Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Wanita nakal


__ADS_3

"Benarkah, bahkan soal kehamilan mu itu?" tukas Peter membuat Rachel diam tak berkutik. Wanita itu nampak membulatkan matanya lebar-lebar. Terkejut.


Deg! deg! deg! jantungnya berdetak kencang. Tidak sesuai tempo biasanya. Rachel tengah gugup sekarang. Ayolah, siapa yang tidak gugup saat rahasia terbesar mu di ketahui semua orang.


Rachel sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi semuanya. Lalu, bagaimana bisa Peter mengetahuinya.


"Bagaimana bisa kau tahu aku sedang hamil? apa dokter yang mommy kirim memberitahu mu!" bukannya menjawab Rachel malah bertanya balik.


Peter tersenyum miring, benar dugaannya Rachel sengaja merahasiakan kabar membahagiakan ini darinya. "Jadi dokter tua itu bekerja sama dengan mu?" Peter mendekati Rachel, membuat wanita itu gelagapan sendiri.


"Jangan salahkan dia, aku yang memintanya menyembunyikan kabar bahagia ini!" lirih Rachel. Tak mau dokter tua yang baik hati itu terkena imbas.


"Tapi dia berani mengkhianati ku, sayang. Sebaiknya aku apakan dia, memecatnya atau membunuhnya?" Rachel membulatkan mata, bibirnya sedikit menganga. Terkejut.


"Peter! jangan apa-apakan dia. Aku mohon!" Rachel menggenggam satu tangan kekar Peter dengan kedua tangannya. Tubuhnya terasa tegang sekarang


"Kenapa, apa peduli mu?" Peter menghempaskan tangan Rachel dan duduk bersendekap dada di atas ranjang.


"Karena dia baik dan mau membantu ku menjalankan rencana!" Rachel berdiri dengan kepala tertunduk. Merasa bersalah.


"Rencana?" Peter bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya. Rachel mengangguk berulang kali. Mengakui.


"Rencana apa?" tanya Peter bingung. Menatap Rachel dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Sebenarnya, aku ingin memberi mu kejutan di hari ulang tahun mu. Dengan memberitahukan kabar ini sebagai hadiah. Tapi sayangnya kau sudah tahu terlebih dulu!" Rachel mengerucutkan bibitnya gemas.


"Jadi istri ku ingin memberi ku sebuah kejutan hm?" Peter menarik Rachel agar duduk di atas pangkuannya.


"Ya, tapi kau menggagalkan rencana ku!" gumam Rachel kesal. Peter tergelak kecil, lalu mengendus leher harum Rachel.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu jika aku sedang hamil?" tanya Rachel kini. Peter masih nyaman menenggelamkan wajahnya di antara pundak Rachel. Tentu saja membuat Rachel risih, namun wanita itu diam dan membiarkan.


"Sewaktu tiba di Milan kau sangat lemas. Karena panik aku menyuruh seseorang memanggil dokter. Dan setelah memeriksa mu, dokter itu memberitahu ku soal kehamilan mu!" ucap Peter menjelaskan.


Mendengar penjelasan suami membuat hati kecilnya merasa bersalah kini. Karena menuduh dokter tua yang baik hati itu dengan tuduhan yang tidak-tidak.


"Karena mu semua rencana yang ku susun dengan rapi jadi gagal!" keluh Rachel lagi. Padahal Rachel sudah sangat antusias mengejutkan Peter dengan hadiah dan pesta kejutannya.


"Tidak ada yang gagal dengan rencana mu, sayang! meskipun bukan di hari ulang tahun ku, tetap saja aku sangat terkejut saat mengetahui kau sedang mengandung!" seru Peter semakin menenggelamkan wajahnya ke cerucuk leher Rachel.


Menciumi leher jenjang nan putih itu. Meninggal beberapa tanda kepemilikan yang ketara. "Tetap saja, aku tidak merasa puas!"


Rachel kembali membuka suara menjawab. Tangannya bergerak ke belakang, berusaha untuk menyingkirkan Peter dari lehernya.


"Kau mau aku puaskan hm?" Peter berbisik kemudian mengigit kecil daun telinga Rachel. Entah kenapa pertanyaan Peter terdengar ambigu di telinga Rachel. Pasti kalian tahu sudah semerah apa wajah Rachel sekarang. Wanita itu jadi tersipu dalam sekejap.


Namun, begitu mengingat penolakan yang Peter katakan di pesawat. Seketika membuat amarah Rachel meradang. Rachel berdiri dari pangkuan sang suami. Membuat Peter yang awalnya bersandar pada tubuhnya dengan nyaman, langsung jatuh tersungkur ke bawah.


