Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
bertemu Grace


__ADS_3

Kau hebat juga, tidak sia-sia bos bodoh ku menikahi mu! batin Keenan bangga.


Melihat semua anak buah Lidya tewas, Rachel tersenyum smirk. Mendorong wanita itu sampai jatuh tersungkur ke bawah lantai.


"Matilah kau, jal*ng!" teriak Rachel sebelum menekan pelatuk.


Dor! darah Lidya mengenai wajah Rachel. Peter dan Keenan tak menyangka Rachel pintar dan mengerikan. "Sudah selesai kan? ayo kita pulang!" Rachel memasukan pistol itu kedalam saku celananya.


"Darimana kau mendapatkan pistol itu?" Peter bertanya, karena merasa tidak pernah memberikan Rachel senjata api.


"Sebenernya aku mencuri ini dari laci meja ruang kerja mu!" jawab Rachel jujur. Lagi-lagi Peter mengusap dadanya, mungkin sebentar lagi dia terkena serangan jantung dadakan. Rachel terus membuatnya terkejut sekaligus takut.


"Kau ini, lain kali jangan bertindak gegabah. Bagaimana jika kau kenapa-kenapa tadi?" marah Peter, lalu menarik Rachel kedalam pelukannya.


"Tapi aku tidak papa kan sekarang?" Rachel membalas pelukan suaminya.


"Ayo kita pulang!" ajak Rachel dan disetujui Peter. Ketiganya kembali masuk kedalam mobil. Transaksi kali ini benar-benar gagal total.


Keenan melajukan mobilnya keluar dari bangunan tua itu. Jalanan tampak tenang, sebelum melewati tikungan. Dari sana dua mobil hitam mengikuti mereka. Tak hanya itu mereka menembaki mobil yang Peter, Rachel, dan Keenan tumpangi.


Dor! dor! dor! "Tundukkan kepala mu!" Peter menarik Rachel agar jatuh kebawah.


Apalagi ini, baru Rachel bergabung dua kelompok sudah datang berbondong-bondong ingin menghabisi istrinya. "Keenan, kau tidak papa?" tanya Rachel, memastikan.


"Saya tidak papa nona, saya akan menambah kecepatan mobil. Kalian berpeganglah!" Peter menggenggam tangan Rachel, tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Menenangkan Rachel.


Dor! "akh!" Keenan berteriak kala merasakan timah panas menembus lengan kirinya.


"Kau tidak papa?" Peter mendongak, melihat kearah Keenan yang masih menyetir sambil menahan sakit pada lengannya.


"Saya tidak papa tuan!"


"apa kau masih kuat, Kee?" tanya Peter lagi dan di angguki Keenan. Peter tersenyum smirk, mengambil dua pistolnya.


"Aku akan menembaki mereka, kau fokus saja dengan jalanan dan tambah kecepatan mobilnya!" ucap Peter, memberitahu rencananya. Sedetik kemudian Keenan menambah kecepatan.

__ADS_1


"Aku akan membantumu!" Rachel menegakkan badannya. Namun tak bertahan lama setelah Peter mendorongnya lagi kebawah.


"Diam disana!" menatap Rachel dingin, penuh ancaman dan ketegasan.


Peter menyembulkan kepalanya, mengarahkan kedua tangannya keluar. Suara tembakan terdengar beruntun, Peter menembaki kedua mobil tersebut. Sesekali menuduk menghindari peluru balasan.


"Aku akan membantumu, jangan hentikan aku kali ini!" Rachel ikut menyembulkan kepalanya dan menembaki mobil musuh. Selalu meleset, karena Rachel tidak bisa membidik target dalam keadaan bergerak.


"Hei, jangan membahayakan nyawamu Sayang. Duduk disana dan biarkan aku fokus pada mereka!" geram Peter. Karena Rachel terus memberontak akhirnya dia mengungkung wanita itu dengan kedua kakinya.


Dan kembali menembaki mobil hitam itu. Dor! Peter berhasil menembak ban mobil salah satu dari dari dua mobil musuh, akibatnya satu mobil oleng dan masuk kedalam jurang. Tak lama setelah itu suara ledakan terdengar nyaring dan samar-samar Peter bisa melihat cahaya kemerahan. Menandakan bahwa mobil itu meledak.


"Tinggal satu mobil lagi!" gumam Peter, pergelangan tangannya terluka karena pecahan kaca. Dor! dor! dor! tembakan Peter terhenti, pria itu memeriksa peluru.


