Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Kaki ku pegal


__ADS_3

Tap! tap! tap!


Peter berjalan melewati pekarangan Mansion. Semua bodyguard yang berjaga membungkuk hormat tatkala sang tuan muda berjalan melewati mereka.


Semua orang bertanya-tanya, apakah tuan mudanya baru saja di campakkan oleh sang asisten. Sampai-sampai pulang dengan menaiki angkutan umum, seperti mobil taxi.


"Aduh, kaki ku pegal sekali!" keluh Peter saat menaiki tiga anak tangga yang berada di depan pintu utama. Dengan perasaan dongkol Peter masuk kedalam mansion. Dan dapur menjadi tujuan pertamanya.


Peter haus, bayangkan saja seorang pemimpin Mafia harus berdiri di atas trotoar selama setengah jam untuk menunggu mobil taxi.


Keenan sialan, semoga kau tersedak saat makan. Kutuk Peter dalam hati sebelum menegak segelas air putih hingga tandas tak tersisa.


"Jam berapa sekarang?" bertanya-tanya, sesekali melirik ke kanan dan kiri. mencari jam dinding.


"Sudah larut malam ternyata!" ujar Peter kala melihat jarum jam menunjuk pada angka dua.


"Pasti asisten sialan ku sudah tertidur nyaman di atas ranjang. Lihat saja nanti, hari pembalasan akan segera tiba." menunggu membuatnya gila. Sungguh Peter ingin membidik kepala Keenan sekarang.


Peter berjalan menaiki tangga, ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk. Tapi, lagi-lagi kesialan menimpanya, pintu terkunci dari dalam. Rachel tak membiarkannya masuk kedalam kamar.


"Tuhan, apalagi ini?" geramnya kesal. Ini sudah hampir pagi dan matanya masih melebar tinggi.


Mau tidak mau, Peter tidur di kamar tamu. Kepalanya sakit, Peter butuh beristirahat sekarang. Kedua orang ini, Rachel dan Keenan. Mereka akan menerima hukuman masing-masing nanti.


"Tunggu dan lihat saja nanti. Aku akan menghukum kalian dengan cara ku sendiri!" ucap Peter bersungut-sungut. Sebelum berjalan menjauhi pintu kamar utama dan masuk kedalam kamar tamu yang terletak di samping kamar utama.


Peter melemparkan tubuhnya ke atas kasur, tanpa membersihkan diri ataupun berganti. Pakainya masih sama, kemeja putih yang terbalut jas hitam formal.


Besok, Peter harus pergi bekerja pagi-pagi sekali. Sepertinya Keenan harus cuti besok, mengingat dia harus pergi menemui Belle. Apa sebaiknya Peter juga ikut cuti, tapi bagaimana dengan lembaran-lembaran putih yang menumpuk tinggi di meja kantornya.


Entahlah, Peter tidak tahu. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah tidur dan tidur. Menyelami mimpi, berdoa pada Tuhan dengan harapan Rachel tidak marah lagi padanya, esok hari.


...🍁🍁🍁🍁...


Pagi itu, gumpalan kabut putih menutupi sebagian bangunan megah berlantai dua yang di dominasi cat warna hitam. Matahari merangkak naik, memaparkan cahayanya menyinari bumi. Awan-awan berarak, menandakan alam telah berganti rupa.


Nampak seorang pria masih terlelap dan nyaman dengan posisi terlentangnya. Dengkuran-dengkuran lembut terdengar samar. Menandakan jika Peter kelelahan.


Ceklek! pintu terbuka, Rachel masuk kedalam kamar dan menatap Peter intens. Perasaan bersalah menyelubungi hati, tatkala melihat sang suami tertidur pulas dengan setelan kerjanya. Bahkan masih memakai sepatu.


Dengan langkah mengendap-endap, Rachel berjalan mendekat. Lalu melepaskan sepatu Peter dengan perlahan. Tak ingin mengganggu waktu tidur sang suami.


Melihat raut wajah dan aroma alkohol yang menempel, Rachel langsung tahu jika suaminya ini habis minum-minum semalam.


"Maaf!" ucapnya lirih.

__ADS_1


Rachel memasukkan sepasang sepatu tersebut ke dalam kolom meja dan beralih pada kain panjang yang mencekik leher suaminya.


Pasti Peter tidak nyaman memakai dasi ini semalaman. Srek! Rachel menariknya dengan perlahan. Naasnya di detik yang sama Peter membuka mata.


"Siapa kau?" bertanya dengan mata menyipit. Mungkin Peter masih belum mengumpulkan nyawa.


"Rachel," bodohnya Rachel menjawab, khawatir suaminya terserang amnesia secara dadakan.


"Rachel?" Peter mengerjapkan matanya berulang kali, tak lupa menguceknya sesekali. Awalnya tampak buram sebelum akhirnya terlihat wajah cantik Rachel yang sudah di poles bedak tipis dari brand ternama.


"Kau disini?" tanya Peter tak percaya. Masih setia melekatkan diri pada kasur dan bantalnya. Belum sempat Rachel menjawab, Peter kembali melontarkan pertanyaan. "Jam berapa sekarang?"


"Jam sebelas kurang tujuh menit, kenapa?" Peter membelalak, semua pekerjaannya tertunda. Dokumen-dokumen pentingnya terbengkalai di atas meja kerja. Menunggunya.


