Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Hamil!


__ADS_3

Keramaian terjadi pagi ini, Peter dengan segala keributannya perkara pekerjaan kantor. Bagaimana tidak, seharusnya hari ini Peter menemani Rachel dan menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Namun, Keenan menyuruhnya bekerja dengan dalih terdapat rapat penting yang tidak bisa Peter wakilkan. Tentu saja hal itu membuat sang raja marah-marah dengan mata yang berapi-api. Mau tak mau, Peter pergi bekerja dengan perasaan kesal.


Kini, Rachel berbaring nyaman di atas ranjang. Membiarkan dokter keluarga memeriksanya. Sedikit aneh, perasaan Rachel tak merasa sakit ataupun meriang. Lantas, gerangan apa yang membuat ibu mertuanya repot-repot mengirimkan dokter dari Las Vegas.


"Aku baik-baik saja kan?" tanya Rachel dengan wajah santai. Tak panik, karena faktanya Rachel baik-baik saja.


Dokter itu tersenyum dan mengangguk ringan. "Ini vitamin yang harus anda minum setelah sarapan dan makan malam!" menyerahkan beberapa bungkus vitamin dan Rachel menerimanya dengan wajah bertanya-tanya.


"Bukankah kamu bilang aku baik-baik saja. Lalu, kenapa aku harus minum obat?" tanya Rachel. Matanya menatap dokter tua itu. Mencari jawaban.


"Vitamin ini untuk meningkatkan perkembangan janin yang ada di dalam perut anda, nona!" jawab dokter tersebut. Menjelaskan.


Hening, Rachel nampak terdiam. Mencerna ucapan dokter itu. Entahlah, Tiba-tiba saja perasaan aneh menyeruak masuk kedalam dirinya.


Bahagia, terharu, semuanya bercampur aduk menjadi satu dan menghasilkan genangan air mata kebahagiaan. "Aku hamil?" tanya Rachel tergagap.


"Ya, nona. Saya ucapkan selamat karena sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu. Usia kandungan anda sekitar tiga bulan!" dokter itu menyahut lagi.


Seketika tangis Rachel pecah, isak tangis terdengar nyaring. Rachel mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Kenapa Rachel baru sadar jika perutnya sedikit membesar.


Peter, pria itu pasti senang mendengar berita menggembirakan ini. "Bolehkah aku meminta bantuan mu?" tanya Rachel lirih. Masih sesenggukan.


"Tentu, nona!" dengan senang hati dokter itu akan membantu menyelesaikan masalah nona mudanya.


"Jangan beritahukan masalah ini pada suamiku ya!" ucap Rachel mantab.


Akhir bulan, Peter berulang tahun. Rachel ingin menjadikan kehamilannya sebagai hadiah. "Tapi kenapa nona, tuan Peter pasti bahagia setelah mendengar kabar mengenai kehamilan anda!" dokter tersebut bertanya.


"Aku ingin memberitahukannya secara langsung. Jadi, aku mohon jangan katakan apapun ya!" Rachel mengantupkan kedua tangan. Memohon.


Dokter tersebut pun mengalah dan mengangguk. Setuju. "Kalau begitu, saya pamit nona. Jaga kesehatan dan pola makan anda ya!" Rachel mengangguk, kemudian menyuruh Dasha mengantarkan dokter itu sampai ke depan.

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁...


Di kantor Peter merasa bosan, ingin pulang namun tumpukan dokumen ini menghalanginya. Belum lagi dua rapat yang harus dia hadiri setelah makan siang.


"Tuan, boleh saya masuk?" Keenan menyahut setelah mengetuk pintu berulang kali. "Masuk saja, tumben kau meminta izin!" ketusnya heran. Masih marah perihal keributan pagi tadi.


"Ini dokumen proyek bulan lalu yang sempat tertunda karena masalah dana!" lihat, betapa kejamnya Keenan. Padahal dokumen sebelumnya saja belum selesai dan sekarang di tambah setumpuk lagi.


"Proyek ini, kau saja yang menangani!" tolak Peter. Menggeser ke depan, menatap Keenan dengan tatapan dingin. Seolah memberi perintah.


"Tuan yang menjabat sebagai pemimpin anda atau saya?" tanya Keenan malas. Hari ini Keenan berniat pulang lebih awal dan menghabiskan waktu bersama putrinya.


"Aku!"


"Kalau begitu, silahkan periksa dokumen ini tuan!" menggeser dokumen itu lagi. "Aku bosnya bukan?" Keenan refleks mengangguk. Mengiyakan.


"Tepat sekali, bukankah bawahan harus patuh pada atasan?" tanya Peter, kembali menggeser dokumen tersebut ke dekat Keenan. Menyuruh asisten kurang ajar itu mengambilnya lewat isyarat mata.


