Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Memulainya malam ini


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar, Grace memaafkan Rachel. Kini wanita itu kembali menghampiri keluarganya di bawah dan membiarkan Grace istirahat. Kanaya dan Agatha menyambutnya dengan hangat, menyuruh Rachel duduk diantara mereka


"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Kanaya, sudah lama Peter dan Rachel tak mengunjungi mansionnya. Kanaya rindu pada menantunya itu


Padahal sebelum mereka pergi, keduanya berjanji akan sering berkunjung. Namun, sekali saja tidak ada yang datang menemui Kanaya di mansion utama.


"Aku baik-baik saja, mom!" jawab Rachel jujur. Faktanya Peter benar-benar membuat Rachel bahagia setelah pernyataan cintanya itu.


Agatha pun demikian, mengajak Rachel mengobrol. Bertanya ini itu sampai melupakan orang-orang di sekitarnya. Rachel juga demikian, membalas semua obrolan ibu dan bibinya dengan ramah tanpa wajah dibuat-buat.


"Re re re!" Xavier menatap Rachel, tersenyum lebar menampakkan giginya yang belum tumbuh. Sambil merentangkan tangan, minta di gendong.


Agatha dan Kanaya tersenyum, tahu situasi yang terjadi di antara mereka. Sudah lama Rachel tak bertemu dengan anak Grace, Xavier mungkin rindu pada ibu baptisnya itu.


"Anak baptis ku!" tanpa permisi Rachel menyahut Xavier dari gendongan Damian. Dominic yang melihat itu melengos, sudah tahu jika menantunya itu tidak tahu sopan santun. Tapi tetap saja hatinya menyayangi Rachel seolah dia adalah putrinya sendiri.


Damian mendelikkan mata, menatap Rachel tajam sebelum melirik Peter yang mengendikkan bahu. Seolah tak mau di salahkan atas sikap bar-bar istrinya.


"Kau merindukan ku, Sayang?" Rachel berkaca-kaca, tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya dia sekarang. Ia tak henti-hentinya menciumi pipi gembul Rachel sampai bekas lipstiknya tertinggal disana.


Dan hal itu semakin membuat Damian kesal. "Xavier, anakku. Berhentilah menciuminya!" marah Damian hendak mengambil alih, namun pintarnya Rachel langsung berlari dan duduk kembali di antara Kanaya dan Agatha.


Tahu kedua wanita paruh baya itu akan melindunginya. "Aunty, aku bisa menggendong cucu mu kan?" alih-alih meminta izin pada Damian, Rachel malah meminta izin Agatha. Tentu membuat seluruh keluarga tertawa.


"Tentu saja, Sayang. Bukankah dia juga putramu?" Agatha mengusap rambut Rachel, memberi izin. Rachel tersenyum penuh kemenangan, melirik Damian dengan tatapan mengejek.


Sialan! wanita ini selalu menyusahkan aku, entah bagaimana Peter mengendalikannya! batin Damian menatap Rachel tak kalah tajam.


"Mom, aku akan membawa Xavier ke kamar. Kalian lanjut mengobrol saja!" pamit Rachel. Kanaya mengangguk mengiyakan, tidak ada alasan untuk menghentikan menantu kesayangannya itu.


"Aku rasa menantu mu sudah siap menjadi ibu, Kanaya!" seru Agatha.


"Aku tahu, dengan melihat sifat keibuannya saja. membuat ku yakin bahwa Rachel sudah siap di beri titipan. Semua ini tergantung seberapa besar usaha anak durhaka ku itu!" ucap Kanaya mengejek, seolah lupa bahwa Peter adalah putra kandungnya.


"Mom, aku sudah berusaha. Kenapa malah menyalahkan aku!" Peter menyangkal, tak senang di salahkan.


"Mungkin milik mu sudah tak bisa berproduksi, Peter. Aku jadi kasihan padamu!" Damian mengejek sepupu kurang ajarnya.

__ADS_1


Merasa bangga sudah memilik Xavier dan sekarang dia berusaha membuat anak kedua. Hans tersenyum miring, melirik kearah Dominic. Mengejek, bangga sudah memiliki cucu.


"Diam kau Ef, baru satu anak saja kau bangga. Lihat saja nanti, aku akan mengalahkan mu!" geram Peter kesal. Damian semakin bersemangat mengejek sepupunya itu.


β€œJangan hanya bicara tapi buktikan," Peter tak bisa berkata-kata, pasalnya untuk saat ini dia tak membawa kabar baik tapi lihat saja nanti begitu pulang bulan mandu Peter pastikan akan memberikan kabar baik.


"Oh son, kau membuat ku malu!" Dominic ikut menggoda, Kanaya langsung melemparkan tatapan tajamnya. "Sudah-sudah, berhentilah menggoda putra ku yang manis itu!"


