
Selesai bekerja Rachel memutuskan untuk pulang ke rumah. Begitu melewati pintu, dia di sambut oleh sang tuan muda. Wajahnya terlihat tidak bersahabat di tambah tatapan dingin bak tombak tajam yang siap menebus dada siapa saja.
"Kenapa tidak mengangkat telepon ku?" tanyanya, masih dengan tatapan dan wajah datarnya.
"Maaf, aku sangat sibuk tadi!" jawab Rachel dengan wajah memelas.
"Alasan, kalau kau tidak mau mengabari aku sekalipun lebih baik kau tidak usah bekerja." sentak Peter membuat Rachel mematung di tempat.
"Maaf," berulang-ulang mengucapkan hal yang sama namun Peter bersikap acuh tak acuh dan pergi meninggalkan Rachel sendiri. Peter masuk kedalam ruang kerja, di susul Keenan di belakangnya.
Rachel sendiri langsung berlari masuk kedalam kamar. Padahal ia baru saja pulang dan langsung di marahi. Setidaknya Peter harus menunggu Keenan pergi.
...ππππ...
Sementara itu, Peter menghempaskan diri ke sofa panjang yang terletak jauh di depan meja kerja. Peter memegang kepalanya dengan menggunakan satu tangan, sesekali memejamkan mata menahan kekesalan.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?"tanya Keenan. Melihat keadaan sang tuan muda, Keenan merasa iba dan ingin menenangkannya.
"Rachel tidak melirik siapapun kan?" bibir Keenan berkedut, hanya karena khawatir Rachel tergoda dengan pegawai muda yang tampan. Peter jadi semarah ini. Ayolah, Keenan juga memiliki istri tapi Keenan tidak pernah membatasi ruang dan gerak Belle.
"Tidak tuan, berhentilah menaruh perasaan curiga. Saya mohon. Saya jadi kasihan pada nona Rachel." Keenan bukan tipikal orang yang suka ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.
Tapi yang di lakukan Peter sudah sangat keterlaluan. Posesif boleh-boleh saja, tetapi Peter sendiri harus tau batasan. Rachel bukan hewan peliharaan yang bisa di perlakukan seenaknya. Dan kepercayaan harus ada dalam setiap hubungan. Itulah yang menjamin utuhnya sebuah rumah tangga.
"Kenapa kau jadi ikut campur dalam masalah rumah tangga kami?" sungut Peter berapi-api. Tidak suka dengan keterlibatan Keenan. Egois, tapi itulah sifat Peter yang sesungguhnya.
"Saya tidak berniat ikut campur tuan. Saya hanya kasihan pada nona Rachel. Dia baru saja pulang bekerja, nona Rachel pasti lelah dan anda langsung memarahinya!" jawab Keenan sarkasme.
__ADS_1
"Aku hanya ingin dia menghubungi ku sekali saja, apa itu salah?" tanya Peter masih dengan kemarahan yang membara. Siap membakar siapapun yang menyinggungnya.
"Nona Rachel harus menghadiri sebuah rapat tuan. Dia tidak sempat melihat ponsel, dan ya seharusnya anda berterimakasih pada nona Rachel. Berkat dia perusahaan kita mendapat tender besar ini!"
Seakan tidak takut, Keenan semakin meninggikan suaranya. Hei kenapa jadi Keenan yang marah, seharusnya Rachel lah yang memaki-maki Peter sekarang.
Namun, jawaban Keenan berhasil membuat sang tuan muda tercengang. Klien-klien itu sangat sulit di tangani, selalu saja membuatnya kesal dengan ocehan tidak bermutu.
"Saya harap anda meminta maaf pada istri anda. Ingat, nona Rachel sedang hamil, apa anda ingin bayi anda gugur karena ibunya menderita depresi?"
"Tutup mulut mu, kau hanya membicarakan omong kosong saja." sentak Peter. Mendengar Keenan berbicara yang tidak-tidak membuat hatinya goyah dan di landa rasa takut.
