
Disudut kota Marseille tepatnya di sebuah hotel mewah ternama yaitu Sofitel Marseille vieux port. Kota Marseille merupakan kota kedua terbesar di Perancis dan memiliki perpaduan penghuni dan budaya yang beragam.
seorang pria sedang berjalan santai bersama bumil dengan menikmati indah pemandangan taman kota di Marseille.
"hufff... huff, aku sudah lelah dad" ujar bumil muda itu dengan ngos-ngosan.
"kalau gitu duduk Disini aku akan membeli minum" ujar pria muda itu dengan lembut mengelus rambut wanita muda yang sedang hamil itu.
"tapi dad, aku menginginkan eskrim" pinta nya dengan memanyunkan bibirnya.
"mommy Clara ini masih pagi tidak baik minum es nanti sakit" ucap pria lembut agar Clara mengerti.
"please, aku sangat ingin ini permintaan Baby ku kalau tidak Daddy mau ketika sudah lahir dia akan ngences" kata Clara dengan manja mengelus perut nya yang masih datar.
"ehh tidak tidak, baiklah sabar ya nak Daddy akan membeli kan mu eskrim" ujar pria itu seraya pergi meninggalkan Clara di kursi taman
mau tidak mau pria itu mengikuti kemauan Clara, ia tidak mau bayi nya itu nces seperti yang Clara bilang. semenjak kandungan Clara memasuki usia dua bulan permintaan nya sudah mulai aneh-aneh kalau tidak di ikuti kemauan nya ia bisa menangis tersedu-sedu, kadang merajuk dan suka marah marah secara tiba-tiba.
"Daddy Albert!" teriak Clara saat Albert sudah berada di seberang jalan
Albert yang mendengar suara Clara segera memberhentikan langkah nya dan berbalik ke belakang.
"jangan lupa roti nya ya" teriak Clara yang di Jawab acungan jempol oleh Albert.
"makan eskrim pakai roti pasti sangat enak bukan" gumam Clara melihat punggung Albert yang berlalu di hadapannya.
.
.
.
.
15 menit kemudian
"ini pesanan bumil sudah datang" ujar Albert memberikan kresek putih yang berisikan permintaan Clara.
" kenapa lama sekali ?" ujar Clara menerima kresek itu.
Albert pun menceritakan bahwa tadi orang berbelanja sangat ramai.
__ADS_1
.
.
.
.
Albert Danendra semenjak kejadian malam pengungkapan perasaan saudara kembar nya Aldrich, pagi buta itu ia dan sang Daddy ada perjalanan bisnis ke Perancis sekalian ingin melihat perkembangan perusahaan yang kebetulan ada disana Yang di bangun oleh jerih payah Albert.
karena itu membuat dirinya tidak dapat berpamitan dengan Aldrich. perjalanan bisnis dan mengecek keadaan perusahaan hanya memakan waktu kurang lebih satu Minggu. saat urusan selesai Albert memutuskan untuk menetap beberapa bulan disini dengan alasan ingin lebih memantau perkembangan perusahaan dan mendekatkan diri dengan karyawan yang ada Disni.
padahal alasan utama dirinya adalah untuk bisa melupakan Cici yang kini menjadi wanita yang di cintai Aldrich, apalagi ia selalu mendapat telepon dari Aldrich mengenai perjalanan hubungan mereka yang semakin hari semakin membaik. Membuat hati Albert semakin sakit tapi kini Albert sudah mulai berusaha mengikhlaskan Cici dengan Aldrich.
semenjak 3 bulan lebih terakhir ini hari hari Albert sudah di isi akan kehadiran Clara apalagi di tambah nya dengan kehadiran baby membuat hari hari nya semakin ramai, ya memang benar perasaan buat Cici belum bisa di lupakan mungkin perasaan itu akan selalu di simpan di hati yang paling dalam.
kring kring
Bert menatap layar ponselnya yang bergetar pertanda bahwa ada panggilan masuk. ia melirik nama yang tertera di layar tersebut dengan nama Geof.
"hallo apa kabar bro" antuasias Bert menjawab telpon dari Geof yang hampir 1 bulan ini tidak berkomunikasi.
"tentu sangat baik, Lo Bert?"
