
Setelah duduk berjam-jam di dalam pesawat, akhirnya mereka tiba di Turki. Peter dan Rachel turun dari pesawat dengan penjagaan yang ketat. Seolah mereka adalah pemimpin negara.
Peter mengenakan kacamata hitam, menutupi mata panda yang melingkar luas disekitar kelopak mata akibat menangis semalam.
Peter menautkan jari jemarinya, menggenggam tangan Rachel. Menariknya keluar dari bandara dan masuk kedalam mobil yang telah Keenan siapkan.
Mereka menuju kota Cappadocia, salah satu kota terunik di negara Turki. Bukan Peter yang mau kesana, tapi Rachel.
Wanita itu ingin melihat pemandangan kota dari atas langit dengan menaiki balon udara. Dan Peter tidak bisa menolak permintaan istrinya itu.
"Peter, berapa hari kita tinggal disini?" tanya Rachel seraya menikmati pemandangan langit yang di hiasi berbagai macam model balon udara.
Atap mobil terbuka atas permintaan Rachel. Untung saja Peter membawa mobil sport. Sedangkan dua mobil hitam mengikuti mereka dari belakang.
"Sekitar dua Minggu!" jawab Peter seraya menyalakan putung rokok. "Selama itu?" kaget Rachel. Tak menyangka Peter mengajaknya berbulan madu selama dua Minggu lamanya.
"Rumah baru kita masih di renovasi, sayang. Memerlukan waktu sekitar dua Minggu!" jawab Peter lagi. Rachel mengibaskan tangan, menghempas pergi kumpulan asap rokok Peter.
"Katamu semuanya sudah disiapkan Keenan!" kata Rachel lagi. Mengungkit.
Astaga wanita ini, senang sekali mengajak Peter berdebat. Rachel terlalu polos ataukah bodoh, apa Rachel pikir tukang yang merenovasi merupakan orang sakti. Bisa merenovasi rumah dalam sehari.
Rumah yang Peter beli tidaklah kecil, tiga kali lipat lebih besar dari tempat tinggalnya di Las Vegas. Ngomong-ngomong soal Las Vegas, Peter rasa dia harus meninggalkan satu orang kepercayaannya disana untuk mengurus Kasino miliknya nanti.
"Pak tukang, manusia biasa Re. mereka tidak bisa merenovasi rumah dalam kurun waktu sehari. Mereka butuh waktu, maximal dua Minggu!" Peter menjawab dengan suara rendah. Terdengar nada malas yang ketara di ucapannya barusan.
"Selama itu, kau merenovasi atau membangun rumah sih?" keluh Rachel lagi. Peter menghembuskan napasnya lelah. Heran dengan perangai wanita itu yang gampang berubah-ubah.
"Aku membeli mansion, tiga kali lipat lebih besar dari rumah kita sebelumnya. Semua barang-barang lama juga diganti dengan barang baru. Jadi memerlukan waktu, bersabarlah sedikit!" pinta Peter. menurunkan nada suaranya sebanyak satu oktaf.
"Iya-iya, aku akan bersabar. Asal kau tahu, aku masih tidak menyangka kau mengajakku pindah kesana."
__ADS_1
"Itu karena aku tidak ingin kau bersedih tinggal jauh dari kakak ipar. Kalau kau rindu, tinggal pergi saja kesana tidak usah menaiki pesawat, cukup dengan mobil." Peter menghembuskan asap rokoknya lagi.
"Apakah jarak rumah kita dekat dari Mansion Damian?" Rachel terus bertanya, sambil menyandarkan kepalanya di bahu tegap Peter.
"Tidak terlalu dekat juga, perlu memakan waktu sekitar setengah jam!" jawab Peter.
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan Mafia mu. Apakah tidak ada transaksi lagi?"
"Kenapa, kau mau ikut lagi?" tanya Peter, menaikan sebelah alisnya. Menatap Rachel heran.
Rachel seperti ketagihan melakukan pekerjaan berbahaya itu, seolah ada kesenangan tersendiri yang menghibur hatinya.
"Tentu saja, aku tidak mengira pekerjaan menantang seperti ini cukup menyenangkan. seandainya aku tahu jika pekerjaan ini menarik, mungkin aku akan bergabung lebih cepat dari sebelumnya!" Peter memutar bola matanya. Peter akui, hatinya senang tatkala mendengar Rachel mendukung pekerjaannya.
Namun, setelah kejadian satu Minggu yang lalu. Peter tidak senang, lebih baik Rachel marah dan melarangnya melakukan pembunuhan. Bukan karena iri dengan kemampuan Rachel, yang bahkan secuil dari kemampuan Peter.