"Baik tuan!" Menjawab dengan ekspresi datar. Menantang. Sedetik kemudian, tangannya meraih tumpukan kertas itu dan membawanya keluar dengan perasaan dongkol.


...🍁🍁🍁🍁...


Ya, Keenan berniat menjemput Abigail. Meskipun sudah ada pengasuh yang menemani, tetap saja hatinya risau. Persetan dengan bosnya yang mengatainya ayah posesif. Yang jelas, Keenan ingin menghabiskan hari-harinya bersama Abigail.


Sebentar lagi upacara pernikahan Ara dan Steven akan di selenggarakan. Di hari yang sama pula, Keenan akan berpisah dengan Abigail dan Belle untuk Selama-lamanya.


Kecuali, jika Keenan mau mengubah keputusannya dan menikahi Belle. Bukan hanya Abigail, Keenan juga akan mendapatkan Belle sebagai istrinya. Lengkap sudah kebahagiannya jika semua itu terjadi. Dan itu pasti.


Mobil hitam Keenan membelah jalanan kota New York dengan kecepatan tinggi. Waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi. Setelah jam makan siang berakhir, Keenan harus menghadiri rapat bersama Peter.


Hingga tak membutuhkan waktu lama, Keenan tiba di depan gerbang apartemen kini. Salah satu bodyguard membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.


Dari sini, Keenan bisa melihat princess kecilnya bermain bersama dengan pengasuhnya di halaman depan. "Anda sudah pulang tuan?" bertanya tanpa menatap mata Keenan.

__ADS_1


"Aku ingin menjemput putri ku!" jawab Keenan dengan suara dan ekspresi datar.


"Pulanglah, besok datang sebelum jam 5. Mulai besok, aku akan membawa Abigail pergi bekerja!" Keenan melanjutkan ucapannya. Sembari mengangkat Abigail ke atas udara. Menggendongnya.


"Baik tuan!" jawab pengasuh itu patuh. Tidak menolak, karena permintaan Keenan tidaklah sulit untuk di kerjakan. Apalagi gaji yang di tawarkan tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Sangat besar dan menguntungkan.


Keenan berjalan cepat ke arah mobil mahalnya. Meninggalkan sang pengasuh yang masih setia berdiri di tempat. Pengasuh Abigail bukan gadis muda yang berperawakan sempurna.


Namun, seorang wanita tua yang amat membutuhkan uang untuk pengobatan suaminya. Meskipun sudah tua, pengasuh tersebut mengerjakan semua pekerjaannya dengan sempurna. Tidak memberikan Keenan kesempatan untuk mengeluh, apalagi memecatnya.


Untuk masalah kesetiaan, semua itu sudah terjamin. Informasi ataupun latar belakang Keenan tidak akan pengasuh itu bocorkan. Meskipun nyawa yang menjadi taruhannya. Karena itu, Keenan menaruh kepercayaan pada wanita tua itu untuk mengasuh putri kesayangannya.


...🍁🍁🍁🍁...


"Dad, mommy mana?" bertanya di sela-sela kesibukan sang ayah. Lantas, Keenan mengalihkan perhatiannya ke samping.


"Bekerja!" menjawab dengan singkat. Hampir setiap hari, Abigail mempertanyakan keberadaan ibunya. Ya, walaupun setelah Keenan menjawab, Abigail tak bertanya lagi.


Hening, Abigail mencoba turun dari kursi yang dia duduki dan merangkak naik ke atas tubuh Keenan.


"Kau mau di gendong hm?" astaga Keenan sedang menyetir sekarang. Dan Abigail tak mau tahu akan hal itu.


"Aku sayang daddy!" entah apa yang terjadi pada anak kecil itu. Sampai mengungkapkan perasaannya dan bermanja-manja pada sang ayah.


Sontak Keenan menepikan mobilnya, matanya berkaca-kaca mendengar ungkapan sang tuan putri. Keenan tersentuh, perasaan takut akan kehilangan semakin Keenan rasakan.


Haruskah Keenan mengubah keputusannya demi Abigail. Menikahi Belle dan hidup bahagia bersama mereka. Keenan bingung harus melakukan apa.


Di satu sisi Keenan takut kehilangan mereka karena Musuh-musuhnya. Dan di sisi lain, Keenan ingin tinggal satu atap bersama mereka.


Tapi melihat Belle bersanding dengan pria lain dan membiarkan Abigail memanggil orang asing dengan sebutan ayah. Keenan tak rela.


"Sebelum memikirkannya lagi, aku harus membaca informasi itu. Siapa dan dari mana asal pria itu. Berani-beraninya dia berebut wanita dengan ku!" batin Keenan. Bertekad.

__ADS_1


TBC!!!


__ADS_2