Manis? Peter? Damian ingin muntah sekarang. "Anak mama!" ucap Damian tanpa suara dan Peter tahu maksud pria itu.


"Aku akan menyusul istri ku!"


"Pasti dia ingin mengadu!" teriak Damian, tak mempunyai niat untuk berhenti mengejek Peter.


"Sialan kau!" Peter menoleh, menatap tajam sebelum berlari menaiki tangga. Lagi-lagi semua orang tertawa, melihat tingkahnya yang sama seperti anak kecil.


...🍁🍁🍁🍁...


Didalam kamar tamu, Rachel memangku Xavier dan menceritakan dongeng. Memang Xavier tak mengerti, tapi anak itu tampak senang dan sesekali bertepuk tangan. Seolah cerita Rachel sama seperti sirkus.


Peter memperlambat langkahnya, kala mendengar tawa Rachel bercampur dengan tawa Xavier. Pria itu berdiri di ambang pintu, mengamati sekilas sebelum masuk dan duduk di samping Rachel.


"Kau tahu mereka semua menggodaku karena aku masih belum punya anak!" Peter mengadu membuat Rachel tergelak.


"Lalu bagaimana tanggapan mu tentang itu?" tanya Rachel serius, ingin mengatakan sesuatu tapi terhalangi perasaan ragu.


"Aku diam dan sesekali menatap mereka tajam!" jujur Peter, "kenapa tak membalas sama seperti kau membalas ucapan ku dan mengajak ku berdebat?" cemoh Rachel, mengungkit permasalahan kecil yang biasa mereka lalui.


"Itu karena mereka benar, aku masih belum mempunyai anak!" jawab Peter sendu.


"Shut.. bagaimana jika kita mulai semuanya malam ini?" bisik Rachel nakal, tak peduli Xavier mendengarnya lagi pula, Xavier masih kecil tidak akan tahu kenakalannya ini.


"Apanya?" entak karena malu ataukah kesal, Peter jadi bodoh dan kepekaannya menghilang.


"Tentu saja membuat anak, kau bilang ingin menggendong anak tadi!" teriak Rachel, langsung di bungkam oleh Peter.


"Hei, jangan berteriak ini bukan kamar kita yang kedap suara. Bagaimana jika ada yang mendengar?" sarkas Peter dengan suara lirih dan wajah malu. Menggemaskan. Suami siapa itu

__ADS_1


"Tapi kau juga mau kan? aku tak yakin kau menolak kenikmatan seenak itu!" Rachel mencebik.


"Kau sudah tahu kenapa bertanya? ayolah Re masih ada keponakan ku disini, jangan sampai aku menyerang mu didepan anak kecil ini!" Peter menyahut Xavier dan menggendongnya diatas udara.


"Keponakan uncle, kau tambah berat ya." serunya, lalu menciumi wajah Xavier. Anak itu langsung menangis. Takut.


"Hei, kau membuatnya takut!" Rachel malah dan menyahut Xavier. Oh God, Xavier bak boneka yang di perebutkan sekarang.


"Dia saja yang cengeng sama seperti ayahnya!" menggunjing Damian tanpa sepengetahuannya.


"Benarkah, aku rasa melihat wajah dinginnya itu tidak memungkinkan si Damian atau siapalah itu cengeng!"


"Menurut mu siapa yang paling tampan diantara kami?" tanya Peter tiba-tiba, membuat Rachel mematung. Peter memang tampan tapi Damian juga sangatlah tampan. Rachel tidak bisa memilih.


"Boleh aku jujur?" Peter tiba-tiba saja diam menatap Rachel dingin.


"Ya, tapi jika kau menyinggung ku. Aku akan memberikan mu hukuman!" belum apa-apa Peter sudah mengancam, tentu membuat Rachel enggan.


"Kau yang tertampan!" bisik Rachel tepat di telinga Peter. "Kau yakin? jangan kau terpaksa mengatakan itu karena takut dengan hukuman ku!" Peter tuding curiga.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Damian memang tampan tapi kau lebih tampan dan ****, sayang!" Rachel menggigit bibirnya sendiri, mengusap dada Peter dengan jari telunjuknya dan menggambar abstrak di sana.


"Aku ingin menerkam mu sekarang," sahutnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel.


"Hei bawa Xavier pergi, baru kita begituan!"


"Begituan, apa maksudmu?" tanya Peter dengan suara menggoda.


"Jangan berpura-pura tidak tahu!" Rachel menyiku perut Peter. "Cepat! sebelum aku berubah pikiran!"


Seketika Peter menggendong Xavier dan mengembalikannya kepada ayahnya.


Aku sudah tidak sabar bermain bersamanya!


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2