Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Serangan dadakan


__ADS_3

Suara jarum jam terdengar nyaring di sepinya malam. Terlihat seorang pria berjalan mengendap-endap, masuk ke dalam kamar dan menelisik memandang Rachel dengan tatapan nakal.


"Sayang, bangunlah," ucapnya seraya menepuk pelan pipi Rachel. "Apa lagi sih?" gumam Rachel, mengerutkan keningnya kesal, tidak menyadari kehadiran Peter.


"Katanya kau mau menyenangkan ku?" bisik Peter memelas, sudah tidak tahan menahan hasrat. Rachel tak berkutik, seakan tuli dan masih nyaman dengan posisinya.


"Sayang!" panggil Peter lagi, sedikit keras membuat wanita itu membuka matanya sedikit.


"Siapa kau?" tanya Rachel melantur, duduk bersandar berusaha mengumpulkan nyawa. Dengan mata menyipit, Rachel berusaha melihat wajah orang yang ada dihadapannya.


"Ini aku!" dingin Peter, merasa dongkol mendengar Rachel tidak mengenalinya.


Peter? jam berapa sekarang. Bukankah dia bilang akan bekerja. Lalu, kenapa malah datang dan membangunkannya.


"Katanya kau bekerja?" tanya Rachel masih dengan mata menyipit.


"Iya, nanti setelah aku mendapatkan jatah!" kata Peter, mencondongkan diri, hendak meraup bibir pink natural itu.


Plak! Rachel menutup mulut Peter, "besok saja, sekarang aku mengantuk!" tolak Rachel. Wanita itu kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya rapat-rapat.


Kesal karena di tolak, lantas Peter menyerang tanpa permisi. Cup! Peter ******* bibir Rachel tak membiarkan wanita itu meraup oksigen.


Mendapat serangan dadakan, Rachel langsung melebarkan mata. Gelagapan. "Apa yang kau lakukan?" marah Rachel, begitu Peter memutuskan pangutan bibirnya.


Terganggu dengan kehadiran Peter. Karena sudah di pastikan pria itu tak membiarkannya tidur nyenyak malam ini. "Aku meminta hak ku sebagai suami mu, Sayang!" Peter menjawab santai. Lalu kembali menduselkan kepalanya ke leher wangi Rachel, mencium sana sini meninggalkan bekas kepemilikan yang pekat.


"Katanya kau ingin bekerja, kenapa malah menyerang ku sih. Lagi pula, aku menjanjikan jatah mu besok. Tapi kau malah menyerang ku dalam keadaan kantuk!" Rachel berucap, mengeluarkan segala keluh kesah yang mendera.


Hening, hanya kecapan kecil yang terdengar kini. Peter enggan melepaskan diri dari cumbuanya pada leher Rachel. Kini tangannya beralih, memainkan dua bongkahan berisi yang menggantung itu.


"Masih ada waktu dua jam lagi!" Peter baru menyahut setelah puas menebarkan tanda kepemilikannya di sana. Kini beralih kebawah, menyiapkan Rachel.


Rachel tidak menyahut, matanya mulai tertutup, rasa kantuknya begitu tinggi sampai membuatnya tidak bisa melawan. Dia membiarkan Peter bermain dengan tubuhnya sendiri.


Bukannya tidak mau melayani, sungguh matanya berat kini. Rachel ingin segera kembali memasuki alam mimpinya. Hingga gerangan panjang, menandakan Peter telah sampai pada puncak kenikmatan yang luar biasa. Pria itu ambruk, menimpa Rachel yang sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Cup! Peter menciumi seluruh wajah Rachel, sebelum beranjak dan memunguti pakaiannya. Setelah siap, pria itu keluar kamar tak sabar beraksi.


Tenaganya kembali utuh, dengan seulas senyum merekah dan semangat menggebu. Peter menuruni tangga, menghampiri asistennya yang duduk manis. Menunggu. Bisa dipastikan, pria itu merutuki keterlambatan Peter dalam hati.


"Bisakah kita pergi sekarang, tuan?" ucap Keenan, datar tanpa membungkuk hormat, masih nyaman dengan posisinya sekarang.


Lihat tatapan tajamnya, seolah ingin menghabisi Peter sekarang juga. Enak sekali, Peter asik bercinta sedangkan disini, Keenan menunggu dengan helaan nafas sabar sembari menatap kosong ke arah depan.


"Kau sudah lama disini?" Peter bertanya seraya mengancingkan kemeja hitamnya.


"Baru saja saya tiba, sekitar dua jam yang lalu!" sewot Keenan, menekankan kata baru.


Mendengar nada masam Keenan, lantas Peter mendongak menatap datar. " Kau iri?"


"Kenapa saya harus iri?"


"Karena kau tidak bisa merengkuh kebahagiaan seperti ku!" sahut Peter, lalu duduk berhadapan dan mengambil segelas wine utuh.