Damn! Tidak ada satupun peluru yang tersisa. "Re, berikan pistol mu!" Peter mengulurkan tangannya, menunggu Rachel memberikan senjata apinya.


"Peluru ku juga sudah habis!" seru Rachel, Keenan melirik kearah spion.


"Pakai milik saya!" Keenan melemparkan pistolnya kebelakang, sesekali dia juga meringis menahan sakit pada lengannya.


Peter kembali menembaki mereka, dan mobil itu masuk kedalam jurang setelah peluru terakhir Peter menembak tempat kearah sopir.


"Hentikan mobilnya!" perintah Peter. Sedetik kemudian, Keenan menepi dan menginjak rem.


"Geser, aku yang akan mengemudi!" Keenan menolak, dia bukanlah pria lemah yang akan mati hanya karena satu luka kecil.


"Tidak usah, biar saya saja tuan!"


"Aku bilang menyingkirlah!" pendar mata dingin menandakan bahwa Peter tak ingin dibantah. Keenan pun akhirnya mengalah dan bergeser ke kursi samping pengemudi.


Bak pembalap, Peter melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Keenan kehilangan banyak darah, bagaimana jika pria itu benar-benar mati.


Peter tidak bisa merepotkannya lagi.


Begitu sampai di rumah sakit terdekat, Peter menyuruh dokter mengambil peluru yang bersarang di lengan Keenan.

__ADS_1


Sekitar tiga jam mereka Peter dan Rachel menunggu, kini wanita itu sudah terbaring nyaman di kursi panjang depan ruang rawat inap dengan menggunakan paha Peter sebagai bantalan nyaman.


Karena tak tega, Peter menyewa satu kamar lagi untuknya dan untuk Rachel beristirahat. Tidak memungkinkan baginya pulang sekarang. Pasti masih ada musuh yang menunggu.


Peter menggendong Rachel masuk kedalam kamar VIP rumah sakit. Pria itu membaringkan dirinya di sebelah Rachel.


"Maafkan aku, Sayang. Kau pasti tegang sekali tadi!" Peter menciumi seluruh wajah Rachel. Wanita itu tak bereaksi, menandakan jika Rachel benar-benar lelah.


"Aku pastikan kejadian ini tidak terulang lagi!" ucap Peter sebelum membaringkan tubuhnya, ikut menyusul sang istri masuk kedalam alam mimpi.


...🍁🍁🍁🍁...


Seminggu setelah kejadian itu, Keenan kembali membaik. Sekarang mereka ada di bandara kota Milan. Bersiap datang merayakan pesta ulang tahun Ara. Rachel tak henti-hentinya berdoa, berharap Grace memaafkan kesalahannya.


"Jangan khawatir, kakak ipar tidak akan marah padamu!" kata Peter, menggenggam tangan Rachel yang terasa dingin itu.


"Semoga saja begitu!" Rachel tersenyum. Mereka pun masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan Hans Wilson.


Begitu sampai, jantung Rachel ingin copot rasanya. Wanita itu diam di tempat, mengamati mansion mertua Grace. Sangat indah, ditambah dengan gemerlap lampu berwarna-warni, menandakan jika mereka sedang mengadakan pesta.


"Ayo masuk kedalam!" Peter merangkul pundak Rachel, dan menarik wanita itu masuk kedalam.


Disana semua penjaga dan pelayan menyambut mereka dengan hangat dan ramah.


Rachel semakin gugup, matanya menyapu keseluruh ruangan mencari sosok yang membuat hatinya tidak tenang.


"Maaf kami datang terlambat!" sontak seluruh pandangan menjadikan mereka sorotan. Rachel terpaku di tempat saat mendapati Grace di salah satu tempat duduk itu. Keduanya saling menabrakkan pandangan saling menatap.


Rachel semakin di landa kegelisahan, namun perasaan bahagia menghampiri kala melihat Grace berubah cukup banyak.


Wanita itu tampak semakin cantik dan lebih feminim dari sebelumnya. Tidak salah, mengingat dia menikahi dengan Billioneire kaya raya. Sudah jelas Damian memberikan perawatan yang tidak main-main harganya.


"Aku merasa tak enak badan, aku permisi!" Grace berlari menaiki tangga, meninggalkan tempat acara. Rachel menatap Peter, dan pria itu mengangguk memberi izin Rachel untuk mengejar Grace.


Rachel pun tersenyum tipis kearah keluarga besar itu, "aku akan menyusul temanku sebentar!" pamit Rachel.

__ADS_1


TBC


. belum author refisi πŸ™


__ADS_2