
Matahari tergelincir ke arah Barat, senja telah dimulai dan malam akan segera tiba. Perasaan kalut bercampur khawatir Peter rasakan. Dia duduk santai sambil merokok, menenangkan pikiran. Sudah setengah jam ayah dan anak itu mengobrol. Namun, masih belum kembali juga.
Peter khawatir Darion memprovokasi dan menyuruh Rachel menggugat cerai. Hei, Peter cukup tahu kebencian dan ketidaksukaan ayah mertuanya itu. Satu hal yang harus semua orang tahu, Peter tidak ingin kehilangan Rachel.
Rasanya, Peter ingin berteriak dan memaki semua orang untuk menghilangkan rasa kegelisahan. Sampai suara langkah bercampur canda tawa menyeruak masuk kedalam telinga.
Peter mematikan putung rokok dan mendongak, menatap ke arah pintu. Terlihat Darion dan Rachel masuk dengan senyum merekah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Kau menunggu kami?" Darion bertanya, kala melihat Peter duduk bersendekap dada di ruang tamu.
"Apakah kalian sudah selesai?" suaranya memburu, datar, dan dingin. Mengisyaratkan kemarahan yang ketara. "Ya, kami sudah selesai. Sepertinya kalian butuh waktu berdua. Dimana kamar ku? aku akan pergi beristirahat." Peter melirik Keenan, menyuruh pria itu mengantar.
Sedangkan Rachel masih terdiam, ragu-ragu dia berjalan mendekat. Perlahan mendongak lalu meraih tangan besar Peter. Tentu saja, hal itu membuat Peter terkejut sekaligus bingung.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mu. Bisakah kita pergi ke kamar?" Peter menaikkan sebelah alisnya, lalu menuruti keinginan istrinya.
Begitu sampai di kamar, Rachel menutup pintu dan menguncinya rapat. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Peter lagi, bingung melihat situasi.
"Sesuatu yang mengejutkan, tapi sebelum itu aku ingin meminta maaf atas semua kelancangan dan kekurang ajaran ku pada mu. Padahal jelas-jelas kau suami yang harus ku hormati dan hargai." pedar matanya menatap Peter dengan tatapan teduh dan bersahabat.
Jatung Peter semakin berpacu cepat, takut mendengar ucapan tidak mengenakan misalnya perceraian. Oh Gosh, baru kali ini Peter merasa takut. Bukan karena musuh tapi dengan satu kata mematikan yaitu perceraian.
"Jangan khawatir, aku tidak pernah marah pada mu. Semua ucapan pedas dan kegarangan mu malah membuat ku semakin menyukaimu!" berusaha tersenyum, menyembunyikan rasa takut yang mendominasi hatinya sekarang.
"Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting, tapi berjanjilah kau tidak akan terkejut ataupun marah." secepat kilat Peter mengangguk, tidak sabar menunggu. Jelas-jelas Peter pasti marah, jika Rachel mengucapkan kata perpisahan.
"Apa yang ingin kau katakan, sayang? jangan membuat ku menunggu." mulai merendahkan suara, menahan diri.
"Sebenarnya aku-"
"Aku-"
"Aku-"
"Aku-"
"Aku apa? jangan mempermainkan aku. Kau tahu sendiri kan, aku bukanlah orang yang sabar!" Rachel terkekeh, mendorong dirinya sendiri untuk lebih dekat dengan Peter.
__ADS_1
"Sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi ego ku terlalu besar dan batinku mengajak ku bertengkar. Aku bingung harus memulainya dari mana, apakah ini nyata atau hanya sekedar mimpi semata aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku mencintaimu Peter!"
Hening, hembusan angin seolah mendukung kisah romantis mereka. Menerbangkan anak rambut Rachel, membuat wanita itu tampak semakin cantik dan mempesona.
Peter melepaskan cengkeraman, kemudian memundurkan langkah berulangkali. Melihat tatapan Rachel seolah membekukan tubuhnya. Senyum lembut, teduh yang belum pernah Peter lihat. Hari ini Rachel tampakkan dan tidak ada tanda-tanda ingin melunturkan.
"Aku tahu kau terkejut, tapi inilah faktanya. Sudah lama aku menaruh rasa padamu dan bodohnya aku baru menyadari saat ayahku membentak ku."
