Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Ketemu


__ADS_3

Cristian dan beberapa anggota yang ikut dalam pencarian mulai kelelahan. Hutan itu sangat luas. Mustahil bisa menelusuri keseluruhan dalam jangka waktu semalaman. Cristian melihat jam sejenak. Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi.


Cristian menghela napas dalam-dalam. Lalu, menyuruh anak buahnya beristirahat beberapa jam ke depan. Saat matahari merangkak naik, mereka akan melanjutkan pencarian itu.


Untuk saat ini Cristian tidak bisa menghubungi Rachel walau sekedar mengirim pesan singkat. Tidak ada sinyal sama sekali. Rachel mungkin menunggu telepon darinya sekarang.


Namun, Cristian tidak berdaya. Tetapi juga sedikit kasihan. Rachel pasti tidak bisa tidur sekarang, Padahal ibu hamil harus beristirahat dengan cukup.


"Cari kayu kering dan nyalakan api untuk menghangatkan tubuh kalian!" ucap Cristian memberi perintah.


Semua orang langsung beranjak dan mengambil ranting pohon yang sudah kering. Menyalakan api dan duduk melingkar, mencari kehangatan pada tumpukan kayu yang terbakar itu.


...🍁🍁🍁🍁...


Waktu kian merambat, mentari mulai menaiki tahta secara perlahan. Semburat keemasan menghiasi langit di padukan dengan awan bewarna putih terang. Menandakan pagi telah di mulai.


Terlihat, seorang wanita cantik tidur dengan posisi duduk. Jelas dia kelelahan karena menunggu. Dari semalam, Rachel menunggu telepon Cristian. Tetapi tidak ada satu panggilan pun yang masuk.


"Nona muda!" refleks Dasha berteriak terkejut. Tidak menyangka sang majikan tidur di sofa ruang tamu. Parahnya memakai piyama satin, juga tidak memakai selimut. Jika Peter tahu, tamat sudah riwayatnya. Mungkin saja hidupnya berakhir di detik ini juga.


Mendengar teriakan Dasha, Rachel membuka matanya seketika. Terperanjat kaget. "Peter! apa suami ku sudah pulang?"


Celingukan, berharap objek pertama yang Rachel tangkap setelah membuka mata adalah wajah tampan sang suami.


Dasha terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Peter memang majikannya. Tetapi Dasha bukan pelayan pribadi Peter yang tahu kemana dan dengan siapa Peter pergi.


Apalagi soal pekerjaan ilegal yang Peter lakukan. Dasha tidak bersangkutan. Tugasnya hanya mengurus Mansion, menyiapkan kebutuhan sehari-hari dan melayani Rachel tentunya. Lain dari itu, Dasha tidak tahu apa-apa.


Melihat Dasha diam membuat Rachel paham jika suaminya itu masih belum pulang. Rachel melunturkan senyumannya. Kecewa dan khawatir dua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Baru kali ini Peter tidak pulang ke mansion setelah melakukan transaksi.


Rachel tahu betul pekerjaan ini mempunyai resiko. Di mana nyawa menjadi taruhan dan keselamatan menjadi incaran. Jika bukan di tipu pasti ada musuh yang mengintai dan menyerang mereka segera tiba-tiba.


"Tuan muda pergi?" tanyanya keheranan. Mendengar balasan sang kepala pelayan, Rachel tersenyum kecut. Ternyata Peter pergi diam-diam.


"Lupakan!" sahut Rachel. Beranjak dari sofa dan mengambil segelas air.


"Kalau begitu saya akan membuatkan anda sarapan nona." berkata seraya berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


"Tidak usah, aku akan sarapan bersama Peter saat dia pulang nanti!" kata Rachel menghentikan langkah Dasha. Menolak dengan tegas.


Rasa laparnya menghilang tatkala tidak mendapati satu panggilan pun masuk. Hari sudah berganti dan malam telah berakhir. Seharusnya Cristian sudah melakukan pencarian. Dan kenapa pria itu tidak menghubunginya bahkan tidak mengirim pesan singkat.


Entah kenapa perasaan Rachel semakin mencuat panik. Dimana Peter? apa dia baik-baik saja? apa dia sudah makan? pertanyaan demi pertanyaan terlintas di kepalanya. Baru semalam mereka berpisah dan Rachel sudah sangat merindukan Peter.


"Setidaknya isi perut anda walaupun hanya sesuap saja nona!" masih berusaha membujuk. Tidak ingin sang nona muda kelaparan dan berakhir jatuh sakit.


"Aku tidak lapar. Berhenti membujuk ku karena aku tidak akan terpengaruh!" balas Rachel menjawab. Kembali duduk dan menatap ke arah depan. Matanya berkaca-kaca. Sedih.


"Kalau begitu saya akan membuatkan anda susu. Saya mohon jangan menolaknya nona. Jika tidak tuan muda akan memarahi saya nanti!" serunya sebelum melanjutkan langkahnya pergi dari ruang tamu.


