Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Keluarkan pelurunya


__ADS_3

"Hentikan! dengan luka separah itu aku rasa sudah cukup untuk sekedar memberi peringatan. Di dalam hutan banyak binatang buas. Aku yakin bau darah bisa mengundang salah satunya untuk mencabik-cabik mereka!" Alessandro menyuruh anak buahnya kembali ke markas.


Dengan senyum mengembang Alessandro mengemudikan mobil sportnya menuju mansion Thomas. Sekedar info, Thomas ikut pindah ke New York karena Peter dan Keenan tinggal di sini.


Mendengar Peter dan Keenan kalah, Alessandro yakin Thomas akan senang dan memberinya imbalan. Alessandro bukan orang miskin.


Namun, mendapat imbalan atas usahanya Alessandro tidak akan menolak. Bukankah itu sebuah hal yang membanggakan. Hadiah itu sebagai bukti bahwa Thomas mengapresiasi kerja kerasnya.


...🍁🍁🍁🍁...


Sementara itu, di dalam hutan Keenan menuntun Peter ke sebuah gubuk tua dengan pencahayaan temaram. Siapa tahu Keenan bisa meminta bantuan di sana.


Dok! dok! dok! berulang kali Keenan mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan. Alhasil Keenan mendobraknya.


Kosong, sepertinya gubuk itu baru saja di tinggalkan oleh sang pemilik. Karena tidak ada waktu lagi, Keenan membawa Peter masuk kedalam.


Peter terluka parah, lengannya tertembak dan perutnya tersayat. Sedangkan Keenan sendiri wajahnya di penuhi memar dan tengkuknya berdarah.


Keenan mengeluarkan ponselnya. Hendak meminta bantuan, tapi sayangnya tidak ada sinyal di sini. Ingat, ini tengah hutan. Pantas jika tidak ada jaringan internet.


"Keluarkan peluru itu dari lengan ku sebelum racunnya menyebar!" perintah Peter dengan suara lirih sedikit terbata karena menahan sakit.


"Akan sangat menyakitkan jika saya mengambil peluru itu tanpa obat bius, tuan!" balas Keenan. Menjawab.


Menjadi seorang Mafia apalagi tangan kanan seorang pemimpin. Keenan di tuntut harus bisa melakukan apa saja. Termasuk menjadi dokter dadakan. Untungnya Keenan pintar, bisa menguasai ilmu kedokteran dalam waktu singkat.


"Aku akan menahan rasa sakitnya. Aku tidak mau mati sebelum anak ku lahir!" ujar Peter. Berteriak keras, memaksa Keenan mengeluarkan peluru itu.

__ADS_1


Bingung, Keenan menggaruk kepalanya. Lalu, menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sesuatu yang bisa Keenan gunakan untuk mengeluarkan peluru itu.


Keenan menangkap sebuah objek penting. Terdapat kendi air, panci, dan beberapa potong kayu bakar. Segera Keenan meraih kayu tersebut, menyusun dan menyalakannya seperti api unggun.


Keenan memanaskan air di atas api unggun. Sembari menunggu, Keenan berlari keluar gubuk mencari beberapa tumbuhan obat-obatan yang akan menghentikan pendarahan Peter nanti.


Begitu semuanya terkumpul. Keenan kembali ke gubuk itu. Menghancurkan obat-obatan tersebut dengan batu yang ia temukan di depan.


"Ini akan sangat menyakitkan tuan. Saya harap anda tidak akan merengek seperti bayi!" kata Keenan. Di saat-saat menegangkan seperti sekarang masih sempat mengejek Peter.


"Diam atau aku akan memukul kepala bodoh mu itu!" marah Peter. Meskipun dengan suara lirih, namun terlihat jelas Peter sedang kesal.


Aneh, sedekat apapun mereka. Tetap saja Keenan tidak akan berhenti mengejek ataupun mencela sebelum Peter berhenti mengganggu. Apalagi di saat Keenan sedang bermesraan dengan Belle.


"Saya akan memulainya tuan!" Keenan mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin mendengarkan omong kosong Peter.


"Hati-hati, jangan sampai kau membuat ku semakin terluka. Atau aku tidak akan memberimu cuti sehari pun selama setahun!" masih mengancam.


Keenan mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia bawa dan sembunyikan di belakang jas. Fokus Keenan terpaku pada luka Peter. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal.


