
Rachel menoleh kebelakang, dimana ratusan manusia berada. Ia tampak canggung karena tak mengenal siapapun disini. Padahal biasanya Peter tak membiarkannya berada didekat pria asing. Lalu, kenapa sekarang pria itu membiarkannya berada diantara ratusan pria.
"Sttt..nona!" panggil seorang pemuda tampan. Pemuda yang sama dengan yang menjawabnya tadi. "Aku!" tunjuk Rachel pada dirinya sendiri.
"Disini hanya anda yang berjenis kelamin perempuan, siapa lagi yang saya panggil selain anda, nona?" Rachel mengedipkan matanya beberapa kali. Masih belum menyadari tingkah bodohnya itu.
Plak! "Aku lupa, hehehe.." Rachel berjalan mendekat kearah pemuda itu berada.
"Siapa namamu?" tanya Rachel, sebagai pembuka obrolan diantara mereka. "Cristian Elano!" jawabnya sopan.
"Aku akan memanggil mu, Tian ya!" serunya sambil tertawa tidak jelas. "Terserah, senyaman anda saja!" tutur Tian sekenanya.
"Anda bisa berjudi?" oh God, Rachel merupakan ratu judi dan pertanyaan itu sangat konyol baginya.
"Mau bertaruh?" Rachel duduk diantara pria itu. Namun, tetap menjaga jarak. Tidak ingin mereka terkena amukan Peter yang tak beralasan.
"Tentu!" Tian tersenyum tipis, tertarik dengan kepribadian nona barunya. "Aku mempertaruhkan ini!" ucap Rachel seraya meletakkan black card pemberian Peter diatas meja judi.
"Saya tidak punya apapun untuk di pertaruhkan, tapi jika anda menang saya akan menuruti satu permintaan anda. Apapun itu!"
"Sepakat!" Rachel tersenyum smirk, menatap Tian dalam. Dan bodohnya Tian terpengaruh dengan tatapan itu.
Keduanya mulai bermain sembari mengobrol seputar penghuni tempat ini. "Kalian benar-benar anggota Gold Lion?"
"Tentu saja, memangnya apa yang membuat anda ragu?" tanya Tian seraya mengocok setumpuk kartu untuk bermain.
"Tidak ada keseriusan disini, aku hanya melihat kesenangan dan tidak ada ketegangan!" jawab Rachel jujur. Rachel terlalu polos sampai mengira jika kelompok mafia selalu berhubungan dengan kejahatan dan kriminalitas saja.
Ya, Gold Lion juga demikian. Berhubungan dengan yang namanya kejahatan. Tapi bukan berarti mereka tidak pernah beristirahat. Jika tidak ada misi ataupun pekerjaan, ya tempat inilah yang akan mereka tuju. Memang mau kemana lagi mereka.
Tian membagikan kartu itu, dan setelah beberapa saat, ia menjawab pertanyaan Rachel.
__ADS_1
"Tidak semua anggota menjalankan misi, nona. Kami melakukan pekerjaan secara bergantian, lagi pula sekarang masih siang hari. Kami beraksi dimalam hari. Dimana hanya ada kesunyian dan ketenangan!" Tian melemparkan kartu bergambar love yang berjumlah 9 buah, dan berhasil mengalahkan kartu Rachel yang mempunyai nominal lebih rendah.
"Apakah seluruh anggota ada disini sekarang?"
"Tidak, beberapa orang keluar untuk mencari informasi dan bertransaksi!" Tian menyahut cepat. Dan menatap mata biru nona mudanya yang begitu memikat.
Rachel mengangguk-angguk, semua bayangannya lagi-lagi hancur oleh jawaban Tian. Tapi tidak salah sih, mereka juga manusia. Butuh istirahat dan hiburan.
"Sepertinya tidak ada anggota yang sudah berumur ya?" Rachel terus melontarkannya pertanyaan secara beruntun. Tidak berniat mengakhiri pembicaraan.
"Anda salah besar, disini juga banyak pria tua yang bergabung. Hanya saja mereka mempunyai tempat khusus. Singkatnya tempat kami tidaklah sama."
"Maksudnya, aku tidak paham!" tanya Rachel dengan dahi terlipat.
"Mereka di kastil belakang, dimana banyak mantan anggota lanjut usia yang sudah pensiun! mereka jarang di beri misi, paling-paling hanya mencari informasi lewat komputer ataupun membobol situs web saja!" tua-tua tapi bisa di andalkan juga ternyata.
