
Setengah jam berlalu, kedua insan itu berbaring di atas ranjang dengan keringat bercucuran kini. Peter tersenyum tatkala mendapati Rachel tak bisa menutup mata karena tidak merasa lelah.
Biasanya mereka berhubungan badan dengan durasi dua sampai tiga jam lamanya. Kali ini Peter hanya melakukan sekali, itupun dengan sangat hati-hati.
"Tidurlah sayang!" pinta Peter dengan suara lembut dan tatapan teduh. Rachel mendongak, lalu meraih sebelah tangan Peter dan memakainya sebagai bantalan nyaman.
"Aku tidak mengantuk!" jawab Rachel malas. Jujur saja Rachel sedikit kecewa karena permainan sang suami yang menurutnya sangat singkat.
"Hm, apa kau kecewa karena aku bermain lembut dan singkat?" goda Peter sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Pede sekali kau!" cibir Rachel kesal. Gengsi mengakui. Padahal semua yang Peter katakan benar adanya.
"Tapi tatapan mu mengatakan segalanya, sayang!" Peter mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel. Posisi mereka sangat intens kini.
Cup! cup! cup! cup! Peter mencium seluruh bagian wajah Rachel dan berakhir dengan ciuman panas di bibir.
"Cukup, jangan merayu ku lagi!" Rachel mendorong bahu Peter agar sedikit menjaga jarak. Ayolah Rachel wanita biasa yang menginginkan sentuhan dan buaian suami.
Jangan sampai Rachel lepas kendali dan berubah menjadi wanita nakal dengan tatapan penuh gairah nanti. "Jangan khawatir, setelah berkonsultasi aku akan bermain seperti biasanya!"
"Ngomong-ngomong, apa kau juga ingin di pakaikan borgol seperti kakak ipar, hm?" lanjut Peter memprovokasi Rachel. Suara rendah dan berat miliknya benar-benar membuat Rachel terintimidasi.
"A-apa!" Rachel tak bisa berkata-kata, jangan bilang Peter sama seperti Damian. Atau mungkin lebih gila dari Damian.
"Bercanda, aku tidak tega melakukan itu padamu. Yah walaupun sebenarnya aku ingin sekali melakukannya!" sontak tubuh Rachel menegang. Semua dugaannya benar.
"Apa maksud mu, Jangan-jangan kau sama seperti Damian?"
"Asal kau tahu, aku lebih parah darinya, sayang!" sahut Peter cepat. Ini sejenis penyakit mental, Peter senang kala melihat lawan mainnya tunduk di bawah kuasanya dan memohon padanya.
Namun, setelah menikah dengan Rachel. Peter berhenti melakukan hal semacam itu. Hanya ada kehangatan dan cinta saja. Peter tidak pernah melakukan kekerasan pada Rachel.
Yah, walaupun terkadang ia rindu dengan permainannya itu. Tapi ya sudahlah Peter tidak ingin memaksa Rachel.
"Kau membuat ku bingung!" gumam Rachel pelan.
Peter tergelak, "jangan di pikirkan sayang, itu bukan soal yang harus kau jawab!"
"Jika kamu sama seperti Damian, lalu kenapa kau tidak pernah melakukannya padaku?" Lagi-lagi Rachel bertanya dengan wajah polos imutnya. Wanita ini pasti tidak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasarannya terjawab.
"Aku tidak ingin memaksa mu, sayang. Lagi pula bercinta tanpa kekerasan tidaklah buruk!" sarkas Peter memberi jawaban.
"Lakukan!"
__ADS_1
"A-apa?"
"Lakukan itu padaku, sesekali tidak masalah bukan?" mendengar ucapan Rachel sontak membuat Peter bergeming. Peter terkejut mendengar jawaban tak terduga dari sang istri.
"Kau yakin?" tanya Peter memastikan. Rachel mengangguk lemah tanpa menatap mata Peter. Bisa di bilang Rachel malu dan takut di katai wanita aneh.
Sebenarnya Rachel bukan penikmat kekerasan, namun tiba-tiba saja ia ingin mencoba hal baru. Seperti kejadian yang menimpa Grace. Rachel rasa ini karena kehamilannya.
"Ya!"
"Oke, kita akan berkonsultasi dan melakukan semua kemauan mu!" entah kenapa ucapan Peter barusan mengandung sejuta makna. Rachel sedikit menyesal sekarang. Pasti pria itu memikirkan sesuatu yang akan merugikan dirinya.
"Ngomong-ngomong kau belum menjelaskan soal kejadian di bandara!" seketika Peter merubah raut wajahnya menjadi datar kembali.
