
Peter di kejutkan dengan kedatangan sahabat sang istri yaitu Kenzo. Bukannya tidak mau menemui, hanya saja Kenzo datang di waktu yang tidak tepat.
Peter harus pergi memimpin rapat dua jam ke depan. Rapat ini sangat penting, alhasil Peter menyuruh Kenzo pulang dan datang kembali esok hari. Di mansion, karena besok hari libur.
Kenzo pun tak menolak, sadar perbuatannya itu tidak bisa di benarkan. Seharusnya Kenzo membuat janji sebelum datang kemari. Tidak seharusnya dia datang tanpa mengabari.
Setelah menemui Peter singkat, Kenzo pun pulang. Tak lupa meminta nomor Peter dan Keenan untuk berjaga-jaga.
sekedar info, mendengar Rachel bertemu dengan Kenzo sedikit membuat hati Peter panas seketika.Cemburu. Bukan apa-apa, hanya saja Peter takut Kenzo mendekati Rachel dan membuat wanita itu berpaling darinya.
"Awasi Kenzo, aku tidak ingin dia mencari kesempatan untuk mendekati istri ku!" perintah Peter. Keenan mendengus, malas menanggapi kecemburuan sang majikan.
"Baik tuan!" meskipun malas, Keenan tetap menyetujui. Ingat, Peter atasannya dan atasan bisa memerintah bawahan.
Keenan membuka pintu mobil, mempersilahkan Peter masuk kedalam. Setelah itu, Keenan bergegas masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Malam ini kita beraksi!" Peter memalingkan wajah ke arah samping. Memperhatikan jalanan kota New York yang di padati ratusan mobil.
"Cristian sudah menyiapkan segalanya tuan. Saya yakin, misi kali ini tidak akan ada kendala!" balas Keenan tanpa mengalihkan pandangan.
Peter tidak menjawab, suasana tenang bukan berarti aman. Terkadang bahaya datang secara tiba-tiba. Tidak tahu kapan dan dimana bahaya itu datang menghampiri.
Ngomong-ngomong sudah lama Peter tidak mendapat serangan dari Thomas. Apa pria itu sudah mati, jika iya dengan perasaan bahagia Peter akan datang ke pemakaman dengan membawa sebuket bunga mawar.
"BB, kau masih memata-matai mereka?" mendengar nama kelompok mafia lain. Keenan melirik sekilas. Tertarik.
"Masih!" menjawab dengan singkat.
"Tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari mereka huh?" Keenan menggeleng. Beberapa bulan ini BB nampak tenang. Seakan melupakan permusuhan yang terjadi antara gold lion dan BB.
__ADS_1
"Tidak ada tuan!" sedikit curiga. Pasalnya Keenan tahu pemimpin dan hacker BB manipulatif. Suka menyerang dari belakang dan membuat rencana secara diam-diam.
Keenan heran, wanita seperti apa yang mau dengan adik tirinya itu. Alessandro, pria itu sangat menutup rapat informasi mengenai putra dan istrinya.
"Aku rasa mereka tidak bisa kita remehkan. Aku yakin Thomas dan Alessandro tengah merencanakan sesuatu!" sarkas Peter. Memijat pelipisnya lemah.
"Saya tidak akan membiarkan mereka mengusik anda tuan. Jadi tidak usah khawatir, fokus saja pada prahara rumah tangga anda." balas Keenan. Mengingatkan masalah Rain.
Rain, wanita itu menjadi rintangan terbesar dalam hubungan pernikahan Peter dan Rachel. Sebenarnya apa yang terjadi malam itu, siapa yang menghamili Rain.
Tidak mungkin Keenan, malam itu mereka pulang bersama-sama. Damian? tidak mungkin, pria itu alergi pada wanita asing. Terus siapa, haruskah Peter mencari pria itu dan menyuruhnya bertanggungjawab.
Peter lelah menghadapi sifat menyebalkan Rain. Kedatangan Rain berhasil membuat Rachel sensi. Untuk kedepannya Peter harus berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai Peter membuat Rachel marah dan berakhir tidur di kamar sebelah.
"Kau menceramahi ku seolah hubungan mu dengan Belle sudah benar saja. Ingat! masih ada Alessandro, dia siap mengusik keluarga kecil mu itu!" jengah Peter. Tidak suka diceramahi.
