Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Penipu


__ADS_3

Raut wajah suram Peter tampakkan, setelah setengah jam menunggu Rachel bersiap-siap. Bukan apa-apa, Peter paham jika wanita membutuhkan waktu lama untuk berdandan. Tapi kliennya juga butuh kepastian.


Tadinya Peter bahagia melihat Rachel meringkuk di atas kasur dan memeluk guling. Rasa lelahnya seolah hilang dalam sekejap, berubah menjadi semangat. Berharap beraksi seorang diri, malam ini.


Tetapi semuanya berubah, saat Peter pergi selama lima belas menit. Tau-tau Rachel terbangun dan duduk dengan wajah segar nan mata berbinar. Menyambut kepulangannya.


Ingat dengan transaksi tersebut, lantas Rachel menyuruhnya menunggu di bawah. Entah apa yang dilakukan wanita itu didalam sana, sampai memakan waktu selama ini. Begitu pula dengan Keenan, tampak suntuk menunggu nona mudanya yang tak kunjung datang.


Hinga akhirnya derap langkah seseorang mengalihkan perhatian mereka. Menatap ke atas, dimana Rachel turun dengan langkah anggun dan penuh wibawa.


Rachel mendekati mereka dengan mengembangkan senyum manis tanpa dosa. Namun, wanita itu tampak keren, memakai pakaian serba hitam. Celana hitam ketat dan baju tanpa lengan.


"Maaf, aku terlambat. Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Rachel seraya membenarkan tali blousenya.


"Apa-apaan kau! kenapa berdandan secantik ini. Kau pikir, kita. akan pergi ke acara fashion show?" alih-alih menjawab pertanyaan Rachel, Peter malah bertanya balik dengan suara dingin.


Melihat semburat kemarahan dan api yang terpancar dari kedua netra coklatnya, Rachel bisa menduga jika Peter sedang marah sekarang.


"Apa maksudmu? aku tidak berdadan sama sekali. Aku terburu-buru tadi, bahkan memakai bedak pun tidak!" Rachel mendumel, malas meladeni Peter.


"Tapi kau terlihat seperti memakai make up!" masih ngeyel, tak sudi di permalukan.


"Aku tidak berbohong, aku hanya memakai parfum saja, kenapa kau bertanya seolah aku berdadan ke dan ingin pergi berfashion show."


Peter masih tetap sama, pencemburu dan posesif. Paling sensitif jika itu menyangkut Rachel.


"Kalau sudah selesai berdebat, bisa kita pergi sekarang?" tanya Keenan, memotong pembicaraan yang terjadi antara pasangan suami istri itu. Cukup satu kali Peter mengecewakan klien dengan datang terlambat. Tidak dengan kali kedua.


"Ini semua salah Peter. Seandainya dia tak memulai pertengkaran dengan ku. Mungkin sudah dari tadi kita berangkat. Jadi jangan salahkan aku ya." Rachel mengkambinghitamkan Peter, berjalan keluar terlebih dahulu. Mendahului Peter dan Keenan.


"Lihat gayanya, tampak seperti ratu saja!" kesal Peter, melihat Rachel berlagak seperti ratu dan memperlakukannya seperti pengawal. Terkoyak sudah harga diri Peter.


Keenan menggelengkan kepalanya, melihat tingkah bos dan nona mudanya yang kekanakan. Mereka bagai minyak dan air, tak bisa menyatu walaupun sesaat saja.


Mereka bertiga masuk kedalam mobil, Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap tak terlambat datang ke tempat perjanjian.

__ADS_1


"Apakah tempatnya jauh?" tanya Rachel, merasakan dingin menyelimuti kedua lengannya. Menyesal, karena memakai pakain ini.


"Tak begitu jauh, melihat dari seberapa kencangnya Keenan menyetir. Mungkin memakan waktu 60 menit." Peter menjawab.


Tidak jauh katanya, mobil ini melaju kencang dan masih membutuhkan waktu satu jam. Sepertinya tempat itu jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


"Selama itu, apa tidak ada jalan pintas ataupun rute terdekat yang bisa mempersingkat waktu kita?"


"Tidak ada, jalan ini adalah jalan satu-satunya yang bisa kita lalui!" Peter melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Rachel. Tahu kalau Rachel kedinginan.


"Terimakasih!" Rachel tersenyum tipis, bergerak kesana-kemari. Malu-malu kucing.


Setelah sampai, Keenan memarkirkan mobilnya di Depa sebuah bangunan tua. Keenan merasakan kecurigaan disini. Kala melihat suasana begitu sepi dan mencengkam.


