Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Akhir cerita Belle dan Keenan


__ADS_3

"Aku sudah menandatanganinya, sekarang lepaskan Michel!" beralih pada Keenan.


Keenan meraih dokumen pernikahan itu dan tersenyum saat mendapati tanda tangan Belle di sebelah tanda tangannya.


"Pilihan yang bijak!" seru Keenan seraya menyerahkan dokumen tersebut ke pengacara yang dia bawa.


"Urus surat pernikahan kami!" perintah Keenan pada pengacara tersebut. "Baik tuan!" menerima dokumen itu dan berlenggang pergi.


"Besok kita akan melakukan upacara pemberkatan, bersiaplah!" Belle tak menjawab, memilih diam dan mendengarkan.


"Tepati janji mu, biarkan Michel pergi!" pinta Belle. Keenan menghembuskan napasnya panjang dan menyuruh dua bawahannya mendekat.


"Antarkan pria ini pulang ke tempat asalnya dan jangan biarkan dia mendekati istri ku lagi!" benarkan tebakan Belle. Keenan memutuskan hubungan pertemanan mereka.


"Puas? sekarang kita pulang!" Keenan mencengkram pergelangan tangan Belle dan memaksanya masuk kedalam mobil.


Belle tidak memberontak lagi. Dia pasrah dengan keadaannya karena kini Keenan berhak atas dirinya. Mereka sudah menikah sekarang.


"Mulai besok kau tinggal bersama ku di New York!" Belle melebarkan matanya terkejut.


"Lalu bagaimana dengan ayah ku, kau pikir aku tega meninggalkannya!" seru Belle. Lagi-lagi perjalanan mereka di penuhi dengan perdebatan. Entah itu perjalanan pulang ataupun pergi mereka suka memenuhinya dengan perdebatan.


"Steven dan Ara akan pindah ke London setelah berbulan madu!"


"Benarkah, sok tahu sekali!" cibir Belle. Menghina.


"Aku sudah merundingkannya dengan Steven. Dan kembaran mu setuju!"


"Kapan kau menemuinya?"tanya Belle, terkejut.


"Beberapa hari yang lalu, kami bertemu secara diam-diam. Peter bahkan tidak tahu aku pergi menemuinya!" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan kota.


Hening sejenak, tidak ada yang membuka suara. Belle membuang mukanya ke arah jendela. Menikmati indahnya suasana malam di kota Milan.


Sampai akhirnya mereka tiba di hotel yang Peter dan Keenan tempati. "Turun!" Belle tak menjawab namun langsung melakukan perintah Keenan.


"Kau mau membawa ku kemana?" Belle bertanya kala Keenan kembali menariknya pergi.


"Tentu saja ke kamar sayang. Malam ini adalah malam pertama kita. Jadi nikmati saja ya!" Belle menggelengkan kepala. Tidak ingin membayangkan melewati malam panas bersama Keenan untuk ke sekian kalinya.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah melakukannya tadi. Sekarang biarkan aku menemui Abigail. Aku rindu pada putri ku!" mohon Belle.


"Sebelum kau melayani ku, aku tidak akan mempertemukan mu dengan putri kita!"


"Dasar bedebah sialan!" desis Belle tajam. Sebelum masuk kedalam kamar. Ia terpaksa menerima keinginan Keenan demi bisa bertemu dengan Abigail.


"Kau sudah makan?" tanya Keenan menghampiri Belle yang duduk di balkon kamar. "Aku tidak lapar!" jawabnya singkat.


"Aku tidak mau kau jatuh sakit, makan ini!" entah darimana Keenan mendapatkan satu nampan penuh berisi makanan.


"Sebenarnya apa tujuan mu menikahi ku, bukankah sebelumnya kau menolak ku?" akhirnya pertanyaan itu Belle lontarkan.


"Aku di sampingmu, tatap mataku saat kau bicara pada ku!" sok mengajari. Padahal Keenan sendiri sering mengabaikan lawan bicaranya.


Belle memutar bola matanya lalu sedikit memiringkan tubuhnya. Kedua mata abu itu saling beradu dengan sangat lama.


"Jika aku bilang aku mencintaimu, apa kau percaya?" kata Keenan. Bertanya. Belle semakin membuka matanya lebar terkejut.


"Kau benar Elle, sejak aku melihat Abigail pertahan ku goyah. Mata itu, wajah itu, dan panggilan itu membuat hati ku terenyuh. Aku tidak bisa membiarkan Abigail memanggil pria asing dengan sebutan ayah. Sedangkan aku masih hidup!"


"Jadi alasan ku menikahi mu karena aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan kalian!" Ini pertama kalinya Keenan berkata panjang lebar tanpa titik koma.


Hati Belle sudah sangat hancur, jika Keenan mengkhianatinya sekali lagi. nyawanya juga ikut menghilang karena tekanan batin.


