
Dua orang duduk berhadapan, menikmati makan malam romantis mereka. Pagi tadi, Peter menyuruh Keenan mempersiapkan segalanya, mulai dari tempat bernuansa romantis, makanan kesukaan Rachel, dan hadiah berupa liontin mewah berbandul bintang dengan batu kristal bersinar terang.
Entah bagaimana cara Keenan menyulap taman hijau sederhana itu menjadi tempat seromantis ini. Tidak ada yang tahu, apa dan bagaimana usaha sekertaris jomblo itu.
Mawar merah menghiasi lingkungan setempat dipadukan dengan lilin panjang bewarna putih, namun beraroma khas. Wangi yang merilekskan. Anehnya semua lilin-lilin tersebut tidak padam kala angin meniupnya kencang.
Kenyang dengan hidangan yang tersedia, keduanya tampak meletakkan sendok dan garpu. Mengelap mulut dengan tisu secara serempak. Barulah keduanya bercengkerama sembari menikmati indahnya langit bewarna abu kehitaman itu.
Kendatipun cuaca malam ini sangat dingin, ditambah dengan hembusan angin tanpa henti membuat siapapun bisa terkena flu. Namun, Peter dan Rachel tak berniat beranjak dari sana. Memilih menyalakan api unggun jauh dari hamparan yang mereka tempati tadi.
Peter menyusun kayu bakar, menuangkan alkohol untuk mempermudah menyalakannya nanti. Setelah selesai, Peter melempar satu buah lilin yang menyala. Seketika api melebar, membakar kayu yang tersusun itu.
"Kemari!" panggil Peter pada Rachel. Ia menyiapkan dua tempat duduk, untuknya dan Rachel.
"Dingin sekali lagi!" keluh Rachel seraya meletakkan kedua telapak tangannya yang terbungkus sapu tangan tebal di atas perapian itu.
"Kalau kau tidak tahan, kita bisa masuk kedalam, Sayang!" Peter menyahut, mengambil dua cangkir kopi hangat di atas meja makan.
"Aku tidak mau masuk, kapan lagi kita bisa seperti ini." ujar Rachel menolak. Peter mengangguk paham.
Namun tidak bisa di pungkiri cuaca dingin membuat Peter khawatir akan kesehatan Rachel. Wanita itu rentan terkena penyakit. Meskipun mereka memakai pakaian tebal dengan syal rajut melingkar di leher masing-masing. Tetap saja hawa dingin masih bisa menembus kulit mereka.
"Peter! aku ingin makan puding strawberry!" kata Rachel menunjuk benda kenyal bewarna merah yang tersusun rapi di atas meja makan. Peter mengangguk, berdiri dan berjalan mendekat kearah meja tersebut.
Ia mengambil puding strawberry itu dan memberikannya pada Rachel. "Ini!" seru Peter. Rachel diam tak bergeming, asik dengan benda gadget yang ada di tangannya.
"Suapi aku!" Rachel meminta dengan mata berbinar penuh permohonan. Kedua tangannya sibuk membalas pesan-pesan yang di kirimkan Grace.
"Manja sekali, aku suka!" rutuk Peter. Tersenyum tipis dengan pipi bersemu merah. Sepertinya pria itu tengah membayangkan hal-hal mesum.
Peter menyuapi Rachel dengan penuh kesabaran, sedikit demi sedikit Peter masukkan kedalam mulut Rachel sampai akhirnya piring tersebut kosong.
__ADS_1
"Sudah selesai!" Peter mencium bibir Rachel singkat. "Enak sekali, aku ingin lagi!" Peter menoleh ke arah meja, tidak ada puding yang tersisa.
"Hei kau! kemari!" Peter memanggil salah satu bodyguardnya. "Ya tuan!" menunduk hormat dan mempertanyakan kebutuhan sang tuan muda.
"Minta koki membuat puding strawberry lagi!" lantas bodyguard itu mengangguk dan bergegas pergi menuju dapur.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan semua orang!" sarkas Rachel, merasa bersalah. Peter menoleh, mengulum senyum.
"Tidak papa sayang! ini bukan hal besar yang harus kau sesali. Kau tidak meminta di bangunkan seribu candi dalam semalam, hanya sepiring puding tidaklah merepotkan!" Peter menangkap anak rambut Rachel yang berterbangan dan menyelipkannya pada sela-sela telinga.
Hening sejenak, keduanya sibuk dengan handphone masing-masing. Sebelum akhirnya Rachel kembali membuka suara. "Peter!" panggil Rachel, entah kenapa Peter mendadak merasakan firasat buruk.
"Hm,,,kau ingin sesuatu yang lain?" Peter menoleh, menatap Rachel dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku tidak ingin apa-apa lagi. Tetapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu!" sudah Peter duga. Biasanya sesi tanya-jawab Rachel ini berakhir dengan pertengkaran ataupun berdebatan panjang.
