Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Menculik Michel


__ADS_3

Kepergian Grace membuat Michel semakin bingung. Michel berjalan mondar-mandir, mencari ke sana kemari bahkan mengunjungi semua tempat yang ada. Namun nihil, Michel tak menemukan Belle.


Apa mungkin seseorang menculik Belle. Tidak mungkin, melihat keamanan yang diterapkan tidak memungkinkan bagi kriminal masuk ke tempat ini.


"Ara, apa kau melihat Belle?" Michel menghentikan Ara yang berjalan melewatinya. Lalu bertanya.


"Aku melihatnya di taman belakang tadi. Coba kau cek. Aku tidak tahu apakah dia masih ada di sana atau tidak!" seru Ara menjawab. Sebelum akhirnya meninggalkan Michel dengan kebingungannya.


Taman belakang, Michel sudah ke sana tadi. Apa mungkin dia melewatkan sesuatu. "Aku akan memeriksanya sesekali lagi!" gumamnya.


Dengan langkah cepat Michel berjalan ke arah taman belakang. Begitu sampai langsung menelusuri taman tersebut hingga ke sudut terpencil.


Sayangnya Belle sudah tidak ada di sini. Lalu dimana wanita itu, bagaimana bisa hilang dalam sekejap. Michel takut Belle Kenapa-kenapa. Sungguh, Michel benar-benar mencintai wanita itu.


Terlalu fokus dengan pencariannya sampai membuat Michel tak sadar. Jika dirinya tengah di buntuti. Dari awal Michel memang di intai.


Brak! Michel menjerit dan memegang tengkuknya yang berdenyut nyeri. Dalam sekejap terasa kaku dan ngilu. Seseorang memukulnya dari belakang dengan menggunakan balok kayu.


Alhasil Michel tumbang dan tak sadarkan diri. Melihat targetnya pingsan pria itu tersenyum miring. "Bawa dia pergi!" titahnya pada dua bodyguard yang berada di belakangnya.


"Baik tuan!" dua orang bodyguard berkepala botak itu bergegas menenteng Michel dan keluar lewat pintu belakang.


Tidak ada yang berani menghentikan dua orang itu tatkala melihat keponakan sang pembuat acara mengikuti mereka dari belakang. Ya, dia adalah Peter.


"Jangan katakan apapun pada siapapun!" Peter memperingatkan. "Baik tuan!" tidak ada yang berani membantah. Apalagi melihat tatapan tajam Peter yang mengintimidasi itu. Mereka semua menjadi takut.


Setelah berkata demikian, Peter menatap kepergian dua orang suruhannya itu seraya tersenyum licik. "Anak buah ku sudah membawa Michel ke tempat yang kau minta." Peter menelpon Keenan. Kemudian menyuruh Keenan melakukan tahap rencana selanjutnya.


"Peter!" mendengar Rachel memanggil namanya. Lantas pria itu bergegas mematikan sambungan. Peter menoleh seraya mengulas senyum tipis.


"Ya sayang, kau membutuhkan sesuatu?" tanya Peter basa-basi. Rachel menggeleng, "aku tidak membutuhkan apapun tapi aku ingin menanyakan sesuatu!" serunya. Menampilkan wajah seriusnya.


"Tanyakan saja, apa ada masalah?" Peter menyahut sembari melangkah mendekat. "Apa kau melihat Belle? wanita itu menghilang entah kemana!" Rachel mengedarkan penglihatannya. Mengamati taman tersebut. Siapa tahu Belle ada di taman ini.


Deg! mendadak jantungnya berdetak kencang. Peter takut Rachel menyadari sesuatu. "Hei apa ini?" Rachel memungut jam tangan bertuliskan brand Rolex tergeletak begitu saja di bawah sana.

__ADS_1


"Jam tangan siapa ini?" bertanya sembari mengangkat jam itu ke udara. Peter yang melihat itu membulatkan mata. Sial, jam tangan Michel tertinggal.


"Coba lihat!" Peter menyahut jam tangan tersebut. Dan berpura-pura mengamatinya. "Ini punya mu?" Peter menunjukkan jam tangan tersebut pada salah seorang bodyguard.


"Itu bukan-" Peter menajamkan mata, bilang ini jam tangan mu seolah berkata begitu.


"Ya tuan ini milik saya!" Peter bernapas lega. Untungnya bodyguard itu cepat tanggap jika tidak tamat sudah riwayatnya.


"Ambil ini!" Peter menyodorkan jam tangan tersebut. "Lalu Belle, kau melihat wanita itu?" kembali pada masalah kakak sahabatnya itu.