"Ini bukan omong kosong semata tuan. Kasus semacam ini banyak terjadi di luaran sana dan saya harap anda tidak akan menjadi salah satu di antara mereka!" Lagi-lagi Peter di tampar oleh kata-kata Keenan.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, selamat malam tuan!" pamit Keenan dengan wajah dibuat-buat. Kemudian keluar dan membanting pintu dengan kasar. Tidak ada asisten seberani Keenan bukan. Bisakah Peter mengacungi dua jempol untuk keberanian yang Keenan miliki.
Namun, semua yang di katakan Keenan benar adanya. Seharusnya Peter tidak memarahi Rachel begitu Rachel melewati pintu. Dungu, bagaimana bisa Peter lupa jika Rachel sedang hamil sekarang.
Beranjak dari tempat duduk dan berjalan dengan langkah cepat menuju kamar utama. Begitu pintu terbuka, suasana gelap semakin membuat Peter dirasuki perasaan bersalah.
Suara isak tangis yang sudah Peter ketahui berasal dari mana terdengar samar. Semakin lama semakin menghilang, entah Rachel menyadari kehadirannya atau memilih menangis dalam diam, Peter juga tidak tahu.
Hatinya sakit melihat Rachel menangis karena ulahnya sendiri. Seandainya Darion ada di mansion ini, mungkin kepalanya sudah menggelinding kebawah.
Dengan langkah perlahan, Peter berjalan mendekat ke arah balkon kamar. Di mana Rachel berada, wanita itu duduk menyendiri membiarkan angin malam menerpa permukaan kulitnya.
Plak! Peter menepuk pelan bahu Rachel membuat wanita itu terperanjat kaget. Dengan segera Rachel menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir di pipi kanan dan kirinya.
__ADS_1
Lalu menatap Peter sendu dan mengulum senyum. Seolah tidak merasakan apa-apa dan sudah terbiasa di perlakukan semena-mena.
Ya Rachel menikmati semua perlakuan Peter. Pria itu memang memperlakukannya seperti ratu. Hanya saja Peter tidak pernah percaya pada kesetiannya. Dan Rachel sedih karena hal itu.
"Kau mau tidur?" tanya Rachel dengan suara seraknya.
"Sudah minum obat?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir indah Rachel. Membuktikan bahwa wanita itu masih menaruh perhatian pada sang suami.
"Maaf!"
"Maafkan aku Re!"
"Tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud melukai perasaan mu!" tiga kata yang sama tersemat dalam setiap perkataan Peter. Dan itu membuat Rachel luluh dalam waktu singkat.
"Tidak papa, aku sudah tahu betul sifat suami ku ini. Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak memberi mu kabar!" meraih rahang Peter dengan kedua tangannya. Lalu memberikan usapan-usapan lembut.
Perlakukan Rachel membuat Peter terlena. Wanita ini selalu membuatnya tenang dalam waktu beberapa detik saja. "Kau sudah tidak marah kan?" tanya Peter memastikan. Rachel mengulas senyum tipis dan mengangguk singkat.
"Lain kali kau tidak usah menghubungi ku jika memang tidak punya waktu. Seharusnya aku mengerti situasi mu kan. Keenan benar, seharusnya aku tidak langsung memarahi mu begitu kau melewati pintu!"
Membawa-bawa nama Keenan. Rachel mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Apa jangan-jangan Keenan memberi siram rohani pada Peter sampai Peter bertekuk lutut di bawah dan meminta maaf.
"Tidak-tidak, setiap jam makan siang aku akan menyempatkan diri untuk menghubungi mu. Dan hal itu berlaku mulai besok, sepakat?" tanya Rachel seraya mengulurkan tangan. Menunggu jawaban dari sang pujaan hati.
Malu-malu Peter meraih tangan itu, bahkan pipinya sudah memerah karena salah tingkah brutal. "Sekarang, ayo makan malam bersama!" ajak Rachel.
Tahu Dasha dan beberapa pelayan di luar sana sudah menyiapkan malam. Sayang jika tidak di makan, walaupun hanya sesendok saja yang mereka telan itu sudah cukup membuat mereka senang.
__ADS_1
"Ayo!" dengan langkah beriringan mereka keluar dari kamar dan mendatangi ruang makan. Betapa senangnya Dasha dan pelayan-pelayan yang lain saat tahu Tuan dan Nona mudanya datang dengan bergandengan tangan. Itu berarti Prahara rumah tangga mereka sudah selesai, pikirnya.
TBC