"Bukankah itu sudah jelas, aku sudah bilang aku tidak pernah menyentuh wanita murahan itu!" sebal Peter, membela diri.
"Ya siapa tahu, kau mabuk dan tidak sadar menyentuhnya!" masih menyudutkan. Padahal baru saja mereka membicarakan hal-hal romantis. Namun, langsung bertengkar dalam sekejap.
"Ck, kau tidak percaya pada ku hm?" Peter mendekatkan diri dan melemparkan tatapan tajam. Tentu saja langsung membuat nyali Rachel menciut.
"Bukannya tidak percaya, aku hanya bertanya. Kenapa kau marah, jangan-jangan anak yang di kandung wanita itu memang anak mu!" tuding Rachel membuat Peter semakin menajamkan tatapan.
"Sepertinya aku harus memberi hukuman pada mu, baby!" seru Peter dingin penuh ancaman. Mulai muak dengan segala macam tuduhan yang Rachel lontarkan.
"Ini bukan kebetulan semata, sayang!" ujar Rachel, kembali membuka suara.
Peter menghembus napasnya kasar, rasanya Peter ingin menyerah saja. Melawan Rachel sangat sulit, wanita ini tidak mudah di hadapi.
"Coba pikir, semua jarak dan waktunya sangat pas. Jika di lihat dari penampilannya, usia kandungan wanita itu sekitar 7 sampai 8 bulan."
Peter memutar bola matanya malas, lalu mengambil bantal dan meletakkan batal tersebut di bawah Kepala Rachel.
"Ayolah, tidak bisakah kau berkata jujur? kau pasti menemuinya sebelum kita menikah!" Lagi-lagi Rachel membuka mulutnya. Memaksa Peter mengaku.
"Iya, aku hanya bertemu. Tapi aku tidak melakukan lebih dari itu!" mendengar jawaban Peter, Rachel terkikik geli, akhirnya suaminya mengaku.
"Kapan?" tanya Rachel lagi, kini Rachel merubah posisinya menjadi duduk.
"Seminggu sebelum kita bertemu di hotel!" jawab Peter singkat. Ia berjalan ke arah balkon dan mengeluarkan sebatang rokok.
Peter sengaja menjauh agar Rachel tak merasa sesak karena menghirup asap. "ini bukan kebetulan, coba kau ingat-ingat lagi, bisa jadi kau mabuk dan tak sadar sudah menyentuh, Rain!"
"Ck, aku seratus persen sadar malam itu. Jika kau tidak percaya tanya Keenan sana!" geram Peter menggertak. Lelah.
__ADS_1
"Keenan?"
"Ya, malam itu aku pergi ke klub malam untuk membahas kerjasama dengan sepupu ku!" sarkas Peter singkat.
"Damian?" tanya Rachel memastikan. Peter tak menjawab, namun mengangguk sekali.
Rachel terdiam, mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Mungkinkah Damian yang menghamili.
Tidak mungkin, Grace pernah bilang jika Damian tidak pernah menyentuh wanita selain istrinya sendiri. Lalu siapa?
Apa Keenan?
"Ceritakan lebih jelas!" minta Rachel lagi, Peter melirik sekilas kemudian menghembuskan napas lelah.
"Aku hanya berpapasan dengannya, waktu itu aku tidak minum. Aku seratus persen sadar, aku bahkan tidak mengindahkan sapaannya dan langsung mengajak Keenan pulang!" penjelasan Peter itu memang singkat, tapi membuat Rachel memahami segalanya.
Itu berarti bukan Peter ataupun Keenan pelakunya. Lalu siapa, jika dipikir-pikir kasihan juga si Rain. Dia pasti bingung mencari pelaku yang sudah memperkosanya.
"Aku jadi kasihan padanya!" Peter menoleh lalu membuang batang rokoknya yang sudah habis. Ia kembali melangkah kakinya masuk kedalam kamar.
"Kenapa? dia pantas mendapatkan karma." sewot Peter, masih kesal karena Rain memfitnahnya.
"Hei, dia pasti membutuhkan sosok pemimpin. Anaknya juga memerlukan nama ayah kandungnya!"
"Itu resiko, siapa suruh jual diri!" Rachel membulatkan mata, tak menyangka bahwa mulut Peter sepedas ini.
"Sudahlah, kau istirahat saja!"
"Kau mau kemana?" tanya Rachel.
"Turun kebawah, aku akan menyuruh Dasha membawakan makanan kemari!" Peter meraih sweater rajutan dan memakainya dengan cepat.
"Cepat kembali!" Peter tersenyum dan mengangguk sebelum memutar kenop pintu.
TBC
Peter Azriel Abbey
Rachel Adaline Caesar
__ADS_1