Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Masa lalu Keenan


__ADS_3

Hampir satu jam mengendarai mobil, akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan berlantai empat dengan penjagaan ketat. Keenan, menyerahkan kartu akses pada pria berbadan kekar itu. Dan mereka langsung membungkuk hormat, mempersilahkan mereka masuk.


Ya, Keenan dan Peter mengunjungi sebuah club misterius. Bukan hanya sekedar nama, bangunan ini pun tidak seperti club malam. Hampir mirip seperti apartemen biasa. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam club ini. Hanya mereka yang memiliki kartu member dan biasanya dari kalangan bawah tanah, atau yang sering kita kenal dengan sebutan, Mafia.


Keenan bergegas keluar, membukakan pintu untuk bosnya. Barulah setelah itu mereka masuk, tentunya dengan Peter yang berjalan mendahului.


Begitu masuk, Peter sedikit terkejut melihat kemewahan club itu. Dari luar, tampilannya tampak polos biasa. Namun, didalamnya penuh dengan barang-barang mewah.


"Dimana mereka?" tanya Peter saat mendapati club ini kosong. Seolah dikhususkan untuk transaksi mereka. "Mari tuan, saya akan mengantarkan anda ke ruang VVIP." tanpa dipanggil, seorang bertendere datang membantu.


Peter dan Keenan saling melemparkan tatapan, seolah bertanya-tanya lewat isyarat mata. Pasalnya, baru kali ini mereka datang dan itupun karena sebuah transaksi ilegal. Lalu, siapa pemilik club ini.


Namun, mereka memutuskan diam bertanya dalam hati, enggan menanyakan langsung. Memutuskan mengikuti langkah bertendere itu dari belakang.


Hingga tibalah mereka di sebuah pintu besar dengan relief kuno, juga dua penjaga berbadan besar. Berdiri tegak dengan senjata lengkap.


Sedikit curiga, tapi keduanya tetap tenang menjaga wibawa. Tidak merasa takut ataupun gemetar. Dua pria berbadan besar itu, membuka pintu begitu melihat mereka datang.


Sampai disitu bertendere pun pamit, membiarkan mereka melakukan transaksi dengan nyaman. Saat pintu tertutup, Peter fokus menatap ke depan.


Dilihatnya seorang paruh baya duduk bersandar dengan di temani dua pelacur sekaligus. Lihat, mesum sekali. Dia menikmati setiap sentuhan dan belaian wanita penggoda itu.


"Akhirnya kalian datang, tidak sopan sekali membuat konsumen menunggu!" cibir pria paruh baya itu, dan Peter diam menatap datar.


Entah Peter ataupun Keenan, tidak berniat meminta maaf. Keduanya tampak kesal, melihat seorang pria seumuran dengan Keenan, duduk berhadapan dengan klien mereka.


"Ada sedikit kendala dalam perjalanan tadi," setelah bukam cukup lama, akhirnya Keenan berucap.


"Ah, kalau begitu aku maafkan meskipun kalian tidak mengucapkan permintaan maaf." sindirnya keras. Diakhiri dengan senyum kecut karena tak dihargai.


"Dan perkenalkan, dia Alesandro. Pemilik club misterius ini!" Alesandro menoleh, tersenyum miring melihat raut masam Keenan.


"Senang bertemu dengan mu, kakak!" Peter melirik sekilas ke arah asistennya. Tampak sekali, pria itu tengah menahan marah.

__ADS_1


"Tapi sayangnya, aku tidak senang bertemu dengan pecundang seperti mu." Keenan menyahut, ingin sekali dia menghancurkannya kepala Alesandro sekarang. Mengingat pria itu telah memporak-porandakan keluarga Demitrius.


"Cukup, segera selesaikan transaksi ini. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat kumuh ini." Peter memotong pembicaraan mereka, membuat seluruh pasang mata beralih padanya.


"Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi kalin. Maka dari itu, berikan barangnya sekarang. Aku sudah mentransfer harga yang kau tawarkan." kata pria tua itu, merasa bersalah menyewa tempat ini sebagai tempat transaksi.


"Ini barang yang anda minta!" Keenan menyerahkan koper berisikan obat-obatan terlarang.


Dan disaat yang sama, Alesandro tertawa kecil. "Apakah ini yang diajarkan ibumu, menjadikan mu seorang penjahat? waw, luar biasa. Aku tidak menyangka kau akan bergabung dengan kelompok kotor, sama seperti ku!"


"Tutup mulutmu, kau tidak pernah berkaca. Ingat ibu mu hanyalah seorang jal*ng rendahan yang menggoda suami orang." Keenan balik menghina, tidak terima ibunya di hina. Alesandro menggeram tidak suka.


"Terimakasih atas kerja samanya, tuan. Aku akan pergi sekarang." pamit pria paruh baya itu, tidak ingin terlibat dengan perkelahian antar iblis ini.


"Hm!" Peter berdehem singkat, lalu menyenggol Keenan. "Ayo pulang, aku harus menemani istri ku." berusaha meredamkan amarah asistennya dengan mengalihkan obrolan.


