
Belle dan Michel menjadi pusat perhatian kini. Tak terkecuali sepasang mata di sudut ruangan. Keenan berdiri dengan tatapan tajamnya.
Yah Keenan menggendong Abigail yang mengantuk, sembari menunggu kedatangan Belle. Tapi siapa sangka wanita itu malah asik berduaan dengan pria lain.
Cemburu, jangan harap. Sampai kapanpun kata itu tidak akan ada dalam kamus kehidupan Keenan. Ia akui hatinya sedikit memanas, tetapi bukan berarti karena cemburu.
Masih saja mengelak dasar bedebah arogant.
Belle mengajak Michel menemui Ara dan Steven. Untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka. "Kak, siapa dia?" tanya Ara.
"Perkenalkan dia Michel. Teman kuliah ku. Kami bersahabat dan tentu saja sangat dekat seperti saudara!" jelas Belle. Itu pun tak luput dari pendengaran Keenan. Entah sejak kapan asisten itu berdiri di dekat mereka.
Bersahabat, itu tidak mungkin. Tidak ada hubungan persahabatan antara pria dan wanita. Pasti salah satu dari mereka terpincut.
Keenan bisa melihat itu dari tatapan Michel. Pria itu tertarik dengan wanitanya. Sialan, Keenan akan melenyapkannya nanti.
Tidak kuat melihat kedekatan antara Belle dan Michel. Keenan pergi tanpa bicara sepatah kata. Bukan untuk menghindari Belle saja. Tetapi untuk menidurkan Abigail dikamar.
"Kakak!" panggil Grace dengan suara cemprengnya.
"Hai Grace!"
"Dimana Abigail?"
"Abigail bersama ayahnya Grace. Anak itu ingin tinggal bersama Keenan. Jadi aku menyerahkan Abigail pada Keenan untuk beberapa saat sebelum perpisahan!" Ucap Belle. Menjelaskan.
"Oh, aku kira kau tak mengajaknya. Hei, bukankah ini teman kuliah kakak," tanya Grace sembari mengamati wajah Michel.
"Ya, dia Michel!" menjawab dengan lembut serta di iringi senyuman manis. Grace mengangguk paham.
"Grace aku pergi dulu ya, aku ingin melihat putriku sebentar. Sudah lama aku berpisah dengannya!" mengangguk singkat pertanda jika Grace menyetujuinya.
Belle berjalan mengitari ruangan mencari keberadaan Keenan. Namun, matanya tak menangkap sosok pria misterius itu. Dimana dia.
drtt drtt!
Aku dan Abigail berada di kamar 888!
__ADS_1
Belle meremat ponselnya kuat, akhirnya mereka akan bertemu setelah sekian lama. Dengan langkah panjang Belle keluar dari tempat acara dan mencari nomor kamar yang di kirimkan Keenan melalui pesan SMS.
Setelah berjalan ke sana kemari. Akhirnya Belle menemukan nomor kamar yang cocok.
Tok! tok! tok! mengetuk pintu berulang kali lalu berdiri menunggu. Akhirnya setelah dua Minggu berlalu Belle bisa menemui putrinya.
Tok! tok! tok! mengetuk untuk yang kedua kalinya. Namun, tidak kunjung mendapat jawaban. Bel pun sudah Belle tekan secara terus menerus. Tetapi tidak ada jawaban.
Merasa tidak ada orang, Belle memutuskan masuk kedalam. Memeriksa keadaan kamar. Bisa jadi Keenan keluar sebentar dan meninggalkan Abigail sendirian.
Tapi ternyata dugaan Belle salah. Kamar ini kosong. Hanya ada kegelapan disini. Sial, Keenan menipunya. Lalu dimana Keenan menyembunyikan Abigail.
Brak! Belle memekik kaget tatkala mendengar gebrakan pintu. Seketika tubuhnya berbalik menghadap ke belakang. Matanya membulat kala melihat Keenan berdiri dengan wajah seriusnya.
"Kau! dimana Abigail?" bertanya dengan tegas. Berusaha tak menampakkan rasa takutnya.
"Ada di kamar sebelah!" jawab Keenan santai. Perlahan mulai berjalan maju. Mendekati Belle.
"Kalau begitu aku akan keluar!" Belle berjalan cepat. Namun dengan sigap Keenan mencengkram tangannya kuat.
"Siapa yang mengizinkan mu keluar?" tanya Keenan dengan sorot mata tajam.
"Dan kenapa kau mengunci pintunya?" lanjut Belle kembali melontarkan pertanyaan. Tubuhnya bergetar takut melihat senyum Keenan. Belle bisa merasakan alarm bahaya sekarang.
