Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
sebanyak ini(Revisi)


__ADS_3

Setibanya mereka di halaman gedung bercakar langit. Seorang bodyguard bergegas membukakan pintu, mempersilahkan sang majikan keluar. Sedikit terkejut, kala mendapati istri dari pemilik perusahaan yang turun dari mobil.


Di mana Mr Abbey? pikirnya. Namun, tidak berani bertanya setelah melihat Keenan membututi di belakang. Tatapan pria itu sungguh sangat menakutkan.


Kejadian yang menimpa sang tuan muda memang di rahasiakan. Tidak ingin lawan bisnis perusahaan memanfaatkan keadaan. Karena itu tidak ada yang tahu kabar Peter di serang selain keluarga dan orang-orang terdekat saja.


"Silahkan nona!" Keenan merentangkan sebelah tangan. Menyuruh Rachel berjalan lebih dulu. Rachel mengangguk, lalu melangkah anggun melewati jajaran pegawai yang berlalu lalang.


Mereka tampak terkejut melihat Rachel datang sendirian. "Kenapa mereka menatap ku seperti itu?" tanya Rachel pada Keenan yang masih berdiri satu langkah di belakang.


"Saya tidak tahu nona." Masih bersabar, baru kali ini membuka suara di tengah keramaian. Itupun karena menjawab pertanyaan tidak berguna.


"Selamat pagi semua!" Rachel menyapa. Sudah tidak tahan dengan tatapan tajam yang semua orang layangkan.


"Selamat pagi nona!" mereka menjawab serempak, gelagapan. Tidak menyangka Rachel menyapa terlebih dulu.


"Untuk beberapa minggu ke depan, aku yang mengambil alih pekerjaan Peter. Suami ku sedang sakit. Jadi mohon bantuannya ya!" Rachel menampakkan wajah ramah.


Semua pegawai yang melihat langsung tercengang. Tidak menyangka istri bos akan sebaik ini. Mereka juga terkejut, mendengar Rachel mengambil alih posisi Peter.


"Tentu nona!" jawab mereka serempak. Enggan menatap karena takut pada wajah dingin Keenan. Mereka tidak ingin mengusir Rachel, hanya saja hawa keberadaan Keenan membuat mereka tertekan. Lebih baik mereka segera pergi dari sini.


"Ayo nona," suara Keenan menyadarkan Rachel. Wanita itu kembali melanjutkan langkah, melewati lantai bawah dengan senyum merekah. Tidak ingin di katai galak oleh pegawai setempat.


...🍁🍁🍁🍁...


Keenan membawa Rachel masuk kedalam ruang kerja Peter. Begitu Rachel duduk, Keenan tersenyum miring. Ia. mengambil tumpukan dokumen yang terletak di dalam lemari dan menyerahkannya pada Rachel.


"Ini dokumen yang harus anda periksa nona!" ujar Keenan, tersenyum licik. Senang melihat raut muka Rachel.


"Sebanyak ini?" memastikan, baru saja Rachel duduk dan Keenan sudah membebaninya dengan tumpukan kertas bewarna putih.


"No no no, itu masih ada lagi nona!" menunjuk meja yang di penuhi map berwarna-warni berisi dokumen penting yang harus di pahami dan di tanda tangani oleh pemilik perusahaan.

__ADS_1


Berhubung Peter menyerahkan hak pemilik pada Rachel, maka wanita itu yang harus mengerjakannya sekarang. "Apa anda butuh bantuan?" tawar Keenan pada akhirnya.


Tidak tega melihat Rachel mengerjakan semua pekerjaan sendirian. Apalagi Rachel sedang hamil, bisa putus leher Keenan saat Peter tahu semua pekerjaan di bebankan pada Rachel.


Rachel tersenyum lebar, menapakkan deretan gigi rapinya. "Kau tau saja aku membutuhkan bantuan!"


"Terus rapat di adakan jam berapa?" tanya Rachel lagi. Mengingat Keenan berkata ada rapat yang harus pemilik perusahaan datangi kemarin, saat di rumah sakit.


"Nanti, setelah makan siang nona!" jawabnya. Rachel mengangguk tiga kali, pertanda jika dia mengerti.


Rachel mengambil satu dokumen teratas. Mulai membaca dan memahami, "jika anda butuh bantuan tekan saja ini, itu akan terhubung ke telepon yang ada di ruangan saya!" menunjuk satu tombol di telpon genggam.


"Oke, aku mengerti semuanya." tersenyum. Lalu kembali menyamankan diri di kursi dan membaca dokumen lagi.


"Kalau begitu saya permisi nona!" pamit Keenan, menunduk singkat sebelum akhirnya berlenggang pergi dari ruang kerja Peter.


...🍁🍁🍁🍁...


Jam menunjukkan pukul 12 siang, Rachel tidak sadar hari sudah memasuki siang dan dia masih membolak-balikkan tumpukan kertas. Sampai akhirnya Rachel menyelesaikan pekerjaannya dan berakhir membubuhkan tanda tangan di akhir halaman.


