Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
Malaikat kecil


__ADS_3

Aku Ciysa Edelhard, panggil saja dengan sebutan cici, aku adalah seorang polwan, menjadi seorang polwan cita cita ku sekaligus mimpi papa yang ingin melihat ku mengenakan pakaian coklat muda berlengan panjang dengan model baju memiliki dua saku di depan, dengan kancing kemeja sebanyak 5 buah, mengenakan celana panjang coklat tua dan mengenakan ikat pinggang hitam berlogo tribata.


Ia ingin aku menjadi seorang yang mandiri, tidak cengeng, kuat dalam menghadapi masalah.


Alasannya adalah aku gadis sedikit tomboy yang menyukai tantangan, suka bertarung.


Visi misiku ialah ingin membasmi pereman pereman yang membuat ricuh dan menyelamatkan remaja remaja sekarang yang menyentuh namanya obat terlarang, mereka lah masa depan negara tercinta ini yang harus kita jaga agar tidak salah pergaulan.


Bedahal nya dengan adik ku yang cantik tentunya lebih feminim.


Aku terlahir dari keluarga yang di bilang berkecukupan. Papa ku bernama kenric Edelhard dan nama bunda ku bernama feren, kata papa ia sudah meninggal saat kami kecil, tapi papa tidak pernah membawa ku ke makam bunda, walaupun aku selalu memaksa nya untuk berziarah selalu ada saja alasan untuk menghindari hal tersebut.


Kini di usia cukup matang bagi seorang wanita yang seharusnya sudah memiliki kekasih, tunangan, menikah bahkan mempunyai anak. Tapi tidak untuk ku yang masih menikmati kehidupan menjelajah menjalankan tugas kesana kemari ataukah nyaman sendiri atau belum mendapatkan pendamping yang cocok sesuai keinginan ku, kini aku seorang Bintara dengan pangkat Ajun inspektur polisi satu (AIPTU),


Saat ini aku mendapat perintah untuk menangkap pengedar obat obat terlarang di Palembang, Sumatera Selatan, kurang lebih 7 jam perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta menuju Palembang.


setiba disana langsung menjalankan misi, Sesuai sumber yang kita dapatkan bahwa tersangka kini ada di salah satu kontrakan nya.


"Kita berhasil mengepung rumah tersangka". Ucap salah satu polisi di balik walkie talkie.


"Baiklah sebagian berjaga di luar sebagian masuk". Jawab Cici.

__ADS_1


Brakkk.


Suara dobrakan pintu.


Setelah masuk Tidak ada siapapun di dalamnya melainkan properti rumah tangga, sepertinya tersangka tidak ada di kontrakan nya melainkan melarikan diri dari jendela belakang.


"Siall". Kesal ku.


3 hari sudah berlalu


Sesuai info ternyata tersangka sudah melarikan diri ke Jakarta. Terpaksa mereka pulang ke Jakarta untuk membuat rencana yang lebih matang.


"Ibuk kenapa?". Tanya Cici.


"Tolong saya buk polwan, perut saya sakit sepertinya mau melahirkan huuhh huuhh" jawab nya dengan ngos-ngosan.


"Baik lah, ayo buk". Sahut nya dengan nada panik seolah rasa penat nya hilang.


Sesampai di rumah sakit, Segera memanggil satpam untuk meminta pertolongan dan segera membawa ibuk tersebut ke dalam. Beberapa menit berlalu terdengarlah suara tangisan bayi.


"Ooeeeekkkk... ooeeeekkkk". Tangisan bayi yang menggema di ruangan itu menandakan telah lahir dengan selamat,

__ADS_1


"Permisi buk" tegurnya melihat Cici duduk di kursi ruang tunggu. "Bayi dan ibu nya selamat jenis kelamin bayi perempuan, apakah anda keluarga pasien?". Sambung dokter.


"Alhamdulillah terimakasih dokter, tidak dok saya hanya menolong ibuk itu saja, bolehkah saya melihat nya dok?". Jawab Cici di jawab anggukan oleh sang dokter.


"CEKLEKK"


"Terimakasih buk polwan telah menolong saya dan anak saya". Ucap wanita tersebut dengan mata berkaca-kaca, melihat Cici masuk.


"Sama sama ibuk" jawab nya sambil melirik malaikat kecil yang menggemaskan. "apakah keluarga anda sudah di beritahu anda melahirkan?".


"Sudah buk, sebentar lagi suami saya akan kemari. Apakah anda ingin mengendong bayiku?"


"Hmmm, masih terlalu kecil aku takut". Jawab nya dengan cengengesan, ia takut menggendong bayi yang masih kecil tulang nya masih sangat rawan.


"Kapan ibuk menyusul memiliki malaikat kecil". ujar wanita itu dengan senyum tulus.


Srettttt perkataan wanita itu membuat Cici terkejut seolah-olah ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya, membuat ia terdiam seribu bahasa.


"Ibuk polwan, maaf saya sudah lancang menanyakan hal pribadi". Ujar wanita tersebut dengan menyesal


"Ti-tidak apa apa, kalau gitu saya permisi dulu". Jawab nya dengan senyum yang di paksa di jawab anggukan.

__ADS_1


__ADS_2