
Rachel masuk kedalam kamar, duduk di atas ranjang sembari mengedarkan pandangan. Bibirnya tersungging kala mendapati sebuah koper besar di sudut ruangan.
"Aku akan membuat kalian setuju! lihat saja nanti!" Rachel mengambil koper tersebut dan memasukkan seluruh barang-barang miliknya.
Mungkin hari ini Rachel berubah menjadi aktor, mengingat harus berakting dan meyakinkan dua laki-laki itu agar mengizinkannya bergabung dengan kelompok Peter.
"Sudah siap! tinggal menyeretnya melewati mereka!" gumam Rachel, meneteng koper tersebut sebelum menariknya keluar.
Dibawah, Darion dan Peter tengah mengobrol. Darion yang terkenal akan kebengisannya berubah menjadi guru curhat menantunya.
Segala keluh kesah, Peter ungkapkan. Bagaimana keseharian dan secepat apakah perubahan sikap Rachel. Semua itu tak luput dari sesi curhat mereka. Darion yang tidak pernah tertawa, mendadak berubah dan sering tertawa lepas kala mendengar menantunya bercerita dengan sewot.
Peter yakin, Darion sepenuhnya mendukung hubungan mereka kini. Tidak bisa di pungkiri, perasaan tenang Peter rasakan. Setelah mendapat dukungan dari sang ayah mertua.
"Aku dengar, Thomas mengirimkan anak buahnya untuk memata-matai kelompok mu!" inilah mengapa Darion mendapat julukan si psycopat jenius. Meskipun sudah lama berhenti dari pekerjaannya, tetap saja masih mengetahui seluk beluk informasi.
Ini membuktikan kekuasaannya masih kuat sampai sekarang. Masih banyak mantan anak buah Darion yang bekerja di Gold Lion. Mungkin diantara mereka ada yang memberitahu pria ini. Peter tak masalah, asal bukan orang asing yang tahu masalah ini.
"Ya, seperti yang kau dengar. Ini kedua kalinya aku menangkap anggota BB. Sebenarnya apa masalahnya, aku tidak pernah menyinggung ataupun mengusik mereka. Lalu kenapa mereka selalu membuat masalah dengan ku?" Bertanya-tanya. Mencari jawaban atas kebingungannya selama ini.
Darion terdiam, mengetuk-ngetuk meja. Berpikir. "Apakah mereka tahu bahwa Rachel putri ku? mungkin saat Thomas tahu kau menikah dengan putri ku. Sudah di pastikan hidup mu tidak akan tenang."
"Maksudmu, Thomas mengincar Rachel?"
"Aku tidak tahu pastinya, aku harap kau berhati-hati kau tahu sendiri kan jika Thomas suka main belakang!" Peter mengangguk mantap.
"Tentu saja dad, aku akan melindungi putrimu meskipun nyawaku lah yang menjadi taruhannya. Aku yakin kau tahu sebesar apa cinta ku padanya!" Darion memutar bola matanya, "aku tahu, maka dari itu aku memberi mu restu!" cibirnya malas.
Peter cekikikan, merasa sefrekuensi dengan ayah Rachel. Tawa keduanya terhenti, saat mendengar suara dentuman heals dengan di padukan suara roda kecil menggelinding.
Darion dan Peter menoleh kesamping, melihat kearah sumber suara. Sebuah pemandangan mengesankan mereka dapati, terlihat Rachel berjalan mendekat seraya menarik koper dengan memakai kacamata mata hitam. Hell! ucapannya tidak main-main. Rachel ingin pergi meninggalkan mansion ini.
"Kau mau kemana?" tanya Peter dengan suara dingin dan dahi berlipat. Rachel menurunkan kaca matanya, menatap suami dan ayahnya secara bergantian lewat celah-celah atas.
"Sudah aku bilang, ingin meninggalkan Mansion ini dan menghilang dari pandangan kalian!" berkata ingin meninggalkan rumah, tapi dandanannya bak orang pergi berlibur. Aneh sekali.
__ADS_1
"Aku tidak mengizinkan!"
"Aku tidak butuh izinmu!" Rachel menyahut, menatap garang dari balik kaca gelap itu.
"Sudah aku peringatkan bukan, izinkan aku bergabung dan menjadi asisten mu atau biarkan aku pergi meninggalkan mu," lanjutnya santai, lalu memainkan kuku-kuku panjangnya. Memperlihatkan wajah sombongnya.
Oh God, siapapun tolong sembuhkan wanita ini. Dalam sehari Rachel berubah menjadi tidak waras dan menyusahkan semua orang.
"Berhenti bermain-main, Re! Ada apa denganmu, apa yang membuat mu bersikukuh ingin bergabung dan menjadi asisten Peter?" Darion geram dengan tingkah laku Rachel. Ingin sekali ia menyembur Rachel dengan kata-katanya.
