
"Saya masih waras nona!" membantah. Tidak suka di katai gila. Faktanya Keenan memang tidak gila hanya sedikit tidak waras karena rasa cintanya pada putri dan istrinya yang begitu besar.
Memang untuk orang seukuran Keenan sudah masuk kedalam daftar ayah idaman. Tapi bukan berarti Keenan bisa mendadani Abigail seperti badut. Dasar sekertaris sialan.
Sementara itu Belle sibuk mengeluarkan semua makanan. Tidak mempedulikan perdebatan yang terjadi antara Rachel dan Keenan. Kedua orang itu tidak akan pernah akur. Belle tahu itu, maka dari itu Belle tidak mau melerai atau menghentikan mereka.
"Sudah selesai berdebat?" tanya Belle pada Rachel yang sibuk menggendong Abigail. Rachel dan Keenan saling melemparkan tatapan permusuhan. Namun, mereka menghentikan ocehannya karena dokter masuk dan menyuruh mereka diam.
"Sekarang berikan ini pada suami mu!" tambahnya. Menyerahkan bubur dan daging bakar super lezat. Masakan Belle tidak ada duanya.
"Dokter menyuruh Peter untuk berpuasa selama dua puluh empat jam kak!" seru Rachel. memberitahu. Tetap mengambil bubur itu dan melahapnya dengan cepat. Sangat nikmat.
"Benarkah? padahal aku memasak banyak makanan dengan porsi yang cukup besar!" sahut Belle.
Rachel sendiri kebingungan saat mengedarkan pandangan ke meja kamar. Ada steak sapi, pasta, kari ayam, pancake, chicken cordon, macaroni, sosis bakar. Siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini.
"Mudah saja, panggil Cristian untuk bergabung bersama kita!" saran Rachel dan langsung di setujui Belle.
"Kee! panggil Cristian untuk bergabung bersama kita!" pinta Belle. Membuat Keenan kepanasan seolah terbakar oleh api cemburu. Dasar psikopat gila, begitu saja sudah cemburu buta.
Tanpa menjawab Keenan beranjak dari sofa. Berjalan. mendekati pintu dan berteriak memanggil Cristian.
"Tian, ayo makan bersama!" ajak Rachel melambaikan tangan. Cristian menoleh ke arah Peter dan Keenan secara bergantian. Takut kedua orang itu tidak mengizinkan.
"Masuk saja, tidak usah mempedulikan pria-pria kejam itu!" suara Rachel menyahut. Seolah tahu Cristian tengah ketakutan.
"Baik nona!" Cristian duduk menjauhi dua wanita itu. Bisa-bisa dia menjadi santapan Peter dan Keenan setelah makan-makan.
Keenan kembali duduk di samping Belle. Merangkul bahu dan menatap takjub akan kecantikan yang Belle miliki. "Berhenti menatap ku dan makanlah!" menegur. Malu di lihat Rachel.
"Aku rasa tangan Keenan patah, mungkin sebaiknya kau suapi dia kak!" hentikan, dari mana ide gila itu muncul. Tidak bisakah Rachel diam walau hanya sedetik saja.
__ADS_1
"Omong kosong, tangan Keenan baik-baik saja!" sarkas Belle menanggapi. Tidak paham situasi. Bahkan tidak melirik sedikitpun ke samping. Fokus melahap. makannya.
"Ayolah kak, aku tahu sebenarnya Keenan ingin di suapi tapi dia gengsi dan tidak mau mengatakannya!" Rachel berucap seraya menaik turunkan alisnya. Menggoda Keenan yang menampakkan wajah datar.
"Benarkah?" Belle menoleh ke samping, bertanya untuk memastikan. Namun, Keenan hanya diam dan berdehem singkat.
"Kalau begitu buka mulut mu!" Keenan mengulas senyum tipis, bersikap patuh dan membuka mulutnya lebar.
Cristian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedikit menyesal bergabung bersama dua pasangan bucin itu. Di sini dia menjadi obat nyamuk. Belum lagi dari arah belakang, Peter melemparkan tatapan tajam. Cristian merasa tertekan.
"Sebentar-sebentar, aku akan mengambil gambar kalian sebagai kenang-kenangan!" Rachel mengambil ponselnya yang terletak di samping ranjang Peter.
"Tolong bawa Abigail sebentar!" mendadak menyerahkan Abigail pada Cristian, membuat Cristian terperanjat kaget karena belum bersiap-siap.
