Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Tragedi 30 tahun yang lalu


__ADS_3

Plak! Rachel mendaratkan bogeman pada bahu lebar Peter. Pria itu menggeram, mengusap bahunya yang terasa sakit. "Lucu sekali, kau pikir aku percaya?" tanya Rachel garang.


Peter menghela napas, sepertinya tuhan mengembalikan otak kecil Rachel. Gagal sudah rencananya untuk meminta jatah setiap malam dengan dalih menyenangkan sang ayah.


"Aku serius, Re!" sarkas Peter. Masih mencoba mendorong Rachel kedalam perangkapnya.


"Aku tahu ini akal-akalan mu saja kan? kali ini kau tidak bisa membodohi ku!" jengah Rachel, menatap Peter sinis. Meremehkan.


"Begitu mendengar cerita ku ini, aku pastikan kau langsung percaya!" Peter memancing rasa penasaran Rachel.


"Cerita apa?" seperti yang Peter kira. Rachel suka menggibah. Apalagi jika menyangkut ayah mertuanya.


"Kau tahukan, keluarga ku sangat menghargai anak perempuan. Terutama ayah ku, dia begitu menginginkan seorang putri kecil yang manis!" Rachel mendengarkan dengan serius.


"Lalu?"


"Suatu hari ibu ku di nyatakan hamil tiga bulan. Dan kau tahu bagaimana reaksi ayah ku?" Rachel menggeleng, menatap Peter penasaran. Terbawa suasana mencengkam. Ingin rasanya Peter tertawa sekarang.


"Tentu saja senang, dia bahkan membuat pesta megah yang meriah. Tak lupa memberikan bantuan pada semua panti asuhan yang ada di kota Las Vegas." Rachel melongo, mulai menghitung jumlah panti asuhan dengan jari-jemarinya.


"Ayah tidak pernah menuntut kemauannya pada ibu ku. Tapi ibu tau, dia menginginkan seorang putri untuk di kasihani dan di sayangi." Rachel terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali membuka suara. Bertanya.


"Tapi kenapa, hanya kau saja yang terlahir ke dunia ini?" tanya dokter Rachel. Raut muka Peter berubah kecut. "Itu karena ibu ku tidak bisa mengandung lagi setelah insiden kecelakaan itu!" Rachel melebarkan matanya, menatap Peter dengan tatapan tidak percaya.


"Kecelakaan?" Peter mengangguk.


"Kalau boleh tau, insiden apa?" tanya Rachel lagi.


"Saat itu, ayah masih menjabat sebagai pemimpin Gold Lion. Tentu menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Berbagai macam bahaya datang menghampiri, tak terkecuali di hari libur."


"Ayah mengajak ibu pergi berlibur, saat itu ibuku tengah hamil besar. Di tengah perjalanan, mereka mengalami kecelakaan karena salah satu musuh menyamar dan menyelundup masuk kedalam mansion. Dia menyabotase mobil yang di tumpangi ayah dan ibu." sesulit itukah menjadi seorang pemimpin. Rachel jadi bersalah telah melarang Peter membunuh musuh yang sekejam iblis itu.


"Jika di lihat dari ekspresi ayah mertua ku itu, sepertinya dia sangat menyayangi mu!"


"Tentu saja, aku merupakan harta benda paling berharganya. Aku keturunan tunggal, tentu saja dia sangat menyayangi ku!" bangga Peter. Hidungnya memekar saat membanggakan diri.


"Sombong sekali, aku akan menggantikan mu nanti!"cibir Rachel kesal. Di dunia ini tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang Darion.

__ADS_1


"Caranya?" Peter tersenyum smirk, mengingat rencananya mulai mendekati kata berhasil.


"Aku akan memberikan cucu perempuan!" Rachel tersenyum bangga, merasa dialah pemenang pertandingan ini. Tidak sadar, Rachel mendorong dirinya sendiri masuk kedalam perangkap Peter.


Kena kau!


Ucapan syukur Peter katakan berulang kali dalam hati. Berterima kasih kepada Tuhan karena tak mengembalikan kepintaran seorang Rachel.


Setelah mengucapkan keputusannya, Rachel tiba-tiba terdiam. Menggosokkan kedua ibu jarinya satu sama lain. Peter yang melihat gerakan itu tahu Rachel tengah dilanda perasaan gugup.


"Kenapa?" menggenggam tangan Rachel, menyalurkan kehangatannya.


"Apa aku bisa melahirkan seorang putri, nanti?" tanya Rachel polos. Rasanya Rachel menyerah, mengingat sudah memasuki bulan keenam semenjak pernikahan mereka. Namun, tidak ada kabar baik yang datang menghampiri.


