Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
kembali ke mansion


__ADS_3

Pesta pernikahan Ara dan Steven selesai di gelar. Begitu pula masalah di antara Keenan dan Belle. Kini ke-lima orang tersebut duduk di dalam pesawat pribadi Peter. Pulang kembali ke kota New York.


Sesuai dengan permintaan Keenan, Belle ikut bersama mereka. Belle tak membawa barang apapun, hanya tubuh dan putrinya saja yang dia bawa. Keenan sudah menyiapkan segalanya di sana. Kini ketiga orang itu hidup bahagia dalam rumah kecilnya.


Lain halnya dengan Peter. Pria itu bimbang memikirkan kehamilan Rachel. Sampai detik ini, Peter masih belum menanyakannya pada Rachel.


Mungkin setibanya di mansion, Peter akan mengajak Rachel mengobrol dengan Kepala dingin. "Ada apa dengan mu?" Rachel tiba-tiba bertanya. Menyadarkan Peter dari lamunannya.


"Tidak papa, aku mungkin kelelahan!" menjawab dengan suara lembut dan di akhiri dengan senyum tipis.


"Dimana Keenan?" bertanya sembari mengedarkan pandangan ke samping kanan kiri. Matanya berubah mendatar kala melihat asistennya itu sibuk bermesraan di kursi belakang.


"Sudah biarkan saja, mereka pengantin baru!" dengan kurang ajarnya Rachel menarik kepala Peter agar menatap matanya. Ayolah, sudah lama Rachel tak menghabiskan waktu bersama Peter.


"Kenapa, kau ingin aku melakukan sesuatu yang sama seperti yang dilakukan asisten malas itu?" Peter memajukan wajahnya Kedua hidung mereka saling bersentuhan.


Peter dan Rachel saling melemparkan tatapan, sangat dalam sampai tak sadar keduanya telah berciuman kini. "Manis!" gumam Peter setelah melepaskan pautan bibir mereka.


Mendengar itu, Rachel langsung menunduk malu. Wajahnya memerah padam. Namun, tidak bisa di pungkiri hatinya mendadak senang mendapat perlakuan semanis ini.


"Mau ke kamar?" tanya Rachel. Menggigit bibirnya sendiri. Menggoda. "Nakal sekali, aku suka!" Peter mengecup bibir Rachel singkat. Kemudian menjauhkan diri.


Tiba-tiba Peter ingat jika Rachel tengah hamil sekarang. Peter tidak ingin menyakiti buah hatinya dengan berhubungan badan. Peter ingin berkonsultasi dengan dokter pribadinya terlebih dulu.


"Kau menolak ku?" tanya Rachel kesal. Harga dirinya terkoyak setelah mendapat penolakan dari sang suami. Biasanya Rachel lah yang menolak tapi sekarang semuanya terbalik.


"Istirahat saja ya!" bujuk Peter sembari mencubit gemas pipi Rachel yang mulai mengembang. Rachel mendengus sebelum akhirnya menepis tangan Peter dan masuk kedalam kamar pribadi.


Melihat Rachel pergi, Keenan dan Belle saling melemparkan tatapan. Bingung. "Aku akan melihat Abigail sebentar!" Keenan mengangguk, mengizinkan.


Setelah memastikan Belle masuk, Keenan berdiri dari tempat duduknya. Menyuruh seorang pramugari mengambilkan minuman. Lalu, menghampiri Peter yang terlihat frustrasi.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Keenan duduk di kursi samping dan meletakkan segelas Vodka kesukaan sang tuan muda.

__ADS_1


"Aku sedikit gelisah!"


Apa Keenan tidak salah dengar, Peter yang selalu bersikap tenang sekarang di landa perasaan gelisah. Hebat, pasti perubahan ini datang dari nona mudanya.


"Gelisah?"


"Rachel hamil!" ucap Peter to the poin.


Mendengar kabar itu Keenan membulatkan mata. Mulutnya sedikit terbuka. Menatap Peter dengan tatapan tak menyangka.


"Seharusnya anda senangkan mendengar kabar menggembirakan ini?" sarkas Keenan bertanya.


"Aku senang juga kesal. Rachel menyembunyikan kehamilannya!" Lagi-lagi Keenan di kejutkan dengan fakta yang ada.


"Memangnya usia kandungannya berapa bulan?" tanya Keenan lagi. "Sekitar tiga bulan!"