"Waktu kau ada di dekat ku, aku merasa nyaman seolah ada kedamaian yang mengelilingi ku. Melihat senyuman dan wajah hangat mu, membuat jantung ku berdebar kencang. Menanti kejadian yang kan terjadi. Dan saat kau pergi aku merasa sepi, seolah ada kekosongan disini. Bukankah ini cinta?" polos sekali, mungkin karena baru kali ini Rachel merasakan apa yang namanya cinta.
Peter masih tak bergeming, terlalu senang sampai tidak bisa berkata-kata. Bunga-bunga kebahagiaan seolah bermekaran dan memperindah suasana hatinya. Ingin rasanya Peter terbang dan mengumumkan kebahagiaanya pada seluruh dunia.
"Peter, kenapa kau diam. Apakah kau tidak senang mendengar ungkapan perasaan ku?" Rachel menepuk pelan pipi Peter, menyadarkan pria itu dari diamnya.
"Tidak, aku senang tapi apakah ini mimpi?" Peter bak orang tolol yang baru bangun tidur.
"Bukan, ini bukanlah mimpi. Aku akan mencubit lengan mu."
"Akh, sakit!" Peter berteriak keras, mengusap lengannya yang berdenyut nyeri. "Lihat, bukan mimpi kan, aku benar-benar mencintai mu!" Rachel mengambil kesempatan dengan mendaratkan kecupan-kecupan basah di seluruh wajah prianya.
"Kau menganggap ku berpura-pura?"
"Tidak, bukan begitu. Astaga apa yang aku bicarakan. Aku seperti orang tidak waras saja. Sebenarnya aku terlalu senang mendengar ungkapan mu itu. Tapi, kenapa baru sekarang tidak dari kemarin-kemarin. Kau tahu, betapa lelahnya menunggu?"
"Aku tahu, karena itu tolong maafkan aku, ya!" Rachel menjewer telinga, memanyunkan bibir dan memperlihatkan wajah memelas.
"Tidak semudah itu, aku akan memaafkan mu setelah kau membayarnya setiap malam selama satu Minggu!"
"Cih, apa dipikiran mu hanya mengenal tentang se*s saja?" desis Rachel kesal.
βTentu saja, bercinta dengan mu merupakan sumber kekuatan ku sayang!" Peter berbisik, lalu mendaratkan ciuman singkat di pipi Rachel.
"Kalau begitu, biarkan aku yang memimpin malam ini!" Rachel mendorong Peter keatas ranjang.
"Nakal sekali, aku suka!" Peter membiarkan Rachel membelai tubuhnya.
__ADS_1
"Kau sangat sexy!" puji Rachel berbisik, menggoda Peter. "Kau terlalu lama, biarkan aku saja yang memimpin!" Peter balik menindih, tak membuat Rachel mendominasi karena wanita itu suka merangsang tapi tidak memberikan kepuasan.
Kau harus di hukum karena membuat ku menunggu, kucing liar!
...ππππ...
Keduanya terbaring dengan nafas memburu, Rachel tampak tersenyum dalam dekapan Peter. Benar kata ayahnya, mencoba menerima tidaklah buruk. Perasaan bahagia pasti datang tanpa di minta.
"Aku tidak menyangka kau akan menyadari perasaan mu hari ini."
"Berterima kasihlah pada ayah ku, karena dia yang membuat ku sadar betapa cintanya aku pada dirimu!" Peter tersenyum kecut, merasa bersalah karena sudah menuduh Darion yang tidak-tidak.
"Dan untuk masalah pekerjaan mu, aku tidak memusingkannya lagi. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau, tapi bisakah aku meminta sesuatu?"
"Tentu saja, apa yang kau inginkan, Sayang?" Peter membelai pipi Rachel lembut. Tak pernah bosan memandangi wajah cantik itu.
" Aku tidak yakin kau akan memenuhinya, karena itu berjanjilah padaku!" Peter sedikit was-was, takut persyaratan Rachel memberatkan dirinya.
"Ya katakan saja, jika bisa aku akan memenuhinya. Asal tidak seperti yang kemarin, meminta ku agar tidak membunuh musuh-musuh ku!" Rachel menggeleng.
"Bukan itu yang ku minta,"
"Lalu apa?"
"Berjanjilah dulu!" mengulurkan jari kelingkingnya."Aku berjanji!" Peter memutar bola matanya malas. Ini terlalu kekanak-kanakan.
"Biarkan aku menjadi asisten mu!"
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π
__ADS_1