pemilik Granvinea company.


"Jadi kau istri Mr. Peter?" malu-malu Rachel mengangguk. Rasa senang tatkala di sebut sebagai istri Peter datang menyeruak masuk kedalam hatinya.


"Aku tidak menyangka kau akan menikah dengan seorang tuan muda kaya raya!" Rachel tergelak. Dia sendiri juga tidak percaya bisa menikah dengan Peter. Bahkan mengandung anaknya kini.


"Lalu, ada keperluan apa sampai kau datang kemari?" tanya Rachel. Setumpuk dokumen yang Kenzo bawa menarik perhatian. Karena itu Rachel bertanya.


"Aku ingin bertemu dengan suami mu!" balas Kenzo menjawab. Mulai memilah proposal, bersiap-siap.


"Kau sudah menelpon Peter sebelumnya?" Kenzo menggelengkan kepala. Ponselnya hilang entah kemana dan Kenzo lupa tidak meminta nomor Peter lagi.


"Sayangnya, suami ku masih bekerja di kantor. Jam segini dia belum pulang."


"Kenapa tidak datang ke perusahaan saja?" Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak memikirkan perusahaan. Yang ada dipikirannya sekarang adalah mengunjungi rumah Peter.


"Tidak papa, hanya saja aku kebetulan lewat dan memutuskan untuk mampir!" sedikit aneh namun Rachel percaya saja.


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menyuruhnya pulang!" hendak mengangkat gagang telepon. Namun, Kenzo menghentikannya.


"Tidak usah Re, aku akan pergi ke kantornya saja. Lagi pula sekarang baru jam 10 siang!" melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri.

__ADS_1


"Terserah kau saja, aku akan mengantar mu sampai halaman depan!" Kenzo mengangguk. Meraih tas kerjanya, lalu berjalan keluar bersama Rachel.


TBC


__ADS_2