
Peter terhenyak kaget, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa?"
"Ya, asisten mu! aku ingin menjadi tangan kanan mu!" ulang Rachel lagi, tampak berbinar dan raut muka ceria. Seolah tadi bukanlah apa-apa, seperti melamar pekerjaan biasa.
"Asisten kantor? baiklah aku akan menyuruh Keenan mempersiapkan segalanya nanti. Mulai dari ruangan mu dan alat-alat elektronik mu." pasrah Peter, tak ingin membuat Rachel kecewa. Padahal Peter, tidak ingin Rachel membebani diri dengan bekerja dan membuatnya lelah.
βBukan asisten kantor!"
"Lalu?" mengernyitkan dahi, entahlah tapi mendadak perasaan tidak enak tiba-tiba menyerang.
βMaksudku asisten Mafia," sahutnya cepat tak sadar perkataannya barusan bak bom besar yang mengguncangkan Peter.
"Bukankah terlihat keren saat kita bersama-sama beraksi?"
"Apa?" Peter semakin terkejut, tak bisa berkata-kata lagi. Ide gila seperti ini, darimana Rachel dapatkan.
"Sayang, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu itu." Peter mendesah frustrasi. "Kenapa tidak," ketus Rachel.
"Aku tidak mau kau terluka!" Peter merubah posisi, awalnya berbaring nyaman menjadi duduk bersandar.
"Aku bisa menjaga diri!" ucapnya ketus. Peter mengacak rambutnya sendiri. "Sekali tidak ya tidak! jika kau ikut, aku harus repot-repot melindungi mu dan mengabaikan anggota ku." bentak Peter. Rachel langsung membisu tak berani menyahut lagi.
"Ayolah, sekali ini saja turuti semua keinginan ku ya. Aku bisa menjaga diri ku sendiri, kau lupa siapa ayah ku? dia mantan tangan kanan Ayahmu. Sejak kecil aku belajar memakai pistol, pisau, dan juga panah bersamanya. Sekarang aku sudah menguasai segalanya!" Peter menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba bersabar.
"Sayang, cobalah mengerti! kau adalah hidupku, jika terjadi sesuatu pada mu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." jelas Peter.
"Aku hanya ingin hidup bebas seperti mu, merasakan kepuasan saat kau berhasil melenyapkan musuh-musuh mu. Kali ini saja, berikan aku kesempatan dan aku akan membuktikannya."
"Sudahlah, aku tetap tidak setuju. Minta saja hal lain, seperti saham, uang, bahkan jika kau mau aku akan memberikan seluruh harta ku padamu. Tapi tidak dengan yang satu itu!"
Rachel mengerucutkan bibir, "kalau begitu aku akan pulang kerumah ayah ku. Dan tidak akan pernah kembali lagi ke sini!" seperti biasa, Rachel mengancam sama seperti yang biasa Peter lakukan.
"Hoho, benarkah? aku ingin lihat bagaimana kau bisa pergi dari sangkar emas ku ini!" sarkas Peter. Tertawa mengejek. Tidak tahu betapa liarnya Rachel.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, aku harap kau tidak menyesalinya!" Rachel menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Di balik selimut itu, mulutnya bergerak kecil. Merutuki Peter yang tidak mau memenuhi permintaannya. Peter menggeleng, kemudian kembali berbaring di samping istrinya itu.
"Buka! kau tidak bisa bernapas nanti!" menarik selimut itu kasar. Rachel bergegas memejamkan mata, pura-pura tidur.
"Aku tahu, kau masih sepenuhnya sadar." Rachel tak bergeming. Diabaikan membuat Peter kesal, mau tak mau pria itu mengalah dan mengarahkan tangannya. Memeluk Rachel.
Rachel yang awalnya berpura-pura tertidur, kini benar-benar terlelap kala merasa nyaman dengan dekapan Peter. Keduanya tertidur pulas, mengistirahatkan tubuh mereka. Cukup untuk hari ini, besok masih ada waktu untuk melanjutkan perdebatan itu.
...ππππ...
Kedatangan Darion, membuat Peter memutuskan mengambil cuti sehari lagi. Merasa tak pantas meninggalkan mertuanya dan pergi bekerja. Darion adalah tamu, dan tamu harus di perlakukan selayaknya raja.