"Aku serius, dad. Tidak tahu, apa yang membuat ku seperti sekarang. Yang jelas aku penasaran dengan dunia permafiaan. Jadi izinkan saja ya!" Rachel bergerak ke kiri dan ke kanan, memohon dengan wajah imut menggemaskan.
"Re, kenapa kau tidak mengerti juga. Dunia gelap bukanlah tempat bermain-main." Darion mengepalkan tangan, menahan amarah. Rachel begitu keras kepala.
"Ayolah dad, aku pastikan kalian tidak akan kecewa dengan ku begitu aku bergabung kesana!" tak bosan-bosannya Rachel meyakinkan. Darion dan Peter saling melemparkan pandangan. Bertukar pendapat lewat tatapan itu.
"Kalian tetap melarang ku? baiklah aku pergi sekarang. Oh, aku tidak sabar menghabiskan waktu sendiri di luar sana dan menghilang bak ditelan bumi!" Rachel berbalik, berjalan kecil dengan senyum licik tersungging di kedua sudut bibirnya.
Hei! hentikan aku, jangan biarkan aku pergi. Mansion mu akan sepi nanti! batin Rachel geram, tatkala melihat ayah dan suaminya membisu. Menatap kepergiannya yang pura-pura ini.
"Tunggu!" Rachel tersenyum penuh kemenangan, lega. Lalu berbalik dan menatap mereka santai.
"Ya," sahutnya. Tidak merasa bersalah karena sudah membohongi ayah dan suaminya. "Kau yakin akan pergi meninggalkan mansion ini?" tanya Peter memastikan.
"Seperti yang kau lihat!" memperlihatkan koper besarnya. "Pergilah, aku ingin lihat bagaimana kau bisa melewati mereka semua!" Peter menujuk kearah belakang Rachel dengan ekor mata.
Penasaran, Rachel langsung berbalik. Matanya membola saat melihat puluhan pria berjas lengkap berjejer rapi. "Cih, kalau berani satu lawan satu!"
"Sekarang masuk kedalam kamar, dan berhentilah meminta hal yang tidak-tidak!" Peter memerintah saat melihat Rachel diam tak berkutik.
"Aku tidak mau! kalau kau tidak mengizinkan aku bergabung, aku akan melenyapkan diri ku sendiri!" entah dari mana pisau itu berasal, kini ada di genggaman Rachel.
"Rachel!" teriak Darion, amarahnya memuncak melihat putrinya nekat.
"Aku hitung sampai tiga, setujui atau aku akan melukai diri ku sendiri!" mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya.
__ADS_1
Ya Tuhan tolong aku! batin Rachel lagi, tidak pernah terpikirkan olehnya rencana bunuh diri ini.
"Satu!" Darion dan Peter masih tak bergeming.
"Dua!" ujung mata pisau mulai menembus pergelangan tangan Rachel.
Sakit!
"Hentikan, baiklah kau bisa bergabung!" Peter berteriak, lalu berlari mendekat dan merampas pisau itu. "Kau terluka!" seru Peter panik.
Walaupun hanya goresan tipis, hampir tak terlihat. Namun tetap saja meninggalkan rasa perih.
Untung aku tidak menekan kuat pisaunya tadi!
Prak! Rachel membuang kacamata hitamnya, lalu bertanya. Memastikan. "Benarkah, kau memperbolehkan aku bergabung?"
Terpaksa Peter mengangguk, tak ingin Rachel berbuat nekat lagi. Rachel langsung berlari dan melompat memeluk Peter. Kegirangan.
Mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan kata terimakasih. Terlalu senang, sampai Rachel tidak menyadari tatapan membunuh ayahnya.
"Dasar ratu drama, aku akan pulang hari ini. Melihat tingkah gadis ini membuat darah tinggi ku naik!" Darion berucap kencang.
"Dad, jangan pulang dulu. Bukankah baru kemarin kau datang kesini!" raut wajahnya berubah sedih, siapapun yang melihat pasti merasa tidak tega.
"Kenapa, kau ingin bertobat dan berbakti padaku?" gumam Darion. Rachel mengerucutkan bibir. "Dad, aku masih merindukanmu!"
"Kau pikir aku tidak?" sahut Darion cepat!
"Kalau begitu, menginap lah beberapa hari lagi!" pinta Rachel.
"Tidak bisa! besok dad harus bekerja." Rachel memutar bola matanya. "Jaga baik-baik putri kesayangan ku ini, jangan sampai dia terluka. Kau yang mengizinkan jadi kau juga yang harus mengurusnya!" Darion menepuk pundak Peter berulang-ulang sebelum masuk kedalam mansion. Mengepak pakaian.
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π