Keenan masuk kedalam, terlihat dua kantong berisi makanan yang entah darimana dia dapatkan. "Nona, waktunya makan siang. Tuan Peter menyuruh saya membawakan makanan anda."


Meletakkan kantong kresek itu ke dekat tangan Rachel. Wanita itu masih sibuk membaca, tidak menanggapinya. Membuat Keenan kesal saja dia.


"Nona!" panggil Keenan lagi, sedikit lebih keras dan tegas, berharap Rachel mendengar dan berhenti mengabaikan.


"Sebentar, ini dokumen terakhir yang harus aku periksa. Setelah itu aku akan makan," balasnya. Keenan menghela napas, menyahut dokumen itu dari tangan Rachel dan melontarkan tatapan setajam silet.


"Makanlah nona, atau saya akan mengadukan anda pada tuan muda. Bisa jadi, izin bekerja anda di cabut nanti." ancam Keenan sembari mendorong kantong kresek itu.


"Ck, ini namanya pemaksaan!"menyahut kantong kresek dengan kasar. Beranjak dari tempat kerja dan duduk di sofa.


"Kau tidak makan?" tanya Rachel, meskipun benci tapi juga peduli. Bukan karena suka, tetapi jika Keenan sakit tidak ada yang membantunya bekerja.

__ADS_1


"Saya sudah makan nona. Istri saya membawakan bekal," tanpa dimintai penjelasan, Keenan mengatakan bekal yang Belle siapkan.


"Mau pamer huh?" jengah Rachel. Tidak menaruh rasa iri sama sekali. Namun, sedikit minder karena tidak pernah menyiapkan Peter bekal.


"Tidak, saya hanya memberi tahu." Keenan memutuskan memeriksa dokumen terakhir.


Sedikit senang, melihat cara kerja Rachel dua kali lebih cepat dari Peter. Biasanya Peter menghabiskan satu hari penuh untuk menyelesaikan dokumen ini. Tapi Rachel hanya membutuhkan waktu setengah hari.


Seusai makan Rachel masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci tangan dan memperbaiki make up. Setelah itu Rachel mengajak Keenan pergi ke ruang rapat.


"Apa semua orang sudah datang?" tanya Rachel seraya memperbaiki lengan kemejanya. Keduanya berjalan beriringan, dengan Keenan yang membawa map bewarna biru.


"Sudah nona!" jawab Keenan singkat.


Begitu tiba di ruang rapat semua kolega yang hadir langsung berdiri. Menyambut kedatangan Rachel. Sedikit heran saat mendapati Rachel yang datang dan bukan Peter. Mereka tahu Rachel Nyonya muda Abbey. Tapi, apa Rachel bisa bekerja sebaik Peter.


Tidak sedikit dari mereka yang meragukan kemampuan Rachel. Bukan hanya karena seorang wanita tapi tampang-tampang Rachel juga tidak meyakinkan.


Wanita itu selalu menyunggingkan senyum sumringah seolah tidak ada keseriusan di matanya. "Bisa kita mulai?" tanya Rachel, menyapukan pandangan ke seluruh kolega yang ada.


"Tentu nona," jawaban keluar secara bergantian. Saling menyetujui, tidak berani protes karena tatapan tajam Keenan. Bahkan setelah Peter tidak ada sekalipun ruangan itu masih di selimuti ketegangan.


Keenan Menyalakan LCD proyektor. Sesaat sebelum memulai Rachel mengambil napas dalam-dalam. Juga sempat berdoa, semoga hari pertamanya dia tidak melakukan kesalahan fatal.


"Baik, terimakasih atas kesempatan yang kalian berikan pada perusahaan kami. Di sini kami menawarkan kerja sama yang cukup menguntungkan. Hotel ini akan kami dirikan di tempat strategis. Dimana tempat itu terletak di dekat mall dan juga klub malam!"


"Bisa dipastikan hotel ini menjadi acuan para turis asing karena posisinya yang strategis. Selain itu, kami juga memberikan fasilitas kelas atas dengan harga yang lebih murah dari hotel bintang lima pada umumnya. Dan untuk keuntungan kalian, kami akan memberi 20%-30% dari jumlah uang yang kalian investasikan!"


"Dari sini apa ada yang ingin ditanyakan? kalau tidak setuju silahkan akat tangan dan beritahukan keluhan anda!" semua orang saling melemparkan pandangan, sesekali berbisik dan bertukar pendapat satu sama lain.


"Kami semua setuju dengan proyek anda nona. Penjelasan anda membuat kami puas." putus mereka pada akhirnya. Rachel meringis, menampakkan deretan gigi putihnya.


"Terimakasih, saya akan menyuruh sekertaris saya untuk mengirimkan kontraknya besok." kata Rachel lagi.

__ADS_1


"Tentu!" Dan rapat pun berakhir dengan baik.


TBC


__ADS_2