"perusahaan gue kek gini karena berkat bantuan dan kerjasama dengan perusahaan CEO Albert Danendra" ujar Geof menikmati segelas wine.
"akh itu berlebihan, hmm Lo nelpon pasti karena Lo kangen gue kan, ya iyalah kangen orang sudah sebulan nggak telpon sahabat Lo yang tampan ini" ujar Albert di sambut tertawa renyah oleh mereka berdua.
"Bert kapan Lo pulang?" tanya Geof dari seberang sana yang sudah mulai ke topik serius.
"aku akan pulang tapi tidak untuk sekarang, Clara lagi hamil nggak mungkin aku bawa dia dalam keadaan hamil muda, itu perjalanan nya cukup panjang bro" jelas Bert
"what's, tolong sampaikan selamat dari gue Geof tampan atas kehamilan Clara dan buat Lo udah jadi Daddy aja" antuasias Geof mendengar berita kehamilan Clara.
"iyaa tapi nanti gue sampeiin, sekarang gue di kantor"
dan percakapan pun berlangsung hingga selesai.
***
Harini sesuai yang di janjikan Cici kemarin bahwa Harini ia akan menemui tuan Raymond di rumah sakit.
__ADS_1
"selamat siang" sapa Cici melihat jeo sedang duduk di kursi tunggu di depan ruangan Raymond.
"siang ci" jawab jeo dengan sedikit menundukkan kepalanya di ikuti oleh anak buah yang lain.
"eh Jangan seperti itu aku tidak ratu jadi tidak usah begitu" ujar Cici merasa tidak enak mendapatkan hormat yang menurut nya itu berlebihan.
"apa aku boleh masuk?" lanjut Cici.
"tentu saja karena dari tadi tuan Raymond sudah menunggu mu nak" jawab jeo.
CEKLEKK
saat pintu terbuka Raymond sudah menatap pintu itu.
"Cici, kemarilah nak!" ujar Raymond.
"gimana perasaan granpa sekarang? apa masih merasa pusing?" tanya Cici perhatian sambil mengeluarkan makanan yang sudah di masak khusus untuk sang granpa.
"apa Granpa sudah makan? kalau belum ayo kita makan tadi Cici sudah masak sampai sampai dua kali karena percobaan pertama agak asin, heheh tapi yang ini nggak kok di jamin enak dan membuat granpa ketagihan" rayu Cici karena bubur dari rumah sakit tidak di sentuh sama sekali oleh Raymond.
betapa bahagianya melihat kesungguhan cucu nya yang sudah bisa sedekat ini dan bisa memakan masakan yang di buat dengan kasih sayang, makanan yang Cici buat rasa nya sangat mirip dengan almarhum sang istri, rasa rindu yang menggebu mulai terobati semenjak melihat Cici. tanpa sadar Raymond menetes kan Air matanya.
"apakah masakan ku tidak enak sehingga granpa menangis memakan nya kalau tidak enak Jangan dipaksa untuk memakannya" ujar Cici cemas.
"sangat enak ini benar-benar enak membuat ku akan ketagihan" jawab Raymond menerbitkan Senyum nya.
"tapi mengapa granpa menangis" ujar Cici menghapus air mata di wajah keriput itu.
"masakan mu sangat mirip dengan masakan almarhumah istri ku" ujar Raymond mengelus rambut Cici.
"kalau begitu habis kan agar granpa cepat sembuh dan cepat keluar dari rumah sakit yang membosankan ini, kalau granpa ingin memakan masakan Cici tinggal kabari dengan senang hati cici masakan" jelas Cici mendapatkan pelukan hangat dari Raymond.
"terimakasih cucuku" ujar Raymond yang menarik Cici untuk masuk kedalam pelukannya.
"sama sama granpa" jawab Cici membalas pelukan Raymond, entahlah aku merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan nya. pikiran Cici.
saat mereka berpelukan di kejutkan oleh dokter Al calon suami Cici yang datang langsung membuka pintu tanpa mengetuk.
"maaf kan saya tuan, saya sudah menganggu" ujar Al tak enak hati masuk tanpa permisi yang lebih mengejutkan Cici yang sedang berpelukan dengan Raymond,
ada hubungan apa mereka? kenapa mereka terlihat sangat dekat? dan kenapa Cici tidak bilang kalau ingin kemari?
__ADS_1
pikiran Al.