Permainan terus berlanjut, sampai akhirnya Rachel kalah dibabak pertama, dan sekarang di mulailah babak kedua. Tidak ada ketegangan sama sekali, Rachel bahkan tampak santai dan menikmati permainan.
"Kalau boleh tahu, sejak kapan anda menikah dengan tuan Peter?" Tian memberanikan diri, bertanya pada Rachel tentang kehidupan pribadinya.
"Selama itu, tapi kenapa kami tidak mendengar berita pernikahan kalian?" Tian terus melontarkan pertanyaan-pertanyaannya. Sedangkan Rachel sibuk memikirkan strategi dan berfokus pada permainan.
"Itu karena aku ingin mengadakan resepsi pernikahan secara tertutup. Kau tahu, bos kalian memaksa ku untuk menikah dengannya!" Rachel membeberkan fakta.
Tian membulatkan mata, lalu mendekatkan wajahnya. Menunggu perkataan Rachel selanjutnya. Jiwa-jiwa kekepoannya meronta-ronta minta di padamkan. "Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa, memangnya hal apa yang tidak bisa Peter lakukan. Kau mau mendengar cerita ku?" tawar Rachel, menaik turunkan alisnya menggoda Tian. "Cepatlah nona, jangan sampai saya kepergok mendekati anda!" ucap Tian tidak sabaran.
"Kau suka bergosip ya, cocok jadi temanku nih!" gurau Rachel, menepuk-nepuk pundak Tian. Tak memperdulikan tatapan aneh dari anggota yang lain.
"Dulu aku sangat membenci si Mafia itu, karena itu dia menjebak ku dalam hubungan one night stand. Parahnya Peter merekam kejadian itu dan menekan diriku dengan video itu. Licik sekali kan?" Tak sadar Tian mengangguk, sebelum akhirnya menggeleng, tak setuju. Bisa habis dia jika ketahuan menggunjing Peter dari belakang.
__ADS_1
"Tapi aku mencintai dia sekarang, kau tahu Peter selalu bersikap manis dan memberikan perhatian penuh padaku!" Tian membuang muka, melengos.
Tidak bisa di pungkiri, Tian iri mendengar kisah romantis tuan dan nonanya. "Disini, apakah tidak ada kamar?"
"Anda mengantuk?"
"Tidak, aku hanya sedikit merasa lelah!" ucap Rachel, mendadak permainan terhenti. Tian panik, takut Rachel kenapa-kenapa.
Bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi nyawanya menjadi taruhan jika terjadi sesuatu pada wanita itu.
"Saya akan mengantarkan anda ke kamar pribadi tuan Peter," Tian berdiri dari tempatnya duduk. Menunggu Rachel beranjak.
"Tapi permainannya bagaimana?" tanya Rachel.
"Kita bisa lanjutkan nanti, sekarang yang terpenting adalah kesehatan anda!" Tian mengangkat tangan mempersilahkan Rachel berjalan lebih dulu.
"Maaf ya!" ucapnya merasa bersalah karena tak bisa melanjutkan permainan. "Tidak masalah, nona!" Tian tersenyum memperlihatkan dua gigi ginsul nya.
Mereka berjalan cukup jauh, hingga akhirnya sampai di sebuah pintu bewarna putih yang cukup jauh dari tempat tadi.
"Kalau begitu saya permisi, silahkan nikmati waktu istirahat Anda, nona!" Tian membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Rachel yang masih mematung.
Rachel menatap kepergian Tian, sebelum akhirnya memutar kenop pintu dan masuk kedalam kamar. Matanya berbinar melihat desain yang sederhana dan minimalis.
Didominasi dengan cat putih dan diselingi warna abu. Aroma maskulin yang biasa Peter kenakan tertinggal di ruangan ini. Apakah Peter sering beristirahat di sini.
Rachel melemparkan tas selempangnya ke sembarang arah dan menjatuhkan diri di atas ranjang empuk itu.
"Tidur sebentar tidak masalah kan, lagi pula Peter kembali nanti sore!"
Itu artinya Rachel memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Entahlah, tapi rasa kantuknya tiba-tiba datang dan membuatnya terpaksa meninggalkan tempat menyenangkan itu.
__ADS_1
"Hoam! Tidak ada guling disini! " gumam Rachel. Lalu meraih satu bantal yang lain dan menjadikannya sebagai guling untuk di peluk.
Rasa nyaman Rachel rasakan, hingga pada akhirnya wanita itu terlelap tanpa merasa sungkan. Seolah kamar ini adalah kamar miliknya yang ada di mansion.