Semoga saja dugaannya ini salah dan transaksi ini berjalan dengan lancar. "Benarkah, di tempat ini kita bertransaksi?" Rachel tak nyaman dengan bangunan tua ini


"Kau takut? sudah berapa kali aku bilang, tidak usah ikut tetapi kau bersikukuh ikut!" Peter melengos, tak bisa dipungkiri dia juga merasa ada yang aneh disini.


"Tidak, hanya saja aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan kita!" Keenan terdiam, menyimak obrolan keduanya.


Merasa kagum dengan kejelian dan ketelitian Rachel. Sepertinya ini jebakan, mereka tahu Peter tak membawa pengawal. Diam-diam Keenan masuk kedalam mobil, meraih dua pistol dan menyembunyikannya di dalam saku jasnya.


Mereka bertiga pun masuk kedalam bangunan tua yang tak berpenghuni. Seringkali transaksi ataupun pembunuh- pembunuhan terjadi di dalam ruangan ini.


"Dimana mereka?" tanya Peter setelah menelusuri tempat ini sampai kebagian terdalamnya. Kecurigaannya semakin kuat, unjung matanya melirik kesamping.


Baru Rachel bergabung dan lihat, musuh-musuhnya cepat bertindak. Bukan karena Rachel pembawa sial, tapi banyak yang mengincar keselamatan wanita itu sekarang.


"Kami disini!" Rachel melongo melihat wanita muda berjalan dengan di temani lima bodyguard, Rachel kira klien mereka seorang pria tua yang mesum.


Peter dan Keenan saling menabrakkan tatapan, benarkah prediksi mereka melenceng. "Aku minta maaf atas keterlambatan kami!" wanita itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


"Aku Lidya, CEO perusahaan Z. Senang bertemu dengan kalian!" Peter dan Keenan tak berniat menjabat uluran tangan itu. Namun tidak dengan Rachel, dia menjabatnya dan tersenyum ramah.


"Senang bertemu dengan mu juga!" Lidya tersenyum sinis, melihat Rachel dari ujung kepala sampai kaki.

__ADS_1


"Kau siapa?" tanyanya. "Aku asisten baru, Peter. Namaku Rachel!" Rachel terlalu mudah percaya dengan orang asing.


"Asisten! aku tak pernah tahu pemimpin Gold Lion mempunyai asisten secantik ini, kau yakin hubungan kalian berdua sebatas atasan dan bawahan?" Rachel mulai mencium aroma kebusukan Lidya.


"Kenapa aku merasa kau penasaran dengan hubungan kami, apa jangan-jangan kau sudah menyelidiki tentang kami sebelum memesan senjata?" Rachel tak sebodoh itu.


"Sudahlah, berikan senjata ku dan akhiri pertemuan tidak menyenangkan ini!" Lidya kesal, tak suka dengan Rachel.


"Memangnya kau saja yang ingin segera pergi. Aku juga ingin segera pulang asal kau tahu!" Rachel berdecih. melihat tatapan sinis Lidya.


"Berikan senjatanya!" Lidya mengulurkan tangan. Keenan ingin menyerahkannya, tapi Rachel menyahut dengan tiba-tiba dan tersenyum penuh arti.


"Ambil!" Lidya menyahut tas kecil itu. Baru menyentuh pegangan tasnya, Rachel memelintir tangan Lidya kebelakang dan menodongkan senjata di samping kepala.


"Wanita bodoh! kau pikir aku tidak menyadari kepura-puraan mu ini!" Rachel bak dewi kematian dengan kecantikan yang memukau.


"Apa maksudmu, nona. Ini tidak sopan, berani sekali kau memperlakukan klien mu dengan cara seperti ini!"


"Klien? kau itu penipu hati ingin merampok suamiku!" Lidya membulatkan mata, mendengar pernyataan Rachel barusan.


Suami? jadi mereka adalah sepasang suami istri.


"Hei kenapa kalian diam saja, bunuh mereka semua!" perintah Lidya.


"Jika kalian melukai mereka, aku pastikan nyonya muda kalian ini mati di tangan ku!" senyap, tidak ada yang berani melawan


Rachel menoleh kebelakang, meminta Peter dan Keenan menembaki anak buah Lidya. Tentu keduanya langsung bertindak membasmi seranga penganggu.


Dor! dor! dor! dor! dor! Keenan menembaki mereka dengan dua tembak sekaligus, hingga tak membutuhkan waktu lama mereka berjatuhan dengan bersimbah darah.


Kau hebat juga nona, tidak sia-sia bos bodoh ku menikahi mu!


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2