
Dua minggu berlalu dengan begitu cepat, hari ini hari terakhir Rachel pergi bekerja. Setelah itu perusahaan di kendalikan oleh Peter sepenuhnya. Perban Peter juga sudah dilepas. Menyisakan goresan kecil yang sudah mengering.
Sebelum pergi, Peter menyuruh Keenan datang ke ruang kerja. Hendak membicarakan masalah Thomas dan Alessandro. "Kumpulkan semua bukti bisnis gelap mereka, penggelapan pajak, dan juga penjualan mereka yang merugikan negara. Kali ini, aku akan membuat mereka menjadi buronan FBI."
"Baik tuan!" ucap Keenan.
"Mereka harus musnah, apapun yang terjadi nanti Thomas dan Alessandro harus dijatuhi hukuman mati. Tapi apa kau sudah siap kehilangan saudara tiri mu?" tanya Peter.
Keenan diam di tempat, tidak bisa menjawab pertanyaan Peter. Jujur, Keenan tidak bisa membiarkan Alessandro mati begitu saja. Alessandro adalah saudaranya, Keenan tidak ingin menyakiti saudaranya sendiri. Apalagi Keenan tahu Alessandro memiliki istri dan seorang anak laki-laki. Entah di mana Alessandro menyembunyikan mereka.
"Saya belum siap kehilangan Alessandro tuan, jadi bisakah anda membiarkan adik tiri saya pergi?" tanya Keenan jujur dan Peter menghargai kejujurannya itu.
"Semua itu tergantung pada keputusan adik mu Kee, apa dia mau meninggalkan Thomas atau tidak. Jika dia mau meninggalkan Thomas, aku siap merekrutnya menjadi bawahan. Orang berbakat seperti Alessandro, siapa yang ingin menyia-nyiakannya." jelas Peter.
Kalau sudah begini, Keenan tidak bisa melakukan apapun selain berdoa semoga Alessandro sadar telah di manfaatkan oleh Thomas. Peter menawarkan pekerjaan sudah merupakan kebaikan terbesar. Apalagi Alessandro merupakan musuh bebuyutan.
"Tiga hari lagi kita bertemu dengan Alessandro, coba bicarakan baik-baik dengannya tentang masalah ini. Aku tidak ingin kau di landa perasaan bersalah karena sudah membiarkan adik tiri mu di buru begitu saja!" ujar Peter. Masih melanjutkan perkataannya.
"Baik tuan, saya mengerti!" sahut Keenan, lalu membungkuk hormat dan meninggalkan ruang kerja untuk bekerja bersama Rachel.
Drtt... drtt... drtt...
Handphone Peter bergetar pertanda sebuah pesan masuk. Takut itu sebuah pesan penting, alhasil Peter buru-buru membukanya. Bibirnya berkedut malas saat melihat nama orang yang mengirim pesan.
__ADS_1
...Rain:...
...Aku tahu beberapa rahasia besar Thomas dan kelompoknya. Kalau kau tertarik temui aku di hotel dekat apartemen ku dua hari lagi. Aku menunggu balasan mu babe!...
Peter terdiam selama beberapa saat. Matanya menatap lantai marmer berharga ratusan juta yang di pijaknya. Sebenarnya Peter penasaran rahasia apa yang Rain ketahui. Namun, Peter tidak ingin Rachel marah karena tahu suaminya diam-diam menemui wanita lain di belakangnya.
"Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Peter kebingungan. Mendadak pikirannya menghilang seolah Peter tidak bisa menghasilkan ide apapun.
"Apa aku Terima saja permintaan wanita sialan itu?" kata Peter menimang-nimang. Resikonya memang besar, tapi siapa tahu informasi yang di dapatkan cukup membantunya membuat laporan kejahatan.
"Ya aku terima saja undangannya ini. Lagi pula aku menemui Rain karena masalah pekerjaan, bukan mau selingkuh. Kenapa aku harus takut?" pikirnya lagi.
Mantap memutuskan untuk menemui Rain. Peter membalas pesan Rain. Berkata bahwa dia setuju bertemu dengan syarat pertemuan mereka di lakukan di siang hari setelah jam makan siang dan harus menyertakan Keenan.
Mau tidak mau Peter pun bersepakat tidak akan membawa Keenan pergi bersama. Namun, Peter balik mengajukan syarat. Pertemuan mereka harus di lakukan di tempat umum sebagai gantinya. Entah itu restauran ataupun taman, Peter tidak mempermasalahkan asal Rain tidak memilih kamar hotel sebagai tempat pertemuan.
Maaf saja, Peter bukan orang bodoh yang mudah dikelabui. Peter juga tidak mau di rugikan di sini. Karena itu Rain harus menerima kesepakatannya sebagai ganti Keenan tidak akan ikut serta dalam pertemuan kali ini.
Untungnya Rain setuju dan menetapkan restauran jepang dekat perusahaan Peter sebagai tempat pertemuan mereka. Gelisah, takut, entah kenapa Peter merasa ada kejanggalan di hati.
Semoga saja Rain memang menginginkan sebuah kerja sama. Jangan sampai wanita itu merencanakan sesuatu yang akan membuat rumah tangganya hancur berantakan.
Rain wanita licik, Peter yakin Rain pasti meminta imbalan sebagai balasan atas informasinya itu. "Kali ini, jika kau membuat rumah tangga ku hancur. Aku pastikan kau akan lenyap dari muka bumi ini, Rain!" tekad Peter.
__ADS_1
Tidak peduli apa jenis kelamin Rain, jika dia mengusik Rachel. Peter tidak akan tinggal diam dan akan membalas berkali-kali lipat lebih parah.
Peter merasa sedang tertekan sekarang, karena itu dia memutuskan duduk santai di balkon kamar. Di temani sebotol wine dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Tak lupa Peter juga mematik sebatang rokok. Setiap kepulan asap yang terhempas seolah memberikan ketenangan tersendiri.
Selain masalah Rain dan Thomas, sepertinya Peter melupakan sesuatu. Tapi apa, semakin besar usaha untuknya mengingat, Peter semakin melupakan masalah yang menimpanya itu.
"Kenzo!" satu nama berhasil membangkitkan ingatan akan kerja sama mereka yang terus tertunda. Peter jadi kasihan pada Kenzo karena tidak di beri kepastian sampai saat ini.
Peter meraih handphonenya, mencari nomor Kenzo. Hendak menghubungi dan mengajaknya bertemu. Mereka harus membahas kerja sama ini secepat mungkin. Peter tidak akan membuat Kenzo menunggu lebih lama lagi.
"Halo!" sapa Kenzo di seberang sana.
"Apa aku menganggu waktu mu Mr. Michelin?"
"Tidak sama sekali, kebetulan saya sedang senggang sekarang!" hebat sekali, bahkan setelah dibuat menunggu selama ini. Kenzo masih bisa bersikap ramah. Peter tidak menyesal telah menerima kerja sama ini.
"Dua hari lagi, bisakah kita bertemu? aku ingin menandatangani kontrak kerja sama ini. Maaf sudah membuat mu menunggu lama!" ujar Peter tanpa merubah ekspresi wajahnya.
"Wah sungguh kabar menggembirakan, saya akan menyiapkan kontrak kerja samanya tuan."
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi di mansion ku!" setelah berkata demikian, sambungan telepon terputus. Peter sedikit merasa tenang setelah membuat janji temu dengan Kenzo Michelin. Setidaknya Peter menepati janji dengan menerima kerja sama ini.
TBC
__ADS_1