"Aku tidak pernah mempermainkan mu! aku punya alasan tersendiri, mengapa aku menolak mu waktu itu!"


"Alasan apa?" tanya Belle membuat Keenan diam Tak berkutik. Melihat Keenan diam, Belle menghembuskan napas kasar.


"Aku akan menunggu sampai kau siap mengatakannya!" serunya. Mengalah. Belle mencoba menerima Keenan dengan semua kekurangan dan kelebihannya.


"Hm, terimakasih!" Keenan mencium puncak kepala Belle dan mengusapnya lembut seolah ayah yang mengusap rambut putrinya.


"Karena kau membuat mood ku naik, malam ini aku membiarkan mu beristirahat!" ujar Keenan dengan senyum tipis.


"Bawa Abigail kemari!"


"Tidak sekarang, malam ini biarkan aku memelukmu hm!" tanpa permisi Keenan menggendong Belle dan menidurkannya ke atas tempat tidur.


"Tidurlah, aku akan menjagamu!" Keenan menarik selimut dan ikut membaringkan diri di bawahnya.

__ADS_1


Dengan erat Keenan merangkul Belle tak mempedulikan umpatan-umpatan yang Belle keluarganya.


Tak sampai 10 menit Belle pun pasrah dan membiarkan Keenan memeluknya. Jujur saja, Belle nyaman berada di pelukan Keenan. Seolah ada kehangatan dan ketenangan menyelimuti dirinya.


Sampai tak sadar rasa kantuk datang menyerang. Belle mulai menutup mata, hari ini hari yang melelahkan. Belle membutuhkan tenaga untuk upacara pemberkatan esok hari.


...🍁🍁🍁🍁...


Keesokan harinya, Keenan dan Belle melakukan upacara pemberkatan tanpa sepengetahuan orang-orang. Karena itu, begitu mereka datang seluruh keluarga gempar. Namun, ikut bahagia karena keputusan mereka merupakan keputusan yang tepat.


Keenan menggenggam jari jemari Belle dan masuk kedalam kamar tamu kini. Menemui Daniel-ayah Belle untuk meminta restu.


Pria paruh baya itu terlihat murung. Matanya mengamati hamparan taman, dengan kaki selonjoran. "Dad!" suara Belle memecah keheningan.


Daniel menoleh, menatap dua orang tersebut secara bergantian. "Kalian datang?" bertanya sembari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri dengan langkah tertatih-tati.


"Dad, kami datang untuk meminta restu!" seru Belle lirih. Mengeratkan genggamannya. Takut Daniel tak merestui setelah mengingat kekecewaan yang Keenan berikan.


Hening, Daniel tak bergeming. Masih memperhatikan mereka, terutama genggaman tangan yang semakin mengerat itu.


"Daddy tanya, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" Belle langsung terdiam. Awalnya Belle tidak mengharapkan Keenan kembali. Namun, setelah kejadian semalam Belle ingin menerima Keenan dengan sepenuh hati. Dan memberikan Abigail orang tua yang lengkap.


"Tentu saja dad. Aku bahagia!" Belle menjawab dengan senyum tipisnya. Keenan bahkan sempat terpesona dengan kecantikannya itu.


"Kalau begitu daddy harus memberi restu mau atau tidak mau. Mendengar seberapa kejamnya Keenan, daddy yakin dia tidak peduli jika mendapat restu atau tidak. Yang terpenting kau menjadi miliknya!" ucap Daniel panjang lebar, benar-benar membuat Keenan tertohok. Faktanya Keenan memang tidak membutuhkan restu pak tua itu.


"Tidak akan seperti itu dad, jika kau tidak memberikan restu. Aku tidak akan ikut dengan Keenan." seru Belle di iringi tawa kecil.


Mendengar Belle menjawab, lantas Keenan menolehkan. Melemparkan tatapan tajam. Tidak suka. "Aku tidak akan membiarkan mu pergi kali ini. Kau harus di hukum, sayang!" bisik Keenan seraya Meniup-niup daun telinga Belle.


"Sekarang pergilah sayang. Dan nikmati Hari-hari bahagia mu. Dad akan mendoakan mu dari sana!" Daniel menepuk pelan kepala Belle dan setelah itu memeluknya erat.


"Aku pamit dad, maaf aku tidak bisa menemani mu lagi!" Daniel menggeleng.


"Kenapa kau harus minta maaf, sudah seharusnya seorang istri mengikuti keinginan suami. Jadi jaga dirimu baik-baik hm!" Belle mengangguk.


"Kalau begitu kami akan pergi sekarang!" pamit Keenan kemudian menggenggam tangan Belle dan mengajaknya keluar.


"Bawa Abigail, hari ini kita harus kembali ke New York. tidak perlu membawa apapun, aku sudah menyiapkan semua keperluan mu dan Abigail di apartemen nanti!" Belle mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2