Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Marah


__ADS_3

Melamun, Rachel memalingkan wajah menatap jendela. Memang tidak terlihat, namun Rachel gelisah. Memikirkan semua keinginan Peter. Sepanjang perjalanan, wanita itu tak bergeming.


Begitu pula Peter, pria itu sibuk dengan Keenan. Membicarakan perkejaan ataupun proyek-proyek baru. Tidak ada yang menyadari perubahan sikap Rachel itu.


"Tuan, saya dengar Thomas memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memata-matai kita lagi." tidak tahu tempat, Keenan malah membahas sesuatu yang sudah pasti membuat amarah Peter meledak.


"Tangkap dan bunuh dia!" perintah Peter dingin, tidak menyadari Rachel masih duduk disamping dan mendengarkan.


"Peter, bukankah kau sudah berjanji padaku," sanggahnya, mencengkram kuat lengan baju Peter.


Deg!


sial! aku lupa Rachel masih di sini


Peter mengarahkan tangannya, ingin mengusap lembut pipi tirus Rachel. Namun, wanita itu mengelak dan kembali memalingkan wajah.


Begitu sampai di hamparan mansion, Rachel langsung turun dan berlari masuk tanpa mau mendengar sepatah katapun yang keluar dari bibir Peter.


Brak! Rachel membanting pintu, lalu menguncinya rapat. Tidak ingin Peter masuk dan mendekatinya. Cukup, Rachel tidak ingin di permainkan lagi. Kemarin, Peter bilang ingin berusaha memenuhi permintaannya, tapi sepertinya itu semua hanya kebohongan semata.


Peter berdiri di depan pintu yang tertutup rapat, mencoba membuka. Namun, sepertinya pintu ini terkunci dari dalam.


Helaan nafas berat terdengar risau, Peter melangkah mundur. Menjauh. Memberi ruang bagi Rachel, agar bisa menenangkan diri.


"Ini semua salah mu, kenapa kau membahas masalah itu saat Rachel masih bersama kita." marah Peter pada Keenan.


"Maaf tuan, saya lupa jika nona Rachel ikut bersama kita," jawab Keenan sekenanya. Merasa bersalah kala melihat kegelisahan di wajah majikannya.


"Ck, pulanglah! aku tidak ingin melampiaskan kemarahan ku padamu, padahal jelas-jelas semua ini tidak akan terjadi jika aku bisa menahan diri."


Peter menjatuhkan diri, mengusap kasar rambut hitamnya. Bingung harus melakukan apa lagi. Keenan masih tak bergeming, tidak ingin Peter melukai pelayan ataupun penjaga sebagai pelampiasan.


Drtt..drtt..drtt


"Apa?" Peter mengangkat telepon tanpa membaca nama kontak yang tertera.


"Apa begini cara mu menyapa ayah mertua mu, cih sebenarnya apa yang diajarkan Dominic pada mu. Tidak sopan sekali." Peter membulatkan mata, menjauhkan handphonenya. Melihat nama penelpon.


Ayah mertua!


"Maaf Dad, aku tidak tahu kau yang menelpon." Peter meminta maaf, dengan raut muka kalut.


"Jemput aku, sudah satu jam aku menunggu taxi tapi tidak ada yang lewat."


"Bandara?"

__ADS_1


"Ya, aku mengunjungi Las Vegas, kenapa apa aku tidak boleh menemui Putri ku sendiri?" nada kurang enak bisa Peter dengar dari sini.


"Bukan begitu, Kenapa kau tidak memberitahu kami. Aku bisa menyuruh Keenan menjemput mu."


"Alasan saja kau, sudahlah sekarang kirimkan seseorang untuk menjemput ku atau aku akan mengadu pada putriku nanti."


Tut! Peter berdecak saat Darion menutup telepon tanpa mendengar jawabannya. "Aku tidak jadi menyuruh mu pulang, pergi jemput ayah mertua ku di bandara. Astaga, pak tua itu selalu mengejutkan aku." kesalnya,lalu berlalu lalang. Keenan menghembuskan nafasnya, sebelum pergi menjalankan perintah.


...🍁🍁🍁🍁...


Sampai dibandara Keenan mencari-cari batang hidung Darion. Pria paruh baya itu terlihat duduk santai di atas koper sambil mengamati keadaan bandara Las Vegas. Persis seperti orang hilang.


"Tuan!" Keenan menepuk pundak Darion lembut.


Darion menoleh, "Kau asisten bocah tengil itu?" Keenan mengangguk, mengambil alih koper dan mempersilahkan Darion masuk kedalam mobil.


"Kau cepat sekali ya!" puji Darion.


"Saya tidak secepat yang anda pikirkan, tuan!" Keenan merendahkan diri, lalu mulai menyalakan mesin mobil.