Syukurlah sepertinya Rachel tak menaruh curiga padanya. "Aku tidak tahu, sayang! lagi pula kenapa aku harus memperhatikan wanita lain sedangkan disini ada kau yang selalu menghipnotis ku!"


Seketika Rachel senyum-senyum sendiri. Salah tingkah mendengar kata pujian dari sang suami. "Apa aku benar-benar secantik itu?" tanya Rachel Malu-malu. Ayolah, wanita mana yang bersikap biasa saja setelah mendapat pujian dari suami mereka. Tentu saja mereka pasti meleleh.


"Tentu saja, bagi ku kau wanita tercantik sedunia, babe!" Peter mencium kening Rachel singkat dan merangkul pinggangnya.


"Ayo kita masuk!" ajak Peter.


"Belle bagaimana?"


"Dia pasti kembali, jangan khawatir!" tanpa mendengar jawaban Rachel. Peter membawa wanitanya masuk kedalam. Jangan sampai Rachel menemukan kejanggalan dan merusak rencananya.


...🍁🍁🍁🍁...


"Shtt.. kepalaku!" Michel merintih kesakitan.


"Dimana ini?" tanyanya pada diri sendiri. Ruangan ini tampak sepi dengan pencahayaan yang minim.


"Apa ada orang di sini?"teriaknya dengan sekuat tenaga. Michel tak mengira dia akan di culik di pesta orang.


Tap! tap! tap! suara sepatu pantofel menggema ke seluruh penjuru ruangan. Dengan cepat Michel menoleh. Matanya menajam tatkala melihat puluhan orang berbaju hitam datang mendekatinya.


"Siapa kalian, kenapa menculik ku!" tanyanya garang. Seandainya tubuhnya tidak terikat, sudah pasti semua orang itu pasti habis di tangannya.


"Kalau berani satu lawan satu!" remeh Michel.

__ADS_1


"Tutup mulut mu, sebentar lagi tuan kami tiba. Sampai saat itu nikmati saat-saat terakhir mu!"


"Oh jadi kalian di suruh?"


"Katakan, siapa yang menyuruh kalian membawa ku ke tempat kumuh ini?" Michel berusaha melepaskan diri. Bukannya melonggar ikatan itu malah semakin kuat.


"Sudahlah tuan, berhenti berteriak dan berdoa saja. Berdoa lah pada tuhan semoga kau keluar dengan keadaan selamat!" bodyguard itu mengambil lakban dan membungkam mulut Michel.


Sialan, siapa yang membawa ku ke sini! Belle, bagaimana keadaan wanita itu sekarang. Apa dia juga di culik?


Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala Michel sekarang. Seingatnya dia baru memulai karier di dunia bisnis. Michel merasa tidak punya musuh. Apa jangan-jangan dia sudah menyinggung seseorang tanpa sengaja.


Kita lihat siapa yang merencanakan penculikan ini nanti!


Michel menyandarkan punggungnya ke kepala kursi. Sebaiknya dia istirahat sebentar dan mengumpulkan tenaga. Agar nanti dia bisa melawan bajingan pengecut itu.


...🍁🍁🍁🍁...


"Di mana Keenan?" Rachel bertanya. Baru sadar asisten suaminya juga ikut menghilang.


"Apa Jangan-jangan hilangnya Belle ada hubungannya dengan Keenan!" teka Rachel. Melirik Peter dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Apa kau mencurigai ku, aku tidak tahu apapun!" mengalihkan pandangan. Berusaha tak bertatap dengan Rachel.


"Kalau tidak berhubungan, kenapa mengalihkan pandangan?" tanya Rachel lagi. Memicingkan mata. Sontak suasana berubah tegang.


"Kalau tidak percaya ya sudah!" Peter hendak beranjak. Namun Rachel mencengkram tangannya.


"Hei, aku hanya bertanya sedikit dan kau marah?" seru Rachel. "Jangan marah yah!" Rachel tersenyum dan menampilkan wajah paling imutnya. Merayu.


"Hm!" Peter berdehem singkat. Tenang melihat Rachel terpengaruh dengan aktingnya. Padahal Peter berpura-pura tadi. Agar wanita itu berhenti mencurigainya.


"Sekarang, ayo bergabung bersama mereka!" Rachel menarik tangan Peter dan mengajaknya ke dekat altar pernikahan.


Sesi lempar bunga akan segera di mulai.

__ADS_1


TBC


Β 


__ADS_2