Jangan-jangan aku tidak bisa mengandung?


Pikiran-pikiran buruk terlintas dalam bayangan Rachel. Raut mukanya mengerut, takut bercampur sedih. "Bersabarlah sayang, Tuhan tidak buta ataupun tuli. Dia pasti melihat dan mendengar doa-doa mu itu. Yang terpenting kita sudah berusaha dengan semaksimal mungkin!" apa ini Peter yang tidak punya agama berbicara tentang doa dan kepercayaan.


"Bagaimana jika aku melahirkan anak laki-laki?"


"Tetapi tenaga ku selalu terkuras karena mengimbangi mu!" keluh Rachel dengan wajah polos imutnya. Siapa sangka tanpa sengaja Rachel memancing gairah suaminya dengan menggunakan wajah tersebut.


"Jadi itu masalah mu, baiklah kau diam dan desa*kan namaku. Biar aku yang bekerja!" Peter menarik kedua ujung bibirnya membentuk seutas senyuman tipis. Menghanyutkan.


"Saran yang bagus, bagaimana jika kita memulainya malam ini!" tuhan bisakah Peter tertawa sekarang. Rachel begitu polos dan mudah di bodohi. Pertanyaan macam apa itu, kepolosan Rachel benar-benar menguntungkan Peter.


Damn! aku tidak sabar mengungkungnya di bawah ku. Batin Peter mengulas senyum kemenangan. Merasa rencananya berjalan mulus.


Drtt...drtt...drtt


Peter menatap ponselnya terperanjat. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Damian.


"Biarkan saja!" Peter melemparkan ponselnya ke samping. "Angkat saja, siapa tahu itu penting!" suruh Rachel, tanpa menunggu lagi Peter mengangkatnya.


"Apa?" ketus Peter, tidak senang momen bulan madunya terganggu. Rachel yang berada di samping Peter terkekeh, wanita itu meraih jagung mentah dan membakarnya di atas perapian seraya menunggu suaminya selesai.


"Santai dude, aku hanya ingin menanyakan keberadaan mu sekarang!" seru Damian datar.

__ADS_1


Sebenarnya Damian malas menghubungi Peter, tapi karena Grace terus menanyakan dan enggan memberi jatah. Dia jadi terpaksa menghubungi Peter.


"Aku ada di Cappadocia, berbulan madu bersama istri ku! kenapa, apa kau membutuhkan bantuan ku lagi?" bertanya dengan nada meremehkan. Semenjak pelarian Grace, Peter selalu meremehkan kekuasaan dan kecerdasan Damian.


"Sudah ku bilang, aku hanya ingin menanyakan keberadaan mu saja!"


"Ck, tidak penting sekali!" malas Peter, melirik Rachel sekilas. Mengawasi kegiatan wanita itu.


"Mendengar nada bicara mu, sepertinya aku mengganggu waktu kalian!" Damian menyadari kesalahannya, tetapi juga menertawakannya.


"Sadar diri juga kau! kalau sudah tahu, aku tutup teleponnya!" Peter hendak mematikan sambungan, namun sebuah teriakan keras membuatnya mengurungkan niat.


"Tunggu! aku ingin mengatakan sesuatu, Sialan!" geram Damian ngegas. Marah karena tak di hiraukan Peter.


"Cih, kalau begitu cepat katakan. Tidak usah berbasa-basi, membuatku muak saja!" cibir Peter malas. Rachel melirik Peter, mencoba menguping sembari memakan jagung bakarnya yang sudah matang.


"Grace tahu, Keenan orang yang menghamili Belle!" Peter membulatkan mata. Berdehem singkat menyingkirkan segala rasa keterkejutannya.


"Apa! bagaimana bisa?"


"Aku memberitahunya!" sudah Peter duga, Damian merupakan akar dari masalah ini.


"Cepat pulang! aku tidak ingin Grace marah dan mengabaikan ku nanti!" Damian tertawa konyol, padahal tidak ada yang lucu di sini.


"Cih, dasar budak cinta gila!" Peter berdecak berulangkali, malas membahas kegilaan sepupunya itu. "Sudah?" tanya Peter. Damian menghentikan tawanya.


"Aku akan juga ingin memberitahukan bahwa Ara akan bertunangan besok!" Peter menganga. Perlahan menggerakkan jari jemarinya untuk menggorek telinga. Memastikan jika pendengarannya baik-baik saja.


"Kau serius?"


"Kau pikir, aku bercanda?"


"Dengan siapa?" Peter mengubah raut wajahnya menjadi serius.


"Steven!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2