"Aku harap, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Bertemu dengan mu membuatku ingin membunuh mu, asal kau tahu." Keenan berlalu pergi, membanting pintu. Meninggalkan Peter yang masih menatap dingin, Alesandro.


Tidak peduli resiko yang di tanggungnya nanti, mendengar ocehan Peter tidak akan membuatnya mati. Paling parah, gendang telinganya rusak mungkin.


Kedatangan Alesandro bersama pelacur itu, menjadi titik balik kehancuran hubungan rumah tangga orang tuanya. Dan berakhir dengan kematian ibunya. Sedih, dendam, kecewa, marah semuanya bercampur memporak porandakan emosional Keenan. Sampai sekarang, Keenan tidak pernah mengunjungi Elijah.


Waktu membuatnya menua, dengan rasa sepi dan juga bersalah Elijah hidup sebatang kara di Chicago.


Dominic dan juga Darion pernah mengunjunginya sesekali. Namun, Elijah tidak pernah datang menemui. Selalu pergi saat mereka berdua datang.


Entah pekerjaan apa, sampai membuatnya sibuk dan enggan menemui.


Peter masih terdiam di tempat dan berkata, "sampaikan juga pada bos mu yang tidak tahu diri itu. Agar tidak menggangu ketenangan anggota ku. Jika tidak, aku sendiri yang akan melenyapkan dia dan juga seluruh anggota BB." peringatnya sebelum berbalik pergi, meninggalkan Alesandro yang mematung.


"Ck, pecundang bodoh. Melihat situasi, tidak mungkin pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir. Aku akan melenyapkan mu Keenan, sebagai pembalasan atas kematian ibu ku." mengepalkan tangan dan menyipitkan mata.


Diparkiran, Keenan duduk menunggu sembari melamun. Serpihan ingatannya kembali terlintas, dimana saat itu ibunya berteriak kencang dengan dibawah guyuran shower. Tentu dengan deraian air mata. Kekecewaan yang begitu dalam, membuat wanita itu stress dan berakhir meninggalkannya untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Tak terasa, setitik air menggenang di ujung kelopak. Keenan merasa sakit mengingat betapa menyedihkannya hidup ibunya.


Namun, semuanya buyar kala bantingan pintu mengejutkannya. Peter duduk di kursi penumpang dengan tangan bersendekap dada."Berani sekali, kau meninggalkan atasan mu," ujarnya dingin.


"Maaf tuan, aku tidak ingin kelepasan dan membuat keributan." Keenan menjawab cepat, mengakui situasi. Peter menghela nafas.


""Sebenarnya, apa yang terjadi antara kau dan Alesandro dimasa lalu?" Peter penasaran dengan detai cerita Keenan.


"Saya yakin anda sudah mendengarnya dari ayah mertua anda!"


"Iya, tapi hanya cerita singkat. Aku ingin mendengar cerita yang lebih detail."


Diam sejenak, Keenan tampak berfikir sebelum kembali berucap setelah beberapa saat. "Kisah ini bermula saat aku berusia 15 tahun. Waktu itu sedang diadakannya pesta ulang tahun ku, dan sedihnya pelacur itu datang membawa Alesandro pulang. Semua orang bingung sekaligus kecewa dengan ayahku. Dia membiarkan mereka tinggal bersama setelah melihat hasil tes DNA."


"Keputusan ayah bak tombak tajam yang menghantam hati lembut ibu ku. Setiap hari mereka bertengkar sampai akhirnya ibuku diagnosis stress berat dan merenggang nyawa setelah aku menginjak usia 17 tahun."


"Untuk pertama kalinya aku merasa kehilangan, karena marah aku memutuskan hubungan dengan keluarga Demitrius. Apalagi setelah melihat pelacur itu datang ke pemakaman dan tersenyum penuh kemenangan. Rasanya aku ingin melenyapkannya saat itu juga. Tapi aku mengurungkan niat, dan memutuskan pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apapun."


"Aku hidup terlunta-lunta, tapi beruntungnya seorang wanita paruh baya datang memelukku dan membawa ku pulang. Dia adalah ibu panti. Selama dua tahun aku tinggal sebelum memutuskan kembali pulang ke rumah." Keenan terus bercerita dengan mata berkaca-kaca dan juga tangan terkepal erat.


โ€œKenapa kau pulang?"


โ€œKarena kakek sakit dan terus mencari ku. Disaat-saat terakhirnya, dia berpesan agar aku meneruskan tradisi dengan menjadi asisten anak cucu keluarga Abbey sama seperti ayah ku. Dan terpaksa aku menerimanya sebagai rasa hormat yang terakhir kali." Keenan malu menangis didepan bos-nya itu.


Peter terdiam, tak menyangka hidup Keenan seberat ini. Apakah penderitaan ibunya itu membuat hati Keenan beku. Entahlah, tapi Peter berharap suatu hari seseorang datang dan mencairkannya dengan kehangatan yang dia miliki.


"Lajukan mobilnya! kita pulang!"


TBC


belum author refisi, maaf jika bacanya kurang enak dan tidak nyambung๐Ÿ™


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! ๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. ๐Ÿ™


__ADS_2