Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
membuat peringatan


__ADS_3

Satu botol minuman Peter habiskan. Lalu membuang putung rokok terakhirnya dan kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam Mansion.


Peter terdiam sesaat sebelum menaiki tangga, matanya melirik ke arah samping. Dimana sebuah jam besar terpampang dengan jelasnya di atas guci mewah berukuran raksasa.


Senyum miring terbit di kedua ujung bibirnya. Malam semakin larut, Rachel mungkin telah tertidur kini.


Waktunya beraksi, diam-diam Peter menyelinap masuk kedalam. Untung saja Rachel lupa mengunci pintu. Hal ini semakin mempermudah akses.


Dengan santainya Peter berjalan mendekat ke arah ranjang. Di mana seorang wanita cantik tengah tidur nyenyak.


Peter menatap Rachel dengan tatapan kagum, penuh cinta. Ia melepaskan kemejanya, lalu naik keatas ranjang. Sebelum berbaring Peter membenahi selimut Rachel.


"Selamat malam, my little girl!" mencium dahi Rachel sekilas, sebelum akhirnya berbaring dengan nyaman.


Peter berbalik menghadap Rachel, melingkarkan tangannya, memeluk dengan erat. Rachel sempat melenguh lirih, namun kehangatan tercipta dan membuatnya merasa nyaman.


...🍁🍁🍁🍁...


Keramaian terjadi pagi ini. Rachel bertengkar dengan Peter kala memergoki suaminya itu tidur sambil memeluk tubuhnya. Padahal Rachel tak berniat memaafkan Peter tanpa memberinya hukuman.


Namun, Peter dengan santainya mengorek telinga dan pergi ke kantor tanpa memperdulikan ocehannya. Kesal, tentu saja namun kekesalan itu semakin menjadi-jadi tatkala Rain datang ke mansion untuk mencari Peter.


"Dimana Peter?" pertanyaan yang sama kembali terlontar. Bukannya menjawab, Rachel malah asik menikmati secangkir teh herbal. Sesekali ia melemparkan tatapan tajam pada Rain.


"Hei! aku bertanya pada mu, bodoh!" marah Rain. Mulut merah ronanya mengatai Rachel.


"Aku tidak tahu, kau bilang kau kekasihnya kan. Lalu kenapa tidak kau cari saja dia. Kenapa malah bertanya padaku!" Rain memutar bola matanya.


Muak dengan Rachel. Ayolah, mereka sangat berbeda jauh. Rain lebih muda, Peter tidak mungkin tidak terpincut.


"Kau istrinya, kau pasti tahu kemana suami mu itu pergi!" masih menggebu. Tidak suka berkata lembut pada saingan.


"Tepat sekali! aku istrinya, hidupnya, tentu saja aku juga kekasihnya. Lalu, kenapa wanita asing seperti mu datang dan menanyakan keberadaan suami orang?" potong Rachel cepat.


Ucapannya bagaikan tombak runcing, langsung menancap tepat pada sasaran. "Aku ingin meminta pertanggungjawabannya, apa itu salah?"


Rachel tersenyum remeh, "Pria lain yang menghamili mu, kenapa suami ku yang kau mintai pertanggungjawaban!" ujarnya sinis.


"Tutup mulut mu jaalang!"


"Kau yang jalaang, berhenti menggoda suami ku atau aku sendiri yang akan melenyapkan mu!" sahut Rachel memotong. Mengancam. Matanya sedikit memerah karena marah.

__ADS_1


"Kau..!"


"Apa?" desis Rachel ngegas. Benci melihat wanita gatal seperti Rain.


"Aku akan merebut kembali apa yang sudah menjadi milik ku!" mengulurkan jari telunjuknya. Berkata dengan penuh tekad.


"Silahkan, aku ingin lihat sejauh mana kau berusaha!" tidak merasa takut sekalipun. Rachel malah balik menantang.


"Lihat saja nanti!"


Byur! Rachel menyiram Rain dengan teh herbalnya. Melihat tingkah murahan Rain membuat Rachel jijik. Tadinya ia merasa kasihan.


Tapi setelah mendengar ucapan Rain beberapa saat yang lalu, rasa kasihan itu berubah menjadi kebencian yang amat besar.


"Ups! maaf, tangan ku terpeleset!" padahal jelas-jelas Rachel sengaja menyiram Rain.


"Cih! aku akan kembali jalaang!" Rain meraih tas selempang nya, lalu berjalan cepat meninggalkan Rachel sendirian.


"Perlukah aku menyambut mu, hei jangan pergi dulu. Dengarkan aku jalaang!" Rachel terkikik geli kala melihat rain pergi dengan wajah kesal.


"Akhirnya lalat pengganggu itu pergi!" Rachel menarik selembar tisu, mengusap telapak tangan yang terkena percikan teh herbal tadi.


Sebelum pergi Rachel menyuruh Dasha menyiapkan beberapa makanan yang terbuat dari stroberi. Rachel ingin makan itu.


...🍁🍁🍁🍁...