Bukannya menjawab, Keenan malah berjalan maju membuat Belle refleks ikut berjalan mundur. Sampai akhirnya tubuhnya menabrak dinding. Dan Keenan mengungkungnya di antara kedua tangan.
"Menyingkir dari hadapan ku!" Belle memukuli tangan Keenan. Sesaat ia berhasil menjauh. Tapi semuanya sia-sia. Lagi-lagi Keenan berjalan mendekatinya.
"Stop! jangan dekati aku!” berpura-pura kuat dan membalas tatapan lekat Keenan, mencoba membuat pria itu mengalihkan pandangan.
Tatapannya hanya bertahan sebentar, tidak sampai lima menit pertahanan Belle runtuh. Belle takut dengan tatapan tajam Keenan. Bibir juga ikut bergetar. Entah sudah sepucat apa wajahnya sekarang.
Keadaannya sekarang sama seperti tikus yang terperangkap dalam kandang singa. "Kau takut sayang, bukankah kau menyukai perhatian para pria di luaran sana?" remeh Keenan. Terus mengintimidasi Belle, tak membiarkan wanita itu tenang sedetik pun.
"Hentikan semua omong kosong mu, aku tidak mengerti maksud mu. Serahkan kuncinya padaku, aku akan mencari Abigail dan membawanya pergi."
"Kau pikir aku akan membiarkan rencana mu berhasil. Sayang sekali, sepertinya aku berubah pikiran sayang. Aku ingin menikahi mu!" Keenan berkata dengan suara rendah. Sangat menakutkan.
__ADS_1
"Tapi aku menolaknya!"
"Aku tidak butuh persetujuan mu!" sahut Keenan cepat. "Aku mohon berikan kunci pintunya!" kaki Belle sudah sangat lemas sekarang.
Bagaimana bisa pria ini berubah pikiran di detik-detik terakhir. Saat Belle sudah menerima kenyataan dan berusaha bangkit dari Keterpurukan.
Keenam tersenyum smirk, "ambil jika kau bisa." memasukan besi panjang itu kedalam saku celana.
Belle melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tetapi Belle harus segera keluar dari sini dan mencari Abigail. Karena itu Belle memberanikan diri untuk mendekat dan menyusupkan tangan ke dalam saku Keenan.
Jika kalian menganggap Belle tidak tahu malu. Maka kalian benar, harga dirinya telah hilang setelah Keenan mengambil mahkotanya dan memberikan uang sebagai ganti hal bernilai itu. Bukankah itu artinya Belle tidak beda jauh dari pelacur.
Hap! Keenan menarik Belle untuk duduk di atas pangkuannya. Mengapit tubuh Belle dengan kedua tangannya, tidak membiarkan Belle memberontak dan terlepas begitu saja.
“Kau adalah milik ku, jangan berharap bisa menjadi milik orang lain bic*h!” dingin Keenan, menegaskan kata kepemilikan.
“Aku bukan milik mu, aku bebas tidur dan kencan dengan siapapun yang aku inginkan. Siapa kau berani mengatur ku.” ucapnya menantang Keenan secara terang-terangan.
“Aku adalah pemilik mu, sekaligus ayah Abigail sayang. Aku berhak atas dirimu! ” Keenan tersenyum smirk penuh ancaman.
"Karena itu kita akan menikah nanti, tapi biarkan aku merasakan tubuh indah mu ini sekali lagi!" Keenan mendorong Belle ke atas ranjang dan menindihnya.
"Bersiaplah, aku akan menghukum mu karena sudah berani bersanding dengan pria lain sayang!"
...🦋🦋🦋🦋...
“Grace apa kau melihat Belle?” tanya Michael.
“Tadi dia bersamamu, kenapa malah bertanya padaku?” Grace bertanya balik, mendelik menatap laki-laki itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Bukan karena tertarik, tapi ingin menanyakan sesuatu mengenai perasaan.
“Kak Michael, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Apa?”
“Apa kakak mencintai-“
“Baby, kemarilah! aku akan memperkenalkan mu pada rekan bisnis ku. Supaya kau berhenti menuduh ku selingkuh!” suara Damian menyanggah obrolan keduanya.
__ADS_1
Tanpa mendengarkan jawaban Grace, Damian langsung menariknya pergi. Menjauhi Michael yang sebenarnya memang inilah tujuannya. Damian tidak suka Grace mengobrol dengan Michael seolah mereka sudah akrab.
TBC