Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Menunggu keajaiban


__ADS_3

Suara bising terdengar nyaring di sekitar hutan labirin itu. Peter dan Rachel pulang dari markas besar Gold Lion pagi ini. Rachel menikmati harinya dengan sebatang coklat dan musik.


"Kau bilang, kau sudah mencintai ku bukan?" Peter bertanya dengan nada ragu. "Kau masih tidak percaya?" Rachel menaikkan sebelah alisnya.


"Aku percaya, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" entah sejak kapan Peter yang tak suka berbasa-basi basi kini malah bertele-tele.


"Katakan saja, kenapa kau senang sekali membuat orang penasaran!" kata Rachel kesal. Kembali memakan coklat yang Tian berikan dan mematikan musik.


"Oke, aku ingin mengajak mu berbulan madu!" Rachel menghentikan pergerakan mulutnya, lalu menoleh kesamping menatap Peter dengan tatapan tidak percaya.


"Kapan?" tanya Rachel setelah menelan coklatnya. "Setelah pulang dari Milan!" jawab Peter sekenanya. Sudah lama Peter merencanakan ini, dimana dia akan menghabiskan waktu bersama Rachel berdua saja tanpa ada gangguan orang lain.


"Maksudmu setelah pesta ulang tahun Ara?" kata Rachel memastikan. Peter mengangguk sekali tanpa mengalihkan pandangan.


Rachel mengangguk-angguk paham, memutuskan memenuhi permintaan Peter. Tidak ada alasan untuk mengelak. Lagi pula Peter sudah cukup menunggunya.


"Baiklah, terserah kau saja!" ucap Rachel menyahut, kembali menyalakan musik dan berjoget kesana kemari, menyenggol Peter yang fokus menyetir.


Peter tak melarang ataupun menyuruh Rachel diam. Dia membiarkan wanita itu melakukan kesenangannya. Namun, batinnya tak henti-hentinya menggunjing Rachel sekarang.


"Nanti malam, aku harus pergi ke kota Z!" beritahu Peter, berniat pamit saat itu.


"Untuk apa, kau ada pekerjaan disana?" tanya Rachel. "Ya, aku akan bertemu klien!" Rachel mengangguk paham.


"Klien kantor? kau ada proyek baru?" entahlah tapi Peter merasa Rachel berubah. Bukan hanya banyak tingkah tetapi juga banyak tanya. Tentunya sering membuat Peter sakit kepala.


"Bukan, klien pembeli senjata ilegal!" Rachel menghentikan pergerakan, yang tadinya membuang muka sekarang memandang Peter penuh minat.


Bukan tubuh, tapi transaksi ilegal itu.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu, seperti orang bodoh saja!" ketua Peter, tak sengaja memergoki Rachel menatapnya dengan wajah konyol dan senyum lebar.


"Ada apa denganmu?" Peter menepikan mobilnya, lalu menggerakkan tangan di depan wajah Rachel. Takut setan alas mengambil alih tubuh istrinya.


"Aku ikut!" dua kata menakutkan itu akhirnya terucap juga. Peter menghela napas, menyesal telah memberitahu Rachel.


"Hm!" berdehem singkat, sebelum melajukan mobilnya kembali. Peter mengabaikan ucapan Rachel, bisa menembak bukan berarti mendapat persetujuan. Peter enggan menyetujui permintaan Rachel itu.


Entah kenapa hatinya gelisah, takut Rachel kenapa-kenapa ketika menjalankan misi. Kita bukan tuhan yang bisa memprediksi, bisa jadi Rachel terluka oleh musuh-musuh Peter nanti.

__ADS_1


"Peter! kau belum menjawab ku!" Rachel menggoyangkan lengan kekar Peter, menuntut jawaban. "Misi ini di lakukan malam hari, Re. Aku yakin kau pasti mengantuk!"


"Tidak, aku akan minum kopi nanti!" Rachel meyakinkan tak ingin kalah dengan begitu mudahnya.


"Terserah!" Peter pun pasrah, Rachel bukanlah tipikal wanita yang mudah menyerah ataupun mengalah. Peter yakin, dia pasti melakukan segala cara yang membuat Peter sakit kepala untuk mendapatkan izin.


"Kau tampan sekali, aku mencintaimu, Sayang!" Rachel mencium bibir Peter sekilas, membuat pria itu oleng dan terpaku di tempat.


Tin! Peter terkejut dan mengumpat saat pengendara lain menekan klakson. "Damn! siapa itu akau akan membunuhnya nanti!" Peter bercelingak celingukan menatap mobil yang menyalipnya.


Ia menghafalkan plat mobil itu dan mencarinya nanti. Padahal jelas-jelas Peter lah yang bersalah.