Sementara itu Peter dan Keenan disibukkan dengan pekerjaan kantor. Belum sehari Keenan cuti, Peter malah menyuruhnya datang. Belum lagi misi yang harus mereka laksanakan malam ini. Transaksi yang hampir tertunda karena lupa.


Nanti, saat semua orang beristirahat. Peter dan anggota mafianya beraksi. “Semuanya sudah siap?” Tanya Peter tapa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


Peter terlihat semakin tampan dengan kacamata kotak. Terlihat sangat manis, sampai membuat orang mimisan.


“Iya tuan, saya sudah memberi instruksi pada Cristian agar menyiapkan keperluan transaksi malam ini.” terlalu sibuk dengan tumpukan kertas, Keenan menjawab tanpa menoleh.


“Baiklah, sementara itu jangan datang ke mansion sebelum aku memerintahkan mu lewat pesan singkat!” membubuhkan tanda tangan pada bagian belakang proposal setelah selesai membaca dokumen elektronik.


“Baik tuan!”


“Oh ya, bagaimana dengan perusahaan Kenzo, anda menerima proposal mereka. Namun, tak memberi kepastian pada kerja sama ini.” mendengar nama Kenzo, Peter menghentikan semua pergerakan.


Melepaskan kacamata, lalu menatap Keenan datar. Sial dia lupa, sudah dua bulan Peter tak memberi kabar. Namun, anehnya Kenzo juga tak menghubungi pihak sini.

__ADS_1


Sebenarnya Kenzo berniat bekerja sama atau tidak. Peter tidak menghubungi pihak sana karena disini Peter berperan sebagai investor. Tentu saja pihak sanalah yang harus menghubunginya lebih dulu.


“Biarkan, aku ingin lihat sebesar apa usaha dan niat mereka!” Peter memakai kacamatanya kembali dan memeriksa dokumen lagi.


Semua laporan ini harus selesai sebelum jam dua, setelah itu tiga rapat harus Peter hadiri. Lelah, tapi ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai pemimpin sekaligus pemilik perusahaan. Keuntungan yang perusahan dapat pun sangat besar.


Asal semua proyek berjalan lancar dan mengembalikan modal yang perusahan keluarkan. Peter sudah senang. Bahkan memberikan bonus pada karyawan meskipun tidak mendapat keuntungan.


Peter tahu semua karyawan yang bekerja di sini berasal dari kalangan bawah menengah. Namun, mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Semacam simbiosis mutualisme. Peter mendapat ide brilian dari otak encer mereka sedangkan Peter memperbaiki ekonomi mereka.Tak heran jika semua pegawai Granvinea betah dan menjadi kaya raya dalam waktu singkat.


...🍁🍁🍁🍁...


Tok! tok! tok! ketukan pintu berulang kali membuat Keenan berdecak sebaliknya, lalu berdiri dan membuka pintu besar itu. "Maaf mengganggu waktu kalian, Tuan. Tapi di lantai bawah seorang wanita mengamuk dan memaksa untuk bertemu dengan Mr. Abbey!”


Bawahan Keenan datang melapor. Wajahnya pucat pasi, takut di marahi karena tidak bisa menangani masalah kecil ini.


“Siapa?” Tanya Keenan datar. Ingin menampar wajah bawahannya itu. Jika hal sepele saja tidak bisa dia tangani dengan benar. Lalu, bagaimana dia bisa menghandle masalah besar.


“Saya tidak mengenalnya, Tuan! wanita itu bilang dia kekasih Mr. Abbey. Jadi saya tidak berani mengusirnya!” menunduk takut. Sadar telah melakukan kesalahan besar.


“Bodoh! tuan Peter sudah menikah, bagaimana bisa kau lupa!” tegas Keenan, tekanan besar semakin terasa di luar ruangan itu.


Staf yang melaporkan tak bisa berkata-kata. Hanya bisa mengumpat dan merutuki kebodohannya dalam hati. Tamat sudah riwayatnya. Bukan hanya di pecat. Namun, namanya bisa berada di daftar hitam perusahaan setelah ini.


“Ada apa?” entah sejak kapan Peter mendengar pembicaraan mereka. Tiba-tiba peter sudah berdiri saja di belakang mereka.


“Pergilah, temui aku setelah masalah ini selesai!” staf tersebut mengangguk paham, lalu membungkuk singkat sebelum akhirnya pergi dengan langkah cepat.


“Tuan, sepertinya nona Rain datang dan membuat kekacauan!” ujarnya melapor. Peter Nampak satai, namun tidak bisa di pungkiri Peter takut Rain berbuat nekat dan menghancurkan rumah tangganya.


Selama ini Peter masih diam dan mentolerir sikap Rain karena hubungan lama mereka. Tapi jika Rain menyakiti Rachel, Peter mastikan Rain akan mati di tangannya sendiri.


“Suruh dia masuk!”


“Tapi tuan…”


“Suruh dia masuk Kee, aku ingin membuat peringatan untuk yang terakhir kali!” Peter kembali duduk di kursi kebesarannya. Menyuruh Keenan yang masih diam agar segera pergi lewat isyarat mata.


TBC


 

__ADS_1


__ADS_2