Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Dasar gila!


__ADS_3

Bersamaan dengan kepulangan Belle dan Keenan. Rachel justru tiba di rumah sakit. Dengan memakai piyama tanpa mencuci muka bahkan tidak merapikan rambutnya. Rachel berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Tidak mempedulikan tatapan mencemooh yang di lemparkan orang-orang. Rasa khawatir masih meluap memenuhi hati. Begitu mendapat telepon dari Cristian Rachel langsung datang.


Seolah rasa cemas mendorongnya agar segera pergi tanpa sempat membersihkan diri. Tidak tahu, haruskah Rachel senang atau sedih. Mengingat Peter pulang dalam keadaan selamat tetapi dengan luka yang cukup parah.


"Nona!" Cristian menyapa seraya berdiri dari tempat duduk, lalu menunduk rendah. Memberi hormat.


"Dimana suamiku?" tanyanya dengan mimik wajah khawatir. Mata berkaca-kaca seolah menampakkan kesedihan.


"Tuan Peter ada di dalam nona!" tanpa menjawab Rachel berjalan melewati Cristian dan masuk ke dalam kamar.


Begitu pintu terbuka Rachel terdiam di tempat. Hancur sudah perasaannya saat melihat Peter terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. Masih dengan mata terpejam tentunya.


Rachel berjalan mendekat, duduk di sebelah ranjang dan melingkarkan tangan kirinya memeluk Peter erat. Rachel menumpahkan tangisnya, tidak tega melihat kondisi sang suami.


"Aku masih hidup, kenapa kau menangis?" suara Peter terdengar lirih. Terbangun karena pelukan erat itu. Niat bercanda malah membuat Rachel marah. Alhasil Rachel berdiri dan berjalan menjauhi tempat tidur.


"Di saat-saat seperti ini, kau masih bisa bercanda?" menyesal sudah mengkhawatirkan. Bahkan dia datang tanpa berganti pakaian. Omong kosong Peter sangat menjengkelkan.


Gelak tawa ringan terdengar dari bibir Peter. Heran mendapati perubahan sikap Rachel yang cepat berubah. "Kemari! jangan berdiri menjauhi ku!"


Menggerakkan jari telunjuk, menyuruh Rachel mendekat. Merasa terpanggil Rachel pun datang. Duduk kembali di samping ranjang, masih dengan tatapan bermusuhan.


"Peluk aku!" berusaha mengubah posisinya menjadi duduk. Namun, luka di perutnya terasa nyeri. Alhasil Peter kembali terbaring dan meringis kesakitan.


"Jangan bergerak dulu, luka mu baru saja di jahit!" kata Rachel tegas. Merasa bersalah karena marah tanpa alasan.


"Kau peduli padaku ternyata!" remeh Peter. Namun, melebarkan senyumannya. Senang mendapat perhatian Rachel.


"Kau suami ku, haruskah aku peduli pada orang lain?" cibir Rachel. Berusaha membuat Peter cemburu. "Kau mau mati?"


Hening sejenak, sebelum akhirnya mereka tertawa lepas. Sama-sama sadar telah memperdebatkan hal-hal konyol barusan.


"Sekarang katakan pada ku, siapa yang melukaimu." Rachel meraih segelas air dan meminumnya dengan sekali tegukan. Kehausan karena berlari tadi.


"Siapa lagi kalau bukan Thomas!" menjawab. Wajahnya berubah datar seakan tidak sudi menyebut nama Thomas.

__ADS_1


"Jadi musuh bebuyutan ayah ku."


"Kau tahu?" tanya Peter. Menatap Rachel heran. Seingatnya Dia tidak pernah menceritakan siapa dan bagaimana Thomas pada Rachel.


"Tentu saja. Ayah pernah menceritakannya pada ku. Lagi pula aku harus tahu siapa laki-laki jahat yang merebut istri ayah ku." Enggan menyebutkan kata ibu. Rasa sakitnya terlalu besar sampai membuat Rachel enggan mengakui ibunya sendiri.


"Kau sudah makan?" tanyanya. Mengalihkan pembicaraan. Padahal Rachel membaca tulisan yang terletak di sebelah kaki Peter. Pasien di larang makan dan minum selama dua puluh empat jam.


"Dokter melarang ku makan!" jawabnya kesal. Masalahnya perutnya terasa lapar kini. Sejak semalam Peter belum makan apapun.


"Oh, kalau begitu kau istirahat saja. Aku akan mandi sebentar!" Peter mengangguk. Membiarkan Rachel pergi ke kamar mandi. Sebelum itu Rachel menelpon Dasha agar mengirimkan pakaian.Tidak mungkin Rachel mengenakan piyama ini lagi.


...🍁🍁🍁🍁...


Beberapa saat berlalu, Rachel keluar dari kamar mandi. Dia tampak lebih segar dari sebelumnya. "Kau sudah makan?" kini giliran Peter yang bertanya.