"Tapi nona.. "
"Sudah tidak papa, Abigail tidak akan menggigit mu!" ujar Rachel di iringi tawa renyah.
Alhasil, keempat orang itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Rachel asik mengambil gambar sedangkan Keenan dan Belle menjadi model dadakan. Anehnya Keenan tidak menolak malah berpose seolah dia model profesional.
Cristian, pria itu repot menggendong Abigail. Untungnya Abigail mudah dekat dengan orang asing. Bahkan Abigail menempel pada Cristian sekarang.
lain halnya di belakang sana, terlihat Peter menahan amarah. Bukan hanya tidak bisa makan, tetapi dia juga tidak bisa memukul kepala sekumpulan orang bodoh itu. Sialan, mereka tidak mengingat penderitaan Peter.
Bahkan tidak memikirkan dirinya yang harus berpuasa selama sehari penuh. Mereka tertawa dan bercanda juga menikmati makanan seolah tidak terpengaruh oleh keberadaannya.
"Seandainya Grace ada di sini pasti lebih seru!" kata Rachel berangan-angan. Belle mengangguk setuju, mengingat Grace merupakan gadis periang yang gampang mencairkan suasana dulu.
Brak! Tiba-tiba pintu terbuka, memunculkan sosok wanita yang baru saja di bicarakan. Semuanya menatap Grace cengo tatkala mendapati wanita itu datang membawa berbagai macam makanan dan buah-buahan.
Hei, ini rumah sakit bukan tempat piknik. Bagaimana bisa mereka mengadakan pesta di rumah sakit. Memang tidak ada yang melarang karena dokter dan pegawai rumah sakit takut terkena ancaman.
__ADS_1
Tetapi bukankan ini sedikit berlebihan. Makanan yang di bawa Belle tadi saja masih banyak. Di tambah dengan makanan yang dibawa Grace.
"Aku datang!" serunya. Berjalan cepat ke arah Rachel dan Belle. Memeluk mereka secara bergantian. Panjang umur, padahal baru saja Rachel membicarakan Grace. Dan Grace sudah ada di depan pintu kini.
"Kau datang sendiri Grace?" Rachel bertanya setelah melepaskan pelukannya. Grace Grace menggelengkan kepalanya cepat lantas menjawab,"aku datang bersama yang mulia raja."
tidak lama setelah percakapan itu, Demian masuk ke dalam kamar sambil menggendong Xavier. begitu melihat Cristian, Damian menyunggingkan bibir. Tersenyum miring.
"Bawa dia juga!" titahnya. Menatap Cristian dingin seolah berkata jangan membantah ku atau kau akan kehilangan nyawamu.
Sial apalagi ini! apa mereka pikir aku tempat penitipan anak. Batin Cristian terus mengeluh.
Cristian tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Dia tidak cukup punya keberanian untuk menolak, tahu Damian juga sama menakutkannya seperti Peter dan Keenan.
"Hei, jangan menyusahkan anak orang. Lihat dia, sudah kewalahan membawa Abigail." Grace memotong percakapan keduanya. Kepekaan Grace membuat Cristian senang bukan main.
Grace mengulas senyum tipis, sebagai pertanda jika dia menyapa. Grace mengambil mengulurkan kedua tangannya. "Berikan pada ku!" pintanya dengan suara lembut.
Cristian tersenyum ramah, lantas mengembalikan Xavier pada ibunya. Batinnya tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih karena kemurahan hati Grace.
"Anda baik sekali nona!" puji Cristian dengan suara lirih. Hampir seperti bisikan. Tidak ingin Damian mendengar pujian itu.
"Benarkah, aku jadi kasihan padamu. Bagaimana bisa kau terjebak di tengah-tengah lingkaran Orang-orang aneh seperti mereka?" Grace mengajak Cristian bercanda.
Inilah maksud Rachel. Dengan mudah Grace bisa membuat orang nyaman dalam waktu singkat. "Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa bergabung dengan orang-orang seperti mereka. Tapi, apa anda lupa, anda sudah menikahi salah satu dari mereka?"
Seketika Grace dan Cristian tertawa lepas. Lupa dengan keberadaan Damian. Tidak sadar semua tatapan tertuju pada mereka kini.
"Apa yang kalian bicarakan?"
TBC
__ADS_1