Hening sejenak, keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. "Tuan, sepertinya anda datang pada waktu yang tidak tepat."


"Maksudmu?" Darion mengerutkan keningnya, kebingungan. Keenan terdiam sesaat, namun memutuskan menceritakan segalanya pada mertua tuannya itu. Berharap Darion bisa memperbaiki hubungan suami istri itu.


"Kalau begitu, antarkan aku ke toko kue terdekat." pinta Darion. Keenan tak menanyakan apapun dan langsung memenuhi permintaan Darion.


Sampai di toko kue, Darion masuk kedalam menghampiri salah seorang pegawai. "Berikan aku pancake stroberi dan desert Cherry." pinta Darion ramah.


"Baik tuan, mohon tunggu 10 menit." Darion mengangguk.


"Hm, tambahkan toping buah stroberi dan Cherry yang banyak diatasnya. Karena putri ku sangat menyukainya." pegawai tersebut tersenyum, lalu mengangguk.


Desert dan pancake ini mengingatkan Darion akan masa kecil Rachel. Dimana Rachel, selalu mengajaknya pergi membeli kue selepas dia pulang bekerja. Menolak, tidak pernah Darion lakukan. Baginya Rachel adalah obat pelepas penat. Senyum hangat dan suara cempreng Rachel membuatnya senang. Hatinya tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Tuhan, karena telah memberikan putri semenggemaskan ini.


"Silahkan tuan!" Darion mendongak dan bergegas mengeluarkan ATM.


"Selamat menikmati tuan!" Darion mengambil bon dan ATM nya sebelum berjalan keluar.


"Ayo!"


...🍁🍁🍁🍁...


Lain halnya dengan Peter, pria itu tampak bingung. Berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar. Berusaha mencari cara, membujuk Rachel yang sedang marah.


"Re, buka pintunya!" teriak Peter seraya mengetuk pintu itu sesekali. Masih tidak ada jawaban.

__ADS_1


Rachel menatap pintu sejenak, lalu kembali membuang muka. Malas meladeni suaminya. Lebih baik dia menonton serial favoritenya sekarang.


Setengah jam Peter menunggu, hingga akhirnya kembali berucap. "Re, buka pintunya atau ku dobrak sekarang!" habis sudah kesabaran Peter.


Selembut apapun Peter berucap, wanita itu hanya akan mendengar jika kalau dia mengancam. "Dobrak saja, aku akan lompat dari lantai ini!" balik mengancam.Tentu Peter semakin kalut.


Ia kembali menuruni tangga, bersamaan dengan itu deru mobil berhenti tepat di depan Mansion. Penasaran, Peter keluar menemui tamu penting itu.


Bagaimana cara Peter menjelaskan nanti?


Darion turun dari mobil, pandangannya terkunci pada sosok pemuda tampan yang juga menatapnya datar. "Wah, menyenangkan sekali. Melihat mu datang dan menyambut ku." seru Darion receh.


"Masuklah, dad!" Peter mengalihkan pembicaraan, mempersilahkan pria setengah abad itu masuk kedalam kediamannya.


Darion berjalan perlahan seraya mengamati tempat tinggal suami putrinya. Tak terlalu buruk, mewah dan megah meskipun terdiri dari dua lantai.


"Rachel, dia-"


"Aku tahu, Keenan menceritakan semuanya tadi!" Seketika Peter langsung melirik kebelakang dimana Keenan berada, melemparkan tatapan tajam nan dingin.


"Kau bodoh sekali ya, merayu satu wanita saja tidak bisa? tapi pintar juga putri ku tidak mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan manis mu itu," lanjutnya. Mengejek Peter tanpa henti dan diakhiri dengan tawa renyah.


β€œDimana dia?” tanya Darion antusias, tak sabar melepas rindu dengan malaikat kecilnya.


β€œDia mengurung diri di dalam kamar, dad. Marah padaku!” sendu Peter.


Di luar dugaan, Darion malah mengencangkan tawanya, β€œck, kasihan sekali kau.” cibir Darion, menepuk-nepuk pundak Peter pelan. Menenangkan.


β€œAku akan mengantarmu!” Peter menghentikan tingkah konyol ayah mertuanya.


Mereka terhenti tepat di depan pintu yang dipenuhi oleh pahatan relief. β€œSayang, keluarlah dan lihat siapa yang datang menemuimu.” bujuk Peter lagi, melirik kearah Darion berharap tak di tertawakan.


β€œTidak mau.” tepat saran, lagi-lagi Darion tertawa mendengar Rachel menolak dan mempermalukan menantunya.


Aku akan meghukummu nanti. batin peter, tertohok dengan penolakan Rachel.


"Meskipun dad, yang meminta. Kau tetap tidak mau keluar!?"


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2