Tetapi keselamatan Rachel di pertaruhkan disini. Peter tidak ingin musuh-musuhnya memanfaatkan keadaan dan menyerang mereka dari belakang.
Keberuntungan tidak datang setiap saat, ada kalanya kesialan menimpa dan mungkin membuat Rachel terluka. Dan Peter tidak mau itu terjadi.
"Kenapa, apa karena aku menyulitkan mu. Kau tahu, aku mengerahkan semua kemampuan ku agar aku tak merepotkan mu. Tapi sepertinya kau tidak menghargai kerja keras ku itu!" Rachel mulai berkaca-kaca, padahal dia tak secengeng ini. Entah apa yang terjadi.
"Aku tidak bermaksud begitu, Re. Aku tidak ingin kau terluka, ingat transaksi satu Minggu yang lalu. Dua musuh sekaligus menyerang kita dan mereka menargetkan mu." seakan tidak tahu tempat, keduanya berdebat di tengah jalan.
"Ck, kemarin kau melihatnya sendiri kan, aku bisa melindungi diri." ya Peter tahu itu, dan dia bangga akan hal itu.
Tapi tetap saja Peter adalah suaminya, dia mempunyai tanggung jawab penuh atas hidup wanita itu. Jika terjadi sesuatu pada Rachel, bukan hanya Darion mungkin Kanaya dan Dominic juga ikut menyalahkannya.
"Aku tahu, tapi tetap saja aku khawatir. Kau adalah istriku, nyawaku. Aku tidak ingin kau terluka, Sayang. Kenapa kau tidak mengerti juga!" seru Peter frustrasi.
"Kita sudah membahas ini bukan, kenapa kau terus mengungkitnya seakan tidak ada masalah lain selain kekhawatiran mu itu!" cibir Rachel, menyipitkan mata. Ingin rasanya, dia keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Peter sendiri.
__ADS_1
"Apa kau punya maksud tertentu dengan bergabung menjadi anggota ku? jika iya katakan pada ku. Dengan senang hati aku akan membantu mu!" Rachel terdiam dengan sangat lama, tak bisa menjawab.
Dan ekspresinya itu membuat Peter semakin curiga. Ingin memaksanya menjawab, tetapi tidak bisa. Karena Peter tak suka menekan Rachel.
"Aku tidak mempunyai maksud tertentu, hanya ingin bersenang-senang dengan suamiku. Aku senang dengan pekerjaan ini, jadi ku mohon dengan sangat. Biarkan aku menemanimu." bukan hanya air mata, isak tangis pun mulai Rachel keluarkan.
"Tapi saat kau hamil, berjanjilah padaku kau akan berhenti untuk selama-lamanya!" Rachel menyeka air mata yang berurai, dan mengangguk cepat.
"Aku janji, setelah dinyatakan positif hamil aku akan fokus pada anak dan suamiku." tutur Rachel lirih. Mengusap ingus dengan tisu.
Cup! Peter mencium kepala Rachel, lalu kembali fokus pada jalanan. Sebentar lagi mereka tiba di hotel. Peter membeli hotel bintang lima sebelum datang kemari.
Beli? ya, Peter sengaja membeli hotel bintang lima yang paling terkenal di kota Cappadocia untuk Rachel. Sebagai hadiah akan kerja keras Rachel satu Minggu yang lalu .
Kejadian seminggu yang lalu membuat Peter terpukau, ingin memberi sesuatu untuk mengapresiasi usaha wanitanya itu.
Setelah sampai, Peter menggandeng Rachel masuk kedalam hotel. Rachel heran, biasanya pengunjung harus mengantri di meja resepsionis. Lalu, bagaimana bisa Peter masuk dengan santai tanpa beban.
Rachel diam, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Hingga akhirnya mereka sampai di kamar presiden suite. Rachel melemparkan tubuhnya di atas ranjang, sebelum bertanya-tanya kembali.
"Peter, kenapa kita tidak menemui resepsionis dan melakukan reservasi?"
"Itu karena aku adalah pemilik hotel ini, sayang. Ralat.. maksudku kau adalah pemilik hotel ini!"
Siapa aku? dimana aku? Rachel terlalu terkejut sampai tak bisa berkata-kata.
"Tidak usah kaget, anggap ini sebagai hadiah atas usaha mu satu Minggu yang lalu." Peter tergelak melihat Rachel kebingungan.
"Ini terlalu boros!"
"Uangku masih banyak!"
__ADS_1
"Sombong sekali kau!" cibir Rachel.
TBC