"Hei jangan mengumpat, kau yang bersalah bukan dia!" kata Rachel menyanggah.


Tidak sadar semua kelalaian ini berasal darinya.


Seandainya Rachel tak mencium Peter tadi, sudah pasti dia tidak akan membahayakan keselamatan pengendara lain.


"Kau mau membunuh ku ya?" Rachel masih menuduh tak membiarkan Peter membela diri.


"Ya, aku salah dan kau benar. Sudahkan, aku akan mengantarmu pulang. Kepalaku sakit karena ocehan- ocehan mu itu!" Peter menekan pedal gas, semakin lama semakin cepat. Sampai membuat wanita itu ketakutan.


Gila, sinting Rachel masih ingin hidup. Ya, tuhan sembuhkan penyakit tidak waras Peter. Rachel bahkan belum mempunyai anak.


"Tuhan! selamatkan aku, aku tidak ingin mati sebelum melahirkan seorang anak!" teriak Rachel berdoa dengan mata merapat dan tangan menggenggam erat kursi yang Rachel tempati.


Peter tergelak, namun tak berniat menurunkan kecepatan. Melihat wajah takut Rachel seolah membuatnya senang dan bahagia.


"Kau yakin mau mengandung anak ku?"


"Ya, aku mau. Jadi turunkan kecepatan mobilnya atau kupotong milik mu begitu sampai di rumah!" ancam Rachel.


"Ck, ancaman mu tidak berguna sekarang. Kalau kau ingin aku menurunkan kecepatannya, berjanjilah kau mau menuruti semua keinginanku!" seperti biasa Peter memanfaatkan situasi untuk memperdayai istrinya.


"Aku berjanji," teriak Rachel. Menjawab tanpa berpikir panjang. Tidak peduli dampak dari jawabannya tadi, yang dia pikirkan hanya keselamatan sekarang.


Peter tersenyum penuh kemenangan, lalu mengurangi kecepatan mobil sedikit demi sedikit. Peter senang bisa membuat Rachel tunduk. Walaupun tidak lama setelah itu Rachel memukuli bahu dan dada bidangnya.


...🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


Setelah sampai Rachel langsung masuk kedalam, mencari keberadaan Dasha. "Selamat datang,nona! ada yang bisa saya bantu?" ucap Dasha begitu melihat Rachel masuk kedalam dapur.


"Aku ingin makan kue tart dengan toping stroberi, tolong buatkan untuk ku ya!" Rachel tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putih bersihnya.


"Baik nona!" sedikit heran, tidak biasanya Rachel meminta camilan di pagi hari. Dasha tersenyum, menyadari sesuatu. Namun, tak berani mengatakan prediksinya takut keliru.


Dasha diam, memilih berdebat dengan dirinya sendiri. Mencari-cari bukti ataupun kejadian yang menguatkan dugaannya barusan.


"Oh ya, buatkan jus jeruk sekalian. Aku ingin sekali meminum minuman asam itu!" Dasha mengangguk seraya membuat adonan kue yang Rachel minta.


"Aku pergi mandi sebentar! Aku akan kembali nanti setelah tubuhku lebih segar dan bersih!"


"Baik nona, saya akan menyuruh pelayan lain untuk menyiapkan tempat mandi anda!" Rachel mengangguk sebelum berlari menaiki tangga.


Sepertinya sebuah keajaiban akan datang dan menerangi mansion ini. Batin Dasha bermonolog. Tak sabar direpotkan oleh nona mudanya untuk merawat anak.


Sampai di kamar, Rachel mengambil pengikat rambut dan mencepol rambut coklatnya. Kemudian melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya dan berganti memakai bathrobe.


"Nona! bisa saya masuk!" pelayan yang lebih muda dari Dasha berdiri diambang pintu, meminta izin masuk kedalam .


"Masuk saja, kau yang akan menyiapkan bathub ku?" tanya Rachel ramah. Dan pelayan itu mengangguk sekali sebelum menjawab,"iya nona, Dasha menugaskan saya agar menyiapkan bathub dan pakaian anda!" jelas pelayan itu sopan.


"Okeh!" Rachel masuk kedalam kamar mandi, di ikuti pelayan muda itu.


Pelayan tersebut menyalakan keran air hangat, dan menambahkan beberapa wewangian yang di request nona mudanya. Cherry blossom.


"Sudah selesai?" tanya Rachel kala melihat pelayan itu meletakkan aroma terapinya.


"Ya, silahkan bersihkan diri anda. Saya akan menunggu di luar sembari menyiapkan pakaian!" Rachel mengangguk.


"Saya permisi!" pelayan itu keluar setelah membungkuk hormat.


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2