Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Takut istri


__ADS_3

Setelah menyelesaikan meeting dengan perusahaan kota X, Peter kembali ke markas dimana tempat Rachel berada. Cristian sempat menelfon dan memberikan informasi padanya, bahwa Rachel sedang beristirahat di kamar pribadinya.


Diam-diam Peter menyuruh Cristian untuk menjaga dan menemani Rachel. Karena Peter tahu Cristian mempunyai kepribadian hangat dan gampang bersosialisasi.


Bahkan Rachel menceritakan masa lalu mereka pada Cristian, itu berarti Rachel mulai mempercayai dan menganggap Cristian sebagai temannya.


β€œMenurut mu, apakah keputusan ku ini sudah benar?” Peter meminta pendapat pada Keenan. Keduanya telah berbaikan, lebih tepatnya Peter melupakan pertengkaran mereka pagi tadi.


β€œSaya tidak tahu tuan, juga tidak berniat memikirkannya! Seberat apapun masalah anda yang jelas itu bukan masalah saya!”


Kurang ajar, ingin sekali aku melenyapkannya sekarang juga! Desah Peter dalam diam. Memang bukan pertama kalinya Keenan bertingkah sedingin ini. Tapi Peter selalu kesal setelah mengajak Keenan bicara.


Ya Peter akui Keenan pria pendiam, tapi sayangnya sekali berucap pedasnya mengalahkan cabe rawit. Entah siapa yang menurunkan sifat itu.


Seingat Peter, Elijah sangatlah lembut dan penyayang. Meskipun mempunyai gen psikopat sama seperti Darion dan Dominic. Tapi dia tak separah mereka. Elijah cenderung memakai perasaan saat bertindak, tidak seperti Keenan yang bisa membunuh siapapun tanpa rasa sungkan.


Hening, keduanya tak berminat mengobrol ataupun bertegur sapa. Bahkan sampai di markas Gold Lion pun Peter dan Keenan masih diam, namun tetap berjalan berdampingan.


Keenan pergi ke sel tahanan sedangkan Peter masuk kedalam kamar, hendak menemui Rachel. Entah apa yang akan di lakukan Keenan nanti. Tapi sepertinya pria itu mencari kesenangan di sana.


Klek! Peter memutar kenop pintu, lalu melangkah masuk. Berjalan mendekati ranjang dimana Rachel berbaring. Dia mengulas senyum, melihat Rachel tidur nyenyak dengan memeluk bantal empuk itu.


Rachel terlihat seperti koala yang kedinginan, "dasar tukang tidur, di tempat asing pun kau masih bisa istirahat dengan tenang!" kata Peter seraya memencet hidung Rachel dengan jari telunjuknya.


Rachel langsung membuka mata. Terkejut. "Kau sudah pulang? hoam!" Rachel merenggangkan otot-ototnya. Lalu duduk berhadapan dengan Peter.


"Maaf aku menggunakan kamar mu tanpa izin!" ucap Rachel, meraih gelas kaca berisi cairan bening dan menegaknya hingga tandas.


Peter terkekeh dan mengacak-acak rambut Rachel. "Semua yang aku miliki adalah milik mu juga, Sayang!" ucapnya membuat Rachel tersipu malu.


"Kau malu?" tanya Peter mengejek, menoel-noel pipi Rachel yang menyisakan semburat- semburat kemerahan.


"Kau menggoda ku, huh!" kesal Rachel, mendorong Peter agar menjauh, menutupi wajah yang semakin memanas itu dan beranjak pergi.


"Hei kau mau kemana?" tanya Peter, mencengkal tangan Rachel dan membawanya duduk di atas pangkuan.

__ADS_1


"Aku ingin mandi, kenapa?" tanya Rachel. Ia mengalungkan tangannya memeluk leher suaminya. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" goda Peter, ia mendekatkan wajahnya.


Posisi mereka begitu intens sekarang, Peter dapat merasakan hembusan napas Rachel menerpa permukaan kulitnya. Hangat.


Cup! Peter meraup bibir pink itu, tak kuasa menahan keinginannya yang begitu besar. Namun, Rachel bergegas mendorong wajahnya. Dan berhasil melepaskan diri dari ciuman panas itu.


"Lepaskan, aku berkeringat tadi. Pasti bau ku tidak sedap sekarang!"Rachel bergerak kesana-kemari, tak sadar membangunkan sesuatu dibawah sana.


"Kau menggodaku huh?" bisik Peter dengan suara rendah, terkesan menggoda. Rachel lantas membuang muka, mengalihkan pandangan. Gugup di tatap dalam oleh pria itu.


Astaga, ingin rasanya Peter menerkam wanita itu sekarang. Apalagi melihat bibir ranum itu mengundangnya untuk menyesap dan menikmatinya.