Dasha tidak mau tau, yang jelas Rachel harus minum susu ini. Setidaknya anak yang berada dalam kandungan mendapat asupan gizi.


...🍁🍁🍁🍁...


Cahaya matahari bersinar terang, menembus atap gubuk yang berlubang. Memaparkan cahayanya lurus sampai mengenai wajah tampan Peter. Matanya sedikit mengernyit bibitnya meringis tatkala terganggu dengan cahaya itu.


Rasa perih pada perut dan lengannya membuat kesadarannya kembali utuh. Rintihan demi rintihan terdengar memilukan. Tidak menyangka luka separah ini akan memenuhi tubuh atletisnya.


"Hati-hati tuan, luka anda masih basah dan terbuka!" ujar Keenan seraya meraih jerami dan membiarkan Peter bersandar pada jerami tersebut.


Melihat Peter nyaman dengan posisinya. Keenan langsung mengambil gelas stainless yang terletak di atas kendi. Menuangkan air dan mengulurkannya pada Peter.


"Minumlah tuan!" Peter menyangga tubuhnya dengan satu tangan. Dan menegak air putih itu secara perlahan. Membiarkan Keenan membantunya membawa gelas.


"Kau sudah meminta bantuan!" Peter bertanya dengan suara pelan dan sedikit terbata-bata.


"Tidak ada sinyal di sini. Saya rasa kita harus kembali ke tempat semula. Di mana mobil kita berada. Luka anda harus segera di tangani dengan benar!" Keenan memberi saran.


"Terserah kau saja!" sahut Peter.


"Mungkin setelah ini aku akan memberi mu libur panjang sebagai hadiah!" lanjutnya dengan suara lirih. Namun, kata libur masih bisa di tangkap oleh indra pendengaran Keenan.


Wajah murung nan letih Keenan berubah menjadi cerah bahkan mengalahkan sinar matahari di luar sana. Keenan tidak sabar menantikan libur panjang yang Peter janjikan.


"Anda sangat baik tuan, saya hanya membutuhkan seminggu saja untuk beristirahat. Tidak usah panjang-panjang!" request Keenan.

__ADS_1


Sorot mata Peter berubah tajam. Kesal karena Keenan tidak tahu diri. Libur panjang yang Peter maksud hanya tiga hari, bukan satu minggu apalagi sebulan.


Dan lihat Keenan, sudah di beri hati malah minta jantung. "Aku tidak memberi cuti selama seminggu!"


"Lalu?" menaikkan sebelah alisnya. Menatap Peter dengan penuh harap. Semoga libur yang Peter janjikan lebih dari satu minggu.


"Tiga hari atau tidak sama sekali!" tegas Peter seolah memberi ultimatum. Tidak ingin Keenan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Sontak senyum Peter luntur dalam sekejap. Harapan dan keinginannya pupus. Ayolah Keenan sudah bekerja bagai kuda dari pagi sampai malam. Setidaknya sang raja mau memberinya libur panjang.


Sebelum Belle dan Abigail hadir dalam hidupnya, Keenan tidak terlalu mempedulikan hari libur atau semacamnya. Dia rela bekerja kapanpun dan di manapun itu. Tetapi saat mereka hadir dan mewarnai kehidupannya, Keenan selalu berusaha meluangkan waktu untuk mereka.


Jadi apapun hadiah yang Peter tawarkan, entah itu uang, saham, rumah, atau harta benda lainnya. Keenan tidak tertarik. Yang hanya Keenan pikirkan sekarang adalah hari libur saja.


Dengan begitu Keenan bisa menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga kecilnya. Entah itu bermain dengan Abigail ataupun mengamati kegiatan sang istri.


"Itu bukan libur panjang namanya!" gumam Keenan mencela. Namun, Peter tidak bisa mendengar.


Obrolan mereka berakhir, Keenan mulai membantu Peter berdiri dan menuntunnya keluar dari gubuk. Sebelum itu, Keenan meletakkan setumpuk uang. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah meminjamkan gubuk itu pada mereka.


Dan di tengah-tengah perjalanan mereka bertemu dengan beberapa anggota Gold Lion. Betapa senangnya Cristian saat mendapati mereka masih hidup meskipun dengan luka yang cukup parah.


Segera mereka membawa Peter ke rumah sakit kota. Menyisakan Keenan dan Cristian. Kedua orang itu berada di mobil yang sama.


"Maafkan saya tuan karena datang terlambat!" Keenan mengangguk singkat. Kemudian menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Tertidur.


Sebelum melajukan mobilnya, Cristian meraih ponselnya. Bibirnya terangkat saat melihat sinyal handphonenya.


Tut! tut! tut! Cristian langsung menelfon Rachel.


"Nona, saya sudah menemukan tuan Peter!"


TBC


Masih belum author revisi πŸ™


Jangan lupa vote ya gaes, episodenya tinggal beberapa aja tidak sampai dua puluh episode, novelnya sudah tamat. Jadi tolong di like dan vote ya. Terimakasih πŸ™β˜Ίβ˜Ίβ€β€

__ADS_1


__ADS_2