Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Milan


__ADS_3

Pagi ini, Peter dan Rachel pergi ke Milan untuk menghadiri acara pernikahan Ara dan Steven. Sedikit kesal, mengingat Keenan datang di pagi buta dan membangunkan mereka saat langit masih bewarna gelap.


Alhasil mau tidak mau Peter dan Rachel bangun dari tidurnya. Membersihkan diri dan pergi Bersiap-siap.


Perdebatan semalam membuat Rachel lupa akan kehamilannya. Kini matanya terus menatap sang suami yang terlihat tampan dengan pakaian serba hitam. Ingin mengatakan kabar baik itu, tetapi Rachel menunggu waktu yang tepat.


Hari ulang tahun Peter tinggal lima hari lagi. Rachel akan menyiapkan makan malam romantis dan foto USG sebagai hadiah. Peter pasti senang dan menghujaninya dengan ribuan cinta.


Membayangkan saja membuat Rachel senyum-senyum sendiri. Hal itu membuat Peter takut. Takut jika istrinya dirasuki setan. Entah setan apa yang merasuki sang istri saat ini. Sampai membuat wanita itu tersenyum tanpa henti.


“Hei, ada apa dengan mu?” Tanya Peter seraya melambaikan tangan tepat di depan wajah Rachel.


“Aku memandangi ketampanan suami ku, apa tidak boleh?” jawabnya. Lalu mengedipkan matanya berulang kali, menampilkan raut muka polosnya.


“Damn! Kau sedang menggodaku hm?” Peter mendekatkan wajahnya pada wajah Rachel.


Berusaha mengikis jarak sampai akhirnya hidung mereka saling bersentuhan. Keduanya bertatapan dengan sangat lama. Sampai tak menyadari di belakang sana Keenan duduk sembari memangku Abigail dengan ekspresi datar.


"Daddy!" panggil Abigail pada sang ayah. Dan tentu saja suara cempreng Abigail berhasil meruntuhkan momen kebersamaan Peter dan Rachel. Segera kedua insan itu menjauhkan diri.


"Ya sayang, kau ingin sesuatu?" tanya Keenan sembari membelai rambut lebat Abigail.


"Aku rasa putri mu mengantuk. Bawa dia ke dalam kamar untuk beristirahat!" Peter menyahut tanpa menoleh kebelakang.


Semburat kemerahan tampak terlihat samar di kedua pipinya. Peter malu kepergok berduaan bersama sang istri. Ya, meskipun yang memergoki mereka anak kecil. Tetap saja Peter merasa malu.


"Saya rasa putri saya bukan mengantuk. Baru dua jam kita berada di pesawat. Tidak mungkin Abigail sudah mengantuk sekarang!" sarkas Keenan. Tak membenarkan dalih yang Peter lontarkan.


"Lalu?"


"Sepertinya putri saya muak melihat adegan tidak senonoh kalian!" Keenan menyinyir. Langsung menyindir tanpa ragu.


"Sembarangan, kau ingin ku lemparkan dari sini?" sungutnya marah. Tidak senang dengan perkataan Keenan. Lebih tepatnya sindiran pedas Keenan.


"Saya hanya mengucapkan satu kalimat fakta dan anda langsung marah-marah!" Keenan menyindir tanpa henti. Berharap bosnya itu masuk kedalam kamar beserta sang istri.


Mata Keenan sakit melihat adegan manis itu. "Astaga kau ini, sudahlah bawa saja putri mu masuk dan biarkan aku menikmati hari ku bersama istri ku. Berdua saja!" Kesal Peter. Malas meladeni Keenan.

__ADS_1


Jika dia meladeni asistennya itu, sudah pasti perdebatan ini tidak akan selesai. "Sepertinya andalah yang seharusnya masuk kedalam kamar, tuan!" masih menyela. Tak membiarkan Peter menang begitu saja.


"Ck, kenapa kalian malah berdebat. Jika tidak mau masuk kedalam kamar ya sudah. Biar aku dan Abigail yang menempati kamar itu!" Rachel menghentikan perdebatan antara suami dan bawahan suaminya itu.


Lalu, mengambil Abigail dan menggendongnya masuk kedalam kamar. "Kalian lanjutkan saja perdebatan kalian. Aku dan Abigail akan beristirahat di dalam kamar!" setelah mengucapkan kalimat tersebut. Lantas pintu tertutup.


Tinggal Keenan dan Peter kini. Mereka masih melemparkan tatapan tajam, namun tidak ada yang membuka mulut.