"Sudah!" bohong Rachel. Tidak ingin berkata jujur, takut Peter marah dan menghukumnya.


"Benarkah?" menyunggingkan senyum miring, tidak lebih tepatnya sebuah seringai. Tadi Dasha memberitahu Peter jika Rachel belum sarapan. Bukan karena ingin Rachel di marahi. Hanya saja Dasha tidak ingin nona mudanya itu jatuh sakit.


Rachel terdiam, tidak bisa berkata-kata karena perlakuan Peter. Pria itu semakin memprovokasi dengan mengendus leher dan menggigit daun telinganya.


"Hentikan, baiklah aku mengaku. Aku belum sarapan!" Rachel menampik tangan Peter, berusaha melepaskan diri.


Aneh, Cristian bilang Peter terluka parah. Sepertinya semua itu bohong ya. Lihat ini, bahkan dalam keadaan terluka sekalipun Peter masih bisa menariknya sampai jatuh.


"Kenapa kau tidak sarapan dulu tadi?" Rachel terdiam. Menundukkan kepala dengan mulut terkantup.


"Kenapa diam?" masih menahan diri agar tidak menyemburkan tawa. Mungkin Rachel takut akan hukuman. Karena itu dia diam seperti patung.


"Aku tidak lapar!" menjawab dengan suara lirih. Memainkan ibu jari, terlihat sekali Rachel tengah gugup sekarang.


"Tidak lapar apa tidak sempat? dengarkan aku Re. Tidak peduli seberapa pentingnya urusan mu, kau harus menyisakan sedikit waktu untuk makan. Ingat, kau sedang hamil!" tuturnya menasehati.


Ceklek! belum sempat Rachel menjawab tiba-tiba pintu terbuka. Menampakkan Keenan dan keluarga kecilnya. Belle berdiri di belakang seraya menggendong Abigail. Sedangkan Keenan membawa dua kantong plastik berisi makanan.


"Maaf menggangu waktu kalian." Belle berucap canggung. Tidak menduga akan melihat pemandangan tidak senonoh itu.

__ADS_1


"Hahahaha tidak papa, aku.. aku.. kami.. " pikirannya mendadak berhenti. Rachel tidak bisa berkata-kata sangking malunya.


"Tidak usah di jelaskan, kami sudah paham!" ujar Belle. Memotong kalimat Rachel.


"Letakan makanan itu di sana Kee. Setelah itu ayo kita pergi!" bisik Belle. Tidak ingin mengganggu waktu pasangan suami istri itu.


"Tidak-tidak, jangan pergi. Mari makan bersama!" Rachel melepaskan pelukan Peter dan mengambil alih kantong kresek itu dari genggaman Keenan.


Keenan dan Belle saling melemparkan tatapan. Hanya beberapa saat, setelahnya mereka mengikuti Rachel.


"Keponakan ku!" Rachel girang sendiri tatkala melihat Abigail dengan dandanan anehnya.


"Mau menggendongnya?" tawar Belle, lalu menyerahkan Abigail ke pangkuan Rachel. Dengan senang hati Rachel menerimanya, bahkan Rachel sudi mengadopsi Abigail jika Keenan dan Belle tidak mau membesarkan Abigail.


"Kak ada apa denganmu? kenapa kau mendadani Abigail seperti ini." tanya Rachel sambil memperhatikan wajah bulat Abigail yang di penuhi bedak bayi dan empat kuncir rambut di atas kepala kecilnya.


Belle menghela napas berat, sebenarnya dia ingin membenahi dandanan putrinya. Tapi Keenan melarang dan berkata jika Abigail terlihat imut dengan dandanan itu.


"Bukan aku yang mendadani Abigail." sesekali melirik Keenan lewat ekor mata. Berusaha memberitahu Rachel, Keenan lah yang mendadani Abigail.


"Kalau bukan kamu, lalu siapa kak?" masih penasaran. Memang Abigail terlihat menggemaskan. Namun, orang-orang pasti menertawakan wajah Abigail yang penuh dengan bubuk bewarna putih itu.


Lagi-lagi Belle melirik Keenan sembari merapatkan bibir. Menahan tawa. Namun, yang menjadi tersangka malah acuh tak acuh. Menampakkan wajah datar seolah tidak peduli.


Abigail putrinya, mau di dandani dalam model apapun itu terserah Keenan. Rachel tidak berhak mengomentari apalagi ikut campur.


"Melihat lirikan Belle, aku yakin yang mendadani Abigail adalah si tua Keenan!" tudung Peter. Ikut menyahut, tidak sabar mendengar celotehan pedas yang akan Rachel lontarkan pada Keenan.


"Benarkah?"melemparkan tatapan tidak percaya pada Keenan.


"Anda ada masalah? Abigail putri saya nona. jadi terserah saya mau mendandaninya dengan model apa saja!" sungut Keenan malas.


"Dasar gila!" gunjing Rachel, melirik Keenan dengan tatapan mencemooh.


TBC


!

__ADS_1


__ADS_2