Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Tak semudah itu melupakan


__ADS_3

Seharian penuh, Keenan habiskan dengan berjalan-jalan bersama Abigail. Hingga akhirnya, Abigail tertidur dalam dekapan sang ayah.


Keenan bersama Peter tengah duduk sembari menikmati sebotol alkohol kini. Mereka datang ke tempat diskotik dekat apartemen Keenan. Anehnya, Keenan membawa Abigail kemari. Tak ingin meninggalkan gadis kecil itu sendiri.


Ya, mengingat Keenan tak memiliki pekerja rumah. Jika Abigail bangun dan menangis karena ketakutan tidak ada yang menolongnya nanti. Para penjaga jauh dari kamar, tentunya mereka tak akan mendengar.


Alhasil tidak ada asap rokok disini. Kendatipun minuman menemani, tetapi tidak ada yang merokok. Keenan melarangnya dan minuman yang mereka konsumsi mempunyai kadar alkohol yang paling rendah.


"Itu putri mu?" menunjuk sosok malaikat mungil yang meringkuk nyaman di sofa dengan jas yang menyelimuti tubuhnya.


"Ya, seperti yang anda lihat. Dia mirip dengan saya!" sahutnya membalas. "Cantik sekali!" menatap Abigail dengan tatapan intens.


"Alihkan pandangan anda, tuan. Dia putri saya!" menegur dengan suara tegas. Matanya melotot seakan ingin keluar dari sarangnya.


"Astaga, belum apa-apa kau sudah over protective!" desis Peter kesal. Padahal Peter ingin menggendong Abigail tadi. Mungkin saja, tuhan akan memberkatinya dengan anak secantik itu nanti.


"Karena anda orang jahat, tuan. Dan semua orang tua akan menjauhkan anaknya dari orang jahat seperti anda!" menjawab dengan bahasa formal. Namun, seperti biasa pedas dan tak berperasaan. Keenan si mulut lemes telah kembali.


"Sialan kau, baru satu anak saja sombongnya minta ampun." Peter mencibir. Seharusnya Keenan berterimakasih padanya, karena Peter membawanya ke London dulu. Jika tidak, Abigail tidak akan ada disini sekarang. Bersama kita.


"Iri dengki!" dua kata singkat itu seperti tombak tajam yang menghunus dada Peter. Berani sekali asisten itu menghinanya.


"Terus, kenapa kau membawanya kemari, bodoh. Tahu ssendiri Anak-anak tidak boleh datang kesini!" ujar Peter kesal. merasa tertekan karena tidak bisa merokok.


"Saya tidak bisa meninggalkannya di apartemen. Tidak ada pelayan yang akan menjaganya nanti." sahut Keenan santai. Dengan ekspresi datar seolah-olah tak peduli.


"Kau sangat menyayanginya?" pertanyaan macam apa itu, tentu saja Keenan sangat menyayangi Abigail. Hei, Abigail adalah putrinya. Orang bodoh mana yang tidak menyayangi anaknya sendiri.


"Tentu saja, Abigail kehidupan saya!" jengah Keenan, lalu meraih gelas berisi wine itu. "Lalu, kenapa kau tidak memberikan nama belakang mu padanya. Lucu sekali!"


"Tidak apa, itu bukan hal besar yang patut di permasalahkan!"

__ADS_1


"Bukan hal besar kata mu? hei orang-orang menganggap Abigail anak haram dan itu bukan masalah besar katamu?" marah Peter. Sungguh Keenan bukanlah ayah yang baik.


"Tapi-"


"Tapi syaratnya harus menikah dengan ibunya bukan?" Peter melanjutkan kalimat Keenan yang terjeda.


"Iya, saya akui itu juga merupakan problematikanya. Tapi, alasan itu bukanlah alasan utama saya." Keenan menyela. Lalu, meluruskan tebakan peter yang sedikit melenceng itu.


"Apa alasan utama mu, aku ingin mendengar alasan tidak berguna mu itu!" seru Peter bertanya.


Hening sejenak, Keenan nampak berpikir. Alasannya masih tetap sama, Keenan enggan menjadikan mereka sebagai kelemahan. Keenan tak mau kehilangan mereka. Keluarga kecilnya.


"Sebenarnya alasan saya masih tetap sama!" akhirnya membuka suara. Menjawab. Sontak tawa Peter pecah, belum pernah Peter melihat keenan kebingungan seperti sekarang.


"Kau yakin itu alasan utama mu. Aku tahu kau goyah sekarang. Apalagi melihat wajah imut menggemaskan putri mu. Kau jadi ingin hidup bersama mereka bukan?" tepat sasaran. Keenan merasa tertohok sekarang.