"Peter, lepas aku belum mandi!" pinta Rachel lagi, berharap Peter mendengar dan membiarkannya pergi. Namun, bukannya melepaskan, Peter malah mengeratkan rengkuhannya.


"Kau wangi, sayang! aku suka aroma tubuh mu ini!" Peter menduselkan wajahnya ke sela-sela lengan dan perut atas Rachel. Menggigit lengan tak tertutup apapun dan meninggalkan bekas kepemilikan merah pekat.


"Sakit!" gerang Rachel, menjauhkan Peter dari tubuhnya.


"Sttt... tahan demi kesenangan suami mu, sayang. Kau tahu, hanya dengan mencium aroma mu saja seakan semua rasa letih ku terhempas pergi!" ucap Peter, kembali menenggelamkan wajahnya. Tapi kali ini di belahan dada Rachel.


"Jangan menggigit bibir kesukaan ku ini. Lihat kau membuatnya bengkak!" mengusap bibir Rachel dengan ibu jarinya. Tampak kabut gairah menyelimuti kedua kelopak matanya.


Siapapun selamat Rachel, dia masuk kedalam kandang singa yang kelaparan. Dan lucunya, Rachel tidak sadar tengah di incar oleh predator.


"Cukup! hentikan semua ini. Aku tidak jadi mandi, ayo kita pulang. Aku akan mandi di rumah saja!" Rachel melepaskan pelukannya. Turun dari pangkuan Peter.


Siapa bilang kita akan pulang, malam ini kita akan menginap di sini!" Peter tak membiarkan Rachel menjauh, dia menarik Rachel dan mendorongnya ke atas ranjang.


"Apa yang kau lakukan?" Rachel tak bisa berkutik. Saat Peter menindih dan menahan kedua tangannya di atas kepala.


"Tentu bersenang-senang dengan istri ku!" jawabnya santai diakhiri dengan satu kedipan nakal.


"Kenapa harus menginap?" tanya Rachel kecewa. Padahal ingin segera pulang dan menempati kamarnya.


"Hari semakin gelap, banyak binatang buas yang berkeliaran!" Peter menjawab, membuat Rachel membulatkan mata. Tidak percaya. Andai tahu fakta ini, sudah dari tadi dia minta diantar pulang.

__ADS_1


"Kau pasti berbohong!" tuding Rachel dengan wajah garangnya yang khas. "Kalau tidak percaya ya sudah, ayo kita pulang. Tapi saat ada harimau yang menghadang. Aku akan melemparkan mu sebagai umpan!" Peter semakin gencar menakut-nakuti. Padahal binatang buas yang hidup di sekitar sini adalah hewan peliharaannya.


"Kau kejam sekali!" kesal Rachel dengan raut wajah kecut dan sedih. Mendorong Peter dan berdiri dari tempat tidur.


"Padahal aku kan istri mu," lanjutnya. Akhirnya terpancing juga dia.


"Kalau begitu, penuhi kewajiban mu sebagai istri ku dan senangkan aku!" bisik Peter, menyunggingkan senyum smirk. Dan memandang Rachel dengan tatapan kemenangan.


Damn! Peter berhasil membuat Rachel terjebak dalam perkataannya sendiri. Pria itu gemar mencari kesempatan dalam kesempitan. Selalu mencari celah di manapun dan kapanpun itu.


"Kau selalu menjebak ku!"


"Karena kau bodoh, Sayang!" hening sejenak, sedetik setelah mengatakan itu sebuah bantal mendarat sempurna di kepalanya. Rachel memegang bantal itu dengan penuh kemarahan dan kekesalan.


"Kau garang sekali! aku jadi ingin menikah lagi!" masih tidak kapok, Peter semakin menyulut emosi Rachel.


"Hahaha...cari saja sana, dan lihat bagaimana aku memotong milik mu dan menjadikannya sebagai bahan utama perkedel!" gluk! Peter menelan ludahnya dengan susah payah. Refleks meraih bantal dan menutupi bagian bawahnya dengan bantal itu.


Sial! Peter merasa takut sekarang!


"Kenapa kau diam? apa jangan-jangan kau takut dengan ancaman ku?" Rachel tersenyum remeh.


"Menurut mu bagaimana ekspresi anak buah mu, saat tahu bahwa bos-nya yang kejam ini ternyata takut pada istrinya?" entah dari mana Rachel belajar cara mengintimidasi orang. Namun, tatapan itu tak berpengaruh pada Peter. Dia harus belajar lebih giat lagi.


"Siapa yang takut?" Peter bangkit dari tempat duduknya, tanpa permisi langsung menggendong Rachel ala bridal style dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"Karena aku baik, aku akan membantumu mandi!"


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2