Apalagi alat-alat yang Keenan gunakan terbatas. Juga tidak steril, jadi begitu sampai di kota nanti. Peter harus segera pergi ke rumah sakit agar mendapat penanganan yang tepat.


...🍁🍁🍁🍁...


Erangan demi erangan terdengar. Hingga beberapa saat berlalu dan akhirnya Keenan berhasil mengeluarkan peluru itu. Darah yang keluar cukup banyak. Namun, Keenan berhasil menghentikan pendarahan dengan menggunakan tanaman herbal.


"Sudah selesai tuan. Anda istirahat saja, saya akan menghubungi Cristian agar datang ke sini!" seru Keenan seraya membalut luka dengan menggunakan kain sobekan kemeja Peter.

__ADS_1


Peter mengangguk. Wajahnya tampak sayu. Sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa perih pada lukanya membuat Peter tidak bisa menjawab. Rintihan demi rintihan terdengar berulang kali. Hingga akhirnya Peter tertidur karena kelelahan.


Keenan keluar dari gubuk. Lalu, duduk santai di bawah pohon sonokeling. Memainkan benda pipih itu, berusaha mencari sinyal. Tak lupa Keenan juga mematik sebatang rokok. Sembari mengirim pesan, Keenan menghempaskan kepulan asap itu ke atas hingga menghilang setelah beberapa saat.


Luka di tengkuknya sudah mengering. Menyisakan sedikit rasa nyeri, tetapi Keenan masih bisa menahannya. Bukan luka besar, hanya sebuah goresan kecil. Mungkin membiru karena terhantam benda keras.


"Sial! kenapa tidak ada sinyal!" umpat Keenan kesal. Ingin kembali ke mobil, takut Alessandro masih mengawasi. Tidak mungkin Alessandro melepaskan mereka begitu saja.


Keenan bersandar pada batang pohon. Meluruskan kaki dan memejamkan mata. Membiarkan angin malam menerpa tubuhnya.


Lelah, Keenan ingin pulang ke rumah. Bertemu dengan Belle dan memeluknya dengan erat. Wanita itu mungkin sedang cemas sekarang karena tidak mendapat kabar darinya. Apalagi Keenan pergi secara diam-diam tadi.


Keenan terlalu menikmati suasana malam. Tubuhnya sedikit rileks sekarang, meskipun angin dingin menabrak tubuhnya. Keenan tidak kedinginan karena memakai kemeja dan jas hitam yang cukup tebal.


Alhasil Keenan tertidur dengan nyamannya. Tidak takut dengan binatang buas yang menempati hutan ini. Keenan terlalu santai, jika harus mati sekarang berarti itu takdir. Dan Keenan akan menerimanya dengan lapang dada. Asal Belle tidak menikah lagi setelah menjanda.


...🍁🍁🍁🍁...


Disisi lain, Cristian bersama dengan beberapa anggota Gold Lion lainnya datang ke tempat transaksi. Betapa terkejutnya mereka saat melihat banyak anggota yang tergeletak karena tertembak.


Sepertinya terjadi pertarungan hebat baru-baru ini. Firasat Rachel terbukti benar. Peter berada dalam bahaya. Cristian sempat berlarian ke sana kemari, melihat semua wajah orang yang tergeletak. Memastikan Peter dan Keenan tidak menjadi korban.


Namun, Cristian semakin khawatir. Kemana mereka pergi? apa yang harus Cristian katakan pada Rachel nanti.


"Makamkan anggota Gold Lion yang sudah meninggal dengan layak dan bawa anggota yang masih bernapas ke rumah sakit terdekat!" ucap Cristian menginterupsi bawahan. Sedih, melihat beberapa anggota yang tewas mengenaskan.


"Untuk anggota yang tersisa ikut aku! kita akan mencari tuan Peter dan tuan Keenan di dalam hutan. Siapa tahu mereka lari ke sana!"

__ADS_1


Cristian dan sepuluh anggota masuk kedalam hutan. Mereka berpencar ke 5 arah yang berbeda. masing-masing arah dua anggota yang menelusuri. Sesekali mereka memanggil nama Peter dan Keenan. Berharap Peter dan Keenan mendengar suara mereka.


"Hutan ini sangat lebat juga banyak binatang buas. Aku harap mereka baik-baik saja!"!


__ADS_2