Setelah bertemu Belle hatinya gundah. Melihat gadis yang berpenampilan buruk dulu. Hampir sama seperti pelacur. Kini berubah drastis, dengan pakaian dan riasan sederhana.


Apalagi setelah mengetahui keberadaan Abigail dan bertemu dengan malaikat kecilnya. Keenan semakin ragu akan keputusannya sendiri. Semakin lama, hatinya semakin ingin memiliki mereka berdua.


Keenan manusia biasa, dia juga menginginkan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Terlepas dari masa lalunya yang kelam. Keenan ingin melupakannya dan memulai semuanya dari awal.


"Sudahlah nikahi saja dia. Kenapa kau membuat hidupmu menjadi serumit ini. Menjengkelkan sekali!" geram Peter tak suka.


Dalam masalah ini bukan menyangkut dua orang saja tapi semua orang. Rachel dan Grace suka ikut campur. Ya, mengingat mereka merupakan saudara. Tentu saling mengasihi.


"Saya akui, saya sedikit goyah. Entahlah, meskipun saya ingin menikahinya. Tetapi, saya tidak yakin pada diri saya sendiri!" lirih Keenan lalu mengambil posisi duduk di sebelah Abigail.


"Maksud mu?" tanya Peter dengan alis berkerut.


"Saya seorang pendosa tuan. Membunuh orang tanpa belas kasihan. Saya merasa tidak pantas bersanding dengan wanita itu!" ujarnya dengan suara lesu. Raut wajahnya memelas. Sedih.

__ADS_1


"Maksud mu, Belle wanita suci yang tak luput dari dosa. Begitu? hei, kau tidak ingat betapa buruknya dia sebelum kakak ipar menikah dengan sepupu ku. Aku rasa kalian akan menjadi pasangan serasi, Sama-sama jahat dan tidak memiliki perasaan!" cecar Peter mengingatkan.


"Tapi, dia sudah berubah tuan. Elle tak sejahat itu!" bela Keenan. Tak suka mendengar sang majikan menghina ibu dari putrinya.


"Ck, kau membelanya huh. Kau bahkan memanggilnya dengan sebutan spesial. Sudahlah nikahi saja dia. Jangan membuat hidup mu rumit dude!" saran Peter.


"Keputusan saya masih tetap sama. Saya akan melupakannya, lagi pula pertemuan kami sangatlah singkat." ujar Keenan. Tentu saja membuat Peter geram. Berulang kali Peter berdecak. Tidak senang.


"Sesingkat ataupun seringkas apapun pertemuannya, tetap saja melupakan bukanlah hal yang mudah. Kau yakin bisa melupakan wanita itu?" entah kenapa, Keenan merasa Peter mencoba menekannya agar mau menikah dengan Belle.


"Aku dengar, Belle akan pergi ke pesta pernikahan ara dengan seorang pria. Dan yang ku tahu, pria itu sangat menyayangi putrimu. Bahkan siap menggantikan posisi mu." seperdetik kemudian, Keenan tercengang. Mencerna kata-kata Peter.


"Aku sarankan, segera nikahi wanita itu sebelum kau di dahului teman kuliahnya itu." saran Peter lagi. Tak habis-habisnya menasehati asistennya itu.


"Anda menyelidiki Elle, tuan?" tuding Keenan. Itu karena Damian memintanya untuk mengawasi Belle. Bukan karena penasaran dengan wanita itu.


"Tidak, kau lupa salah satu anak buah ku mengawasinya sekarang. Atas permintaan sepupu tercinta ku itu. Aku rasa Ef takut, Belle berulah lagi!" seru Peter berterus terang. Dan Keenan pun menganggukkan kepalanya tiga kali. Mengerti.


"Pikirkan sekali lagi, sekali kehilangan. Kau tidak akan bisa mendapatkannya lagi." Peter memakai jaketnya, hendak berlenggang pergi.


"Dan satu lagi, besok jemput dokter pribadi ku di bandara. Mom, memindahkannya ke kota ini!" ucap Peter sebelum hilang dari balik pintu.


Tersisa Keenan di sana, pria itu tampak duduk bersandar. Menatap ke atas sembari memegang segelas wine. Merenung.


Siapa teman kuliahnya Belle. Selama ini, Keenan tak mengetahui informasi mengenai pria itu. Apakah Keenan melewatkan sesuatu.


"Aku harus membaca laporan itu, lagi!" gumam Keenan bersikukuh. Barulah setelah itu, Keenan akan mengambil keputusan. Entah itu melupakan Belle ataupun menikah dan hidup bahagia.


TBC


Hei gaes othor is back! jangan lupa vote dan komen ya. Untuk anak kembar ceo othor up minggu depan. Terimakasih udah stay di sini!❀😊

__ADS_1


__ADS_2