"Sudah berapa kali saya bilang, saya bahagia dengan hidup saya sekarang," sahutnya berdesis pelan. Mulai bisa merasakan arah pembicaraan bos-nya.


"Ayolah Kee, kau sudah tua dan harus menikah. Haruskah aku yang mencarikan calon untuk mu?" Peter memberi tawaran, membuat Keenan menahan nafasnya. Bersabar.


Peter tersenyum smirk, "Aku memberi mu waktu satu tahun, jika kau belum menikah dalam waktu satu tahun itu bersiaplah aku akan menghabisi mu dan seluruh anak-anak panti!" ancamnya serius.


"Iya-iya, merepotkan sekali!" ketus Keenan dongkol. Heran dengan bosnya yang menggegerkannya untuk segera menikah.


"Mari berangkat,tuan!" ajak Keenan, sambil mengangkat sebelah tangan. Mempersilahkan. Bisa sakit kepala nanti, jika Keenan terus melawan Peter.


Peter berdecih, melihat Keenan yang menghindari obrolan. tetapi tidak masalah, karena dia sudah berjanji akan menikah dalam kurun waktu satu tahun.


Lalu berlalu lalang, melewati Keenan dan berjalan mendahului. "Pastikan malam ini tidak ada keributan atau kegaduhan, kau tahu sendiri bukan aku paling tidak bisa menahan diri!" Peter bertanya seraya duduk mencari posisi nyaman.


"Baik tuan!" Keenan menjawab, kemudian menekan pedal gas dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan Mansion.


Hening, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Keenan berfokus pada jalanan dan Peter, melihat ke arah jendela. Mengamati suasana sepi dengan cahaya temaram yang menyinari sebagian jalanan.

__ADS_1


β€œSebenarnya, Rachel meminta ku untuk berhenti membunuh, meskipun itu musuhku sekalipun!" Peter memulai obrolan baru, dengan memberitahu keadaan yang menimpanya baru-baru ini pada Keenan.


Keenan melirik sekilas, tidak bisa di pungkiri bahwa Keenan cukup terkejut. Namun, tertutupi dengan ketenangan dan kewibawaannya.


"Dan anda menuruti kemauannya?" pertanyaan macam apa itu, tentu saja Peter menurut. Apalagi permintaan itu berasal dari wanita paling berharga dalam hidupnya.


"Tentu saja, melihat wajah memelasnya membuatku tidak tega!" jawab Peter sekenanya.


Terdengar helaan nafas berat yang berasal dari kursi pengemudi, " dengan pekerjaan anda sekarang, anda yakin tidak akan membunuh lagi, tuan?" remeh Keenan, paling tahu bagaimana kemarahan dan kekejaman Peter saat sedang marah ataupun tidak bisa menahan diri.


"Tentu saja tidak, untuk saat ini aku harus menurut. Tapi tidak untuk yang kedua kalinya, lagi pula aku berencana membuat Rachel menerima ku dan juga semua tentang ku. Termasuk pekerjaan ku," sahutnya santai.


"Caranya?" seketika Peter bungkam, kembali dilanda kebingungan. Tidak tahu harus menjawab Keenan apa. Karena faktanya, Peter masih belum menemukan solusi.


Ingin mengancam, tapi Rachel tak terpengaruh. Wanita itu bak dewi kematian yang tak takut dengan apapun. Malah semakin bertekad untuk merubahnya menjadi pria baik yang sesuai dengan kriterianya.


"Aku tidak tahu, entah kenapa aku merasa kesulitan menaklukkan wanita itu!"


"Lalu, kenapa anda menikahinya?" Peter menggeram marah mendengar pertanyaan Keenan yang tidak berfaedah itu.


"Tentu saja, karena aku mencintai nya. Pria kesepian seperti mu mana bisa memahami," Peter menyembur Keenan dengan kata-kata pedas yang langsung menusuk ke uluh hati.


"Saya tidak kesepian," kesalnya lagi. Menolak untuk dikatai. "Cih, alasan bilang saja kau gengsi mengatakannya!"


Bukan mau mencampuri urusan Keenan, hanya saja Peter ingin melihat asisten sekaligus sahabatnya ini menikah dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia.


Keenan terdiam, bayangan kejadian itu kembali terlintas. Dimana seorang wanita berambut pirang dewasa, mendesahkan namanya dibawah tubuhnya.


Sial, hanya dengan membayangkan saja tiba-tiba bagian bawah Keenan mulai terasa sesak. "Bagaimana kabar wanita itu sekarang?" gumamnya pelan, yang hanya bisa didengar olehnya saja.


Damn! kenapa aku memikirkan wanita itu, sebaiknya malam ini aku menyewa pelacur dan menyalurkan birahiku. Lagi pula sudah lama aku tidak bermain setelah bermalam bersama wanita itu.


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2