Dengan senyum merekah Peter mengangguk dan menjawab. "Tanyakan saja, dengan senang hati aku akan menjawab setiap pertanyaan mu itu!" suaranya lembut. Namun, siapa sangka Peter merutuk dalam hati.
"Aku?" menunjuk pada dirinya sendiri. Rachel mengangguk, menopang dagu menunggu jawaban.
"Laki-laki maupun perempuan, aku tidak mempermasalahkannya. Bagi ku mereka sama. Sama-sama anak kecil!" menyesal Rachel bertanya. Jawaban Peter benar-benar membuatnya kesal.
"Cih, menyesal aku menanyai mu tadi!" mencibir dan membuang muka. Peter tergelak, "faktanya aku tidak mempermasalahkan jenis kelamin anak, Sayang. Yang terpenting mereka lahir dengan keadaan sehat!"
"Aku kira kau sama dengan Damian. Terobsesi dengan anak perempuan!" gunjing Rachel. Seolah langsung merasakan kebencian hanya dengan mengingatnya saja.
"Ck, aku bukannya tidak ingin anak perempuan. Namun, aku tidak ingin membebani mu dengan keinginan ku!" seru Peter seraya menarik kedua sudut bibirnya. Membuat siapapun terpana dan terpelosok masuk kedalam pesona Peter hanya dengan melihat senyuman itu.
"Oh suami ku yang tampan dan pengertian. Cinta ku padamu semakin bertambah saja. Inilah yang aku sukai darimu. Kau penyayang dan perhatian padaku. Meskipun dengan orang lain kau bersikap selayaknya setan." puji Rachel sekaligus menghina.
"Kalau begitu berikan aku sebuah ciuman!" seperti biasa Rachel terjebak dalam ucapannya sendiri. Peter memanfaatkan situasi dan mencari keuntungan.
__ADS_1
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Rachel menantang. "Aku akan memaksamu bercinta di sini!" jawab Peter santai. Melipat lengan jaketnya, memperlihatkan tangan kokoh yang penuh dengan tonjolan-tonjolan otot.
"Kau selalu saja memaksa!" Rachel mencium bibir Peter singkat, ia hendak menjauhkan wajahnya. Namun, Peter menekan tekuknya dan memperdalam ciumannya.
"Manis sekali, aku mau lagi!" Peter memajukan bibirnya hendak mencium Rachel kembali. Namun, sebuah telapak tangan menutup mulutnya lebih tepatnya membungkam dengan kasar.
“Cukup, lanjutkan nanti malam saja!” ucap Rachel frontal, membuat Peter menahan tawa. “ Kau sengaja memancing ku huh, dasar wanita nakal. Aku akan menghukum mu nanti!” bisik peter, lalu meniup- niup telinga Rachel. Membuat wanita itu kegelian sendiri.
“Ngomong-ngomong soal anak perempuan. Aku jadi ingat ayah!” Peter menyeruput kopi hangatnya lagi. "Ada apa dengan ayah mertua ku itu?" malas membahas Dominic. Tetapi jiwa kepo Rachel meronta-ronta. Minta di puaskan.
"Kau tidak begitu dekat kan dengan ayahku?" tanya Peter dan Rachel mengangguk.
“Itu karena dia judes dan menakutkan sulit untuk mendekatinya.” Peter terkekeh, tidak salah apa yang dikatakan Rachel. Bahkan peter sendiri tidak terlalu dekat dengan ayahnya yang dingin itu.
"Sebenarnya aku punya tips, agar kau bisa dekat dan menjadi kesayangannya!" Peter membual. Jelas-jelas, Dominic menganggap Rachel seperti putri kandungnya sendiri. Rachel saja yang menolak sadar.
"Apa?” Rachel kepo, ingin tahu tips tersebut.
"Jadi kau ingin dekat dengan ayahku ya?" tuding Peter tidak suka. Takut Rachel terpincut dengan si tua itu karena terlalu penasaran.
“Kau ini kenapa sih, kau sendiri yang ingin memberiku tips. Kenapa aku juga yang kau tuduh. Dasar raja pencemburu.“ malas Rachel, menyahut dengan raut wajah kecut dan suara kesal.
“Tetap saja, kau begitu penasaran dengan ayahku!” tidak mau mengalah, menyudutkan Rachel.
“Aduh orang ini membuat tekanan darah ku naik saja. Aku bukannya tertarik dengan ayah mu yang sudah tua itu, aku masih waras. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan antara menantu dan mertua saja.” ingin rasanya Rachel melempar Peter keperapian.
“Aku akan memberi mu tipsnya,” putus Peter, padahal dia tahu Dominic menyayangi Rachel.
“Apa, aku sudah siap mendengarkan dari tadi!” geram Rachel. Kesal melihat peter bertele-tele.
“Berikan saja dia cucu perempuan!"
__ADS_1
TBC