"Itu berarti sejak kalian pergi berbulan madu?" Peter mengangguk pelan. Mengiyakan. Hebat, Keenan mengagumi Rachel sekarang.


"Kalau begitu coba tanyakan pada nona Rachel, tuan. Bisa jadi nona Rachel mempunyai alasan yang kuat untuk menyembunyikan kehamilannya itu!" Peter mengangguk tiga kali.


"Ya aku berniat mengajaknya berbicara setelah sampai di mansion!" Seru Peter.


"Dan yah, karena aku menang taruhan. Kau harus menggantikan posisi ku selama satu minggu full. Aku akan cuti dan menghabiskan waktu bersama Rachel!"Peter berucap dengan senyum penuh kemenangan.


"Tuan, tidak bisakah perjanjian itu kita undur bulan depan?" tanya Keenan, raut wajahnya berubah kecut.


"Memangnya kenapa?" Peter bertanya dengan alis berkerut. "Saya pengantin baru tuan!" sarkas Keenan kesal. Merasa Peter tak memberinya keringanan dengan melarangnya menghabiskan waktu bersama Belle.


"Lalu apa urusannya dengan ku?" dengan santainya Peter bertanya. Tak mempedulikan kekesalan sang asisten.


"Tuan, saya ingin menghabiskan waktu bersama Belle sebagai pengantin baru!" Lagi-lagi Keenan menekankan kata pengantin baru, berharap bos kejamnya ini mengerti. Ayolah Keenan manusia biasa yang menginginkan masa-masa muda.


β€œAku tidak mau tau, yang terpenting semua pekerjaan ku harus kau selesaikan. Lagi pula kalian bukan pengantin baru, kalian sudah memiliki satu anak!" ketus Peter menyanggah.

__ADS_1


Ingin rasanya Keenan protes. Namun, yang di katakan Peter benar adanya. Mereka bukan pengantin baru dan sudah memiliki satu anak.


"Setidaknya berikan saya satu hari saja untuk menikmati hari pertama kami setelah menikah!" mohon Keenan dengan suara penuh harap.


"Ck, baiklah! tapi ingat hanya satu hari. Lenih dari itu, aku akan melenyapkan mu!" dengus Peter malas.


"Tidak bisakah saya cuti 2 hari?" Keenan masih menawar. Membuat Keenan kesal sendiri.


"Hei, masih bagus aku memberi mu cuti. Tapi kau masih saja menawar! Pilih sendiri, satu hari atau tidak sama sekali!" tegas Peter dingin. Menatap Keenan dengan penuh ancaman.


"Baik tuan, terimakasih atas kemurahan hati anda?" Keenan berterimakasih sekaligus memuji, kata pemurah Keenan tekankan. Agar Peter merasa tersindir.


"Sudahlah, kau pergi saja! biarkan aku menikmati hari ku!" secara tidak langsung Peter mengatakan Keenan merusak moodnya dalam sekejap.


"Baik tuan!" dengan langkah cepat Keenan berjalan ke arah kamar yang berada di samping kamar Rachel. Dimana Belle berada.


Lain halnya dengan Peter, pria itu menyesap Vodka-nya sedikit demi sedikit seraya menikmati indahnya gumpalan awan yang berarak luas.


Sebenarnya Peter ingin menemui Rachel dan menuntaskan hasratnya. Namun, Peter berpikir lebih baik berkonsultasi sebelum melakukanya.


Hei, dia bukan Damian yang memilih bercinta tanpa peduli dengan keadaan sang istri. Peter memilih sabar, karena kehamilan Rachel ini merupakan kehamilan pertamanya.


Peter ingin melakukan yang terbaik. Dia tidak sabar menggendong makhluk kecil yang persis dirinya sewaktu kecil. Pede sekali, tapi itulah Peter. Pria itu yakin, anak pertamanya pasti mirip dengannya.


"Aku lelah sekali!" gumamnya pelan sebelum akhirnya menyudahi acara minumnya dan menyandarkan diri ke kursi. Peter ingin istirahat sekarang.


Beberapa hari lagi, dia harus pergi ke luar kota untuk menjalankan transaksi obat-obatan ilegal dan senjata ilegal


Peter yakin ada sesuatu yang janggal di sini. Kliennya meminta tempat yang sepi dan jauh dari pusat kota New York. Tepatnya di dekat markas baru black butterfly. Entah kenapa kelompok sialan itu selalu mengikutinya di mana pun ia berada.


"Tidak masalah, aku akan menghabisi mereka yang berani bermain-main dengan ku!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2