"Temani aku minum!" pinta Peter dan Keenan tak menjawab. Melainkan langsung mengikuti dari belakang.


Pesawat pribadi Peter ini cukup lengkap. Bukan hanya dua kamar dan satu dapur. Namun sebuah bar mini terbangun megah di sini.


"Aku akan meracik minuman untuk mu!" Peter mengambil jeruk nipis, es batu, telur dan cocktail. Di letakkan semua bahan itu di atas meja.


"Ceritakan rencana mu padaku. Mungkin aku bisa membantu mu!" serunya.


Peter mulai mencampur bahan-bahan tersebut sesuai takaran. Lalu mengocok nya dengan cepat.


"Saya menjadikan Michael sebagai objek untuk menekan Elle!"


"Kau mau menculik pria itu?" Keenan mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, saya sudah menemukan tempat yang pas. Setelah anda berhasil membawa pria itu, saya akan mengajak Belle ke sana!"


"Oke, sekarang minum cocktail itu. Aku membuatnya khusus untuk mu!"


"Terimakasih!" Keenan meneguknya sedikit demi sedikit. Awalnya terasa pahit tapi setelah cocktail itu melewati tenggorokan rasanya berubah menjadi manis yang khas.


"Enak?"


"Lumayan!"


"Cih, sia-sia aku membuatkan mu minuman. Kau bahkan tidak bisa memuji dengan benar!" geram Peter.


"Saya menjawab pertanyaan anda dengan jujur tuan!"


"Ya terserah mu. Aku lelah meladeni asisten gila seperti mu!" bukannya marah, Keenan malah terbahak. "Kau menertawakan aku?" tanya Peter. Mencengkram kerah baju Keenan.

__ADS_1


"Tidak tuan! mana berani saya menertawakan majikan saya sendiri!" serunya malas. "aku tahu kau menertawakan aku. Tapi sudahlah lupakan itu!" Peter melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk di samping Keenan.


"Bagaimana dengan rencana kita minggu depan?" kini fokus Peter beralih pada kelompok mafianya. Sudah lama Peter tak beraksi. Ini waktunya Peter kembali ke dunia gelap dan menjalankan semua misi.


"Rencana?" dahinya berkerut tebal akibat terlalu banyak berpikir. "Senjata itu!" ucap Peter mengingatkan.


"Oh, transaksi itu. Saya sudah menyiapkan semuanya tuan." Peter nampak terdiam. Memukul-mukul meja dengan jari telunjuknya.


"Setelah ini, apakah tidak ada misi lagi?"


"Masih ada tuan. Sebenarnya kita mendapat pesanan obat-obatan terlarang dengan jumlah yang cukup besar! itupun jika anda mau!"


Mendengar jawaban Keenan, Peter tampak berpikir. "Oke, aku akan menyiapkan segalanya. Berapa banyak yang mereka butuhkan?"


Untuk apa Peter menolak. Ini adalah bisnis yang menguntungkan. Masalah pembunuhan, memanipulasi trik, Peter menguasai segalanya. Hei, dia mafia bukan abdi negara.


Tentu saja pekerjaannya berhubungan dengan kejahatan. Dan anehnya Peter menikmati pekerjaannya itu.


"Saya belum sempat menanyakan jumlah yang mereka butuhkan. Saya ingin menanyakan masalah ini pada anda dulu. Baru setelah anda setuju, saya akan menghubungi mereka lagi!" jelas Keenan. Memberitahukan secara rinci.


"Seperti biasa kau harus mencari tahu asal usul mereka. Jangan sampai mereka bersiasat dan menipu kita!"


"Baik tuan!"


"Satu lagi, Rachel tidak boleh tahu mengenai misi ini. Aku tidak ingin dia terlibat dalam misi ini. Dan akhirnya jatuh sakit karena kelelahan."


"Baik tuan!"


"Bulan depan aku berniat menjalani program kehamilan bersama Rachel. Jadi jangan sampai dia tahu tentang misi dan markas baru kita!" ucap Peter dan Keenan mengangguk.


"Baik tuan!"


"Sekarang pergi dan istirahat saja. Biarkan Abigail tidur bersama istri ku!" seru Peter sebelum masuk kedalam kamar dan meninggalkan Keenan sendirian.


Pria malang itu tampak putus asa sekarang. Jantungnya berdetak tidak karuan. Perasaan gelisah menyelimuti hati.


"Kenapa aku selalu memikirkannya?" tanya Keenan pada dirinya sendiri. "Bersabarlah Kee, sebentar lagi wanita itu akan menjadi milikmu!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2