"Aku terlambat bekerja?" Peter bergegas membuka selimutnya, ia hendak beranjak dari tempat tidur. Namun, tangan kurus Rachel menghentikannya.


"Hei, ada apa dengan mu. Kau lupa, sekarang hari Minggu!" Rachel mengingatkan, sekuat mungkin Rachel menahan tawa. Agar suaminya tak merasa malu.


Peter menggaruk tengkuknya yang entah gatal atau tidak, lalu kembali merebahkan dirinya lagi. "Akhir-akhir ini, aku terlalu banyak pikiran, karena itu aku jadi tidak fokus!" dalihnya seraya menutup matanya kembali. Malu.


Mendengar jawaban sang suami lantas Rachel tersenyum kecut dan membaringkan diri di ranjang samping yang kosong. Lalu memeluk erat tubuh kekar sang suami. Sudah lama Rachel tak memeluk tubuh besarnya dan berbagi kehangatan dengannya.


"Maaf ya, ini semua pasti karena keegoisan ku!" gumamnya pelan. Peter membuka mata, lalu menggerakkan netra coklatnya ke bawah. Melirik Rachel.


"Tidak sayang, ini bukan salah mu. Tapi salah ku, kau tahu sendiri kan pria memang salah dan wanita selalu benar!" menyindir dengan gaya.


"Tidak-tidak!" Peter menggelengkan kepala, mencoba menahan tawa.


"Sayang!"


"Apa lagi?"


"Kita kan sudah baikan," Peter menggantungkan kalimatnya. "Lalu?" Rachel terdiam, menunggu ucapan Peter berikutnya.


"Berikan jatah ku!" ucap Peter to the poin.


"Kau ingin ku hajar ya?" tanya Rachel, entahlah beberapa hari ini dia tidak ingin berhubungan badan.


"Tapi-"


drtt..drtt..drtt


Perdebatan mereka terpotong oleh getaran yang berasal dari benda pipih yang tergeletak di atas meja. Keduanya menatap handphone tersebut secara serempak.


My Mom?

__ADS_1


"Angkat, mommy menelepon!" ujar Rachel, memukul-mukul punggung tegap Peter.


"Ck, iya-iya!" Peter mengambil benda kotak itu dan menekan tombol hijau. Mengangkat telepon tersebut. "Ya mom?" sapanya dengan suara lesu. Kesal karena di ganggu.


"Boy, kau tidak merindukan mommy mu ini?" Peter memutar bola matanya. Lagi-lagi menelepon hanya karena ingin menanyakan kabar.


"Tidak mom, aku tutup teleponnya ya!"


"Anak durhaka, kau ingin ku lempar sandal?" teriakan cempreng berasal dari seberang sana. Segera Peter menjauhkan handphonenya dari telinga. Jika tidak, gendang telinganya akan rusak nanti.


"Iya-iya mom, kami merindukanmu!" ujar Peter, berusaha meredakan kekesalan sang ibu.


"Dasar plin-plan, tadi kau bilang tidak rindu sekarang rindu. Kau bocah tengil!"


"Aku hanya bercanda mom!" Peter beranjak dari kasur dan pergi keluar, meninggalkan Rachel seorang diri.


Mendadak, Peter ingin melakukan sesi curhat bersama sang ibu. "Mom!" pagilnya lirih, sesekali menengok kebelakang, memastikan situasi aman terkendali.


"Apa?"


"Menurut mu, apa yang membuat seorang wanita berubah?" tanya Peter ragu. "Kau membicarakan menantuku hum?"


"Mom, Rachel berubah. Dia mudah menangis dan tersinggung. Padahal dulu dia tidak sensitif ini, perangainya gampang berubah-ubah. Kadang marah-marah, kadang menangis, kadang ingin di manja. Apa aku ceraikan saja dia?"


"Kau ingin aku membunuh mu?" Kanaya marah setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan putranya.


"Hehehe, aku hanya bercanda!"


"Bercanda-bercanda, kau pikir ini lucu?"


"Maaf!" kata maaf seolah sudah biasa Peter katakan. Kini Peter tidak kaku lagi saat mengatakannya.


"Aku sarankan kau panggil saja dokter pribadi keluarga kita!" ucap Kanaya senang.


"Kenapa, Rachel tidak sakit kan. Apa dia terkena penyakit mental, contohnya gila?" astaga pria ini, mengatakan semua hal tanpa berpikir.


"Tidak, Rachel baik-baik saja. Sudahlah, lakukan saja saran mommy. Panggil dokter pribadi kita dan suruh dia menetap di New York!"


"Aku tidak mau, Rachel baik-baik saja. Untuk apa memanggil dokter!" tolaknya mentah-mentah.


"Hei, aku sangat tahu bagaimana keadaan menantu ku itu. Kau lupa aku juga seorang dokter dulu!"


"Tapi-"


"Tidak usah tapi-tapian, mom yang akan mengirimnya kesana. Kau memang tidak bisa di andalkan!" setelah ucapan Kanaya itu, sambungan telepon berakhir.

__ADS_1


Peter mengacak rambutnya sendiri, dua orang wanita yang paling berharga baginya kini berubah menjadi monster pemarah.


Oh God, bagaimana cara dad menangani mommy?


__ADS_2