"Kau membuat ku terjatuh baby!" Peter menatap Rachel datar. Ingin sekali Peter menerkam wanita itu dan mencabik-cabiknya sampai puas sekarang.


"Itu salah mu!"


"Salah sendiri menolak ku saat kita berada di pesawat. Sekarang sok-sokan mau merayu. Intinya aku tidak mau memberi mu jatah!" Rachel berkata dengan cepat tanpa jeda. Lihat ini, wanita hamil memang terlalu sensitif.


"Aku tidak bermaksud menolak mu, sayang! hanya saja aku belum berkonsultasi dengan dokter pribadi kita, apakah di usia kehamilan mu sekarang boleh berhubungan badan atau tidak. Aku tidak ingin mengambil resiko apapun itu!" Peter berdiri dari atas karpet. Lalu duduk di kasur dan kembali memasang gaya sok coolnya.


"Apa hubungannya kehamilan dengan bersetubuh?" tanya Rachel polos. Oh God, wanita ini terlalu lugu untuk gadis seumurannya.


"Aku juga tidak tahu kenapa, tetapi sepupu ku bilang saat kakak ipar hamil tiga bulan dokter kerjaan itu melarangnya berhubungan badan!" Peter bercerita sembari melirik ke atas. Mengingat-ngingat.

__ADS_1


Mendengar cerita sang suami, mata bawah Rachel berkedut. "Benarkah?" tanyanya dengan wajah cengo. Peter tak menjawab hanya mengangguk beberapa kali sebagai jawaban.


"Tapi si Damian tetap memperkosa sahabat ku kan?" desis Rachel menggunjing. Faktanya hamil atau tidak kedua pria itu sama-sama menuntut kebutuhan biologis pada istri masing-masing.


Apalagi si pedofil itu, pasti Grace tersiksa hidup satu atap bersama Damian. Apalagi Damian lah yang mendominasi pernikahannya itu. Dan sampai sekarang Rachel masih tidak menyukai Damian. Rachel masih tidak rela, Grace menikah dengan Damian.


"Tahukah kamu, saat bibir ini menggunjing seseorang. Membuat mu terlihat **** di mata ku, sayang. Rasanya aku ingin melahap mu sekarang!" ujar Peter menatap Rachel bak menatap santapan lezat.


"Aku tidak mau melayani mu!" sarkas Rachel santai. Membuat Peter tak terima.


"Aku tidak butuh persetujuan mu. Asal kau tahu sayang, begitu kau menikah dengan ku. Semua yang kau miliki adalah milikku. Dan peraturan ini berlaku untuk ku juga!"


Tanpa banyak bicara lagi, Peter menarik Rachel dan keduanya jatuh di atas ranjang dengan posisi intim. Keduanya saling bertatapan seolah tatapan itu saling menelisik masuk kedalam mencari sesuatu yang terpendam. Keduanya tak sadar bahwa jarak di antara mereka telah terkikis habis.


Cup! cup! cup! cup! Peter menciumi seluruh bagian wajah Rachel sebelum akhirnya berakhir di bibir. Peter melumaat benda kenyal itu dengan sangat lama dan penuh tuntutan.


"Katanya mau berkonsultasi?" seru Rachel di sela-sela kegiatan mereka. Dan benar saja ucapannya barusan berhasil membuat Peter menghentikan kegiatannya.


"Damn! adik kecil ku sangat menginginkan sarang hangat mu sekarang!" kesal Peter berusaha menjauhkan diri. Namun, Rachel menahan tangannya sambil tergelak kecil.


"Kalau begitu lanjutkan saja!" bisik Rachel dengan suara dan tatan menggoda. Seolah rela di habisi oleh sang suami saat ini juga.


"Dasar wanita nakal!" Peter tersenyum kecil sebelum akhirnya kembali menyambar bibir manis itu. "Tapi kau suka dengan wanita nakal ini kan?" Rachel mengedipkan mata.


Ekspresi Rachel justru membangkitkan gairah Peter. Pria itu mulai menjamah lekuk tubuh sang istri. Hingga membuat Rachel merintih dan merasakan sensasi aneh.


"Biarkan aku memberi mu pelajaran wanita nakal!"


dan ya pasti kalian tahu apa yang terjadi pada pasangan abnormal itu selanjutnya. Siang hari yang di mulai dengan kegiatan panas.

__ADS_1


TBC


__ADS_2