"Setidaknya tidak ada orang ketiga dalam kehidupan pernikahan kami!" menyindir. Sekali berucap pedasnya minta ampun.
"Mungkin saja suatu saat nanti salah satu wanita yang kau tiduri datang meminta pertanggungjawaban. Aku yakin, saat itu kau akan merasakan perasaan yang sama dengan yang aku alami sekarang!" secara tidak langsung menyumpahi Keenan.
Dan Keenan mendengus kesal. Tahu Peter tengah menyumpahi dengan doa yang tidak-tidak. Setelah obrolan singkat itu. Keduanya membisu, membiarkan kecanggungan menyelimuti.
Terlarut dalam pikiran masing-masing, membuat mereka tidak sadar sudah sampai di sebuah restauran bintang lima milik Damian.
Disini Peter akan bertemu dengan rekan bisnisnya untuk membahas masalah dana investasi yang akan Peter berikan.
Entah kenapa, satu tahun ini Peter lebih tertarik berinvestasi daripada membangun proyek sendiri. Memang ada beberapa proyek sedang berlangsung. Namun, proyek yang Peter kerjakan sekarang tidak sebanyak proyek di tahun sebelumnya.
Keduanya masuk kedalam. Berjabat tangan sebelum akhirnya membuka obrolan dan mulai membahas proyek yang mereka tawarkan.
__ADS_1
Entah berapa lama pertemuan itu berlangsung. Yang jelas Peter dan Keenan sama-sama fokus pada ide-ide yang rekan bisnis mereka katakan sampai tidak sempat melihat jam.
...ππππ...
"Terimakasih atas kerjasama anda tuan!" seorang pria paruh baya mengulurkan tangan. Wajahnya tersenyum senang tatkala mendapatkan investor besar seperti Peter.
Peter mengulas senyum tipis sebelum akhirnya menjabat tangan tersebut dan mengangguk dua kali. "Saya harap anda tidak akan mengecewakan saya!" seru Peter tenang. Namun, menyiratkan nada keseriusan.
"Tentu tuan. Saya akan melakukan yang terbaik dan membuat anda senang telah bekerjasama dengan saya!" balas pria itu ramah.
"Dan ini hadiah dari istri saya tuan. Produk parfum terbarunya, istri saya menitipkan itu untuk istri anda!" menyerahkan paper bag berisi lima buah parfum dalam bingkisan. Parfum branded dengan kualitas terbaik. Juga berharga fantastis tentunya.
Sengaja pria itu menyerahkan bingkisan tersebut pada Peter di akhir rapat. Tidak ingin Peter menganggap hadiah itu sebagai sogokan.
Peter sempat terdiam, memperhatikan bingkisan tersebut. Hadiah ini untuk istri, Peter tidak berhak menolak. Lagi pula parfum ini bentuk dari ketulusan hati dari istri rekan kerjanya.
"Terimakasih!" mengambil paper bag tersebut dan menyerahkannya pada Keenan.
"Sama-sama tuan! senang bekerjasama dengan anda!" terus menyanjung. Pasalnya perusahaan baru kali pertama mendapat tender setelah berulangkali mengajukan kerja sama. Peter mengangguk kemudian pergi meninggalkan restauran karena meeting sudah selesai.
"Berhenti di toko dessert terdekat, aku ingin membelikan Rachel dessert stroberi!" seru Peter.
"Baik tuan!" Keenan mengemudikan mobilnya ke arah toko dessert yang terletak di sebelah rumah sakit kota. Keenan juga ingin membelikan dessert untuk Belle.
Selama ini, Keenan tidak pernah membelikan Belle sesuatu. Ini kali pertamanya membelikan Belle barang. Memang bukan perhiasan mahal, hanya sekotak dessert tiramisu.
Namun, dipastikan Belle akan senang. Karena Belle berubah menjadi wanita sederhana yang suka akan hal-hal kecil. Asal Keenan yang memberikan, dengan senang hati Belle akan menerimanya.
Belum sampai sebulan mereka tinggal, Belle sudah mulai nyaman berada di dekat Keenan. Bahkan tidak segan menggoda Keenan.
__ADS_1
Ya walaupun kegiatan mereka sering berhenti di tengah jalan akibat tangisan Abigail. Tidak masalah, asal Keenan masih mendapatkan jatah walaupun jarang.
TBC