Peter memilih menghabiskan seharian ini dengan berkumpul dan mengobrol bersama istri dan ayah mertuanya. Yah, meskipun Rachel mendiaminya sejak perdebatan semalam.
Namun, Peter berusaha melakukan yang terbaik. Membujuk Rachel agar berhenti mengabaikannya. Tidak tahu siapa yang benar ataupun yang salah. Satu hal yang pasti, keduanya keras kepala dan egois.
"Makan ini, semalam aku membeli pancake dan desert ini untuk kalian. Tapi karena situasinya tidak memungkinkan, akhirnya dua kue ini aku letakkan di dalam lemari pendingin!" Darion memecah keheningan, paham dengan percekcokan antara anak dan menantunya.
"Aku juga sudah kenyang, dad!" Peter ikut menolak, semakin membuat Darion heran.
"Sebenarnya, ada apa dengan kalian? apa semuanya baik-baik saja?" setelah lama memendam, Darion bertanya pada akhirnya.
"Ini karena menantu dad, yang tidak bisa memenuhi satu permintaan ku!" mengadu, seraya melirik sinis kesamping. Tepat dimana Peter berada.
"Aku tidak bisa mewujudkannya, karena yang Rachel minta bukanlah hal normal." Peter menyela, tidak terima dijelek-jelekkan.
"Aku hanya meminta hal kecil, kau saja yang terlalu lebay!"
"Tunggu sebentar, katakan padaku apa keinginan Rachel?" pasangan itu saling melemparkan tatapan tajam. Dan membuang muka secara bersamaan.
"Rachel minta bergabung dengan kelompok ku!"
Byur! Darion menyemburkan kopinya kala mendengar jawaban Peter. pandangannya beralih pada Rachel kini. "Benarkah itu?" Rachel mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kau sudah tidak waras?" geram Darion. "Tentu saja aku seratus persen waras!"
"Lalu kenapa kau ingin bergabung dengan mereka?"
"Aku ingin mencari pengalaman baru, ingin merasakan bagaimana rasanya membidik target dan menjadi buronan target!" gila, entah setan mana yang merasuki tubuh wanita itu. Sampai-sampai mengubahnya menjadi seorang psycopat.
"Ini tidak semudah yang kau bayangkan, sayang!"
"Aku tahu, karena itu aku ingin menjadi asisten Peter. Tentu suamiku itu akan mengajari ku cara bekerja di dunia Mafia!"
"Dad tidak setuju!" Rachel memutar bola matanya, mendengar jawaban ayahnya yang sama dengan jawaban suaminya.
Hei, Rachel bukan anak kecil lagi. Seharusnya sekarang Rachel berada di fase pencarian jati diri. Rachel ingin mencoba hal-hal baru. Tidak ingin bekerja di kantor dan mempresentasikan hasil diskusi. Membosankan sekali.
"Aku tetap bersikukuh, lagi pula aku sudah besar dad." dan perlu mengembangkan bakat, kata Rachel selanjutnya.
"Tapi bagiku kau tetap anak kecil! sudahlah menyerah saja. Lagi pula perempuan tidak cocok dengan pekerjaan semacam ini!"
"Maka dari itu aku ingin mengubah pandangan dunia, dimana seorang wanita pun bisa menjadi dewi kematian saat sedang marah"
Hening, tidak ada lagi yang menyahut. Peter dan Darion mengusap dadanya berulang-ulang. Sebelum melanjutkan perdebatan mereka.
Mungkin setelah ini Darion harus mengunjungi rumah sakit dan memeriksakan kesehatan jantungnya. Rachel benar-benar membuatnya kesal, ingin sekali Darion memarahi Rachel seandainya ruang tamu sepi.
Tetap saja, dad tidak memperbolehkan. Duduk diam di rumah saja dan nikmati series drama ataupun film kartun kesukaan mu."
"Aku tidak mau, jika kalian menentang keputusan ku aku pastikan akan menghilang tanpa kabar dan tidak akan pernah kembali lagi ke sini!"
Darion menghembuskan nafasnya panjang, lalu menepuk pelan pundak Peter. "Biarkan saja, jangan membuang-buang waktu dan energi mu. Anak durhaka itu tidak akan mendengarkan mu!"
Peter mengangguk seraya mengulas senyum tipis.
TBC
__ADS_1